
Bara sangat terkejut dengan kedatangan papanya. Ia masih asyik menikmati keindahan wajah Sheina yang ada di depan matanya.
"Papa datang tiba-tiba aja, udah kayak jailangkung. Ngapain sih, Pa?"
Eh tapi ide Papa boleh juga, Sheina bisa jadi asisten pribadiiku, sih.
"Kamu tuh kurang ajar banget sih, Bar. Tadinya papa nemenin Gabriel beli ikan, terus lewat kantor jadi mampir sekalian."
"Gabriel beli ikan?" tanya Sheina yang juga terkejut dengan pernyataan papa Bara.
"Iya, tadi papa belikan ikan koi yang masih kecil. Daripada ambil ikan koi di rumah," jawab Papa.
"Ya ampun, makasih ya, Pa. Gabriel tuh kayaknya sehati sama Papa, hobi ikan," ucap Bara. Ia merasa lega karena papanya mulai menerima Gabriel sebagai cucunya, bahkan mau membeli ikan untuk Gabriel.
"Tapi dia banyak tanya, papa pusing jawabnya."
"Itu namanya cerdas, Pa."
Sheina ikut merasa lega mendengar kedekatan Gabriel dan keluarga Bara. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Gabriel bisa diterima dengan baik oleh keluarganya, meskipun kelahiran Gabriel sama sekali tidak diinginkan.
Tidak berapa lama, Gabriel menyusul masuk bersama omanya. Wajah tampannya berseri-seri karena mendapatkan ikan yang menurutnya sangat lucu.
"Mommy. Mommy kelja sama Daddy ya?" tanya Gabriel saat memasuki ruangan Bara.
__ADS_1
"Iya, Gab. Gabriel dari mana?" Sheina menghampiri Gabriel yang kemudian meminta untuk digendong mommynya.
Bara kembali ke tempat duduknya, Sheina dan membawa Gabriel untuk duduk di sofa ruangan Bara yang sangat nyaman.
"Dali beli ikan, Ada banyak banget ikan Mommy," kata Gabriel antusias.
"Nggak mau diem ya dia," sahut mama Bara.
"Iya, Tante. Maaf ya kalau Gabriel ngerepotin banget." Sheina mengusap rambut Gabriel. Beberapa kali ia sempat mendaratkan ciuman di kening bocah itu.
"Nggak kok, malah mama seneng bisa jagain Gabriel. Tadi aja banyak yang bilang sama mama kalau cucu mama ganteng maksimal, lucu. Sampai karyawan di bawah pada heboh. Gemesin banget sih dia." Mama Bara mencubit pipi Gabriel yang membuat bocah itu merasa risih.
"Mommy, Oma cubit pipi Biel telus. Nanti kalau pipi Biel copot gimana? Bilangin dong Mom," adu Gabriel yang memang tidak suka saat pipinya dicubit karena gemas.
"Oma itu gemes sama Biel, karena Biel ganteng," jawab Sheina. Ia mengusap kedua Gabriel lalu menempelkan hidungnya dengan hidung Gabriel.
"Nggak, kata Mommy, Daddy gantengnya nomel selibu. Biel kan nomel satu."
Sheina dan mama Bara hanya tertawa menanggapi kelucuan Gabriel yang menganggap ketampanan daddynya sangat jauh di bawahnya.
*
*
__ADS_1
*
Gabriel dan oma opanya hanya mampir sebentar. Setelahnya, Sheina dan Bara kembali bekerja. Bara benar-benar menjadikan Sheina asisten pribadinya yang harus siap sedia menemaninya.
Jam pulang kantor telah tiba. Sheina dan Bara memutuskan untuk datang ke rumah keluarga Sheina, menjelaskan dan meminta maaf atas apa yang terjadi selama empat tahun ini.
Rumah mewah bercat putih itu tampak sepi. Sheina hendak memanggil asisten rumah tangga untuk membukakan pintu, tapi secara kebetulan Keyla juga baru pulang dari syuting dan bertemu Sheina di depan pagar.
"Loh, kamu kan yang waktu itu!" Bara mengingat wajah Keyla yang saat itu sedang menggendong Gabriel di jalan.
"Hehe. Iya itu aku, kalian ngapain?" tanya Keyla.
"Kita mau ketemu Papa. Ada nggak ya?"
"Masuk aja yuk!" Keyla membuka pagar. Mereka lalu masuk ke rumah mewah dua lantai itu.
Bara menggenggam tangan Sheina saat akan masuk ke rumah Sheina. Sheina sendiri merasa sangat berdebar setelah beberapa tahun tidak memasuki rumahnya sendiri.
"Tenang aja. Ada aku. Aku nggak akan biarin papa kamu nyakitin kamu lagi." Bara merangkul pundak Sheina, lalu mengusapnya untuk memberi dukungan.
"Aku takut aja, Bar."
Bara memberanikan diri memeluk Sheina. Bisa Sheina rasakan bagaimana tubuh yang pernah menodainya itu terasa hangat dan memiliki aroma yang menenangkan.
__ADS_1
"Kalian mau pelukan terus? Nggak mau masuk?" tanya Keyla yang membuat pelukan Sheina dan Bara terlepas.
🥀🥀🥀