Terjerat Gairah Musuh

Terjerat Gairah Musuh
TGM Bab 52


__ADS_3

Sheina berjalan cepat menghampiri Gabriel yang berkacak pinggang sambil menatap tajam daddynya. Bara yang ditatap begitu oleh putranya hanya bisa mendengus kesal. Gagal sudah ia merayu istrinya sendiri. Semua karena Gabriel. Lihat saja nanti, Bara pasti bisa membuat bocah itu terlelap lebih awal.


"Mommy nggak apa-apa?" tanya Gabriel saat Sheina duduk di sebelah Gabriel.


Bara mengehela napas, lalu masuk ke kamar mandi. Lebih baik ia mandi sambil menunggu Gabriel tertidur dan ia bisa melancarkan aksinya.


"Mommy nggak apa-apa kok, Gab. Gabriel kenapa nanya gitu?"


"Biel lihat Mommy sedih kalena Opa sakit. Mommy jangan nangis lagi ya, tadi Biel udah doa bial Opa cepet sembuh."


"Iya, Sayang. Makasih ya. Gabriel nggak ngantuk?" tanya Sheina. Ia mengambil ponsel miliknya dan meletakkannya di nakas.


"Enggak, Biel nggak ngantuk. Biel pengen peluk Mommy, bial Mommy nggak sedih lagi," jawab Gabriel sembari merentangkan tangannya.


"Yaudah sini, peluk mommy." Sheina mengatur posisi Gabriel supaya di tengah-tengah antara ia dan Bara. Sebenarnya ia sangat belum siap menjadi istri Bara, apalagi jika harus melayaninya layaknya suami istri.


Sheina memeluk erat Gabriel, sedangkan bocah itu terus memandangi mommynya. Cukup lama mereka diam dalam hangatnya pelukan ibu dan anak, sampai-sampai Bara pun selesai mandi.


"Gabriel udah tidur?" tanya Bara setengah berbisik.

__ADS_1


Sheina menatapnya dengan kagum. Bara hanya mengenakan handuk yang dililitkan ke pinggang. Rambutnya yang basah meneteskan buliran air yang jatuh mengenai tubuh kekarnya.


"Daddy kenapa nggak pakai baju?" teriak Gabriel yang kini melepaskan pelukannya dari tubuh Sheina.


"Em, ini daddy lagi cari baju. Mommy lupa nggak nyiapin sih. Padahal, kan, sekarang Mommy sama daddy udah menikah." Bara mencari dukungan supaya Gabriel mau berpihak padanya.


"Iya iya aku cariin." Sheina mengalah. Tidak ada gunanya berdebat dengan Bara saat ini.


Sheina mencarikan baju tidur untuk Bara di lemari yang masih asing untuknya.


"Mommy sama Daddy, kan, udah nikah. Belalti kita bisa tinggal di lumah sama-sama dong. Biel kangen sama spidel," ucap bocah itu jujur. Mereka memang tinggal di rumah orang tua Bara beberapa hari ini, dan bocah kecil itu sudah sangat merindukan kamarnya yang ada di rumah mereka.


Sheina mengulurkan sepasang piyama kepada Bara.


"Celana itunya mana?" tanya Bara. "Masa iya nggak dibungkus dulu, nanti kalau Gabriel lihat bisa bahaya, kok punya daddy gede banget sih," imbuhnya yang berbicara blak-blakan.


Sheina merasa malu saat Bara membahas adik kecilnya yang Sheina sendiri belum pernah melihatnya meski pernah merasakannya.


"Apaan sih, ada Gabriel, Bar." Sheina akhirnya mencarikan kain segitiga pembungkus adik kecil Bara. Setelah menemukannya, ia langsung memberikan celana itu pada Bara.

__ADS_1


"Bentar ya, Sayang. Tidurin dulu Gabriel, nanti kita bisa nikmati malam ini tanpa gangguan." Bara mencuri cium di pipi Sheina, membuat wanitanya itu kehabisan kata-kata karena sikapnya.


Sheina kembali menghampiri Gabriel. Ia menceritakan cerita dongeng meski tanpa buku. Gabriel mendengarnya dengan serius. Sampai Bara selesai berganti baju, Gabriel masih belum menunjukkan tanda-tanda mengantuk.


"Gabriel, tidur dong. Nggak ngantuk?" tanya Bara yang mulai bosan menunggu.


"Nggak Daddy, Biel masih penasalan, kancilnya dimakan buaya apa nggak."


"Pasti kancilnya dimakan buaya, soalnya kancilnya nggak mau tidur," kata Bara yang mulai kesal.


"Emang iya Mommy?" tanya Gabriel.


"Belum selesai ceritanya, Sayang," jawab Sheina.


"Ya udah buruan dimakan aja kancilnya, nggak tau apa buayanya udah laper. Daddy udah tau itu endingnya, si kancil kalah sama buaya." Bara jadi mengomel karena Gabriel masih saja penasaran dengan dongeng yang diceritakan Sheina.


"Buayanya licik Gab, kayak Daddy." Sheina menatap kesal pada suami yang baru beberapa jam menikahinya.


🥀🥀🥀

__ADS_1


__ADS_2