Terjerat Gairah Musuh

Terjerat Gairah Musuh
TGM2 Bab 15


__ADS_3

Hari senin selalu menjadi hari yang sibuk untuk Sheina karena Gabriel sekolah dan Bara harus ke kantor. Apalagi papa Bara belum menyerahkan perusahaan sepenuhnya pada Bara, sehingga ia harus tetap rajin supaya papanya segera mempercayainya.


Sheina baru saja selesai membuat sarapan, tapi saat mencium aroma harum dari masakannya yang sudah matang, perutnya mendadak mual. Ia langsung memuntahkan isi perutnya ke wastafel. Tidak ada yang keluar selain cairan bening karena ia bahkan belum makan apa-apa sejak tadi malam.


Bara turun sambil menggendong anaknya. Ia menemui sang istri setelah selesai membantu Gabriel bersiap ke sekolah. Matanya langsung menangkap sosok Sheina yang sedang membungkuk menghadap wastafel sambil mengeluarkan isi perutnya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Bara yang langsung bergegas menghampiri Sheina. Ia membantu memijat tengkuk leher Sheina setelah menurunkan Gabriel.


"Mommy, Mommy kenapa?" Gabriel ikut khawatir.


Sheina mencium aroma tubuh Bara saat suaminya itu bergerak membantunya. Rasa mual yang sebelumnya cukup menyiksa, perlahan hilang setelah is menghirup aroma maskulin tubuh Bara tanpa parfum apa-apa.


Sheina membersihkan mulutnya dengan air. Setelahnya ia memeluk Bara untuk dapat lebih leluasa menghirup aroma Bara. Benar dugaannya, perutnya langsung tenang saat dipeluk Bara.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Bara cemas dengan keadaan istrinya yang sedang hamil itu.


"Kayaknya dia suka bau tubuh kamu deh." Sheina menatap Bara sambil mengusap perutnya yang masih rata.

__ADS_1


Bara tersenyum bahagia, ia mencium kening Sheina lalu menekuk lututnya di hadapan Sheina. Bara mencium perut istrinya dan berkata, "Anak daddy pengen dimanjain daddy ya."


"Biel mau juga, mau cium dedek, Daddy." Gabriel berjalan cepat dan mencium perut mommynya. Dengan memajukan bibirnya, Gabriel mencium adiknya di perut sang ibu.


"Makasih Kakak Biel." Sheina yang gemas dengan Gabriel swcara refleks ingin menggendong bocah itu, tapi Bara langsung menahannya.


"Sayang, biar aku yang gendong. Inget, dia belum terlalu kuat. Jadi, jangan gendong-gendong dulu ya." Bara lalu menggendong Gabriel supaya Sheina bisa mencium bocah laki-lakinya itu.


"Iya, aku sampek lupa kalau gak boleh angkat berat dulu."


***


Sheina membantu Bara dengan menyiapkan pakaian kerjanya. Setelah Bara berganti baju dan siap pergi, Sheina mengantar Bara ke depan.


Entah karena mencium apalagi, Sheina tiba-tiba memegangi perutnya. Rasa mual itu kembali datang dan menyiksa Sheina. Bara dengan sigap ingin menolong, tapi Sheina justru semakin mual. Ia berlari menuju wastafel dan membuat Bara khawatir.


Bi Surti dan mamanya belum datang sehingga Bara tidak tega jika meninggalkan Sheina sendirian di rumah. Bara menelepon Karin untuk menunda meeting, ia juga menelepon mamanya agar segera datang bersama Bi Surti. Setelah itu, Bara menghampiri Sheina.

__ADS_1


Sheina semakin mual saat mencium parfum Bara.


"Jangan deket-deket, parfum kamu bikin tambah mual," kata Sheina sebelum akhirnya kembali menumpahkan seluruh sarapan yang tadi ia makan.


"Ya ampun Sayang, parfum aku juga biasanya gini, nggak pernah ganti kok. Kenapa sekarang kamu jadi nggak suka?" Bara menggaruk kepalanya, bingung karena ia tidak pernah menghadapai wanita hamil seperti Sheina.


"Mandi sana! Ganti baju. Perut aku mu–" Belum semlat menyelesaikan kalimatnya, perut Sheina kembali bergejolak, meski seluruh isinya sudah keluar, tapi aroma parfum Bara membuatnya semakin tersiksa.


"Aku kan udah mandi, masa' mandi lagi?"


Tepat setelah selesai mengatakan itu, Mama Viona menelepon dan mengatakan agar Bara menemani Sheina dulu. Saat ini mama dan papanya sedang ada keperluan di luar rumah.


"Yah, berarti aku mandi lagi dong?" tanya Bara dengan melas.


🦄🦄🦄


Jempol sama komentarnya ramein dulu, baru aku up bab selanjutnya 🤩

__ADS_1


🍭🍭🍭


__ADS_2