
Bara semakin merasa kesal akibat kata-kata yang dilontarkan papanya. Bagaimana tidak, papanya memberi usulan supaya Bara merawat dan membesarkan Gabriel sendiri, sedangkan Sheina bisa menikah dengan laki-laki yang dicintainya.
Bara tentu sangat tidak terima dengan usulan papanya yang tidak masuk akal itu. Begitu pula yang dirasakan Sheina. Ia tidak mau kehilangan Gabriel begitu saja. Selama ini Sheina sendiri yang merawat Gabriel dari hamil, tidak akan rela kalau sampai Gabriel diambil alih Bara meski ia ayah biologisnya.
"Aku nggak terimalah, Pa. Masa iya aku ngerawat Gabriel sendiri, sedangkan Sheina nikah lagi. Gabriel pasti lebih bahagia kalau tinggal sama kedua orang tua kandungnya. Bukan dengan mommy yang lain, apalagi daddy yang lain," protes Bara dengan wajah merah padam.
"Saya juga nggak setuju. Saya yang hamil, melahirkan, menyu*sui bahkan membesarkannya seorang diri. Kenapa enak sekali Bara tinggal ambil alih setelah saya mati-matian merawatnya?" Sheina menatap tajam mata Bara.
"Makanya, kita nikah aja, Shein."
Sheina melengos. "Kan aku bilang, kalau semua setuju, aku akan berusaha terima kamu. Tapi, kalau masih gini terus ya Gabriel cuma milik aku."
Bara menarik tangan Sheina, lalu ia berkata, "Shein, apa pun yang terjadi, aku akan berusaha berjuang biar bisa nikahin kamu." Bara lalu menatap papanya dengan sedikit memaksa. "Kalau Papa nggak restui aku sama Sheina. Aku aduin Mama nih, biar Papa tidur di luar kayak waktu itu. Mama pasti nggak mau kalau pisah sama Gabriel." Bara mulai berani menggoda papanya setelah ingat kejadian waktu ia remaja, papanya sering numpang tidur di kamarnya saat mamanya marah.
"Dasar anak kurang ajar kamu, Bara. Papa sumpahin dapat istri yang sama galaknya kayak Mama."
__ADS_1
"Aamiin, Pa. Sheina sama galaknya kok sama Mama." Bara mengedipkan mata pada Sheina. Ia merasa lega, karena meski tidak terang-terangan, papanya sudah merestui hubungannya dengan Sheina.
"Siapa yang bilang mama galak?" Mama Viona muncul sambil membawa ember berisi ikan. Gabriel ada di samping omanya dengan menenteng jaring alat khusus untuk menangkap ikan.
"Papa, Ma yang bilang," jawab Bara dengan cepat.
Mama melotot pada papa yang kini menyandarkan punggung di sandaran sofa.
"Mommy, ikannya besal banget. Boleh ya Biel pelihara di akualium lumah." Gabriel memamerkan pada Sheina ukuran ikan tangkapannya. Bocah itu memeragakan dengan kedua tangan kecilnya.
"Jangan!" teriak Gabriel dan papa Bara bersamaan.
Bara dan mamanya menahan senyum, sedangkan Sheina hanya bisa bengong saat calon mertuanya ikut menjawab dengan kompak bersama Gabriel.
"Jangan digoreng ikannya, kasihan." Papa Bara mendekat pada ember yang tergeletak di lantai. "Kasihan sekali nasibmu."
__ADS_1
"Mommy jangan goleng ikannya ya. Kasihan ikannya nanti mati." Gabriel memasang muka sedih. Ia sangat menyukai hewan yang jago berenang itu. Sampai-sampai air mata Gabriel ikut terjatuh saat memohon pada Sheina.
"Kenapa nangis? Lagian itu ikan nggak cocok kalau tinggal di akuarium, Gab." Sheina melirik ikan yang ada di ember itu.
"Nanti Biel minta Daddy buatin kolam ikan, tapi ikannya Biel jangan digoleng, Mommy. Kasihan ikannya Biel." Gabriel benar-benar menangis, air matanya semakin banyak diproduksi, lengkap dengan bibir manyun yang menggemaskan.
"Kalau Mommy suka ikan itu, digoreng aja Gab. Kan, ikan gurami emang enak, ya kan, Mom." Bara ikut menggoda Gabriel, karena ia tahu papanya juga sangat menyayangi ikan seperti Gabriel.
Sheina menatap Gabriel dan papa Bara yang juga terlihat sedih. Apa ia salah bicara?
"Iya bener. Kalau oma sukanya dibakar, kalau masih seger gitu mantep banget. Gabriel pelihara ikan yang kecil aja," sahut Mama Bara.
"Jangan! Ayo kita kembalikan ikannya, selamatkan dia dari penggorengan." Papa Bara menarik tangan Gabriel, sedangkan sebelah tangannya membawa ember berisi ikan itu. Mereka berdua berjalan menuju kolam ikan belakang rumah untuk mengembalikan ikan itu ke asalnya.
Cie Opa sama Biel seneng ikan. Ritual jejaknya jangan lupa ya gaess 🥲🥲
__ADS_1
🥀🥀🥀