
Bara sudah memakai pakaian rapi, begitu pun dengan Sheina dan Gabriel. Mereka bertiga menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Mama, papa, dan nenek Bara sudah menunggu di meja makan. Tentu saja Sheina merasa tidak enak hati karena tidak membantu apa-apa.
"Maaf, Tante. Em, maksudku Mama. Maaf ya Shein nggak bantu bikin sarapan," ucap Sheina merasa bersalah.
Bara melirik istrinya, ia tahu Sheina masih merasa canggung tinggal bersama keluarganya. Mungkin ia akan membawa Sheina dan Gabriel pulang ke rumah mereka supaya Sheina bisa bebas dan tidak kaku seperti ini.
"Nggak apa-apa, Sayang. Ada Bibi yang masak kok. Kita sarapan yuk!" ajak Mama Viona.
Sheina menarik kursi dan duduk bersama keluarga Bara.
"Kita ngerti kok. Namanya juga pengantin baru, wajar aja. Nggak usah sungkan, ini rumah kamu juga." Nenek Bara ikut menyahut.
"Nanti pulang dari rumah sakit, kita pulang ke rumah ya. Gabriel katanya udah kangen kamarnya." Bara tersenyum dan menggenggam tangan Sheina.
Sheina melihat Bara dan Bara mengangguk. Seakan mengatakan lewat tatapan bahwa Bara memahami Sheina.
"Kenapa nggak di sini aja, Bar? Mama kan seneng ada Gabriel di sini," protes Mama Viona.
"Bara, kan, punya privasi juga, Ma. Lagian kita punya rumah sendiri, masa iya di sini terus," balas Bara.
"Ya udahlah, Ma. Biarkan mereka mandiri. Nanti kalau kangen Gabriel, kita bisa culik dia tiap hari, iya, kan, Biel?" tanya papa Bara.
"Opa suka culik anak-anak?" Gabriel melotot karena salah paham. "Mommy bilang, kita halus hati-hati sama penculik anak-anak. Telnyata Opa penculiknya," kata Gabriel dengan ekspresi bingung yang menggemaskan.
__ADS_1
Spontan saja ocehan Gabriel membuat semua tertawa. Termasuk Sheina yang kini menciumnya gemas.
"Bukan, Sayang. Opa cuma bercanda kok." Sheina memangku Gabriel. Ia gemas sekali dengan putranya yanga banyak omong itu, persis seperti Bara.
"Gabriel mau nggak di sini aja, Mommy sama Daddy yang di rumah. Biar nanti adiknya cepet dateng?" tanya Bara.
"Nggak mau. Nanti Daddy makan Mommy, Daddy kan Buaya!" teriak Gabriel marah. Ia sangat menyayangi Sheina, dan tidak suka jika daddynya menyakiti mommynya itu.
"Kalau Daddy buaya, berarti Gabriel Kancilnya. Hi, Kancil kan suka mencuri ketimun!" ejek Bara yang menbuat Gabriel semakin geram.
"Nggak, Daddy buaya. Kancil pintel nggak nakal kayak Daddy!" teriak Gabriel yang semakin kencang.
Muka Sheina sudah merah padam. Antara malu, marah dan kesal karena ulah Bara dan gabriel.
"Udah-udah stop! Kita makan sama-sama. Jangan berantem," kata Mama Viona menengahi perdebatan Bara dan Gabriel.
Gabriel berjalan riang menyusuri lorong rumah sakit dengan digandeng Sheina. Bocah itu hanya tahu bahagia, tanpa memikirkan kesedihan yang ada di depan mata orang tuanya.
Bara menyempatkan diri untuk mengantar anak istrinya ke rumah sakit, mengunjungi mertuanya yang masih dirawat.
"Gabriel inget ya, di sana nggak boleh berisik!" pesan Sheina saat mereka sampai di depan pintu ruangan Papa Yudha.
Gabriel mengangguk. Ia cukup cerdas untuk mengerti maksud perkataan ibunya.
__ADS_1
"Gabriel sini, daddy gendong!" Bara mengulurkan tangan, lalu Gabriel menurut dan Bara menggendongnya.
Sheina membuka pintu. Ada mama dan Keyla yang sedang menunggu papanya.
"Maaf, aku telat!" ucap Sheina setelah mengucapkan salam pada keduanya.
"Nggak apa-apa Shein. Kita ngerti kok. Papa belum mau sarapan, mungkin Papa mau disuapin kamu," kata Keyla.
"Onty Key," sapa Gabriel.
"Hai Sayang, Biel ganteng," jawab Keyla.
Gabriel enggan menyapa mamanya Keyla karena ia takut dengan wanita itu.
Sheina mendekati papanya dan menawari untuk menyuapinya.
"Daddy, Biel takut sama Oma. Biel pengen pulang tapi kata Mommy nggak boleh belisik," bisik Gabriel yang membuat Bara terkejut dan memandang ibu tiri Sheina itu.
Bara pikir, apa yang sudah wanita itu lakukan sampai-sampai putranya takut dengan wanita itu
Ritualnya jangan lupa
☕☕☕
__ADS_1