Terjerat Gairah Musuh

Terjerat Gairah Musuh
TGM2 Bab 17


__ADS_3

Bara mengurai pelukannya pada tubuh Sheina. Ia sudah menunda meeting hari ini, dan tidak mungkin membawa Sheina ke kantor. Setelah membujuk istrinya itu, akhirnya Bara bisa pergi ke kantor.


Sheina kembali ke kamar, mengambil pakain kotor Bara untuk dicuci. Saat ia mencium parfum Bara yang menempel di pakaian itu, gejolak di perutnya kembali muncul. Ia kembali mual, tapi Sheina melihat pakaian Bara lainnya dan langsung mengambilnya. Tidak ada aroma parfum yang melekat, justru bau keringat yang masih menempel. Aroma yang pasti tidak enak itu, nyatanya mampu menenangkan perut Sheina.


Setelah kembali tenang, Sheina membawa turun pakaian kotor itu untuk dicuci. Saat menuruni tangga, Mama Viona menatapnya heran.


"Shein, kamu nggak apa-apa?" tanya Mama Viona yang khawatir melihat Sheina turun dari tangga sambil menciumi pakaian Bara.


Sheina mendekati mama mertuanya. Bi Surti langsung mendekat dan mengambil alih pakaian kotor itu.


"Perut aku mual banget cium parfum, Ma. Tapi baju Mas Bara bikin aku nggak mual," kata Sheina sambil mengusap perutnya yang kembali tenang.


"Hemm, tapi itu kan jorok Sayang." Mama mengajak Sheina untuk duduk di sofa. Mama ingin memberikan minyak angin, tapi Sheina langsung tutup hidung.


"Nggak mau, Ma. Aku mual." Sheina menolak, masih dengan hidung yang ditutup rapat.


"Ya ampun, beneran maunya nyium bapaknya terus. Kalau bunga gimana?" tanya Mama Viona. Mama khawatir karena besok Bara akan pergi, kalau Sheina terus begini apa Bara bisa pergi dengan tenang?


"Kalau bunga lily sih nggak mual, Ma."

__ADS_1


Mama menghela napas lega. "Oke, selama Bara pergi, mama akan bawakan bunga lily biar kamu nggak perlu cium baju kotor gitu."


"Bukan aku yang mau Ma," elak Sheina.


Mama tersenyum dan mengusap rambut Sheina yang terlihat berkilau terkena pantulan sinar matahari.


"Iya, itu maunya cucu mama kan? Tapi mama kayaknya nggak bisa nginep, Nenek kan mulai ngeluh sakit. Papa sama mama nggak tega kalau ninggalin sendiri sama pembantu, atau kamu mau ke rumah mama aja?"


Sheina menggeleng. Se-nyaman-nyamannya rumah mertua, ia lebih suka tinggal di rumah sendiri. Apalagi kehamilannya ini sedikit rewel, Sheina merasa tidak enak hati.


*


*


*


"Sayang, aku pulang." Bara mengetuk pintu sambil memanggil Sheina.


Tidak ada jawaban, hanya ada suara orang yang sedang muntah dan itu membuat Bara semakin khawatir.

__ADS_1


"Sayang, buka pintunya. Jangan dikunci dong."


Tidak lama pintu terbuka, menampilkan wajah Sheina yang pucat. Wanita itu memeluk Bara dan menumpahkan tangisannya.


Bara tidak berkata-kata lagi, ia tahu dari mamanya jika wanita hamil memang sangat sensitif. Jadi, ia harus banyak-banyak bersabar menghadapinya.


Lagi-lagi rasa mual itu hilang saat mencium aroma tubuh Bara yang ternyata tidak sempat memakai parfum lagi saat tadi berangkat ke kantor.


"Aku nggak mau ditinggal lagi, aku mau ikut aja ke Surabaya," ucap Sheina yang membuat kening Bara berkerut.


"Sayang, kamu kan lagi hamil. Kata dokter masih rentan loh." Bara mengurai pelukannya dan kini menatap Sheina khawatir.


"Aku dari pagi muntah terus. Gimana kalau besok kamu tinggal. Kamu nggak kasihan sama aku?" tanya Sheina yang kini kembali menangis.


Bara menggaruk kepalanya. Menghadapi Sheina yang sekarang, jauh lebih sulit daripada menghadapinya saat mereka bertemu lagi setelah empat tahun.


☕☕☕


Nggak ada yang kangen aku kah?? Eh kangen Daddy buaya maksudnya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2