
Sekitar satu jam berlalu, akhirnya Juan tiba di rumah sakit yang di sebutkan oleh Sharon di telepon tadi. Keringat membanjiri kening pria tampan itu, nafas nya tersengal karena tadi dia habis berlari agar lebih cepat sampai.
"Nona.." panggil Juan pada Sharon, gadis itu langsung berbalik dan menoleh ke arah Juan yang baru saja datang.
"Kamu datang juga akhirnya."
"Bagaimana keadaan Syera, Nona?" Tanya Juan dengan nada khawatir, sedangkan Roberts hanya menatap interaksi antara Juan dan Sharon dengan tatapan tajam nya.
"Masih di dalam, di tangani sama dokter."
"Apa dia sudah siuman?" Tanya Juan lagi.
"Belum tahu, dokter belum keluar dari ruangan ini."
"Astaga.." Juan meremat rambut dengan kesal, harus nya tadi dia tak membiarkan Syera pulang. Kalau saja dia berhasil mencegah nya, pasti hal ini takkan terjadi. Lalu, bagaimana dengan keadaan bayi yang ada di kandungan Syera? Dia tak berani menanyakan hal itu pada Sharon atau pun pada Roberts, karena tak ada yang mengetahui kehamilan Syera.
Hanya dirinya, ibu nya dan Syera sendiri yang mengetahui kehamilan nya. Itu pun secara tidak sengaja karena dia yang sakit saat itu.
"Juan.." Panggil Roberts, membuat Juan berbalik dan menundukan setengah badan nya dengan hormat.
"Iya, Tuan." Jawab Juan, nada suara nya terdengar bergetar. Takut? Tentu saja.
"Kamu sudah sembuh?"
"Sudah, Tuan." Jawab Juan lagi.
"Hmm, baiklah kalau begitu. Kenapa kamu terlihat sangat khawatir?" Mendengar pertanyaan itu, membuat Juan gelagapan sendiri. Harus menjawab apa? Tak mungkin kan kalau dia menjawab kalau dia khawatir Syera keguguran? Bisa-bisa Roberts menampol nya disini, sekarang juga.
"Tentu saja Juan khawatir, Mas. Kan Juan pacar nya Syera." Celetuk Sharon membuat wajah Juan memucat, sedangkan Roberts hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Sharon.
"Aaaa t-tidak seperti itu, Nona.."
"Tidak bagaimana? Syera sendiri yang bicara seperti itu kemarin." Jawab Sharon membuat wajah Juan semakin memucat.
"Sudahlah, kalau memang begitu tak apa-apa." Juan mendongak menatap wajah Roberts.
"T-tuan.."
Roberts baru akan membuka mulut nya, tapi pintu ruangan keburu terbuka menampilkan seorang perawat berseragam serba putih.
"Keluarga Nona Syera?"
"Saya.." Ucapan Roberts terpotong saat mendengar jawaban Juan.
"Saya calon suami nya, dok." Jawab Juan membuat Roberts dan Sharon saling melempar tatapan terkejut mereka.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan nya sekarang?" Tanya Juan lagi dengan khawatir.
"Nona Syera sudah di tangani, tapi sampai saat ini belum siuman. Tapi.."
"Tapi apa, sus?" Tanya Roberts dan Juan bersamaan.
"Luka di kepala akibat benturan cukup parah, juga terjadi pendarahan karena benturan di perut Nona Syera.."
Belum selesai menjelaskan, ucapan suster itu keburu di potong oleh Juan.
"Kenapa? Ada apa dengan perut Syera?" Tanya Juan lagi.
"Kandungan nya baik-baik saja, tapi kehamilan nya cukup rentan saat ini. Harus benar-benar di jaga dengan baik, Tuan."
"Aaahhh syukurlah.." Ucap Juan sambil menghela nafas nya, dia mengusap dada nya karena merasa lega akan jawaban yang di berikan oleh perawat itu. Tapi, tidak dengan Roberts dan Sharon yang keheranan.
"M-aksudnya apa, sus? Apa putri saya hamil?" Tanya Roberts.
"Iya, Nona Syera hamil. Usia kehamilan nya saat ini menginjak usia delapan minggu, Tuan." Jelas perawat itu dengan hati-hati.
"Anda bisa melihat keadaan Nona Syera setelah dia sadarkan diri dan di pindahkan ke ruang rawat."
"Baik, sus. Terimakasih." Jawab Juan. Dia merasa sedikit lega, tapi setelah itu dia baru ingat kalau masalah yang baru sedang menunggu nya saat ini.
Perawat itu menganggukan kepala nya dan pergi meninggalkan ketiga orang itu, Roberts menatap Juan dengan tajam. Membuat Juan menundukan pandangan nya.
"M-aaf, Tuan.."
"Maaf untuk apa, Juan? Kau gagal menjaga Syera? Pengawal macam apa kau ini hah?"
"Jawab aku, Juan! Siapa yang sudah menghamili putri saya?" Tanya Roberts, dia mencengkeram kerah kemeja yang di kenakan oleh Juan.
"S-aya, Tuan." Jawab Juan akhirnya, membuat cekalan tangan di kerah kemeja Juan terasa mengendur. Mata nya menatap tak percaya pada pemuda di depan nya, pemuda yang dia percayai untuk menjaga putri nya ternyata dialah pelaku yang sudah menodai putri nya sendiri.
"Jangan bercanda, Juan!" Tegas Roberts. Sedangkan Sharon hanya bisa menatap mulut nya dengan kedua tangan, jujur saja dia merasa sangat terkejut dengan fakta yang baru saja dia dengar.
"Saya tidak bercanda, Tuan. Inilah fakta nya, saya yang sudah menghamili Nona Syera, janin yang ada di dalam perut Syera adalah milik saya, Tuan." Jawab Juan membuat kedua mata Roberts menggelap.
Bughh.. bughh..
Tanpa ragu, Roberts memukul wajah Juan dengan tinjuan nya. Membuat pria itu jatuh tersungkur, darah segar mengalir dari sudut bibir nya. Juan mengusap nya, namun seperti nya Roberts belum puas melayangkan pukulan pada pemuda tampan itu.
"Mas, cukup Mas.." Ucap Sharon berusaha melerai Roberts yang tengah di landa kemarahan.
"Bagaimana bisa aku mempercayai pria bejat ini untuk menjaga putri ku? Astaga, apa yang sudah aku lakukan!" Rutuk Roberts sambil menjambak rambut nya sendiri. Juan juga tak melawan apa yang sudah di lakukan oleh Roberts, rasa nya empat pukulan yang mendarat di wajah nya itu belum seberapa dengan apa yang sudah dia perbuat.
__ADS_1
"Maaf, apa ada pria bernama Juan disini?" Tanya perawat yang baru saja keluar dari ruangan tempat Syera di rawat.
"S-saya, sus."
"Silahkan masuk, Nona Syera sudah siuman dan memanggil nama anda." Ucap sang perawat, membuat Juan tak peduli apapun lagi, dia langsung berlari ke dalam ruangan.
Perawat itu kembali menutup pintu ruangan, setelah Juan masuk ke dalam. Sedangkan Roberts dia menatap kepergian Juan dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
"Mas, tenang dulu. Harusnya, Mas jangan mukulin Juan kayak gitu, kasian Juan nya." Ucap Sharon, tapi Roberts hanya diam saja tak menjawab apapun. Dia merenungi apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Juan.
Menyesal? Tentu saja, dia menyesel karena sudah terlalu percaya pada Juan. Bahkan dia sempat-sempatnya membiarkan Syera menginap di rumah Juan selama satu minggu disaat pelarian nya dulu.
Sedangkan di dalam ruangan, Juan menangis di pelukan sang kekasih. Syera yang masih merasa lemas setelah operasi hanya bisa tersenyum sambil mengusap rambut Juan dengan lembut.
"Sayang, maafin aku ya? Harus nya aku tak membiarkan kamu pulang dari rumah, pasti semua ini takkan terjadi kalau kamu gak pulang." Ucap Juan, Syera hanya tersenyum lalu menggelengkan kepala nya perlahan.
"Ini bukan salah kamu, sayang. Gapapa kok, mungkin ini sudah takdir dari yang di atas."
"Aku bener-bener minta maaf, sayang." Ucap Juan, dia tak berani membayangkan apa yang sudah terjadi pada Syera saat itu.
"Tak apa, sayang. Ini wajah kamu kenapa?" Tanya Syera sambil mengusap lebam di pipi Juan, juga darah yang mengering di sudut bibir Juan.
"Gak kenapa-napa kok, yang." Jawab Juan sambil tersenyum, tapi sedetik kemudian dia meringis saat merasakan perih karena luka yang dia dapatkan.
"Pasti di pukul papa kan?"
"Hehe, iya sayang."
"Sakit?" Tanya Syera, harus nya dia tak perlu menanyakan hal itu, sudah pasti rasa nya sakit.
"Enggak kok, luka ini gak seberapa dengan apa yang di rasakan oleh papa kamu gara-gara perbuatan aku."
"Yang penting kamu tanggung jawab aja, sayang."
"Iya, tentu saja. Bayi ini adalah milik kita kan?" Tanya Juan sambil mengusap perut rata Syera.
"Tentu saja, ini milik kita. Kalau papa tidak merestui kita, aku gak masalah kok kalau kita menikah tanpa restu nya. Masalah wali, aku bisa meminta wali hakim dari KUA." Jelas Syera, membuat Juan menatap sang kekasih.
"Sayang, kamu serius?"
"Serius, sayang. Aku gak main-main kalau sudah mencintai, sayang."
"Maafin aku ya, kalau saja aku pria mapan, pasti ini takkan terjadi."
"Tak apa, sayang. Aku menerima kamu apa adanya, sayang. Jangan merendah, aku gak suka kalo kamu bicara seperti ini." Ucap Syera membuat Juan malah berkaca-kaca. Syera benar-benar gadis yang tulus.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻