Terjerat Gairah Sang Pengawal

Terjerat Gairah Sang Pengawal
Bab 45 - TGSP


__ADS_3

"Tadi, saya lihat mobil itu terparkir di hotel. Ngapain kalian ke hotel?" Tanya Roberts, membuat wajah Juan seketika memucat. Harus menjawab apa? Dia belum mendiskusikan hal ini dengan Syera, lalu jawaban apa yang akan dia katakan sekarang?


"Kenapa, pah?" Tanya Syera, membuat Juan bisa menghembuskan nafas nya dengan lega. Setidak nya, kalau ada Syera dia bisa beralasan.


"Tadi, papa meeting di hotel di jalan anggrek. Papah liat mobil ini parkir di basement hotel, maka papah nanyain sama Juan, ngapain di hotel." 


"Ohh, biasa Pah. Tadi ada tugas dari kampus, masih seputar pendataan." Jawab Syera sambil mengedipkan sebelah mata nya pada Juan, memberi kode agar mengiyakan ucapan Syera. 


Ya kan, gak mungkin kalau dia mengatakan habis check in di salah satu kamar hotel itu kan? Bisa-bisa tuan Roberts murka dan lagi, pekerjaan nya akan terancam juga. Kalau dia di pecat, ibu dan adiknya akan makan apa nanti. 


"Benar itu, Ju?" Tanya Roberts. 


"Benar Tuan, saya bahkan ikut menemani Non Syera masuk dan melakukan pendataan." Jawab Juan sambil menganggukan kepala nya. Dia juga berusaha terlihat setenang mungkin agar Roberts percaya pada nya.


"Ya sudahlah, kalau begitu. Aku percaya pada mu, Ju." Roberts tersenyum kecil membuat hati Juan sedikit tercubit. Bagaimana bisa dia terus membohongi pria paruh baya yang baik hati ini? Tapi, dia juga belum siap untuk kehilangan pekerjaan ini. 


"Baiklah, Tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu."


"Iya, hati-hati di jalan nya, Juan." Ucap Syera dengan senyum manis nya. 


"Baik, Nona. Selamat sore." Ucap Juan, lalu dia pun segera pamit undur diri dari hadapan Roberts dan Syera. Berdekatan dengan Roberts, selalu membuat jantung nya berdegup lebih kencang. Ya gitu, kalo orang punya salah memang selalu gugup padahal dia bertindak biasa saja. Seperti yang di alami oleh Juan.


Roberts hanya bertanya, tapi pertanyaan simpel itu bisa membuat dia ketar ketir sendiri. Padahal kan, Roberts hanya sekedar bertanya bukan menuduh. 


Juan pun menaiki sepeda motor nya dan melajukan nya menjauhi rumah besar milik Roberts. Beberapa kali dia menggelengkan kepala nya, tiba-tiba saja merasa pusing. Tapi, dia tetap harus fokus karena sedang berada di jalanan, bisa bahaya kalau sampai dia terjatuh atau menabrak sesuatu. 


Tapi, dia malah oleng dan terjatuh. Pandangan nya terasa buram dan akhirnya menggelap. Juan terkapar tak sadarkan diri, pengguna jalan langsung menolong Juan dan membawa nya ke rumah sakit. 


"Bagaimana ini? Kita harus mengabari keluarga nya kan?" Tanya seseorang yang menolong Juan.


"Pasti ada ponsel atau semacam nya." 


Pria itu pun meraba saku celana Juan dan mengambil ponsel nya, beruntung sekali ponsel nya tidak di kunci jadi pria itu bisa membuka ponsel nya dan menghubungi seseorang yang terakhir Juan hubungi. 


"Ini kali ya? Ini kayak nya nomor pacar nya deh." Ucap pria itu meminta pendapat teman nya. 


"Iya, telepon cepetan." 


Pria itu pun menghubungi nomor yang konon kata nya nomor kekasih pria yang tak sadarkan diri di brankar rumah sakit itu. 

__ADS_1


'Hallo, sayang.' Suara lembut mendayu terdengar sesaat setelah panggilan nya di angkat.


"Maaf Nona, pemilik ponsel itu terjatuh di jalan dan saat ini tak sadarkan diri. Saya membawa nya ke rumah sakit, saya kebingungan untuk menghubungi siapa, jadi saya menghubungi anda, karena anda adalah orang terakhir yang di hubungi oleh korban." Jelas pria itu panjang lebar.


'H-ah, apa? Di rumah sakit mana?' terdengar nada suara nya meningkat, seperti nya gadis di seberang sana khawatir akan kondisi kekasih nya.


"Di rumah sakit jalan kenanga, Nona. Di ruangan IGD."


'Ya, aku kesana sekarang. Terimakasih.' Gadis itu pun mematikan sambungan telepon nya. 


Setelah mendapat kabar kalau sang kekasih tak sadarkan diri, Syera langsung bersiap untuk pergi ke rumah sakit. 


"Lho, mau kemana lagi?" Tanya Roberts saat melihat putri nya berjalan tergesa-gesa.


"Juan jatuh kata nya, Pah. Sekarang di rumah sakit, Syera harus kesana."


"Hah, jatuh gimana? Dia baik-baik aja tadi."


"Syera juga gak tahu, barusan ada yang nelpon dari nomor Juan kata nya Juan tak sadarkan diri. Syera kesana dulu ya, pah."


"Hati-hati bawa mobil nya, jangan ngebut." Peringat Roberts, Syera menganggukan kepala nya dan segera berlari keluar dari rumah.


"Dia terlihat sangat panik sekali, padahal Juan hanya pengawal nya." Gumam Roberts sambil menggelengkan kepala nya. 


Syera mengemudikan kendaraan roda empat nya dengan kecepatan tinggi, dia tak peduli apapun saat ini. Yang dia inginkan hanya segera sampai ke rumah sakit dan melihat keadaan sang kekasih.


"Tunggu sebentar lagi, sayang. Aku datang!" Gumam Syera, dia mengendarai mobil nya gila-gilaan. 


Hingga hampir setengah jam berlalu, akhirnya Syera pun sampai di rumah sakit yang di tunjukkan oleh si penelepon tadi. Syera langsung bergegas untuk mencari ruangan IGD, dia kembali menghubungi nomor Juan dan masih pria yang sama yang mengangkat panggilan nya.


"Hallo, Nona."


'Saya di depan ruangan IGD, bisa keluar sebentar?'


"Baik, Nona." Jawab nya, tak lama kemudian seorang pria bertubuh gempal dengan tubuh di penuhi tatto keluar. Jujur saja, melihat penampilan nya membuat Syera bergidik ngeri. Takut? Pasti, siapa sih yang gak takut saat di datangi pria sangar seperti itu. 


"Nona Syera?"


"I-iya, saya." Jawab Syera terbata. 

__ADS_1


"Mari, ikut saya." Syera pun mengekor di belakang pria itu, dalam hati nya dia sudah berprasangka buruk pada pria di depan nya. Bagaimana kalau ini hanya modus perampokan? Tapi, dari mana dia memiliki ponsel Juan?


Hingga akhirnya, kedua nya sampai di sebuah ruangan. Syera melihat kalau Juan masih terbaring di atas brankar rumah sakit. 


"Sayang.." Pekik Syera, dia langsung berlari mendekat ke arah sang kekasih, memeluk nya bahkan mengecupi wajah nya tanpa malu.


"Yang, kamu kenapa sih? Tadi kan kamu baik-baik aja."


"Maaf, Nona." 


"Kalian menemukan Juan dimana?" Tanya Syera pelan.


"Tadi, kami sedang melintas di jalan buah. Tapi, kami melihat korban nya sudah terkapar tak sadarkan diri. Jadi, kami membawa nya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan."


"Apa ini semacam tabrak lari atau kekasih saya korban begal?"


"Saya mengira ini kecelakaan tunggal, Nona. Mengingat sepeda motor nya masih ada, ponsel dan barang-barang lain milik kekasih Nona masih utuh." Jelas nya, membuat Syera tak habis pikir. Padahal, tadi Juan baik-baik saja. Lalu, kenapa sekarang dia pingsan tiba-tiba. Pingsan nya di atas motor lagi, bagaimana jika ada mobil melintas? Astaga, membayangkan nya saja dia tak bisa. 


Syera menatap wajah Juan dengan penuh kasih sayang, mengusap kening nya yang terdapat plester. Seperti nya ada luka di kening Juan, mungkin karena terjatuh.


"Maaf Nona, kalau begitu kami permisi dulu. Ini ponsel milik kekasih Nona." Pria itu memberikan ponsel Juan pada Syera.


"Terimakasih ya sudah menolong nya, kalau tanpa kalian mungkin aku takkan tahu kalau Juan pingsan di jalan." 


"Sama-sama, Nona." Jawab mereka serentak. Kedua nya pun bersiap untuk pergi, tapi Syera dengan cepat mengulurkan beberapa lembar uang berwarna merah.


"A-apa ini, Nona?"


"Ambil lah, anggap saja ini sebagai bentuk rasa terimakasih saya, karena kalian sudah menolong pacar saya."


"Tapi, kami melakukan ini ikhlas tanpa mengharapkan imbalan, Nona." Tolak mereka. 


"Terimalah, ini bukan imbalan. Hanya sebagai bentuk ucapan terimakasih."


"Baiklah, terimakasih Nona. Semoga pacar Nona cepat sembuh dan hubungan kalian langgeng hingga menua bersama." Ucap nya, membuat Syera tersenyum manis lalu menganggukan kepala nya.


Setelah kepergian dua pria tadi, Syera duduk di kursi plastik di dekat brankar tempat Juan berbaring. Syera juga memikirkan, prasangka nya tadi benar-benar jauh meleset. Kedua pria itu ternyata memiliki hati yang baik, meskipun penampilan nya sangat menakutkan.


"Bangunlah, sayang. Aku disini, kamu kenapa?" Gumam Syera sambil mengusap punggung tangan Juan dengan lembut. Mata nya terasa menatap Juan dengan tatapan hangat penuh cinta.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2