
Bara syok saat Sheina mengatakan ia bukan tipe pria yang disukai Sheina. Sedangkan papa Bara mulai tertarik dan penasaran dengan kepribadian yang Sheina miliki.
"Kalau misal nggak ada Gabriel, kamu mau nggak nikah sama anak saya?" tanya papa Bara pada Sheina.
Sheina tersenyum canggung. Mau menjawab jujur, takut menyakiti hati Bara dan orang tuanya. Kalau tidak jujur, malah menyakiti dirinya sendiri.
"Em ...."
"Jawab jujur aja, Shein!" ucap Bara dengan yakin. "Aku, kan, ganteng, kaya, pekerja keras, dan pastinya bisa bikin kamu bahagia." Bara sangat percaya diri. Ia pikir ia bisa mendapatkan hati Sheina karena kelebihannya itu.
Sheina memutar bola matanya jengah. Ia sampai membuang napas dengan kasar. "Kalau boleh jujur." Sheina tidak melanjutkan kalimatnya karena masih ada Gabriel di dekatnya. "Nggak deh, nanti nyakitin hati Gabriel." Sheina tersenyum penuh hormat pada papanya Bara.
"Gabriel biar sama mama aja. Ayo Biel kita lihat ikan di belakang." Mama Viona sangat paham situasi. Mama membawa Gabriel ke belakang, tempat ikan-ikan kesayangan papa Bara.
Papa Bara mengajak Sheina dan bara untuk duduk bersama di ruang keluarga. Meski dalam situasi yang sangat menegangkan, Sheina masih terus berusaha menampilkan senyumnya. Ia tidak mau terlihat menyedihkan di hadapan orang tua Bara.
"Jadi gimana? Kamu masih mau sama Bara?" tanya papa Bara sekali lagi.
Sheina menggeleng.
"Shein. Aku tuh suka kamu dari lama. Misal aja kejadian malam itu nggak pernah terjadi, apa kamu tetep nolak aku?" tanya Bara yang merasa kesal karena ditolak Sheina.
__ADS_1
"Kamu bukan tipe aku, Bar. Sorry." Sheina menggeleng pelan. Sebenarnya ia sangat tidak enak hati dengan papanya Bara, tapi ia harus jujur, kan, seperti yang dikatakan Bara.
"Terus tipe kamu kayak gimana? Kayak Mondy yang sok jagoan itu?" tanya Bara kesal.
"Dia emang jagoan karate, Bar. Kamu lupa?" Sheina ikut kesal.
Dua manusia itu seolah lupa ada laki-laki lain di antara mereka yang menyaksikan perdebatan tidak penting itu.
"Aku juga jagoan taekwondo," balas Bara sewot. Entah kenapa membicarakan Mondy membuatnya sangat kesal.
"Tetep aja aku nggak tertarik sama kamu. Asal kamu tahu ya, Bar. Sebelum kejadian malam itu, aku sama Mondy itu pas deket lagi. Tapi, sejak malam itu aku ngerasa nggak pantes aja, akhirnya aku menjauh." Sheina menjawab jujur, tidak peduli lagi dengan perasaan Bara yang terlalu percaya diri itu.
"Apa bagusnya si Mondy sih?"
"Aku juga bisa bikin distro kayak gitu."
"Dari uang orang tua kamu pasti. Mondy itu kerja keras Bar. Dia SMA itu udah jualan, dan aku salut banget sama kerja kerasnya."
"Tau dah, puji aja orang lain terus."
"Sayangnya aku nggak yakin dia bisa nerima Gabriel yang mirip banget sama kamu."
__ADS_1
"Baguslah. Emang harusnya kamu itu sama aku aja. Ngapain juga ngomongin Mondy."
Tanpa mereka tahu, papa Bara mengukir senyum mendengar perdebatan Bara dan Sheina. Dari situ papa Bara tahu, bahwa anaknya memang sudah tergila-gila pada wanita cantik yang kini menjadi ibu dari cucu kandungnya.
Papa mulai sedikit luluh. Papa pikir, kalau Bara sangat mencintai Sheina, dia pasti akan menurut apa pun yang dikatakan Sheina. Papa bercermin dari dirinya sendiri yang sangat mencintai mama Bara sampai-sampai semua yang dikatakan mama Bara selalu papa turuti. Tentu saja, keberadaan Sheina di sisi Bara akan sangat membantu agar Bara lebih bertanggung jawab dengan pekerjaannya di kantor.
"Kamu duluan yang bahas dia."
"Ini karena papa." Bara menatap kesal pada papanya yang menanyakan hal yang malah memancingnya dan Sheina berdebat.
"Sekarang giliran papa yang ngomong."
Sheina kembali tegang. Ia merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga image dan malah berdebat dengan Bara.
"Gimana hubungan kalian saat ini?" tanya papa Bara.
"Aku akan menikahi Sheina, Pa. Aku cinta dia, dan aku nggak rela kalau Gabriel diasuh laki-laki lain," jawab Bara dengan sangat yakin.
"Kalau gitu, kenapa nggak kamu rawat sendiri, dan biarkan ibunya menikah dengan laki-laki pilihannya."
Nah loh, papa kenapa coba 😅
__ADS_1
🥀🥀🥀