Terjerat Gairah Musuh

Terjerat Gairah Musuh
TGM Bab 54


__ADS_3

Bara sudah sangat dongkol saat ini. Ia hanya bisa merebahkan tubuhnya sambil memijat kepalanya yang terasa sangat pusing. Berkali-kali ia menggaruk kepala, bingung harus berbuat apa. Gabriel masih menangis karena melihat tanda merah di leher mommynya. Sampai akhirnya, Bara membelakangi Gabriel dan Sheina, lalu ia menggigit guling yang dipeluknya.


"Udah dong Gab, nggak usah nangis terus. Mommy aja nggak kenapa-napa. Kok kamu yang nangis." Sheina menghapus air mata putranya yang berjatuhan.


"Biel sayang Mommy. Kenapa Daddy gigit, Mommy?" Gabriel masih terisak.


"Gabriel, mommy bilang digigit nyamuk ya digigit nyamuk. Gabriel nggak percaya sama Mommy?" Sheina bertanya dengan nada yang tegas.


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar Bara. Dengan malas Bara membuka pintunya dan melihat mamanya di balik pintu.


"Gabriel kenapa? Kayaknya kenceng banget nangisnya." Mama Viona mencoba mengintip ke dalam kamar Bara. Ada Sheina yang sedang memangku Gabriel yang menangis.


Bara mengehela napas dan mempersilakan mamanya untuj masuk. Tak lama papanya juga menyusul.


"Gabriel kenapa? Mimpi buruk ya? Kok malam-malam gini nangis?" tanya Mama Viona.


"Kenapa sih Bar?" Papa ikut-ikutan khawatir karena suara Gabriel memang sangat kencang saat menangis.


"Opa, Biel mimpi Mommy dimakan buaya. Pas Biel bangun telnyata Mommy digigit Daddy. Daddy kayak buaya, tapi kata Mommy, Daddy nggak gogit Mommy," adu Gabriel pada kakek neneknya.


"Emang daddy nggak gigit kok," sahut Bara kesal.

__ADS_1


Mama Viona mendekat pada Gabriel, sempat melirik leher Sheina yang terlihat merah. Mama mulai paham apa yang sebenarnya terjadi.


"Biel mau tidur sama oma sama Opa nggak?" tanya Mama Viona. Mama duduk di sebelah Gabriel.


"Nggak mau, Biel nggak mau tinggalin Mommy sendilian sama Daddy. Nanti Mommy dimakan Daddy."


Papa dan Bara duduk di sofa. Ekspresi wajah papa terlihat sekali sedang mengejek Bara.


"Makanya jangan buru-buru! Anak kecil itu biasanya cepet tidurnya," nasehat papa yang melihat jelas wajah kesal Bara.


"Pusing banget Pa. Masa iya udah punya istri masih main sabun aja. Nggak enak banget." Bara menggigit ujung kukunya untuk menahan kesal.


"Rasain! Gabriel itu pinter banget, nggak mungkin dia bisa gampang kamu bodohi."


"Gabriel katanya pengen adek? Adek itu suka datang malam-malam loh lewat mimpinya Mommy," kata Mama Viona yang mencoba membujuk Gabriel. Mama tahu, putranya sedang menahan ga*irah saat ini.


"Adiknya Biel ada di mimpi Mommy?" tanya Gabriel memastikan.


"Iya, kalau malam-malam adiknya Biel mau datangin Mommy, tapi kalau lihat Kakak Biel masih tidur sama Mommy, adiknya malu. Nggak jadi punya adik deh Biel."


"Benel gitu, Mom?"

__ADS_1


"Em, Mommy nggak tau, Sayang." Sheina sangat canggung karena mertuanya sampai turun tangan untuk mengatasi masalah sepele ini.


"Kalau gitu, Daddy tidul sama Biel, Mommy tidul sendili aja, bial adiknya mau datang."


"Eh, nggak bisa Biel. Adiknya kan anak Daddy juga, kayak Biel. Jadi, Biel tidur sama Oma dulu, biar Mommy sama Daddy tidur di sini. Nungguin adiknya Gabriel datang."


Gabriel mengerutkan alisnya, membuat Sheina gemas dan menahan tawa. Tak lama kemudian, bocah kecil itu berkata, "Ya udah, tapi Mommy hati-hati ya, nanti digigit Daddy."


"Pasti, Mommy kan udah gede. Kalau Daddy gigit pasti nanti dibalas," sahut mama.


"Dah Mommy, Biel tidul sama Oma ya. Mommy hati-hati." Gabriel mencium pipi Sheina.


"Udah tuh, udah diatasin mama kamu, selamat berbuka puasa!" Papa menepuk pundak Bara sebelum akhirnya menggendong Gabriel ke kamarnya.


"Makasih Ma, Pa. Biel jangan nakal ya!"


Bara mengunci kamarnya. Apa pun yang terjadi, ia bertekad tidak akan membuka pintu itu sampai ia mendapatkan haknya malam ini.


Bersiaplah Shein. Senjata tor*pedoku akan menemuimu lagi.


Bara mendekati Sheina yang membuang muka saat pandangan mata mereka bertemu.

__ADS_1


🥀🥀🥀


__ADS_2