Terjerat Gairah Sang Pengawal

Terjerat Gairah Sang Pengawal
Bab 69 - TGSP


__ADS_3

Seperti nya usaha Miranda untuk membuat Juan mau dekat dengan nya belum juga membuahkan hasil, hari ini adalah hari ke lima dia berada di sini. Pagi-pagi sekali, Juan sudah pergi untuk pergi bersama Syera meninjau progres pesta pernikahan mereka di gedung yang sudah Roberts sewa khusus untuk pernikahan mereka.


Miranda pun juga belum putus asa, meskipun dia sudah di juteki oleh Juan, dia masih tahan banting sejauh ini, malahan Juan yang sudah jengah melihat wanita paruh baya itu berada di rumah nya. 


"Ma, masih belum berhasil juga?" Tanya Romlah, Miranda tersenyum kecil sambil menatap Romlah dengan tatapan hangat nya.


"Belum sama sekali, tapi tak masalah karena Mama takkan menyerah sebelum berhasil membuat Juan mau mengakui aku sebagai nenek nya." Jawab Miranda.


"Baiklah, Ma. Maaf ya, Juan memang kalau sudah membenci orang, dia akan sulit untuk memaafkan."


"Iya, tak apa-apa. Mama pantas mendapatkan semua ini, Juan sudah banyak memberi Mama pelajaran tentang hidup. Kalau semua nya takkan berjalan sesuai dengan para yang kita inginkan." Jelas Miranda, Romlah hanya tersenyum kecil. Dari dulu, Miranda memang wanita yang ambisius dalam segala hal, ya mungkin termasuk dalam hal ini seperti nya.


"Jangan menyerah ya, Ma. Aku yakin kok, kelamaan Juan pasti akan luluh juga." Jawab Romlah sambil tersenyum.


"Iya, dia kemana pagi-pagi sekali?"


"Katanya mau pergi sama Syera buat lihat progres di gedung, besok mereka menikah, Ma." Lirih Romlah membuat kening Miranda mengernyit.


"Kenapa, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Miranda saat melihat ekspresi wajah Romlah berubah saat mengatakan hal itu.


"Tidak apa-apa, Ma."


"Kamu tidak bahagia dengan pernikahan putra mu?" Tanya Miranda lagi.


"Tidak, aku sangat bahagia jika Juan sudah mendapatkan gadis untuk mendampingi nya, Ma. Apalagi Syera adalah gadis yang sangat baik dan mencintai Juan dengan tulus." 


"Lalu kenapa?"


"Aku malu sama Tuan Roberts, Ma. Sampai sekarang aku belum pernah bertemu dengan nya, semua biaya pernikahan beliau lah yang menanggung nya, sedangkan aku? Tidak bisa memberikan apa-apa, bahkan sekedar cincin kawin saja, aku tak bisa memberikan nya." Jelas Romlah panjang lebar, membuat Miranda mengusap lembut pundak Romlah.


"Tak apa-apa, bekali anak-anak mu dengan doa. Percayalah, doa lebih di butuhkan di bandingkan dengan harta benda." 


"Iya, Ma. Tapi tetap saja, aku merasa malu akan hal itu."


"Tidak perlu merasa malu, tampil lah dengan apa ada nya. Tak perlu merasa paling punya padahal kenyataan nya tidak."


"Baiklah, Ma.."

__ADS_1


"Kalau semisal, Roberts meminta ganti rugi, kamu bilang sama Mama. Biar Mama yang bayar, jangan ragu karena ini juga kewajiban Mama sebagai nenek dari Juan." Ucap Miranda.


"Iya, Ma." Jawab Romlah lirih. Miranda terlihat benar-benar berbeda dengan Miranda yang dia kenal beberapa tahun silam.


Sedangkan di gedung, Juan dan Syera sedang berkeliling di ballroom tempat di adakan nya pesta pernikahan mereka esok hari. Mewah, ya terlihat sangat mewah dengan di dominasi oleh warna putih, sesuai permintaan Syera. 


Karena, warna putih melambangkan kesucian dan pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan suci, maka dari itu Syera memilih warna putih. Namun untuk bunga, Juan lah yang memilih. Dia memilih dekorasi bunga asli nya dengan dominasi warna merah dan biru. Karena Juan suka warna biru dan Syera menyukai warna biru.


Meskipun pihak wedding organizer cukup kesulitan mencari aneka bunga berwarna biru, tapi berkat uang yang banyak, maka mulut mereka bisa di bungkam dan inilah hasil nya. Cantik sekali, apalagi di bagian pelaminan nya.


"Memuaskan.." Gumam Syera, namun masih bisa di dengar oleh Juan. Pria itu terus menggenggam tangan sang kekasih dengan erat, dia merasakan gugup yang luar biasa padahal pernikahan nya masih esok hari bukan hari ini. Tapi, kegugupan sudah mendominasi nya dari sekarang.


"Bagus kan?"


"Tentu saja, sayang." Jawab Juan. 


"Tinggal di kasih lilin aja, setelah itu beres. Gak sabar deh pengen cepet-cepet besok."


"Sabar dong, sayang. Kalau di tungguin, justru malah bakalan terasa makin lama lho." Ucap Juan. Waktu memang akan terasa lebih lambat jika di tunggu-tunggu.


"Bumil ku sangat menggemaskan." 


"Iya dong, calon istri siapa dulu?"


"Aku dong, siapa lagi memang nya." Jawab Juan, kedua nya pun terkekeh pelan. Kemesraan pasangan itu membuat pihak WO yang masih bekerja untuk memaksimalkan hasil nya untuk esok hari merasa baper melihat interaksi pasangan pengantin itu. 


"Kita pulang yuk?" Ajak Syera, Juan pun hanya mengangguk dan kedua nya pun pergi dari lokasi tempat di adakan nya pesta. 


"Jajan bakso dulu lah, laper aku yang." Pinta Syera setelah kedua nya berada di dalam mobil.


"Siap bumilku." Jawab Juan, Syera pun tersenyum manis. Juan tak pernah menolak apapun yang dia inginkan, bahkan sebelum dirinya hamil pun dia tak pernah menolak sekali pun. Paling, hanya membatasi nya agar jangan terlalu banyak makan pedas, itu saja. Selebih nya, dia mah oke-oke saja.


Juan pun mulai melajukan mobil nya, kali ini Syera ingin mencoba kedai bakso yang baru saja buka sekitar semingguan. Kedai nya masih cukup ramai oleh orang yang mengantri demi bisa mencicipi bakso yang kata nya enak.


Setelah sampai, antrian nya cukup panjang. Dia takkan tega jika melihat Syera harus panas-panasan untuk mengantri semangkuk bakso.


"Sayang, antrian nya panjang banget. Gimana kalo kita nyari bakso yang lain aja?" Tanya Juan.

__ADS_1


"Aku pengen nyobain bakso disini, yang. Boleh ya? Gapapa kok kalo ngantri bentar."


"Hmmm, yaudah deh." Syera pun tersenyum kesenangan, Juan paling tidak bisa menolak keinginan nya. Dia mengambil payung dari bangku belakang dan memayungi calon istri nya agar tidak kepanasan. 


"Sayang, pegel? Duduk aja." Juan pun mengambilkan kursi untuk Syera, gadis itu pun duduk di kursi yang di berikan oleh Juan. Syera menunggu dengan setia, sambil mengusapi perut nya yang memang kelaparan.


Hampir setengah jam berlalu, barulah Syera dan Juan bisa merasakan bakso yang kata nya enak itu. Syera langsung makan dengan lahap, rasa bakso nya memang enak. Perjuangan nya selama setengah jam ternyata tidak sia-sia, terbayar lunas karena rasa bakso nya yang worth it untuk di tunggu.


"Pelan-pelan aja makan nya, sayang."


"Hehe, laper."


"Yaudah, makan lagi yang banyak." Syera hanya tersenyum menanggapi ucapan Juan, tanpa disuruh sekalipun dia akan makan banyak, terbukti saat ini dia memesan dua mangkuk bakso hanya untuk dirinya sendiri. Eemm, mungkin bisa di bilang untuk berdua dengan janin yang ada di dalam rahim nya. Sedangkan Juan, dia juga memesan dua porsi bakso ya karena memang perut laki-laki beda dengan perempuan. 


Kedua nya pun makan dengan lahap, hingga suara seseorang membuat fokus kedua nya pada mangkuk bakso di depan mereka terbagi.


"Juan.." Merasa terpanggil, akhirnya Juan menoleh. Dia membulatkan mata nya saat melihat siapa yang memanggil nya. Syera mencebikan bibir nya begitu melihat wanita yang pernah hadir dalam hidup calon suami nya, siapa lagi kalau bukan Devia.


Penampilan nya nampak jauh berbeda dari saat terakhir mereka bertemu dengan sosok wanita itu. Perut nya sudah membuncit saat ini, mungkin usia kandungan nya sudah menginjak ke lima atau enam bulan.


"Aaa kebetulan sekali kita bertemu disini, Ju."


"Bukan kebetulan, tapi kesialan untuk ku." Jawab Juan ketus, dia pun kembali memakan bakso nya meskipun wajah nya terlihat di tekuk. 


Tanpa malu, Devia malah duduk di samping Juan. Tak lama kemudian, bakso pesanan nya juga datang. 


"Pulang yuk?" Ajak Juan pada Syera, dia khawatir kalau kehadiran Devia membuat mood bumil cantik nya memburuk.


"Belum habis, ayang. Sebentar lagi yaa."


"Hmmm, ya sudah." Jawab Juan pasrah, tapi dia beranjak dari duduknya dan pindah ke samping Syera, membuat Devia terlihat mendelik kesal.


'Kau sudah tak punya kesempatan lagi untuk bisa merebut Juan dari ku, Dev.' Batin Syera sambil tersenyum jahat, saat tatapan mereka bertemu. Sedangkan Devia menatap nya dengan tatapan tajam, namun Syera tak menanggapi nya sama sekali.


.....


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2