
Sheina tidak siap dengan serangan tiba-tiba dari Bara di bibirnya. Ia berusaha membalas meskipun hatinya masih sangat sedih karena Mondy. Bara semakin bernap.su saat merasakan Sheina membalas ciumannya. Ia berdiri sambil berpegangan pada ujung meja dan sandaran kursi yang dipakai Sheina.
Bara terus menyesap kuat bibir Sheina yang terasa manis di bibirnya. Sheina mengalungkan tangannya di leher Bara dan menikmati apa pun yang Bara lakukan padanya. Laki-laki itu melepas ciumannya saat merasa tubuhnya semakin gerah.
Sheina melepas tangannya dari leher Bara. Ia menundukkan kepala, malu menatap Bara yang kini melepaskan jasnya.
Bara berjongkok di depan istrinya, lalu meraih tangan Sheina dan menciuminya.
"Aku bisa menjadi laki-laki yang paling mencintai kamu, Shein. Meski aku salah, tapi aku ingin menebus semuanya. Aku melakukan semua yang aku bisa untuk merebut hati kamu, Shein." Bara menundukkan kepalanya di paha Sheina. "Maaf," ucapnya lirih.
Sheina bisa merasakan dari suara Bara yang bergetar, bahwa suaminya itu sangat menyesal. Ia juga melihat sendiri perjuangan Bara untuk meluluhkan hatinya. Kisah Sheina dan Mondy sudah berakhir, sudah saatnya merajut kisah baru bersama Bara dan pastinya Gabriel.
"Bar." Sheina memanggil Bara dengan suara yang lembut.
Bara mengangkat kepalanya. Meski tidak menangis, tapi matanya yang merah sudah memperjelas kesedihannya.
__ADS_1
"Aku akan ganti baju, kita jemput Gabriel." Bara berdiri, meninggalkan Sheina di meja.
Sheina yang merasa bersalah, langsung berdiri dan memeluk suaminya dari belakang.
"Bar, jangan marah." Sheina menyandarkan kepalanya di punggung Bara. Tangan Sheina memeluk erat perut suaminya. Ia takut sekali jika sampai membuat Bara kecewa. Meski ia belum menyadarinya, tapi hatinya sudah mulai terikat pada Bara.
Bara hanya diam. Ia merasakan jantungnya berdegup kencang karena pelukan Sheina yang sangat hangat. Meski tidak marah pada wanita itu, tapi Bara tetap kesal saat melihat air mata Sheina yang menetes untuk laki-laki lain.
"Bar, aku cuma milik kamu. Aku tahu kamu udah melakukan yang terbaik. Aku akan lebih berusaha lagi buat mencintai kamu, Bar. Maafin aku."
"Aku cuma milik kamu. Meskipun ada seribu Mondy, seribu Devan, tapi cuma satu Bara yang aku dan Gabriel butuhkan." Sheina meraih kepala Bara agar semakin menunduk. Lalu, ia berjinjit untuk bisa mencium bibir Bara.
Ini pertama kalinya Sheina mencium Bara terlebih dahulu. Tangan yang tadinya menggenggam tangan Bara kini bergelayut manja di leher Bara.
Sebagai laki-laki normal, tentu saja Bara tergoda. Apalagi ia selalu terpimat oleh pesona Sheina yang selalu membuatnya gila.
__ADS_1
"Sentuh aku, Bar. Sentuh aku sepuasmu. Aku cuma milikmu," ucap Sheina setelah melepaskan ciumannya.
Kata-kata yang keluar dari bibir indah itu, nyatanya semakin membakar gelora dalam diri Bara. Ia memeluk pinggang Sheina dan menuntunnya kembali ke meja dapur. Sepertinya, otak Bara sudah kembali aktif memikirkan adegan-adegan yang tadi pagi sudah ia pelajari.
Bara mengangkat tubuh Sheina untuk duduk di atas meja dapur, tempat istrinya biasa meracik bumbu dan menyiapkan olahan sayur. Beruntungnya, dapur mereka cukup luas, sehingga Bara tidak kesulitan untuk melalukannya.
"Sebut namaku, pikirkan aku, dan hanya cintai aku," bisik Bara sebelum menji*lat telinga istrinya. Tangannya mulai bergerak aktif menja.mah setiap lekuk tubuh Sheina yang ramping dan menggemaskan.
Sheina juga tak mau kalah. Tangannya bergerak membuka kancing kemeja Bara. Hingga terlihatlah tubuh kekar yang memiliki otot sempurna tanpa cacat. Sheina mera.ba perut hingga dada bidang itu. Lalu, tangannya bergerak turun menyentuh torpedo yang masih terbungkus rapat.
Semoga tidak ada lagi yang mengacaukan hari ini. Aku ingin membuatnya bahagia dengan kepuasan. Sheina menatap wajah Bara yang berhasil membuka dress miliknya.
Gab, daddy mohon jangan pulang dulu! Biarkan daddy memiliki Mommy seutuhnya hari ini.
"Shein, aku mencintiamu." Bara mencium Sheina dengan sangat lembut, ia tidak ingin bermain kasar yang sampai membuat Sheina terluka.
__ADS_1
☕☕☕