Terjerat Gairah Musuh

Terjerat Gairah Musuh
TGM Bab 78


__ADS_3

Gabriel dan Bara baru saja memindahkan ikan koi berjenis Koi Slayer Platinum. Ikan dengan sirip panjang menyerupai sayap, dan seluruh tubuh berwarna platinum itu memang sangat cantik. Warna khasnya seperti berkilau, terlebih saat ikan itu berenang, gerakan siripnya seperti tarian di dalam air. Gabriel pun sangat betah memandangi ikannya yang diletakkan dalam akuarium khusus.


Sheina mendekati anak dan suaminya setelah membereskan semua kekacauan yang tersisa akibat kegiatan panas yang Bara dan Sheina lakukan. Wanita itu memperhatikan ikan yang baru saja Gabriel bawa dari rumah opanya. Memang tidak salah Gabriel membawanya pulang, ikan hias itu benar-benar cantik.


"Gab, tadi ngapain aja di rumah Opa?" tanya Sheina.


Gabriel memeluk mommynya, lalu mulai berceloteh. Ia menceritakan apa saja yang tadi dilakukannya saat di rumah kakek neneknya. Gabriel dan opanya berbelanja akuarium dan perlatan khusus untuk perawatan ikan koi Gabriel. Bocah itu sangat antusias saat menceritakan keseruannya menangkap ikan koi.


"Gab, jangan terlalu sering minta ikan sama Opa. Yang di rumah ini kamu rawat baik-baik dulu, jangan sampai mati. Percuma punya ikan banyak tapi Gabriel nggak bisa ngerawatnya." Sheina mencoba memberi penjelasan pada Gabriel bahwa anaknya itu harus belajar bertanggung jawab dengan apa yang dimilikinya saat ini.


"Iya Mommy, Biel ngelti kok. Biel nggak minta ikan lagi. Kalau minta adik boleh?" tanya Gabriel dengan ekspresi yang menggemaskan.


Sheina melirik Bara yang kini sibuk dengan tablet nya. Bara sedang memeriksa beberapa email yang dikirimkan sekretarisnya, dan karena sedang fokus Bara tidak mendengarkan apa yang Sheina dan Gabriel bicarakan.


"Kalau mau punya adik, harunya Gabriel tidur sendiri. Kata Oma, kan, adiknya nggak mau datang kalau kakaknya masih tidur sama mommy sama Daddy." Sheina mengusap rambut Gabriel, menyadari rambut putranya itu sudah mulai panjang.


"Tapi, Biel takut tidul sendili. Biel juga nggak mau Daddy makan Mommy." Gabriel memanyunkan bibirnya. Ekspresi lucu yang selalu sukses membuat Sheina gemas dan tidak tahan untuk menciumnya.

__ADS_1


"Nggak apa-apa Sayang, belajar pelan-pelan dulu. Besok kalau mau tidur siang, Gabriel belajar tidur sendiri, gimana?" tanya Sheina dengan lembut.


"Oke Mommy. Biel akan belajal tidul sendili." Gabriel mencium kedua pipi ibunya.


*


*


*


Sheina membangunkan Bara dan Gabriel. Dua lelakinya itu memang cukup sulit untuk bangun. Setelah itu mereka keluar untuk jalan-jalan.


Gabriel sangat bahagia karena Bara dan juga Sheina menggandeng tangannya kiri dan kanan. Momen seperti ini memang sudah lama ia impikan, dan sekarang impian itu bisa terwujud.


"Gabriel seneng nggak?" tanya Bara yang kini menggendong putranya.


"Seneng banget, Daddy. Makasih ya kalna Daddy udah pulang dan nggak pelgi lagi ninggalin Biel." Gabriel mengalungkan tangannya di leher Bara.

__ADS_1


Sebagai ayah yang kehilangan banyak momen bersama putranya, kata-kata tulus yang Gabriel ucapkan itu nyatanya mampu mengobrak-abrik hatinya. Ia bahkan sampai berkaca-kaca hanya karena ucapan dari bocah yang masih polos itu.


"Daddy janji, nggak akan tinggalin Gabriel lagi. Maafin daddy ya, Gab." Bara mencium Gabriel, lalu memeluknya sampai tanpa terasa air matanya pun menetes.


Sheina melihat Bara yang segitu menyesalnya, akhirnya memeluk Bara dan mereka berpelukan seperti keluarga yang hangat.


"Ah, Mommy Daddy, Biel nggak bisa napas," protes Gabriel yang sukses membuat kedua orang tuanya melepaskan pelukan mereka. "Mommy sama Daddy tega banget sama Biel."


Sheina mencubit pipi Gabriel gemas, lalu Gabriel minta turun dari gendongan Bara.


"Barakokok."


Suara berat yang sangat dikenal Bara itu membuat Sheina dan Bara menoleh ke belakang.


"Apa sih Cookies Monde, ganggu aja."


☕☕☕

__ADS_1


__ADS_2