Terjerat Gairah Musuh

Terjerat Gairah Musuh
TGM Bab 64


__ADS_3

Bara pulang ke rumahnya dengan perasaan kesal. Bisa-bisanya dia baru tahu kalau ketua RT di perumahan yang ia tinggali adalah Mondy, musuh bebuyutannya. Bara langsung menelepon Gery. Ia bahkan membiarkan mobilnya yang masih terparkir di depan rumah.


"Kamu gimana sih? Kenapa beli rumah nggak ngecek RT-nya siapa?" Bara kesal karena sudah mempercayakan pembelian rumah itu pada Gery. Kalau tahu Mondy yang jadi ketua RT, pasti ia tidak akan membeli rumah itu.


"Ya, kamu, kan, bilangnya minta rumah yang strategis, aman, sama dekat kantor. Nggak ada pesen-pesen khusus RT-nya harus artis, atau RT-nya harus orang terkenal. Gimana sih?"


"Masalahnya, yang jadi ketua RT sekarang itu Mondy, mantannya Sheina. Kalau mereka CLBK gimana?" tanya Bara emosi.


"Ya udah sih, tinggal pindah. Kayak orang miskin aja."


"Mulutmu kalau ngomong, mana bisa gitulah. Tabunganku udah menipis kalau beli properti lagi," ucap Bara dengan lirih.


Sheina memperhatikan suaminya dari dalam rumah. Laki-laki itu masih mondar-mandir di teras rumahnya.


"Apartemen punya Om kan ada yang nganggur. Yang sewa udah keluar dua bulan lalu."


"Eh, bener juga sih. Pinter kamu, Ger. Nggak sia-sia Papa mempekerjakan kamu."


Bara langsung menutup teleponnya saat ekor matanya melihat Sheina.


"Shein. Gabriel mana?" tanya Bara setelah masuk rumah.


"Lagi nonton TV. Aku udah buatin teh hangat, minum dulu!" Sheina membantu Bara melepaskan jasnya.

__ADS_1


"Kita pindah ya dari sini," ucap Bara dengan santainya.


"Pindah gimana sih? Kita baru aja tinggal di sini. Kita bahkan belum laporan RT," protes Sheina.


"Nggak perlu RT-nya udah tau." Bara berjalan menghampiri putranya yang sedang menonton acara TV.


"Tau gimana sih, Bar? Kamu pengen pindah rumah karena Mondy?" tanya Sheina curiga.


"Dia ketua RT di sini, pasti dia bakalan sering-sering nemuin kamu. Pinter nanti nyari alasan buat datang ke sini."


"Ya ampun, Bar. Gara-gara Mondy jadi RT, kamu pengen pindah?"


"Aku nggak mau diatur-atur. Kita belum bikin surat keluarga atau apalah itu, pasti dipersulit sama dia."


"Ya ampun, Bar."


"Spidelnya gimana, Dad?" tanya Gabriel, ia tidak rela jika kehilangan kamar kesukaannya itu, meskipun ia belum berani tidur sendiri.


"Nanti daddy bikin lagi yang kayak gitu, Gabriel mau, 'kan?" Bara masih meyakinkan anaknya agar mau menurutinya pindah rumah.


"Nggak mau, nanti kalau gedungnya loboh, kita mati. Biel nggak mau."


"Nggak akan, Sayang. Biel mau ya, nanti daddy belikan buku Kancil yang banyak."

__ADS_1


"Nggak mau Daddy. Biel mau di sini aja. Biel suka di sini, ada ikannya, ada spidelnya juga."


"Bar. Sini deh!" Sheina menarik lengan suaminya, menjauh dari Gabriel yang kembali asik dengan TV-nya.


Bara mengikuti Sheina yang menariknya ke dapur.


"Kenapa Sayang?"


"Jangan kayak anak kecil deh, Bar. Jangan paksa Gabriel kayak gitu."


"Ya, aku harus gimana, Shein? Aku nggak mau deket-deket dia, nanti kamu CLBK sama dia."


"Astaga, Daddy Buaya. Aku nggak se-mu.rahan itu."


"Aku harus apa? Dia pasti manfaatin keadaan ini deh."


Sheina diam, ia berpikir sejenak lalu berkata, "Kamu jadi RW aja kalau dia jadi RT. Atau sekalian jadi Camat."


Dasar chlidish. Lucu kali ya, kalau jadi Bu RW.


Bara tersenyum.


"Oke, aku akan mencalonkan diri jadi ketua RW."

__ADS_1


Abang Bara bere, Pak RW udah ada, Pak Camat yang belum ada 😜


☕☕


__ADS_2