
Sheina mendorong kepala Bara sangat kuat hingga membuat laki-laki itu terlonjak dan memegang pundak Sheina. Mereka terjatuh di lantai dengan posisi tubuh Sheina yang menimpa tubuh Bara.
Bukan jatuh di kasur yang romantis, mereka malah terjatuh di lantai yang membuat Bara mengaduh kesakitan.
"Kenapa sih, Sayang? Kamu pengen ambil kendali, hem?" Bara menyelipkan rambut Sheina yang berjatuhan ke belakang telinga. "Aku suka kalau kamu agresif," lanjutnya. Bara mendaratkan bibirnya di bibir Sheina. Ia memegang belalang kepala istrinya, lalu berguling dan kembali melanjutkan aksinya.
Sheina hanya pasrah, membiarkan Bara dengan segela kenikmatannya memanjakan tubuh Sheina yang tidak pernah bisa menolak. Saat indra pengecap milik Bara bermain di leher Sheina, wanita itu langsung menghentikannya.
"Stop, Bar. Jangan di situ!" ucapnya sembari menahan gejolak aneh yang timbul akibat perlakuan Bara.
"Kenapa? Aku suka aroma tubuhmu yang wangi. Aku bisa gila Sayang, jangan hentikan aku!" Bara kembali menyerang, tapi Sheina langsung menyerbu bibir Bara.
"Jangan ninggalin jejak di tempat yang bisa dilihat Gabriel," ucap Sheina setelah melepas ciumannya.
"Oh iya. Aku lupa. Dia pasti marah lagi," kata Bara setelah menyadari kesalahannya.
"Makanya hati-hati!" Sheina menyentuh pipi Bara. Dari sorot matanya, terlihat jelas ia mencintai Bara.
"Kalau begitu, kita harus kerja sama." Bara bangun lalu menggendong tubuh Sheina dan membawanya ke kasur.
Bara dan Sheina saling melepaskan pakaian. Sudah tidak ada lagi kekakuan yang Sheina perlihatkan. Ia bahkan mulai berani mengambil alih permainan.
__ADS_1
"Wow, kamu sek si banget, Sayang," ucap Bara saat Sheina berada di atasnya tanpa sehelai benang pun.
"Kamu suka?" tanya Sheina.
"Suka banget." Bara menggenggam benda kenyal yang menggantung indah, menggodanya untuk menikmati keindahan ragawi istrinya.
Sheina meraih torpedo yang mengeras itu, lalu menancapkannya ke dalam dirinya. Bara merasakan gigitan yang menjepit, tapi ia sangat menikmati semua itu. Dalam hati Bara sangat kagum pada istrinya, yang meskipun telah melahirkan, tapi rasanya tidak jauh beda saat pertama kali ia membuka segelnya.
Bara dan Sheina mulai mengarungi lautan kenikmatan yang semakin hari semakin terasa nikmatnya. Cinta yang telah hadir di hati Sheina, membuat hubungan mereka semakin hangat, bahkan terbilang panas. Sampai akhirnya, Bara dan Sheina mengakhirinya dengan senyum penuh kepuasan.
"Aku cinta kamu, Shein." Bara memeluk tubuh Sheina yang masih tersengal-sengal.
Apa aku juga mencintaimu, Bar. Maafkan aku. Tunggu sebentar lagi, biarkan aku meyakini bahwa aku juga mencintai kamu.
Sheina tak menjawab ungkapan cinta Bara, tapi Bara sangat paham bahwa Sheina bukan wanita yang mudah mengatakan cintanya. Bara tahu, Sheina sudah mencintainya, hanya saja Sheina masih ragu dengan perasaannya.
"Kayaknya kamu udah mulai jadi buaya betina," goda Bara setelah mengecup bibir dan kening Sheina.
"Apa sih maksudnya. Buayanya kan kamu, Daddy Buaya." Sheina balik menggoda Bara.
"Tadi, kan, kamu ganas banget. Aku yakin, jiwa buaya kamu udah mulai tumbuh."
__ADS_1
"Jadi mommy buaya?"
"Pastinya dong. Buaya itu binatang buas tapi dia paling setia. Saat pasangannya mati, dia akan sendirian sampai akhir hayatnya. Aku harap kita bisa seperti itu."
Aku juga berharap seperti itu, Bar. Semoga tidak ada orang lain selain aku di hati kamu.
***
Sebelum pulang, Bara mengajak Sheina makan malam romantis. Bara memberikan kejutan istimewa dengan memesan meja khusus secara mendadak. Ia juga menyiapkan bunga lili dan coklat yang dulu pernah ia berikan pada Sheina saat SMA.
"Kalau saja ini nggak dadakan, aku pasti siapin yang lebih romantis." Bara memegang tangan Sheina dan menatap cincin di jari manis Sheina yang sedikit kebesaran. Cincin yang ia sematkan saat menikahi wanita impiannya di rumah sakit.
"Gini aja aku udah seneng banget kok, Dad. Dari dulu kamu emang selalu romantis dan selalu sukses bikin aku berbunga-bunga."
"Ayo kita menikah!" ucap Bara dengan serius.
"Kita sudah menikah."
"Aku ingin memamerkan kamu di depan para tamu, memegang tanganmu lalu mencium keningmu. Aku berhasil mendapatkan kamu dan Gabriel, aku ingin seluruh dunia tahu itu. Gimana kalau kita adakan resepsi pernikahan?" Bara mengeluarkan satu set perhiasan yang dulu ia pesan setelah resmi menikahi Sheina secara sederhana di rumah sakit.
Like, koment, Vote nya jangan lupa 🥀🥀
__ADS_1
☕☕☕