Terjerat Gairah Sang Pengawal

Terjerat Gairah Sang Pengawal
Bab 73 - TGSP


__ADS_3

"Pah.." Panggil Juan dengan pelan, membuat Roberts langsung berbalik dan menatap Juan dengan tatapan datar nya.


"Duduk, Ju." Pinta Roberts, Juan pun menurut dan duduk di kursi kosong yang berhadapan dengan Roberts. 


Roberts menatap wajah Juan dengan serius, membuat wajah Juan terlihat pucat pasi saat di tatap sedemikian serius oleh papa mertua nya. Dia juga merasakan kegugupan yang luar biasa saat ini, bahkan mendadak perut nya terasa mulas sekarang. 


"Kenapa wajah mu berubah pucat begini, Ju?" Tanya Roberts.


"Aaaa, ti-tidak." Jawab Juan terbata, membuat Roberts terkekeh. Menantu nya terlihat seperti ketakutan saat ini, padahal dia hanya menunjukkan wajah biasa nya. Tapi apa wajah datar nya ini membuat Juan ketakutan? Padahal kan biasa nya pemuda itu juga terlihat biasa saja melihat wajah nya, tapi sekarang kok berbeda?


"Kau takut atau apa sih, Ju? Tenang saja, aku takkan menggigit mu."


"Hehe, bukan begitu, pah." Jawab Juan sambil tersenyum canggung. 


"Begini, Ju. Aku sudah tua, aku lelah jika harus mengurusi perusahaan sendirian. Jadi maksud papah, bagaimana kalau kamu membantu papah di perusahaan, Ju?" Tanya Roberts membuat Juan menganga.


"T-api, apa aku bisa? Aku cuma lulusan SMA." Jawab Juan, membuat Roberts terkekeh.


"Tidak masalah, kau bisa belajar dulu." 


"Baiklah, pah." Jawab Juan, dia pun langsung setuju. Meskipun nenek nya juga menawari nya untuk bekerja di perusahaan nya, tapi Juan merasa tak yakin tapi jika mertua nya yang memang meminta nya secara langsung seperti ini, dia akan melakukan nya. Lagi pun, sekarang dia punya istri yang harus dia nafkahi.


"Ya, besok kau bisa mulai bekerja, Ju." Jawab Roberts. 


"Baik, pah." 


"Ohh ya, ada hubungan apa kau dengan Miranda, Ju?" Tanya Roberts yang membuat Juan terkejut. Apa papa mertua nya mengenal nenek nya? Kenapa dia bisa mengetahui nama sang nenek?


"Eemmm, memang nya kenapa, Pah?"


"Kamu ini, di tanya malah balik nanya." Ucap Roberts yang membuat Juan cengengesan. 


"Hehe, maaf pah. Beliau itu nenek Juan, kata nya sih. Soalnya Juan gak tau bener apa enggak nya, tapi kata Mama dia memang nenek Juan." Jawab Juan yang membuat Roberts membulatkan mata nya, tapi sedetik kemudian dia terkekeh pelan.


"Miranda itu nenek mu, Ju?" Tanya Roberts lagi, Juan menganggukan kepala nya mengiyakan. 


"Iya, pah. Kenapa ya?" Juan keheranan, ada apa dengan Roberts? Tadi dia terlihat terkejut, tapi sedetik kemudian dia tertawa. Gak tau lah ngetawain apaan. 


'Papa mertua ku kenapa ya?' Batin Juan, dia planga plongo sendiri melihat tingkah ayah mertua nya yang sedari tadi tertawa setelah dia mengatakan kalau Miranda itu adalah nenek nya.


"Hmm, nenek peot itu ternyata nenek mu ya? Haha, astaga. Aku berbesan dengan wanita itu? Tak bisa di bayangkan." Ucap Roberts. 


"Maksud papah, apa sih Pah?" Tanya Juan. 


"Ya, aku dan nenek mu dulu berteman cukup baik. Di luar bisnis juga di lingkungan bisnis, tapi nenek mu itu sangat angkuh, juga pelit." Jawab Roberts yang membuat Juan terkekeh pelan.


"Selain itu, nenek juga egois dan keras kepala kan ya, pah? Soalnya, kalau dia gak egoi gak mungkin nelantarin papah cuma karena dia memilih sama mama." 


"Ya, dia cukup keras kepala juga, Ju. Memang nya kenapa? Papa mu itu Hendra?"


"Heem, maka nya nama itu tersemat di belakang nama ku."


"Hmm, dia pria yang sangat baik. Hanya saja dulu aku mengenal nya saat dia masih berusia sangat muda. Aku hanya tahu kalau dia kuliah di luar negeri dulu." Jawab Roberts. 


"Bisa menceritakan sedikit tentang ayah ku, pah?" Tanya Juan, wajah nya terlihat sendu.

__ADS_1


"Kau tak ingat tentang ayah mu, Ju?"


"Hanya sekelebat saja, beberapa ingatan saja. Setelah nya aku lupa."


"Memang nya usia mu berapa saat Hendra meninggal, Ju?"


"Aku lupa, mungkin sekitar enam atau tujuh tahun. Pokok nya, pas Papa meninggal itu Mama masih hamil Rinda." Jawab Juan yang membuat Roberts terkejut. Artinya ibu nya Juan berjuang sendiri untuk melahirkan putri bungsu nya?


"Benarkah?"


"Iya, mama lagi hamil berapa bulan nya? Kalau gak salah lima atau enam bulan." Jawab Juan yang membuat hati Roberts terasa sakit.


"Setelah itu?"


"Ya kami berjuang hidup, Mama sampai-sampai harus menjual semua barang peninggalan Papah. Bahkan cincin kawin mereka juga habis di jual, demi bisa bertahan hidup." Jawab Juan sambil menatap ke depan dengan sendu, lalu menghela nafas nya dengan kasar.


"Itulah alasan kenapa pundak mu sangat kuat sekarang, Juan."


"Hmmm, begitulah. Jadi ceritakan tentang ayah ku sedikit saja." Pinta Juan.


"Aku tidak terlalu mengenal Hendra, tapi yang aku tahu, dia adalah pria yang baik juga mandiri. Dulu, dia sering bekerja paruh waktu untuk membiayai sekolah nya sendiri karena dia merasa tak ingin bergantung pada orang tua nya." 


"Benarkah?"


"Iya, papah mu sangat mandiri dan dia pekerja keras. Ya, kalau di lihat-lihat wajah nya juga sangat mirip dengan mu, Ju." Ucap Roberts. 


"Mama juga bilang gitu, tapi aku melupakan nya, wajah nya saja aku lupa, pah."


"Nenek mu pasti punya banyak foto-foto papah mu, Ju."


"Aku malas, Pah."


"Mungkin, aku hanya belum terbiasa dengan keluarga ayah ku. Itu saja, pah." Jawab Juan membuat Roberts tersenyum kecil.


"Sesuaikan dirimu, Ju. Bagaimana pun juga, Miranda adalah ibu dari ayah mu."


"Iya, mungkin nanti tapi tidak sekarang." Jawab Juan lirih. 


"Ya sudah, masuk sana. Nanti istri mu nyariin." 


"Oke, pah." Jawab Juan, dia pun beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam rumah untuk bertemu istri cantik nya.


"Bby.." Panggil Juan, Syera yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menyahut.


"Iya, sayang."


"Habis dari mana?"


"Kamar mandi, habis pipis. Kenapa?" Balik tanya Syera pada suami nya.


"Enggak, cuma nanya aja. Udah kenyang makan nya?" Tanya Juan lagi. 


"Udah kok, udah di keluarin lagi separuh. Hehe."


"Astaga, sayangku."

__ADS_1


"Kamu belum makan, ayo makan dulu Bby." Ucap Syera pada Juan.


"Iya iya, aku makan sekarang." Syera pun menggelayut manja di lengan suami nya. 


"Ututu, manja nya istriku." Ucap Juan sambil mengusap lembut kepala sang istri. 


"Aduh, pengantin baru mesra nya. Bikin iri aja." Celetuk Sharon yang membuat Syera terkekeh. 


"Kamu kapan nyusul?"


"Sama papa kamu ya?" Tanya Sharon sambil menaik turunkan alis nya dengan nakal.


"Ya iya, kalau gak sama bokap gue, Lu mau nikah sama siapa?" 


"Hehe, aku sih terserah papa kamu aja." 


"Beneran? Jadi, bagaimana kalau Minggu depan?" Tanya Roberts yang ikut menimbrung, membuat Sharon terkejut apalagi saat tangan besar pria itu merangkul pundak nya dengan mesra.


"Setuju, di percepat aja nikah nya." Saran Syera yang membuat wajah Sharon bersemu kemerahan.


"Sayang, kamu gak liat wajah dia sudah memerah? Sudah dong." Bisik Juan yang membuat Syera malah semakin bersemangat untuk menggoda sahabat nya itu.


"Ciee, Sharon muka nya merah kayak tomat mateng."


"Isshh Syera.." Rengek Sharon yang membuat gadis itu tertawa, dia senang karena sudah berhasil menggoda sahabat nya itu. 


"Ya sudah, minggu depan kita menikah ya, sayang?" Ucap Roberts yang membuat Sharon langsung menatap wajah pria di samping nya. 


Meskipun sudah di bilang cukup tua, tapi pesona seorang Robertson tak bisa di anggap sepele. Dia masih terlihat sangat tampan dan gagah, terlihat seksii juga bagi Sharon. Usia nya yang matang juga membuat Sharon nyaman karena dia jauh lebih dewasa. Selain itu, Roberts juga sangat baik dan perhatian, itulah yang membuat nya nyaman dan menaruh perasaan lebih terhadap ayah sahabat nya itu tanpa memandang jauh nya jarak usia mereka berdua, dia tak peduli akan hal itu.


"Serius, Mas?" 


"Tentu saja, sayang. Restu dari Syera sudah kamu dapatkan bukan? Lalu, apa yang kita tunggu?"


"Nah, bener tuh Shar. Nunggu apa lagi? Cepetan aja nikah nya." Ucap Syera lagi. 


"Eehmm, yaudah deh aku terserah Mas aja." Jawab Sharon yang membuat Roberts tersenyum manis dan mengacak rambut Sharon dengan gemas. 


"Ciee, jangan mesra-mesraan dulu. Nanti pengantin baru nya hambar." 


"Hambar mana sama kalian, hmm?" Tanya Roberts yang membuat Juan bungkam seketika, dia memalingkan wajah nya ke arah lain saking malu nya mungkin.


"Haha, suami kamu itu.." Ucap Roberts sambil tertawa.


"Iya, Syera tahu kok. Juan itu selain tampan juga menggemaskan, Syera tahu benar kok." Jawab Syera yang membuat Roberts mencebikan bibir nya.


"Dasar bucin." 


"Papah juga bakalan bucin tuh sama Sharon." 


"Iya deh iya, udah bucin dari sekarang juga sih."


"Ckkk, sendiri nya bucin ngapain ngatain orang lain bucin?" Ketus Syera, Juan merasa gemas dengan perkataan sang istri, dia pun membungkam mulut wanita itu dengan nasi dan gulai yang sedang dia makan. Sukses, Syera pun langsung terdiam dan mengunyah nasi itu. 


"Nah, akhirnya diam juga." 

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2