
Bara senyum-senyum karena kini ia hanya berdua saja dengan Sheina, tanpa Gabriel yang menggaggu buka puasanya. Bara berjalan mendekati Sheina yang semakin gugup karena hanya berdua dengan Bara.
Bara naik ke kasur. Berjalan merangkak seperti singa yang bersiap menerkam mangsa. Sheina melihat seringaian mes*um di wajah Bara. Ia semakin berdebar membayangkan apa yang ada di kepala Bara. Jika saja Sheina bisa, pasti ia akan lari menyusul Gabriel.
"Shein, kamu takut sama aku?" tanya Bara yang kini sudah menangkap pundak Sheina. Laki-laki itu mendorong pelan tubuh Sheina sampai terbaring di kasur dan ia menindihnya.
"Kalau kamu gini ya bikin aku takut, Bar," jawab Sheina. Ia memalingkan wajahnya dari Bara yang berada tepat di atasnya.
"Maaf Shein, aku kangen banget sama kamu. Sejak malam itu, Tor*pe.do aku udah lama banget nggak ngerasain kehangatan. Jadi, sekalinya ada kesempatan malah nggak bisa tahan," ucap Bara jujur.
Sheina terperangah. Tor.pe.do apa maksudnya?
"Bohong banget! Pasti kamu udah ahli, 'kan? Cassanova banget lah kamu itu, Bar. Apalagi di LA itu bebas banget," cerca Sheina. Ia tak percaya apa yang diucapkan Bara. Baginya itu hanyalah bualan. Namanya saja 'Buaya'.
"Jangan ngadi-ngadi, Shein. Aku baru ngelakuin itu cuma sekali aja, sama kamu doang waktu itu." Bara memebela diri, ia memang berkata jujur, tetapi siapa yang akan percaya dengannya. Gai*rahnya terlalu besar untuk dipercaya sebagai laki-laki polos.
__ADS_1
"Bohong banget sih, Bar." Sheina masih memalingkan wajah. Enggan sekali memandang Bara.
"Beneran, Sayang. Kamu tahu, kan, aku cinta sama kamu dari lama. Ah, udah deh, jangan dibahas sekarang. Nanti gagal lagi." Bara mulai kesal, apalagi mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat Gabriel membuat aksinya tertahan.
Sheina diam. Mau menjawab apa? Masa iya dia menyerahkan diri begitu saja, gengsi dong.
Bara melihat Sheina diam. Menurutnya, Sheina diam karena ia pasrah dengan apa yang akan Bara lakukan. Tentu saja, Bara tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Ia mendaratkan ciuman tiba-tiba di leher Sheina.
"Au, Bara." Sheina ingin mengusir bibir Bara yang membuat lehernya geli, tapi tangan Bara menahan kedua tangannya.
Bara terus melancarkan aksinya. Ia melakukannya dengan lembut, meski tangannya menahan serangan tangan Sheina dengan sedikit paksaan.
Setelah tangan Sheina mengendur, Bara melepaskan leher istrinya itu. Ia lalu memandangi wajah Sheina dengan napas memburu. Sheina bisa melihat jelas raut wajah Bara yang memandangnya penuh cinta. Bara begitu mendambakan Sheina, wanita impiannya.
Bara mencium bibir Sheina, dengan sangat lembut dan penuh perasaan. Sampai-sampai Sheina terbuai dan membalas ciuman Bara.
__ADS_1
Cukup lama mereka saling memasuki mulut masing-masing, sampai akhirnya tangan Bara bergerak masuk ke dalam baju Sheina dan menyusuri perut sampai dada.
Ciuman mereka terlepas dan Bara melanjutkan aksinya dengan menciumi daun telinga Sheina, membuat wanita itu mende*sah pelan menyebut namanya. Bara terus menji*lat dan membuat gelora asmara dalam diri Sheina bangkit.
Bara melakukan semuanya dengan sangat lembut, membuat Sheina terlupa dan tanpa sadar semua pakaian yang melekat di tubuhnya terlepas. Ia lebih terkejut lagi saat Bara yang juga sama polosnya dengan dirinya melepaskan kain segitiga yang membungkus gumpalan daging berotot itu. Sheina melihat jelas sesuatu yang tegak dan keras bagai tombak yang siap ditancapkan. Ya, itulah tor.pe*do kebanggaan Bara yang terbukti bisa menghasilkan bibit kualitas premium seperti Gabriel.
Bara membuat Sheina tidak berdaya. Meski takut, wanita itu pasrah juga saat Bara menancapkan torpe.do kapal selam itu ke dalam dirinya. Perlahan tapi pasti benda itu akhirnya tenggelam meski harus merasakan sakit karena cengkraman yang sangat kuat. Bara tersenyum bahagia saat melihat bagian bawah mereka yang telah bersatu. Ia menciumi seluruh wajah Sheina dengan gemas. Buaya itu berhasil meluluhkan ibu kancil yang mungkin akan berubah menjadi buaya betina.
Ritual jejak jangan dilupain.
☕☕☕
Sambil nunggu Update. tengokin karya temenku ya..
__ADS_1