
"Syer, Lo kenapa? Dari tadi keliatan gelisah gitu." Tanya Anita.
"Gue khawatir sama Juan." Jawab Syera singkat.
"Dia belom sembuh?" Tanya Elin, dia juga berada disana, saat ini mereka sedang mengobrol di kelas sambil menunggu dosen nya masuk.
"Belom, tadi dia manja banget sama gue. Sampe ngerengek sama gue."
"Ngerengek?" Tanya Elin dan Anita bersamaan.
"Iya, dia mau sama gue terus. Gak bolehin gue pergi ke kampus." Jelas Syera lesu, dia ingat benar bagaimana Juan membujuk nya, juga ekspresi wajah nya membuat dirinya terus teringat hingga sekarang.
"Serius?"
"Iya, bahkan semalam dia tidur di pangkuan gue, nyenyak banget. Sampe gue gak tega mau bangunin nya."
"Wahh, Juan manja banget sama Lo, Syer."
"Iya, makanya gue inget terus. Tadi ekspresi dia sendu banget pas gue tinggal ke kampus." Jawab Syera lagi.
"Sabar, bentar lagi kelas nya mulai kok."
"Syer.." panggil Sharon lirih.
"Apa?" Tanya Syera sedikit ketus.
"Kamu pacaran kan sama Juan?" Tanya Sharon lagi.
"Kalo iya kenapa sih?" Tanya nya lagi, kali ini nada suara nya terdengar sinis.
"Enggak sih, kalo kamu beneran pacaran sama Juan, jangan terlalu mencolok. Nanti, papa kamu curiga sama kalian berdua." Jawab Sharon membuat Syera mendelikan mata nya sebal.
"Masalah itu, gue bisa tanganin sendiri. Lo gak usah ikut campur karena Lo gak di ajak!" Ketus Syera, membuat Anita dan Elin saling melempar tatapan. Seperti nya drama antara Sharon dan Syera belum usai.
Tak lama kemudian, dosen pun masuk dengan menenteng tas nya. Akhirnya, Syera bisa menghela nafas nya lega. Hanya butuh dua jam saja, setelah itu dia akan langsung pulang ke rumah Juan. Setelah membelikan pesanan Juan dan Rinda tentu nya.
Waktu terasa sangat lama jika di tunggu, itulah yang sedang di rasakan oleh Syera. Dia terus saja melihat ke jam yang melingkar di pergelangan tangan nya. Tapi, seolah waktu berputar begitu lembar saat ini.
"Aaisshh, menyebalkan sekali. Kenapa waktu berjalan sangat lambat?" Gumam Syera. Dia tak bisa memfokuskan pikiran nya pada materi pembelajaran, yang ada di otak nya saat ini hanyalah Juan dan Juan.
Hingga banyak waktu berlalu, akhirnya Syera pun bisa keluar dari kelas. Dia langsung berlari menuju mobil miliknya, Syera langsung mengemudikan mobil nya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dia juga berhenti sebentar di tukang rujak buah, sekalian membeli mie ayam langganan nya juga. Sengaja dia membeli empat porsi, karena tiba-tiba saja dia juga ingin makan mie ayam pedas.
Syera membuka ponsel nya, lalu menghubungi Juan, sekedar menanyakan keadaan nya sebelum dia sampai. Karena mie ayam nya ngantri, begitu juga dengan rujak nya.
'Hallo, sayang..' Suara lemah di seberang sana membuat kedua mata Syera membulat.
"Sayang, bagaimana keadaan mu? Apa semakin membaik?" Tanya Syera dengan suara khawatir nya.
__ADS_1
'Masih begini saja, sayang. Aku lemas sekarang, aku sangat membutuhkan mu.'
"Tunggu sebentar lagi, sayang. Aku sedang mengantri membeli rujak dan mie ayam, setelah itu aku langsung kesana. Sabar ya?"
'Rujak mangga muda ya, sayang?' Pinta Juan, suara nya terdengar lebih bersahabat dari pada tadi.
"Iya, sayang. Sabar dulu ya?"
'Jangan lama ya, sayang.'
"Siap, sayang." Jawab Syera, dia pun mematikan panggilan telepon nya.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya pesanan Syera pun selesai. Beruntung nya, warung mie ayam langganan nya bersampingan dengan tukang rujak buah. Jadi, Syera tak perlu berhenti lagi nanti karena dia sudah membeli semua pesanan nya sekarang.
Syera langsung membayar nya dan kembali mengemudikan mobil nya dengan kecepatan yang cukup tinggi, dia tak mempedulikan apapun yang ada di pikiran nya saat ini adalah cepat sampai ke rumah Juan sekarang juga.
Setengah jam berlalu, Syera sudah sampai di rumah Juan. Dia keluar sambil menenteng kresek berisi makanan pesanan Juan dan Rinda. Gadis itu tersenyum saat melihat Juan yang berdiri di ambang pintu.
"Sayang, bagaimana keadaan mu?" Tanya Syera sambil mengusap wajah Juan yang nampak sangat pucat.
"Lemes, aku muntah-muntah tadi, yang. Sampe tenggorokan aku rasa nya pahit." Juan mengadu pada sang kekasih.
"Sayang, seperti nya penyakit mu semakin parah. Kita ke rumah sakit ya?"
"Tidak, aku hanya ingin bersama mu, sayang." Jawab Juan, Syera pun langsung memeluk Juan dengan erat.
"Rin, ini mie ayam pesanan kamu." Ucap Syera sambil menunjuk mie ayam di dalam kresek.
"Rujak punya aku, yang?"
"Ini dia, rujak mangga muda dengan bumbu kacang kan, sayang?" Tanya Syera, Juan mengangguk cepat.
"Suapin.." Pinta Juan dengan manja, Syera hanya terkekeh, lalu menyuapi Juan dengan rujak yang dia beli. Sedangkan Rinda, dia langsung memakan mie ayam nya dengan lahap.
"Idih, kakak manja banget sama kakak cantik." Cibir Rinda begitu melihat kakak nya di suapi rujak oleh Syera.
"Iri aja lu." Jawab Juan, membuat Syera nyengir. Dia merasa lucu melihat reaksi adik kakak ini.
"Dihh, aku masih punya tangan buat makan sendiri."
"Gapapa, Rin. Kakak kamu kan lagi sakit, tapi malah mau nya makan rujak. Udah makan belum sih kakak nakal mu ini?" Tanya Syera pada Rinda.
"Tadi kak Juan udah makan, tapi malah muntah-muntah. Jadi nya dia cuma makan buah doang, itu juga cuma sedikit kak." Jelas Rinda membuat Syera menatap wajah Juan yang terlihat sedikit tirus. Hanya sakit beberapa hari saja, secepat itu pipi nya jadi tirus.
"Sayang.."
"Iya.." Syera menatap Juan dengan sendu, tak tahan rasa nya melihat Juan sakit seperti ini. Benar, dia terlalu mencintai Juan hingga membuat nya merasa khawatir berlebihan seperti ini.
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit ya?"
"Enggak usah, sayang. Aku baik-baik saja." Jawab Juan.
"Aku gak mau kamu sakit terus-terusan kayak gini, lihat wajah kamu udah tirus. Padahal kamu sakit baru berapa hari, plis nurut ya?" Bujuk Syera membuat Juan menundukan kepala nya.
"Tapi, aku gak punya uang nya, yang."
"Aku ada, kamu gak usah mikirin masalah biaya nya, biar semua aku yang tanggung, sayang." Jawab Syera membuat Juan mendongakan kepala nya.
"Sayang.."
"Plis, kamu nurut sama aku ya? Kamu harus di rawat, biar tahu sebenarnya kamu tuh sakit apa sekarang."
"A-aku gapapa kok, aku baik-baik aja." Jawab Juan kekeuh, dia tak mau di rawat di rumah sakit.
"Kamu gak kangen sama aku, sayang?" Tanya Syera membuat Juan menganggukan kepala nya. Kangen apa? Ya kangen permainan mereka dong, apalagi.
"Kangen.."
"Makanya, harus nurut ya?" Ucap Syera, membuat Juan mengangguk lagi.
"Tapi, siapa yang akan menunggui Juan di rumah sakit, Nak?" Tanya Romlah, sedari tadi dia mendengar dari balik tembok usang di depan Syera.
"Syera, Ma. Syera yang akan merawat Juan sampai sembuh, mama gak usah khawatir."
"Tapi Nak, bagaimana dengan pendidikan kamu?"
"Tak apa, hanya cuti beberapa hari takkan membuat aku tak lulus wisuda tahun ini." Jawab Syera membuat Romlah menatap gadis cantik itu dengan senyuman kecil. Ternyata masih ada gadis setulus Syera di dunia ini, dan beruntung nya Juan menemukan gadis cantik itu.
"Nak.."
"Iya, Ma.."
"Terimakasih sudah sangat tulus pada putra Mama." Ucap Romlah lirih.
"Sama-sama, Ma. Aku menerima Juan apa adanya." Jelas Syera.
"Aku mencintai Juan, apa adanya, Ma. Aku juga yang akan menemani nya dan keadaan apapun, aku berjanji."
"Sayang, ini terlalu berlebihan.." Ucap Juan pada Syera.
"Tidak, apapun yang aku lakukan itu semata-mata demi kebaikan kamu, sayang." Jawab Syera membuat pria itu menatap Syera dengan kedua mata berkaca-kaca. Beginikah rasa nya di cintai dengan tulus tanpa syarat apapun?
.......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1