Terjerat Gairah Musuh

Terjerat Gairah Musuh
TGM Bab 61


__ADS_3

Bara meminta Sheina untuk melakukan sesuatu pada tor.pedonya yang mengeras sedari tadi. Dengan malu dan pastinya berdebar-debar, Sheina menurut dan memanjakan tor.pedo Bara. Meski sangat kaku, wanita itu berhasil membuat Bara merem melek. Bara merasa semakin tergila-gila dengan Sheina yang mulai pandai memanjakan tor.pedonya.


Cukup lama Bara menikmati pelayanan mulut dan tangan Sheina, sampai akhirnya ia merasa ingin meledak.


"Bentar lagi, Sayang." Bara merasa semakin dengan langitnya. Tiba-tiba sebuah ketukan di pintu mengganggu konsentrasinya.


"Mommy, Biel takut. Mommy buka." Gabriel menangis memanggil mommynya, tangan kecilnya mengetuk pintu dengan lemah. Ia benar-benar ketakutan.


"Bar, Gabriel." Sheina panik, ia mengeluarkan tor.pedo Bara dari mulutnya. Akan tetapi, Bara yang sudah hampir meledak memaksa Sheina untuk tetap melakukan aksinya.


"Bentar lagi, Sayang, udah di ujung. Lebih cepat gerakinnya!" perintah Bara yang sudah sangat tanggung.


Sheina bingung, ia tidak tega mendengar Gabriel menangis, tapi tangan Bara juga menahannya. Dalam kebimbangan, ia mempercepat gerakan tangan dan mulutnya seperti perintah Bara.


Tangisan Gabriel semakin kencang.


Bara menahan kepala Sheina dengan tangannya. Wanita yang berjongkok di depannya itu tidak bisa berkutik lagi. Lalu, Bara menembakkan tor.pedonya ke dalam mulut Sheina sangat banyak, sebagian sampai tercecer keluar dari mulut istrinya.

__ADS_1


Sheina yang tidak pernah melakukan itu langsung mual dan muntah ke kamar mandi. Ia lupa anaknya menangis ketakutan di luar pintu kamar.


Bara memakai celananya dan membukakan pintu untuk Gabriel. Bocah itu langsung menjerit ketakutan. Bara menggendongnya sambil tersenyum penuh kemenangan. Meskipun si Kancil mengganggu, tapi Buaya sudah berhasil melakukan misinya.


"Daddy, Biel takut." Gabriel mengalungkan tangan mungilnya di leher Bara.


"Kenapa, Boy? Mimpi Mommy dimakan buaya lagi?" tanya Bara sambil menghapus air mata Gabriel.


Gabriel menggeleng pelan, mulutnya tetap manyun dengan mata yang masih basah. "Mimpi dikejal monstel. Biel nggak mau tidul sendili lagi. Biel takut."


Bara menarik napas dalam. Hari ini Gabriel gagal tidur sendiri. Besok-besok, ia pasti akan semakin kesulitan mendekati Sheina.


"Lagi di kamar mandi. Udah sini, tidur sama Daddy!" Bara menurunkan Gabriel di kasur, lalu ia merebahkan tubuhnya yang sudah terpuaskan.


Sheina keluar dari kamar mandi setelah muntah-muntah. Bara tersenyum bahagia memandangi istrinya, sedangkan Sheina memanyunkan bibir.


"Mommy, mommy kenapa nggak buka pintu, Biel takut." Gabriel memeluk Sheina dan kembali menangis.

__ADS_1


"Mommy tadi pipis, Sayang. Udah yuk tidur, udah malem banget ini." Sheina merebahakan diri di kasur, lalu menarik selimut dan memeluk Gabriel.


Bara mencium pipi Gabriel dan juga Sheina. "Makasih, Sayangku."


Sheina tersipu karena perlakuan manis Bara.


*


*


*


Beberapa hari setelah dirawat di rumah sakit, keadaan Papa Yudha mulai membaik dan sudah diperbolehkan pulang. Sheina tidak berniat membantu papanya, meskipun Bara menawarkan diri. Wanita itu masih kecewa dengan sikap papanya, meski ia sudah memaafkannya. Ia ingin papanya berusaha sendiri untuk memperbaiki keadaannya.


Bara melarang Sheina untuk bekerja, dan Sheina pun setuju karena ia bisa menemani Gabriel dan fokus untuk mendidik putranya itu. Sheina sudah tidak pergi ke rumah sakit, sehingga ia memutuskan untuk mengirimkan makan siang ke kantor Bara.


Sheina dan Gabriel datang berdua ke kantor Bara dengan taksi. Saat di lobi, ia berpapasan dengan Devan yang berjalan menuju pintu keluar.

__ADS_1


"Om Devan."


☕☕☕


__ADS_2