
"Assshhh, sayang pelan-pelan ihh.." Syera meringis karena merasa kalau junior milik Juan terlalu dalam menusuk nya saat gerakan nya semakin cepat.
"Aduh, sayang.." Juan memejamkan mata nya, lalu menundukan kepala nya, lalu mencium bibir tipis Melisa dengan mesra. Pria itu melumaat dan memagutt nya dengan nikmat, tanpa menghentikan gerakan di bawah sana. Syera memeluk erat leher kokoh Juan, dia merasa ingin pipis lagi.
Bukan pipis sembarang pipis, tapi pipis enak yang akan membuat seluruh tubuh menegang. Syera menjambak kecil rambut Juan saat dia meraih klimaaks yang entah ke berapa kali nya malam ini. Dia ingin mendesaah kuat saat cairan nya keluar, tapi Juan malah mengajak nya beradu lidah.
"Ssshhhhh…" Syera hanya bisa mendesis begitu dia berhasil mendapatkan nya.
"Kamu keluar lagi, sayang?" Tanya Juan lirih di telinga Syera yang terlihat ngos-ngosan.
"Hmmm, entah yang ke berapa kali. Aku lemes, yang. Permainan kamu terlalu hebat, hingga membuat aku bisa keluar berkali-kali tapi kamu masih on." Puji Syera sambil mengusap rahang tegas milik Juan.
"Aku belum apa-apa, sayang. Kita lanjutkan ya?"
"Iya, sayang." Jawab Syera, Juan melepas penyatuan nya lalu membuat tubuh Syera berbaring miring. Di bagian depan, dia posisikan guling untuk Syera menahan gerakan nya, pria itu mengangkat salah satu kaki Syera ke pundak nya dan kembali melakukan permainan.
"Aaaahhhhh.." Syera mendesaah cukup kuat, saat Juan mulai bergerak memacu tubuh nya cukup kencang hingga membuat tubuh Syera terguncang. Posisi ini membuat junior milik Juan terasa lebih masuk ke dalam inti nya, bahkan mungkin menyentuh rahim nya.
"Sayang, pelan-pelan perut aku sakit." Pinta Syera, Juan menganggukan kepala nya. Dia pun bergerak lebih lambat, namun dia tetap menekan miliknya sedalam mungkin yang dia bisa, rasa nya ya tetap sama, sakit juga.
Hingga puncaknya, Juan pun juga meraih pelepasan nya. Kepala nya terdongak ke atas dengan mata terpejam, namun mulut nya tetap mengerang nikmat meski dengan suara lirih.
"Aaarrghhhh…"
Juan ambruk di atas tubuh Syera, dia berusaha mengatur nafas nya yang kejar-kejaran seolah habis lari maraton.
"Terimakasih, sayang." Bisik Juan, dia mengecup kening Syera dengan mesra, lalu mengusap pelan rambut nya. Setelah penyatuan nya terlepas, Juan langsung mengelap inti milik gadis nya dengan pakaian yang dia pakai seperti biasa nya. Karena tak mungkin Syera harus ke kamar mandi sendirian kan, jadi cukup di lap saja dulu. Besok, bersihkan dengan benar menggunakan air bersih.
"Sama-sama." Syera pun langsung mendusel di dada bidang Juan yang terbuka.
"I love you, sayang."
"I love you more, baby." Jawab Juan, dia tetap mengusap kepala Syera dengan lembut, lalu memeluk nya. Jam masih menunjukkam pukul dua dini hari, artinya masih ada beberapa jam lagi untuk beristirahat setelah pertarungan hebat tadi.
"Sayang, aku ada kelas besok."
"Iya, jam berapa?" Tanya Juan pelan, mata nya tertutup tapi dia belum tidur.
"Jam sembilan, cuma satu kelas aja kok."
"Yaudah, besok siap-siap aja ya. Sekarang, tidurlah. Kamu pasti capek kan habis main sama aku?"
"Hmmm, capek banget. Tapi enak, aku suka." Jawab Syera apa adanya, Juan terkekeh pelan, lalu mengecup singkat bibir manis Syera.
"Tidurlah, sayang."
"Iya, selamat tidur sayang." Balas Syera, dia pun kembali menyandarkan kepala nya di dada bidang milik Juan. Kedua nya pun tertidur dengan saling memeluk satu sama lain.
Di luar, hujan masih mengguyur bumi dengan deras, petir menyambar dan menimbulkan bunyi gemuruh yang memekakkan telinga, namun Syera yang sebenarnya takut akan petir melupakan hal itu karena saking asiknya bercintaa dengan Juan. Kali ini pun begitu, pelukan Juan mampu membuat rasa takut nya hilang.
Keesokan pagi nya, Syera terbangun lebih pagi dari biasa nya, dia mencuci pakaian nya sendiri menggunakan tangan nya. Ya, meskipun sejujurnya dia tak bisa melakukan nya, tapi tak mungkin mengandalkan Juan kan? Pria tak mungkin harus mencuci baju wanita.
__ADS_1
"Lho, sayang. Kok kamu nyuci baju sendiri sih, sini biar aku aja." Ucap Juan sambil bersiap mengambil alih pekerjaan Syera.
"Gak usah, sayang. Gapapa kok, sekalian aku belajar gunain tangan aku. Selama ini, tangan aku tuh cuma di pake belajar, main ponsel, makan, sama nenteng belanjaan kan, jadi sekarang aku pake nyuci." Jawab gadis itu sambil mendongak lalu tersenyum menatap Juan yang juga tersenyum ke arah nya.
"Kamu cantik deh."
"Makasih, ayang."
"Mau sarapan sekarang, atau nanti?" Tanya Juan.
"Nanti aja, ini aku belum bilas."
"Udah, biar aku aja. Kamu sarapan ya, biar gak telat sarapan nya, nanti perut kamu sakit."
"T-api…"
"Udah, gak usah ada tapi-tapian, sayang. Sok makan, sebentar lagi aku juga nyusul kok." Akhirnya, mau tak mau Syera pun keluar dari kamar mandi dan makan duluan, sedangkan Juan membilas pakaian nya. Tapi, tak lama kemudian pria itu menyusul dan Syera langsung melayani nya dengan baik.
Setelah selesai sarapan, Juan pun bersiap untuk mengantarkan Melisa ke kampus. Dia memasangkan helm untuk Melisa dengan mesra, sedangkan Melisa nampak datar saja.
"Kok gak nganter Rinda sekolah, yang?" Tanya Syera, setelah kedua nya berangkat dengan sepeda motor milik Juan. Pemuda itu mengendarai kendaraan beroda dua itu dengan kecepatan sedang.
"Tadi, dia di susulin temen-temen nya. Katanya berangkat nya jalan aja, sekalian jalan pagi." Jawab Juan, dia mengusap tautan tangan Syera yang melingkar di perut nya.
"Ohh, gitu ya. Kalo mama? Kemana ya, aku gak liat dia dari tadi pagi."
"Mama di kamar, katanya gak enak badan."
"Kok gak di periksa sih, yang?"
"Udah di kasih obat kok, semoga aja nanti pas kita pulang Mama sudah sembuh."
"Tau gitu, aku gak berangkat ngampus hari ini."
"Gapapa, cuma satu kelas kan? Jadi gak bakalan lama, setelah kelas nya selesai langsung pulang ya?" Ucap Juan.
"Oke, sayang." Jawab Syera, dia pun kembali menyandarkan dagu nya di pundak Juan, tangan nya juga semakin erat memeluk perut rata Juan.
Setelah sampai di kampus, Syera langsung masuk ke kelas. Sedangkan Juan, dia memilih berteduh di bawah pohon seperti biasa nya.
Namun, siapa yang menyangka kalau Juan akan di datangi seseorang yang akan menyulut kemarahan sang kekasih, jika sampai dia melihat nya.
"Hai, Ju.." Sapa nya, dengan senyum manis yang terkembang di kedua sudut bibir nya.
"Devia, ngapain disini?" Tanya Juan, jujur saja dia terkejut begitu mendapati sosok wanita itu disini.
"Aku sengaja menunggu mu disini, Ju." Jawab Devia, ya wanita itu datang untuk mengejar kembali cinta Juan, sesuai dengan apa yang dia katakan pada suami nya sendiri, Martin.
"Ngapain? Buat apa?"
"Ada hal yang ingin aku bicarakan."
__ADS_1
"Ya tinggal bicara saja." Jawab Juan datar.
"Apa kamu benar-benar pacaran dengan Syera?"
"Iya, kenapa?"
"Kau mencintai nya?" Tanya Devia lagi, sambil menundukan pandangan nya.
"Sangat, aku sangat mencintai kekasih ku, Dev." Jawab Juan dengan tegas, tanpa sedikit pun keraguan di mata nya.
"Apa aku masih punya kesempatan, Ju? Kisah kita dulu, belum selesai kan?"
"Jangan gila, Devia! Saat ini kau berstatus istri orang." Ucap Juan mulai terpancing emosi nya.
"Jadi, jika aku bercerai dengan Martin. Kau mau memberi aku kesempatan kedua, Ju?" Tanya Devia makin tak tau malu, membuat Juan harus mati-matian menahan amarah nya. Kenapa dia harus kembali sih?
"Jangan konyol, kau saja sedang mengandung anak dari Martin saat ini."
"Gampang, aku bisa menggugurkan nya demi bisa bersama mu, Ju."
"Lalu, kau kira aku masih mau dengan mu, Dev? Maaf, tapi aku lebih memilih Syera. Kekasih yang paling aku cintai saat ini." Jawab Juan dengan tegas, rahang nya mengetat menandakan kalau dia tengah marah saat ini.
"Kau membentak aku, Ju?"
"Kalau iya, kenapa? Kau keberatan." Tanya Juan datar, dari awal dia tak menyukai kehadiran wanita itu disini.
"Kamu tak pernah melakukan hal itu padaku, Ju."
"Aku tak peduli, kedatangan mu saja sudah membuat aku muak, Dev. Pergilah, jangan ganggu aku!" Ucap Juan, dia bersiap untuk pergi dari hadapan wanita itu. Tapi, dengan cepat Devia memeluk Juan.
"Lepaskan aku, Dev. Aku tak mau membuat Syera salah paham!"
"Biarkan saja, aku tak peduli. Aku justru akan sangat senang kalau kalian putus." Jawab Devia membuat Juan marah, sedari tadi dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menahan amarah nya, tapi saat ini dia sudah tidak bisa menahan nya lagi.
"Sayang.." Panggil Syera lirih, membuat Juan mendongak.
"Sa-yang.."
Syera pun memalingkan wajah nya, lalu pergi dari parkiran dengan langkah cepat nya, jujur saja dia merasa cukup kecewa saat melihat pria nya di peluk oleh wanita lain.
Juan yang melihat itu pun langsung menghentak tangan Devia dari tubuh nya, lalu berlari mengejar Syera yang sudah pergi entah kemana. Sedangkan Devia, dia tersenyum jahat melihat hal itu.
"Sayang, tunggu aku!" Juan mengejar Syera, namun wanita itu hilang di belokan.
Entah kenapa dia terobsesi untuk bisa mendapatkan Juan sekarang, melihat pria itu bersama wanita lain membuat hati nya cemburu, dia tak rela kalau pria itu bahagia dengan wanita lain. Padahal dulu, dirinya lah yang meninggalkan Juan.
Bukan hanya karena dia meminta hubungan yang lebih, tapi karena masalah uang juga. Karena Juan tak bisa memberikan apapun untuknya, dia pun meninggalkan Juan bahkan mengatakan hal-hal yang menyakiti hati pria itu, tapi sekarang dia malah ingin kembali?
"Lihat saja, aku akan menghancurkan hubungan mu dengan wanita mu itu, Juan. Dan setelah itu kau akan kembali padaku!" Gumam Devia, dia tersenyum jahat dan pergi dari sana dengan senyuman yang tersungging di bibir nya, karena dia sudah satu langkah untuk membuat hubungan Syera dan Juan hancur.
.....
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻