
"Ma, Syera izin mau pergi dulu ya." Ucap Syera pada mama mertua nya.
"Lho, pada mau kemana?" Tanya Romlah sambil mengernyitkan kening nya. Baru saja kemarin Syera dan Juan datang, masa sekarang sudah pergi lagi? Dia masih merindukan kedua nya.
"Syera mau periksa kandungan, Ma. Nanti pulang lagi kesini, paling agak sorean." Jawab Juan.
"Ohh, yaudah. Kalo gitu hati-hati di jalan nya ya, jangan kebut-kebutan bawa mobil nya." Nasehat Romlah pada putra nya, Juan menganggukan kepala nya. Namun, Syera tidak tega saat melihat tatapan sendu adik ipar nya, Rinda.
"Rinda mau ikut sama kakak cantik?" Tanya Syera sambil berjongkok di depan gadis kecil itu. Dia membingkai wajah Rinda yang nampak sendu itu.
Bukan nya menjawab, Rinda malah berbalik dan menatap ibu nya, meminta persetujuan mungkin karena dia memang ikut bersama kakak cantik nya.
"Boleh kan, Ma?" Tanya Rinda lirih.
"Jangan, nanti kamu ngerepotin kakak cantik." Seketika wajah Rinda langsung murung.
"Mama, gapapa kok. Kayak sama siapa aja, boleh ya? Gak lama kok, nanti jam empat sore kami pulang."
"Tapi, Nak.."
"Syera mohon ya, Ma? Syera mau ajakin Rinda jalan-jalan."
"Hmmm, ya sudah. Tapi Rinda harus janji sama Mama, jangan ngerepotin kakak cantik ya?" Ucap Romlah yang membuat wajah Rinda seketika berbinar saat mendengar ibu nya membolehkan dia untuk ikut bersama kakak cantik nya.
"Iya, Ma. Rinda janji."
"Ya sudah, sana ganti baju dulu."
"Iya, Mama. Kakak cantik tungguin Rinda sebentar ya?"
"Iya, sayang." Jawab Syera sambil tersenyum manis. Dia akan mengajak adik nya untuk bermain di mall, lebih tepatnya ke play zone, di sana ada banyak permainan yang mungkin saja Rinda belum pernah memainkan nya.
Tak lama kemudian, Rinda keluar dengan pakaian yang waktu itu di belikan oleh Syera, karena hanya ini pakaian terbagus yang dia punya. Syera tersenyum manis saat melihat Rinda memakai pakaian yang dia berikan.
"Baju nya bagus." Puji Syera yang membuat Rinda tersenyum kecil.
"Iya, ini kakak cantik yang beliin. Iya kan?"
"Iya, kok kamu tahu?"
"Kakak Juan yang ngasih tahu sama Rinda, kak." Jawab Rinda sambil tersenyum.
"Yaudah, ayo berangkat sekarang. Keburu macet nanti." Ajak Juan, Syera pun menggandeng tangan adik nya dan ketiga nya masuk ke dalam mobil, meninggalkan Romlah yang melambaikan tangan nya saat melihat mobil yang di kendarai putra nya itu menjauh dari halaman rumah nya.
Sepanjang perjalanan, Rinda berceloteh ria, dia yang tidak pernah di ajak jalan-jalan selain di sekitar rumah nya, tapi sekarang dia akan jalan-jalan bersama kakak cantik nya. Rinda nampak sangat bahagia, dia terus menerus menyunggingkan senyuman manis nya.
"Rinda seneng?" Tanya Syera, dia menoleh ke bangku belakang, dimana ada Rinda yang duduk di sana. Tadi nya, Syera ingin membiarkan adik nya duduk di depan bersama nya, di pangkuan nya. Tapi, Juan melarang dengan keras karena khawatir adik bayi nya akan terjepit nanti.
Jadi nya, Rinda pun duduk di kursi belakang. Meskipun Syera merasa tak tega membiarkan gadis kecil itu duduk sendirian di belakang, tapi saat melihat ekspresi ceria nya dia tersenyum manis. Rinda terlihat sangat bahagia, dia terus menatap ke arah jendela.
"Sangat kak, Rinda sangat senang." Jawab nya dengan suara kecil dan senyuman manis yang sedari tadi tak pernah hilang dari kedua sudut bibir nya.
"Nanti, kakak ajakin Rinda main di play zone, Rinda mau?"
"Mau kak, mau.." Jawab Rinda antusias, membuat Juan melirik ke arah sang istri.
"Sayang, janganlah terlalu memanjakan Rinda, nanti kebiasaan."
"Gapapa sekali-kali, sayang." Jawab Syera, dia berusaha membuat suami nya percaya dan mengizinkan nya.
"Hmmm, terserah ayang saja." Pasrah Juan, dia takkan bisa menolak apalagi saat melihat wajah menggemaskan istri nya.
"Nah gitu dong, Bby."
Setelah satu jam mengemudikan kendaraan nya, akhirnya Juan dan Syera sampai di sebuah rumah sakit yang cukup terkenal. Meskipun ini hari Minggu, tapi tenang saja Syera sudah membuat janji dengan dokter nya. Dan karena dokter itu tahu siapa Syera, jadi dia mengiyakan saja.
Syera menggandeng tangan Rinda, Juan juga menggandeng sebelah tangan sang istri, ketiga nya pun masuk ke dalam ruang praktik dokter wanita yang cukup terkenal di kota ini.
"Permisi, dokter.."
"Nona Syera kan?"
"Iya, dok." Jawab Syera sambil tersenyum, begitu juga dengan dokter itu.
__ADS_1
"Mari, silahkan masuk, Nona." Syera dan Juan juga Rinda pun masuk dan duduk di kursi yang berhadapan dengan sang dokter.
"Maaf, Nona. Ada keluhan apa?" Tanya dokter itu dengan ramah.
"Tidak ada keluhan, dok. Hanya saja, saya ingin melakukan USG untuk melihat perkembangan janin saya." Jawab Syera membuat dokter wanita itu tersenyum kecil.
"Baik, Nona. Silahkan berbaring di sana." Syera pun mengangguk, dia beranjak dari duduknya di ikuti oleh Juan, dia membantu istri nya untuk berbaring di atas brankar yang sudah tersedia itu.
Tak lama kemudian, dokter itu datang dan mengoleskan gel di perut Syera, membuat wanita itu cukup terhenyak karena gel itu terasa sangat dingin.
"Aasshh.."
"Dingin, Nona?"
"Hehe, iya dok. Kaget." Jawab Syera sambil cengengesan, dokter itu pun mengambil alat kecil yang terhubung dengan sebuah layar besar. Juan dan Syera melakukan USG empat dimensi, yang membuat janin nya terlihat sangat jelas.
Dokter itu memutar-mutar alat itu dan terlihat sudah gambar yang menunjukan ada aktivitas di dalam bulatan yang terlihat cukup besar.
"Kandungan Nona berusia 18 minggu, sekarang." Ucap dokter itu, mata nya terlihat sangat serius menatap layar di depan nya.
"Delapan belas minggu ya, berarti tiga bulan setengah, iya kan dok?"
"Benar, Nona." Jawab Dokter itu, dia menatap ibu muda yang menjadi pasien nya dengan tatapan yang hangat, juga senyuman ramah yang sedari tadi tersungging manis dari bibir nya.
"Kira-kira ukuran nya sebesar buah alpukat sekarang, Nona. Pertumbuhan nya sangat bagus, sesuai dengan usia nya."
"Sebesar alpukat?"
"Iya, Nona. Kira-kira berat nya seratus gram, panjang nya seratus sentimeter." Jawab dokter itu lagi dengan detail, dia menjelaskan pada Syera hal-hal yang menjadi pantangan saat dia hamil trimester pertama ini.
"Sebaiknya, hindari dulu makan makanan yang terlalu pedas, utamakan memakan sayuran, daging, ikan juga buah. Inti nya, dahulukan makanan yang sehat." Saran dokter itu sambil mengusap gel di perut Syera dengan tissu.
"Sudah selesai, Nona." Juan pun membantu kembali sang istri untuk bangkit dari rebahan nya, lalu kembali duduk berhadapan dengan sang dokter.
"Maaf, dok. Kalau misalkan berhubungan badan, apa masih boleh?" Tanya Syera, yang mana membuat wajah Juan memerah. Dia bahkan tersedak ludah nya sendiri begitu mendengar pertanyaan yang terlontar begitu saja dari mulut istri nya. Tapi, berbeda dengan Syera yang terlihat tenang, seperti tanpa beban. Dia menanyakan hal ini seperti nya bukanlah masalah bagi Syera.
Uhukk.. uhukk..
Dokter itu terkekeh melihat pasangan suami istri yang terlihat masih sangat muda ini.
"Benarkah? Ohh, baiklah kalau begitu, dok."
"Apa Nona mengalami morning sickness, atau gejala kehamilan yang lain nya? Misalnya mual, pusing, lemas atau semacam nya?"
"Tidak ada, dokter. Tapi, awal-awal sebelum saya mengetahui kalau saya hamil, suami saya yang mengalami morning sickness."
"Itu wajar, Nona. Itu di namakan syndrom couvade atau kehamilan simpatik. Tapi, sekarang sudah tidak lagi?" Tanya nya lagi.
"Sekarang sudah tidak, dok. Apa itu kehamilan simpatik?" Tanya Syera lagi, sedangkan Juan hanya diam menyimak pembicaraan sang istri dengan dokter kandungan nya.
"Itu karena rasa simpati suami terhadap istri nya yang sedang hamil, hingga membuat gejala itu berpindah. Itu saja, jangan khawatir karena ini bukanlah suatu penyakit atau kelainan." Jelas dokter itu, membuat Syera dan Juan menganggukan kepala nya pertanda mengerti.
"Tapi, kalau kata orang tua dulu, kehamilan simpatik itu bisa di katakan kalau si suami terlalu mencintai istri nya, hingga dia mau menggantikan nya." Jelas dokter itu yang membuat Syera tersenyum manis.
"Benarkah, dok?"
"Ya, kata orang tua dulu sih begitu, Nona." Jawab nya lagi, Syera melirik ke arah Juan yang hanya terdiam sambil menyedekapkan kedua tangan nya di dada.
"Haha, baiklah Dok."
"Kalau begitu, saya hanya akan meresepkan vitamin dan obat penguat kandungan, juga kaplet untuk menambah darah. Silahkan tebus di bagian farmasi."
"Baik, dokter. Kalau begitu, kami permisi dulu."
"Iya, Nona. Selamat berjumpa bulan depan." Jawab dokter itu sambil tersenyum manis.
"Iya dok." Pasangan muda itu pun keluar dari ruangan praktik, meninggalkan dokter yang masih tersenyum manis. Bagi nya, pasangan muda itu sangat lucu. Yang satu nya malu-malu, satu nya lagi malu-maluin.
Kalau biasa nya kaum suami yang akan menanyakan tentang jatah, nah kalau ini justru sebaliknya. Tapi ya, ada wajarnya. Mereka masih muda, masa dimana lagi seneng-seneng nya sama anu.
Ketiga nya kembali ke mobil, Syera tersenyum manis sedangkan Juan hanya menunjukkan wajah datar nya, berbeda dengan Rinda yang sedari tadi tersenyum ceria.
"Lanjut kemana?"
__ADS_1
"Ke mall, aku mau ngajakin Rinda main di play zone." Jawab Syera, Juan pun mengiyakan dan melajukan kendaraan roda empat itu ke mall yang terletak cukup jauh jika dari rumah sakit, apalagi kalau dari rumah Juan.
Rinda menatap bangunan yang berdiri kokoh di depan nya dengan takjub, dia sampai menganga di depan bangunan yang tinggi menjulang karena terdiri dari beberapa lantai sekaligus.
"Ayo masuk, sayang. Ingat, pegang terus tangan kakak cantik ya? Disini banyak orang, nanti Rinda hilang. Oke?"
"Oke kakak cantik." Jawab Rinda, dia pun menggenggam tangan kakak cantik nya lalu ketiga nya pun berjalan masuk ke dalam mall yang mewah itu. Sedari tadi, Rinda terus saja menatap takjub setiap apa yang ada di dalam mall ini. Ini adalah pertama kali nya dia menginjakan kaki di tempat seperti ini selama hidup nya.
"Play zone dimana, Bby?" Tanya Juan pada Syera.
"Di lantai tiga, sayang."
"Ohh, okey." Jawab Juan, mereka pun memutuskan untuk menaiki tangga eskalator. Rinda yang baru pertama kali melihat nya pun terlihat keheranan.
"Kakak cantik, ini tangga nya kok bisa jalan sendiri ya?" Tanya Rinda polos, yang membuat Syera terkekeh.
"Ini nama nya eskalator, sayang. Bagus dong, biar kita gak capek-capek naik tangga." Jawab Syera sambil mencubit pelan pipi gembul Rinda.
"Hehe, ini kan pertama kali nya Rinda lihat ada tangga begini, kak."
"Iya, nanti kakak bakalan sering ajakin Rinda main kesini kalau Rinda nya suka ke tempat ini." Ucap Syera membuat Rinda bersorak kegirangan.
Hingga akhirnya, ketiga nya pun sampai di area permainan anak atau yang biasa di sebut play zone. Syera membayar tiket masuk dan membiarkan Rinda memilih permainan yang akan dia mainkan dengan di temani oleh Juan, karena Syera mengeluh kelelahan. Dia duduk di kursi yang tersedia di dekat area permainan dan memijat kaki nya yang terasa pegal.
"Syera.." Panggil seseorang, yang membuat Syera langsung mendongak dan membulatkan kedua mata nya.
"Iya, ada apa lagi?"
"Hmm, tidak apa-apa. Disini lagi ngapain? Nganter siapa?" Tanya nya, sambil tersenyum.
"Nganterin Rinda, adik suami." Jawab Syera dengan datar. Wanita berperut buncit itu tersenyum kecil, dia tahu alasan kenapa wanita di depan nya seolah-olah bersikap acuh pada nya, ya itu karena kesalahan nya sendiri.
"Aku boleh duduk?"
"Hmmm.." Syera hanya berdehem saja sebagai jawaban. Dalam hati, dia bertanya-tanya, ada apa dengan wanita ini? Di pertemuan terakhir, mereka berdebat hebat memperebutkan Juan.
"Sudah berapa bulan, Syer?"
"Tiga bulan setengah."
"Ohh, syukurlah." Jawab Devia, ya wanita itu Devia.
"Ada apa? Kenapa sikap mu berubah 180 derajat, Dev?"
"Tidak, aku tidak berubah kok. Hanya saja, aku sudah menyadari semua kesalahan ku. Aku rujuk dengan Martin, Syer."
"Hah, rujuk? Bukan nya kalian udah sidang, sudah ada kata talak?" Tanya Syera.
"Iya, tapi semua nya masih bisa di perbaiki. Jadi kami akan memperbaiki semua nya dari awal, demi kebaikan anak kami." Jawab Devia.
"Ohh, syukurlah kalau begitu."
"Aku minta maaf, atas semua yang sudah aku lakukan terhadap mu, Syer."
"Ya, tidak apa-apa. Jika kau tulus meminta maaf padaku, dengan senang hati aku akan memaafkan mu." Jawab Syera, dia tersenyum kecil yang membuat Devia juga ikut menyunggingkan senyuman manis nya.
"Aku menyadari semua nya, tak seharus nya aku bertekad merebut apa yang sudah bukan menjadi milik ku. Tapi malah melepaskan apa yang sudah aku milik ku." Lirih Devia.
"Baguslah, kau memang harus memperbaiki hubungan mu dengan suami mu. Jangan gegabah mengambil keputusan, karena itu hanya akan merugikan kamu sendiri, Dev."
"Iya Syer, sekali lagi aku minta maaf."
"Iya tak apa-apa, aku sudah memaafkan kamu kok. Omong-omong, kamu disini sama siapa? Ngapain?" Tanya Syera pelan.
"Nemenin Martin kerja, karena aku bosan jadi aku jalan-jalan kesini."
"Martin kerja disini?" Tanya Syera, padahal waktu itu dia bertemu dengan Martin disini.
"Iya, dia jadi cleaning servis disini."
Syera hanya menganggukkan kepala nya mengerti, sedangkan di seberang sana ada yang menatap Syera dan Devia dengan tatapan penuh rasa heran.
........
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻