
Setelah meminta maaf dan menitipkan Syera pada Juan, Roberts dan Sharon pun memutuskan untuk pulang. Banyak sekali yang harus di siapkan oleh Kedua nya untuk mempersiapkan pernikahan putri nya dengan pujaan hati nya.
Sekali lagi, Roberts menitipkan putri nya pada Juan. Tapi sekarang, dia harus bersikap lebih bijaksana kalau sekarang putri nya memang harus menikahi ayah dari janin yang sedang dia kandung saat ini.
"Aku titip Syera ya, kalau ada apa-apa hubungi aku."
"Baik, Tuan."
"Tuan? Bisa kah kau berhenti memanggil aku panggilan itu? Aku papa mertua mu sekarang, panggil aku papa seperti Syera memanggil ku." Ucap Roberts, meskipun masih terkesan ketus tapi Juan paham akan kemarahan pria paruh baya itu, dia juga tak mempermasalahkan nya.
"Hehe, maaf Tu eehh papa." Ralat Juan sambil tersenyum, dia menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.
"Ya sudah, papa pulang dulu. Kalau ada apa-apa hubungi papa ya."
"Iya, pah." Jawab Syera, bukan Juan yang menjawab tapi putri nya.
"Aku pulang dulu ya, Syer. Mau di bawain apa besok?" Tanya Sharon.
"Sup daging."
"Siap, sup daging akan datang besok."
"Buat dua orang masak nya, Juan juga masih disini."
"Siap, aku pergi dulu. Kamu cepet sembuh ya, kalo ada apa-apa langsung telpon." Ucap Sharon. Ternyata, punya ibu tiri teman sebaya nya cukup menyenangkan juga ya dan tidak seburuk apa yang dia pikirkan selama ini.
Roberts pun pergi dengan menggandeng tangan Sharon, kedua nya pergi dengan langkah pelan meninggalkan Juan dan Syera di dalam ruangan itu.
"Ayang.."
"Iya, sayang.." jawab Syera lirih, wajah nya berbinar cerah. Seminggu lagi, dia akan menyandang status sebagai istri Juan.
"Maaf ya, aku paling cuma bisa beliin kamu cincin emas biasa. Soalnya uang tabungan aku gak bakalan cukup kalo beli cincin berlian." Ucap Juan lirih.
"Gapapa, sayang. Aku akan menerima nya dengan senang hati, gak usah merasa rendah di hadapan aku, sayang."
"Kamu gadis yang baik, aku merasa.."
"Merasa apa, yang?" Tanya Syera, dia memotong ucapan Juan dengan cepat. Dia tak mau mendengar ucapan Juan yang merendah.
"Merasa tak pantas bersanding salah perempuan sesempurna kamu."
"Tuh kan, aku gak suka ya kamu bicara kek gitu."
"Fakta nya memang aku gak pantas, sayang." Ucap Juan lirih. Syera beranjak dari tiduran nya, lalu membingkai wajah tampan pria itu dan tanpa ragu mencium bibir nya. Awalnya, Juan terlihat terkejut tapi lama-lama dia juga membalas ciuman yang di lakukan oleh Syera dengan lembut namun terasa semakin menuntut.
Syera melingkarkan kedua tangan nya di leher Juan, sesekali tangan gadis itu meremaas kecil rambut belakang Juan. Tapi, meskipun begitu dia tak merasa keberatan sama sekali.
"Sayang.." Juan menyudahi ciuman nya terlebih dulu membuat Syera merengut.
__ADS_1
"Apa? Kenapa udahan? Kamu gak suka?" Tanya Syera.
"Suka, suka banget malah. Tapi situasi nya gak mendukung, sayang. Ini di rumah sakit lho, nanti kalo ada dokter atau perawat yang masuk gimana?" Ucap Juan lirih, tapi seperti nya Syera sedang menginginkan Juan saat ini.
Dia merengek manja karena tak suka saat Juan menyudahi ciuman nya, pada akhirnya Juan pun mengalah dan mereka pun kembali berciuman mesra. Barulah, Syera terdiam. Mood bumil yang satu ini memang cukup membuat kewalahan, tapi selama itu Syera ya maka Juan senang-senang saja. Lagi pun, Syera hamil anak nya kan?
Bunyi decapan nikmat terdengar nyaring seiring dengan ciuman mereka yang semakin memanas.
"Yang, main yuk?" Ajak Syera setelah kedua nya selesai berciuman mesra.
"Sayang, kamu lagi sakit lho mana di rumah sakit gini."
"Ayo, gak tahan. Pelan-pelan aja yuk, yang." Bujuk Syera membuat Juan menghembuskan nafas nya dengan kasar.
"Sayang, jangan keras kepala dong. Keadaan kamu sekarang lagi gini juga, besok aja ya sekalian nyari gaun sama cincin. Kita check in sekalian di hotel, mau?" Tanya Juan, akhirnya Syera pasrah. Mau tak mau pun dia harus menurut pada Juan, karena hidup nya saat ini bergantung pada Juan, pria yang akan mempersunting nya sebagai istri beberapa hari lagi..
"Yaudah deh, pokoknya harus dua ronde."
"Iya iya, sayangku. Main nya dua ronde ya, sekarang kamu nya tidur aja dulu." Syera mengangguk, dia pun kembali berbaring dan Juan langsung mengusap kepala nya dengan lembut, sesekali melayangkan kecupan-kecupan lembut di kening nya.
"Selamat tidur, sayang ku." Ucap Juan lirih, Syera mungkin sudah tertidur nyenyak karena rasa nyaman yang di berikan oleh Juan. Di usap begini saja membuat nya bisa tertidur lebih nyenyak.
Sedangkan di rumah nya, Romlah di datangi oleh beberapa orang berbadan tinggi besar dengan wajah sangar. Jujur saja penampilan mereka membuat nya takut, tapi seperti nya mereka memang tidak berniat jahat. Maka dari itu Romlah berani membukakan pintu untuk mereka.
"Nyonya Romlah, istri mendiang Tuan Hendra?" Tanya salah satu pria itu, suara nya terdengar pelan namun sangat tegas.
"I-iya, itu saya."
Deg..
Jantung Romlah terasa akan berhenti saat itu juga, nyonya besar? Apa orang tua mendiang suami nya yang mendatangi nya saat ini?
"Nyonya besar, siapa?"
"Aku.." Ucap sebuah suara dari belakang, membuat kedua mata Romlah membulat sempurna begitu melihat siapa yang datang.
"Nyonya Miranda." Ucap Romlah lirih, dia menutup mulut nya dengan kedua tangan. Miranda adalah sosok wanita angkuh, dia adalah nenek dari Juan, orang tua Hendrawan, suami nya.
"Ya, aku Miranda. Kau masih mengingat ku rupa nya, aku kira kau sudah melupakan aku, Romlah." Ucap Miranda dengan senyum kecil di sudut bibir nya.
"Mau apa nyonya kemari?" Tanya Romlah, suara nya bergetar karena rasa takut. Dari dulu, Miranda adalah orang yang sangat membenci Romlah karena berpikiran kalau Hendra membangkang perintah nya karena Romlah.
"Tentu untuk bertemu dengan cucu-cucu ku."
"Cucu? Putra putri saya bukan cucu anda, bukankah Anda tidak mengharapkan kehadiran mereka, Nyonya?" Tanya Romlah.
"Itu dulu, sekarang aku menginginkan nya. Tak bisakah kita berdamai dan melupakan semua yang sudah terjadi di masa lalu, Romlah?" Tanya Miranda, membuat Romlah menganga. Apa ini mimpi? Setelah beberapa tahun nyaris di telantarkan, kini wanita itu datang dan mengajak nya untuk berdamai?
"Dari awal, Nyonya lah yang memantik api di antara kita."
__ADS_1
"Hmmm iya dan sekarang aku menyesal, maafkan aku, Romlah." Ucap Miranda tulus. Dia merasa amat menyesal karena sudah menelantarkan menantu dan cucu-cucu nya selama ini, sekarang dia merasa kesepian dan membutuhkan mereka untuk menemani nya di masa tua nya.
"Anda tidak bercanda kan? Sungguh ini tidak lucu, Nyonya." Ucap Romlah tegas, membuat Miranda menatap Romlah dengan tatapan penuh arti.
"Aku tidak bercanda, aku sudah menyesali semua nya, Romlah."
"Setelah kepergian Mas Hendra, baru anda menyadari nya? Bukankah itu sudah terlambat, nyonya?" Tanya Romlah lagi, membuat wanita baya itu menundukan kepala nya. Rasa sesal di hatinya menggunung saat ini, dia menyesal karena sudah melupakan Romlah dan anak-anak nya karena ke egoisan nya.
"Aku tahu ini memang sudah terlambat, tapi tak ada kata terlambat untuk memulai semua nya dari awal kan?"
"Mama.." Panggil Rinda, dia baru saja pulang sekolah. Langsung memeluk sang Mama dan mengecup pipi kanan kiri nya dengan mesra. Ini adalah kebiasaan Rinda setiap pulang sekolah.
Miranda yang melihat hal itu meneteskan air mata nya, ternyata cucu nya sudah besar. Dia menyesal, sungguh menyesal. Di rumah reyot ini cucu nya tumbuh dengan serba kekurangan, tapi dirinya? Hidup nyaman di rumah megah peninggalan sang suami juga harta-harta yang seolah tiada habis nya. Harus nya dia bahagia kan? Tapi kenyataan nya tidak, dia merasa kesepian karena hidup sendiri.
"Rinda, kamu ganti baju dulu ya."
"Iya, Mama." Jawab Rinda, gadis kecil itu pun menurut dan pergi ke kamar nya yang sederhana, bahkan jauh dari kata layak.
"Dia putri mu?"
"Karena dia memanggil aku Mama, berarti dia memang putriku, nyonya." Jawab Romlah.
"Sudah besar, dia tumbuh dengan cantik."
"Ada satu lagi, dia sudah jauh lebih besar bahkan sudah bisa membuat anak." Jawab Romlah, dia tersenyum kecut begitu mengingat Juan yang saat ini tengah di landa masalah yang cukup pelik.
"Ada lagi?"
"Ya, nama nya Juan."
"Dimana dia sekarang?" Tanya Miranda sambil celingukan.
"Dia sedang menjaga pacar nya di rumah sakit."
"Pacar? Dia sudah punya pacar?" Tanya Miranda lagi membuat Romlah sedikit mendengus.
"Tentu, maka nya aku bilang kalo dia sudah bisa membuat anak."
"Apa maksud mu pacar nya tengah hamil?"
"Hmmm.." Romlah hanya menjawab dengan deheman saja.
"Astaga, putra mu pasti sangat tampan kan?"
"Ya, dia tampan seperti ayah nya." Jawab Romlah, membuat air muka Miranda berubah seketika.
"Mahendra memang sangat tampan." Gumam nya pelan, membuat Romlah juga ikut merasakan sesak di hatinya kala mengingat mendiang sang suami.
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻