
Usai menandatangani berkas-berkas penting itu, Bara mengajak Sheina dan Gabriel untuk jalan-jalan sebentar di sebuah mal yang tak jauh dari rumah orang tua Bara. Gabriel pastinya sangat senang karena ia tahu di lantai empat ada arena bermain anak yang bisa bermain sepuasnya.
"Daddy, aku mau masuk sana." Gabriel melompat-lompat saat mereka sudah tiba di lantai empat. Arena bermain ada di ujung, tak jauh dari tangga berjalan.
"Oke, oke. Santai Boy. Main ke sana, sendiri berani?" tanya Bara.
"Belani dong. Biel, kan, udah besal mau jadi kakak," jawab Gabriel dengan sangat yakin.
"Oke, kita ke sana. Mommy mau apa? Mau main juga?" tanya Bara yang kini menggoda istrinya.
Sheina mencubit pinggang Bara. "Apaan sih, Dad."
Bara mengaduh kesakitan sampai bersandar di bahu Sheina.
"Daddy sama Mommy kenapa sih? Mau main buaya buaya lagi?" tanya Gabriel.
"Nggak kok, Sayang. Daddy kamu tuh godain mommy aja, bikin mommy pengen gigit jadinya."
__ADS_1
Gabriel mendelik, terlalu terkejut mendengar jawaban ibunya itu. "Mommy udah jadi buaya juga?"
"Iya. Mommy udah jadi buaya. Jadi, kalau daddy makan, mommy bisa balas," sahut Bara yang membuat Sheina melotot.
"Udah Sayang. Jangan dengerin Daddy. Jadi main, 'kan?" Sheina menarik tangan Gabriel dan menuntunnya menuju arena bermain.
"Jadi, Mommy." Gabriel bersorak. Ia digandeng Sheina dan meninggalkan Bara sendirian di belakang.
Gabriel masuk ke arena bermain setelah membayar dan Sheina menunggu di luar. Duduk di kursi yang disediakan, Sheina melihat Bara membantu seorang wanita yang tengah mengambil barang-barangnya yang berjatuhan di lantai.
Bara, kamu sama siapa? Kenapa kamu bantuin, apa kamu beneran mau selingkuh dari aku karena kamu udah banyak duit?
Bara sudah selesai membantu wanita itu. Ia berjalan menghampiri Sheina yang mulai menitikan air mata. Saat melihat istrinya menangis, laki-laki itu berjalan cepat untuk bisa memeluknya.
"Kamu kenapa, Sayang? Ada yang sakit? Perut kamu sakit? Mau ke dokter?" Bara memeriksa tubuh istrinya. Rasa khawatirnya membuatnya panik, takut terjadi apa-apa pada Sheina yang tengah hamil.
"Kamu tadi nolongin siapa? Kok kayaknya akrab gitu? Kamu lagi tebar pesona?" Sheina malah merajuk tanpa mendengar dulu penjelasan Bara.
__ADS_1
Bara malah tertawa dan menghapus air mata Sheina. Lalu, ia mencubit gemas pipi istrinya itu.
"Kamu cemburu sama Mbak Ana tadi?" goda Bara.
Sheina semakin memajukan bibirnya, alisnya yang lebat itu hampir menyatu. "Kamu kenal beneran. Mentang-mentang udah jadi orang kaya, kamu gituin aku, di depan mata aku pula."
Bara tertawa dan memeluk isttinya. "Emang ada namanya di baju dia, Sayang. Kamu cemburu sama SPG sih, kamu kan lebih cantik dari dia." Bara mengusap punggung Sheina.
Beberapa orang yang melintas di depan mereka pun melihat dan mendengar adegan mesra itu.
"Tapi cantik aja nggak cukup, kamu kan banyak duit sekarang."
"Sayang, meskipun aku banyak uang, tapi rasa cinta aku dari dulu cuma sama kamu. Gimana aku bisa menilai wanita lain kalau di mata aku, nilai kamu itu sempurna." Hati Bara berbunga, memang semenjak hamil, Sheina jadi menyebalkan. Akan tetapi, kini Bara tahu dengan kehamilan itu, rasa cinta Sheina untuknya semakin bertambah.
☕☕☕
Pengen crazy up, tapi hari ini sangat melelahkan. maafkan aku gaes
__ADS_1
🌹🌹🌹