Terjerat Gairah Musuh

Terjerat Gairah Musuh
TGM Bab 36


__ADS_3

Sesuai janjinya pada Gabriel, Bara pulang ke rumah baru mereka. Gabriel yang melihat daddynya datang langsung berlari memeluknya. Bara tersenyum dan menggendong putranya, rasa lelah dan kesalnya seketika hilang kala melihat wajah Gabriel yang sedang bahagia.


"Daddy, udah pulang kelja?" tanya Gabriel.


"Udah, Sayang. Gabriel lagi apa tadi?"


"Lagi mewalnai, tadi Mommy beliin Biel buku sama pensil walna Daddy."


"Emang Biel udah bisa mewarna?"


"Bisa Daddy, tapi kata Mommy nggak boleh walnai di tembok."


"Kalau berani warnai ditembok, nanti mommy suruh Daddy buat hapus gambar spidernya itu," sahut Sheina yang sedang menyiapkan makan malam.


Bara sangat bahagia dengan pemandangan di depan matanya. Pulang kerja disambut anak, dan Sheina yang menyiapkan makanan untuknya. Ia seperti memiliki keluarganya yang bahagia.


"Gabriel, jangan dong. Itu daddy pesen khusus loh gambarnya." Bara meletakkan putranya di kursi makan. Ia sendiri duduk di samping Gabriel, menunggu Sheina selesai menyiapkan makanan.


"Pesen di mana Daddy?"


"Jauh Sayang. Makanya harus dijaga, Gabriel kalau mau coret-coret, nanti daddy belikan buku yang banyak.


"Janji ya, Dad."

__ADS_1


"Iya, Gabriel anak daddy yang ganteng."


"Cuci tangan dulu, baru kita makan!" perintah Sheina yang telah selesai menyiapkan makanan.


Bara dan Gabriel menurut, mereka mencuci tangan bersama. Lalu, ketiganya makan malam dengan makanan yang telah Sheina masak.


*


*


*


Papa Bara pulang ke rumah, mencari Bara yang pulang lebih dulu. Namun, setelah memanggil-manggil nama Bara, laki-laki itu tidak muncul juga, membuat mamanya bingung dan mengahmpiri papa Bara.


"Anak itu bikin masalah, Ma. Dia hamilin perempuan sampai anaknya besar," kata papa dengan emosi.


"Oh, itu. Iya, anaknya lucu banget, Pa. Pinter lagi, mama jadi gemes banget."


"Kok Mama nggak kaget, Mama udah ketemu anaknya Bara?" tanya papa bingung.


"Udah dong, Pa. Kemarin Bara ajak anak dan ibunya juga ke sini."


"Ada apa sih, ribut-ribut." Nenek baru keluar dari kamar dan ikut bergabung dengan putra dan menantunya itu.

__ADS_1


"Ibu udah tau juga soal anaknya Bara?" tanya papa pada Nenek.


"Oh, Gabriel. Udah ibu udah ketemu. Ganteng dan lucu, persis seperti Bara."


"Jadi kalian nggak marah sama Bara?" tanya papa semakin bingung. Pasalnya, apa yang dilakukan Bara itu sangat memalukan, tapi mama dan neneknya terlihat tenang-tenang saja.


"Papa belum ketemu Gabriel sih. Kalau papa udah ketemu Gabriel, pasti papa juga nggak akan marah."


"Ibu itu malah kasihan sama cicit Ibu. Kalau saja ibunya tidak membenci Bara, pasti mereka bisa menjadi keluarga yang utuh," sesal nenek yang kini melepas kacamatanya.


"Maksud Ibu gimana?" tanya papa.


Nenek mengambil napas dalam dan mengembuskannya setelah beberapa detik. "Ibu lihat, dia itu memiliki dendam yang terpendam sama Bara. Mungkin karena dia korban peemerkossaan, dan Bara memang bersalah. Tapi, ibu kasihan sama Gabriel. Anak itu masih membutuhkan kasih sayang kedua orang tua kandungnya."


"Tetap saja dia anak di luar nikah, akan memalukan sekali kalau sampai orang-orang tahu."


"Papa. Papa nggak boleh gitu dong, Gabriel itu cucu kita, Pa. Dia darah daging kita. Jangan bilang Papa punya rencana buat misahin mereka." Mama Viona sangat marah pada papa Bara yang menunjukkan sikap ketidaksukaannya pada Gabriel dan Sheina.


"Nggak gitu, Ma. Papa kan mau Bara dapat yang terbaik, papa mau kenalkan sama anak temen papa, Ma."


"Mama nggak setuju. Ibu juga kan, Bu?" tanya Mama Viona pada mertuanya.


"Ya, ibu setuju kalau Bara sama ibunya Gabriel."

__ADS_1


🥀🥀🥀


__ADS_2