Terjerat Gairah Sang Pengawal

Terjerat Gairah Sang Pengawal
Bab 84 - TGSP


__ADS_3

Syera tersenyum manis saat melihat mama mertua nya yang terlihat sangat antusias, melihat nya saja membuat hati Syera menghangat. 


Ya, hari ini Syera mengajak Romlah untuk bertemu dengan dokter pilihan sang papah. Konon dokter ahli saraf ini terkenal karena kemampuan dan cara pengobatan nya yang sedikit berbeda dengan dokter pada umum nya. 


"Sayang, Mama gugup." Ucap Romlah lirih, saat ini kedua nya masih berada di luar ruangan dokter itu. Juan juga berada di belakang sang ibu, dia yang mendorong kursi roda ibu nya. Sedangkan Syera, dia berdiri di samping sang suami.


Pertemuan pertama, mereka akan berkonsultasi lebih dulu. Kalau pun memang harus melakukan tindakan semacam operasi, Syera tak masalah. Begitu juga dengan Romlah, dia tak mau terus-terusan duduk di kursi roda saja, di samping itu dia juga merasa lelah jika harus duduk terus di kursi roda tanpa bisa melakukan apapun.


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya mereka pun di perbolehkan untuk masuk. Romlah menggenggam tangan Syera dengan erat, tangan nya terasa dingin dan basah karena keringat. Syera tersenyum lalu mengusap punggung tangan Romlah dengan lembut.


"Percaya sama Syera ya, Ma? Semua akan baik-baik saja, nanti Mama bakalan main sama cucu Mama." Ucap Syera pelan, membuat genggaman tangan Romlah sedikit mengendur karena dia merasa cukup tenang. Ya, dia ingin bermain dengan cucu nya nanti. 


"Selamat pagi, dok.."


"Pagi kembali, dengan Ibu Romlah?" Tanya dokter itu, rupanya dia adalah dokter muda. Mata nya menatap ke arah Syera yang nampak anggun dengan dress selutut berwarna pink cerah, rambut nya di jedai ke atas, membuat leher jenjang nan putih nya terekspos. Tapi bukan itu yang membuat dokter itu terus menatap Syera.


"Ehemm.." Juan berdehem, dia benar-benar tidak suka saat melihat tatapan dokter itu saat menatap istri nya.


"Aaahh, iya maaf." 


"Lain kali, jaga mata anda dari istri orang, dok." Celetuk Juan yang membuat Syera melirik kilas ke arah sang suami, dia tersenyum kecil sambil menggandeng lengan suami nya. Menunjukkan kalau dia hanya milik Juan, dia takkan semudah itu berpaling. 


"Maaf, tuan.."


"Ya, tidak apa-apa." Jawab Juan dengan wajah datar nya.


"Jadi, apa keluhan nya?"


"Tak bisa berjalan dok, katanya sih saraf-saraf nya putus karena tertabrak mobil dulu."


"Sudah lama?" Tanya Dokter itu sambil mencatat di sebuah buku kecil. 


"Mungkin ada sekitar belasan tahun, dok." Jawab Romlah membuat dokter itu terlihat tercengang.


"Sudah sangat lama ya? Sudah pernah melakukan pengobatan sebelum nya?"


"Pernah ke pengobatan alternatif saja, selebihnya tidak pernah karena keterbatasan biaya." Jelas Romlah, membuat dokter itu manggut-manggut mengerti. 


"Baiklah, kalau begitu mari saya periksa dulu." Dokter itu pun beranjak dari duduk nya, dia mengambil sebuah alat dari tempat nya dan melangkah mendekat. Dokter itu melakukan serangkaian pemeriksaan di kedua kaki Romlah.


"Apakah sakit?" Tanya nya, dia memukul pelan kaki Romlah. Tapi wanita paruh baya itu sama sekali tidak merespon, karena memang tidak terasa apa pun saat ini.


"Tidak, dok."

__ADS_1


"Tidak sama sekali?" Tanya nya lagi, Romlah menggelengkan kepala nya. Dia memang tidak merasakan apapun di kaki nya, seolah mati rasa tak ada yang terasa disana. Bahkan pernah, saat dia di toilet Romlah menginjak pecahan beling, tapi dia tidak merasakan sakit apapun padahal luka nya cukup besar hingga membuat seluruh toilet di rumah nya itu di penuhi darah. 


Romlah memang bisa sedikit-sedikit berjalan, namun harus berpegangan pada tembok atau di bantu oleh Rinda. Tapi dia merasakan sakit apapun, hanya ngilu di bagian paha. Itu saja, selebih nya tidak terasa apapun.


Dokter itu terlihat mencubit-cubit kaki Romlah, tapi ya sama sekali tidak ada ekspresi apapun dari wanita itu. 


"Kita akan melakukan rontgen terlebih dulu ya? Bisa di bantu di bawa kesana." Pinta dokter itu, Juan pun mengangguk dan dengan sigap langsung menggendong sang ibu lalu membaringkan nya di tempat yang sudah di sediakan. 


Lagi-lagi, Romlah memegang tangan Syera dengan erat. Jujur saja, dia ketakutan saat ini. Mau apa dia di masukan ke dalam tempat ini, dia takut akan di apakan. Bukan kah mereka kesini untuk berobat? Tapi kenapa terasa menegangkan?


"Tenang, Ma. Gak bakalan terjadi apa-apa kok, Mama percaya sama Syera kan?" Romlah menganggukan kepala nya, dia memang percaya pada Syera. Dia percaya benar kalau menantu nya ini menginginkan yang terbaik untuk nya, tapi dia benar-benar takut.


"Mama percaya, tapi.."


"Percaya sama Syera ya?"


"Baiklah, sayang." 


Perlahan, brankar itu pun masuk ke dalam terowongan berbentuk seperti gua. Setelah masuk sepenuh nya, barulah dokter itu bisa melihat kondisi kaki pasien, dia mengernyit. Ini memerlukan operasi karena ada beberapa saraf yang putus dan tulang nya juga ada yang tak berada di tempat nya, alias bergeser. 


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Romlah bisa bernafas lega saat dokter itu kembali mengeluarkan nya dari tempat yang gelap itu tapi terasa menyilaukan itu. Aneh bukan? Gelap, tapi menyilaukan. Membuat pembaca berpikir keras.


"Jadi, bagaimana dok?" Tanya Syera, membuat dokter itu harus tersenyum.


"H-ah, harus di operasi, dok?"


"Ya, tulang dan beberapa saraf berada di tempat yang tidak seharusnya, atau bisa di sebut bergeser, Nona." Jawab dokter itu membuat Syera menganggukan kepala nya.


"Jadwalkan saja operasi nya, dok."


"Baik, Nona. Seminggu dari sekarang adalah waktu yang pas menurut saya, karena kalau di diamkan semakin lama, saya khawatir ini sudah tidak bisa lagi di tangani." Jelas nya membuat Romlah memucat, operasi? Satu kata yang membuat nya takut, jantung nya bahkan terasa berhenti berdetak sekaligus saat ini.


"Baiklah, dokter."


"Iya, Nona."


"Terimakasih, kalau begitu kami pamit pulang dulu." Dokter itu pun menganggukan kepala nya dan membiarkan ketiga nya pergi dari ruangan nya.


"Wajah nya berasa tak asing, aku seperti pernah melihat atau bahkan mengenal nya, tapi aku lupa. Kira-kira dia siapa ya?" Gumam dokter itu sambil berusaha mengingat-ingat. Dimana kira nya dia pernah bertemu wanita cantik yang terlihat manis itu, tapi pria yang selalu berada di samping nya memiliki aura yang dingin.


Bahkan dia kena semprot hanya karena memandangi istri nya, posesif tapi perhatian.


Setelah melakukan pemeriksaan, Juan dan Syera pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Awalnya Romlah menolak untuk pindah ke rumah besar milik Roberts, tapi saat melihat menantu nya menangis dan menatap nya dengan penuh harap, lagi-lagi dia luluh apalagi saat melihat tatapan memohon Syera, dia tak tega dan akhirnya dia pun setuju. Jadi, sekarang dia tinggal bersama Syera di rumah besar itu.

__ADS_1


Rinda juga sudah berada di rumah, dia sedang bermain di ruang tamu bersama Sharon. Nyata nya, gadis kecil itu nyaman juga dengan Sharon karena kepribadian nya yang mirip dengan Syera.


"Rinda.." panggil Syera, gadis kecil itu mendongak, seketika itu juga dia langsung bangkit dari duduk nya dan menghambur memeluk kakak cantik nya.


"Kakak cantik.."


"Hmmm, lagi apa sama aunty Sharon?" Tanya Syera sambil mengusap keringat di kening Rinda. 


"Mainan congklak tadi, kakak cantik."


"Wahh, itu mainan kakak dulu pas masih kecil." Ucap Syera yang membuat Rinda tersenyum kecil. 


"Benarkah? Kalau begitu, ayo main." Ajak Rinda. Syera sudah bersiap untuk mengiyakan, tapi tiba-tiba saja suara Juan terdengar.


"Gak boleh, kakak cantik mu capek habis dari rumah sakit. Biarkan dia istirahat, kamu main nya sama Aunty Sharon aja ya?"


"Hmmm, ya sudah." Pasrah Rinda, dia pun kembali bermain bersama Sharon. Sedangkan Syera mengikuti langkah sang suami ke kamar. Sesampai nya di kamar, Juan langsung merebahkan tubuh nya di atas ranjang dengan posisi telungkup, dia merasa kelelahan sekali hari ini. Meskipun tidak bekerja, tapi dia mengantar ibu dan istri nya kesana kemari. Bukan berarti dia tidak ikhlas, tapi tubuh nya juga butuh istirahat dan inilah saat nya.


"Buka dulu itu pakaian nya, di ganti dulu kan bisa? Masa langsung tidur sih." Ucap Syera pada suami nya. Tapi, Syera tak mendengar jawaban dari sang suami. Ternyata Juan sudah larut dalam tidur nya. 


Melihat hal itu, Syera menggelengkan kepala nya, suami nya benar-benar kelelahan seperti nya.


"Kalau begini, bukan aku yang mau istirahat tapi dia sendiri." Gumam Syera, tapi Juan takkan bisa tidur jika tidak bersama istrinya. Syera pun naik ke atas ranjang dan membenarkan posisi tidur suami nya agar lebih nyaman, dia juga membuka sepatu sang suami. Lalu menarik selimut dan memeluk nya, Juan menduselkan wajah nya di dada kenyal istri nya. 


Syera mengusap kepala belakang sang suami, juga melabuhkan kecupan-kecupan hangat di kepala Juan. Hingga akhirnya, dia juga merasa mengantuk dan tertidur lelap dengan saling memeluk. 


Di bawah, Roberts mengernyit saat tak melihat keberadaan putri dan menantu nya, hari ini gak ada yang pergi ke kantor karena tanggal merah. 


"Juan sama Syera kemana, yang?" Tanya Roberts pada Sharon. 


"Ke kamar, mau istirahat katanya. Kasian banget wajah Juan sampe pucet lho, Mas."


"Kecapean dia tuh, yaudah deh. Ini anak kecil udah makan apa belum?"


"Belum, om."


"Om? Manggil nya Om? Panggil kakek aja biar lebih enak. Lagian kan saya udah gak pantes di panggil om, udah terlalu tua." Celetuk Roberts yang membuat Rinda tersenyum, begitu juga dengan Sharon.


"Yuk makan dulu." Ajak Roberts, Rinda pun mengangguk malu-malu dan mengikuti langkah Roberts ke ruang makan dan kedua nya pun makan dengan lahap. Roberts tersenyum kecil, melihat Rinda yang makan dengan lahap mengingat kan nya pada Syera saat masih kecil. Dia selalu lahap saat makan, bahkan hingga saat ini. Makan adalah kegiatan kesukaan nya seperti nya.


......


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2