
Sheina bergerak melindungi Bara. Air mata mulai meleleh melewati pipinya saat melihat wajah Bara yang babak belur. Sheina semakin merasa tak enak hati saat Bara berusaha tersenyum dengan bibirnya yang terluka itu.
"Ini nggak sebanding dengan empat tahun yang aku lewatkan, Shein. Jangan nangis!" Bara menghapus air mata yang membasahi wajah cantik Sheina.
"Bangun, Bar!" Sheina berusaha membantu Bara.
"Dia bilang nggak sebanding, 'kan? Harusnya kamu dihajar dan membusuk di penjara!" hardik papa yang kini dipegangi Keyla dan mamanya.
Sheina berdiri setelah membantu Bara duduk. Ia mensejajari papanya yang masih sangat emosi. "Papa pikir apa yang Papa lakuin itu udah bener?" tanya Sheina sembari menghapus air matanya. "Papa nggak berhak mukulin Bara kayak gitu."
"Dia udah nodai kamu dan kamu bela dia?" tanya papa kesal.
"Aku nggak bela siapa pun. Yang aku sesalkan kenapa Papa menghakimi dia seakan-akan Papa sayang sama aku. Bukannya Papa lebih memilih nama baik keluaga Atmaja daripada aku dan anakku?"
Papa tertunduk diam. Sheina kini melihat Bara yang duduk di lantai sambil memegangi wajahnya, seluruh tubuhnya terasa sakit akibat pukulan papa Sheina.
"Bara, apa kamu nggak pernah nyari aku ke sini?" Sheina kini duduk di hadapan Bara yang menyedihkan.
"Aku cari kamu, tapi kata mama kamu, kamu ke luar negeri. Aku beneran ke sini Shein. Kalau aja ada yang ngasih tahu aku kalau kamu hamil, aku pasti langsung cari kamu sungguh-sungguh. Nggak akan nunggu selama ini." Bara menghapus lagi air mata Sheina yang masih berjatuhan.
"Papa denger? Kalau aja aku masih di rumah ini, aku nggak akan se-menderita ini, Pa."
"Ma, apa benar itu? Bar pernah ke sini tapi mama bohong?" tanya Keyla.
"Mama harus jawab apa? Mana mama tahu kalau laki-laki itu yang menghamili Sheina," jawab mamanya.
__ADS_1
Papa merasa lemas dan hampir jatuh. Keyla dan mamanya lalu membawa papa duduk di kursi.
"Udahlah, Bar. Ayo kita pergi dari sini. Di sini bukan tempatku."
"Tapi aku nggak mau pergi kalau papa kamu nggak ngerestuin aku nikahin kamu, Shein." Bara berusaha bertahan, tapi Sheina juga keras kepala saat ini.
"Yang paling penting saat ini, keselamatan kamu, Bar. Aku nggak mau kamu kenapa-napa di sini. Kalau dia nggak mau nikahin aku. Kita bisa nikah dengan wali hakim." Sheina menarik tangan Bara. Bara hanya bisa pasrah karena ia pikir ia akan kembali lagi setelah ini.
"Key, aku pulang!"
"Hati-hati Shein."
...****************...
Bara dana Sheina akhirnya pulang ke rumah orang tuanya Bara karena Gabriel ada di sana. Sheina sebenarnya memaksa Bara ke rumah sakit untuk mengobati lukanya, tapi Bara menolak.
Akhirnya mereka sampai di rumah orang tua Bara. Semua terkejut melihat Bara yang sudah babak belur, termasuk papanya Bara yang sedang memangku Gabriel.
"Kamu kenapa, Bar?" tanya papa Bara khawatir. Apa putranya habis dihajar orang? Bukankah dia jago tekwondo? Apa dia tidak bisa melawan?
"Aku ngga apa-apa kok, Pa," jawab Bara yang masih mendesis menahan sakit. Sementara Sheina memegangi pundaknya, takut jatuh.
"Tante ada es batu?" tanya Sheina.
"Ada kok, bentar mama ambilkan dulu." Mama berjalan menuju dapur. "Berantem sama siapa sih?"
__ADS_1
"Mommy, Daddy kenapa?" tanya Gabriel ikut bingung.
"Nggak apa-apa, Sayang. Biel susulin Oma dulu ya," jawab Sheina yang tak ingin putranya mendengar apa yang akan ia sampaikan pada papanya Bara.
Gabriel mengangguk patuh dan menyusul omanya ke dapur.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu buat masalah terus, sih, Bar?" tanya papa Bara.
"Aku nggak apa-apa kok, Pa. Santai aja."
"Sebenarnya Bara dipukul papa saya, Om." Sheina mengatakan terus terang.
"Apa? Papa kamu? Yudha Atmaja?" tanya papa Bara yang mendengus kesal.
"Iya, Om. Maaf."
"Aku harus buat perhitungan sama dia," kata Papa yang kemudian berdiri.
"Pa, jangan, Pa. Aku bisa selesaiin masalahku sendiri."
"Nggak bisa. Harga diri papa kayak diinjak-injak rasanya."
Papa mengambil kunci mobil, dan Gabriel yang melihatnya langsung berlari memeluk opanya.
"Opa mau ke mana? Biel ikut, Opa."
__ADS_1
🥀🥀🥀