
Keesokan hari nya, Syera dan Juan pun berpamitan pada Romlah, juga pada Rinda untuk pulang terlebih dulu, karena hari ini Juan mulai bekerja di perusahaan sang papah.
"Ma, Syera sama Juan mau pulang dulu." Ucap Juan pada sang ibu. Wanita itu pun menganggukan kepala nya.
"Kapan kesini lagi, nak?"
"Nanti sore juga kalau Juan udah pulang dari kantor, kita berdua kesini lagi kok." Jawab Juan lagi.
"Yaudah, hati-hati di jalan nya ya nak." Romlah mengusap wajah Syera yang malah memeluk nya dengan erat, seperti nya dia tak ingin pergi dari rumah ini, tapi dia harus.
"Iya, Ma. Kalo gitu Juan berangkat dulu, keburu siang." Ucap Juan, Romlah pun melepaskan kepergian putra dan menantu nya itu pergi.
Syera duduk dengan nyaman di kursi penumpang, dia memegang plastik berisi cemilan yang di berikan mama mertua nya. Sesekali, dia juga menyuapi suami nya karena mereka belum sempat sarapan. Mereka harus memburu waktu, karena takut terlambat.
Satu jam kemudian, mobil yang di kendarai oleh Juan pun sampai di depan rumah besar milik Roberts, kedua nya turun dan masuk ke dalam rumah dengan tangan yang saling bergandengan mesra.
"Baru pulang, Syer?" Tanya Sharon, dia tersenyum menyambut kedatangan pasangan suami istri baru itu.
"Iya nih, papa kemana?"
"Papa disini.." Jawab Roberts yang baru keluar dari kamar nya dengan memakai jas rapih.
"Hehe, morning papah."
"Morning, sayang. Kenapa baru pulang?" Tanya nya pada Syera.
"Syera betah tinggal di rumah nya Juan, pah."
"Hmmm, jadi disini kamu gak betah?" Tanya Roberts membuat Syera gelagapan sendiri, dia khawatir kalau sang ayah salah paham dengan perkataan nya.
"Bukan gitu, pah. Syera betah kok, tapi di rumah nya Juan, Syera lebih betah. Gitu doang."
"Apa karena disana ada sosok ibu, Nak?" Tanya Roberts, membuat Syera terhenyak. Dia benar-benar terkejut saat sang papah ternyata tahu alasan di balik dia lebih suka tinggal di rumah mertua nya.
"Papah anggap jawaban kamu adalah iya."
"Hmm, iya Pah. Mama mertua Syera baik banget sama Syera." Jawab Syera akhirnya, dia berkata dengan nada yang sangat lirih.
"Ya sudah, kalau kamu memang nyaman sama Mama mertua kamu, gapapa kok." Bukan Roberts, tapi Sharon yang berkata seperti itu. Tentu saja hal itu membuat semua orang terperanjat kaget, yang di jaga oleh Syera dan Roberts adalah perasaan Sharon. Tapi, seperti nya wanita itu paham benar kalau Syera menyukai sosok mama mertua nya hingga memutuskan untuk tinggal bersama dengan nya ketimbang disini.
"Sharon.."
"Gapapa kok, kalau kamu nyaman sama Mama mertua kamu, gapapa. Tinggal aja sama beliau, sumpah demi apapun aku gak merasa kenapa-napa."
"Kamu gak tersinggung, Shar?" Tanya Syera, Sharon tersenyum lalu menggelengkan kepala nya pelan.
"Kenapa aku harus tersinggung, Syer? Enggak kok, santai aja." Jawab Sharon yang membuat Syera berkaca-kaca.
"Gak usah nangis, gapapa kok. Aku tahu kamu dengan benar, semangat ya dan bahagia selalu."
"Sharon.." Syera menghambur memeluk Sharon, dia menangis di pelukan nya.
"Jangan nangis, nanti adek bayi nya ikutan nangis kalo kamu nya kayak gini. Udah ya?" Sharon melerai pelukan nya, lalu mengusap lembut air mata yang jatuh di pipi Syera dengan jemari nya.
"Maafin aku ya, Shar."
"Gak ada yang harus di maafin, jadi gak usah minta maaf ya?"
"Lo terlalu baik, Shar."
"Sshhttt, jangan gitu. Kita semua baik dengan porsi nya masing-masing, udah sarapan?" Tanya Sharon, Syera menggelengkan kepala nya. Dia memang belum sarapan.
"Gak baik telat gini, yuk makan dulu. Aku masakin cumi saus padang, kamu suka kan?"
"Suka banget."
"Yaudah, yuk makan." Ajak Sharon, dia pun menggandeng tangan Syera ke dapur untuk sarapan. Tak baik bagi Bumil telat makan seperti ini.
"Jangan di biasain telat makan ya, Syer. Bahaya tau gak? Bayi kamu masih dalam masa pertumbuhan sekarang." Peringat Sharon, membuat Syera menganggukan kepala nya sambil tersenyum. Pipi nya menggembung berisi nasi dan cumi saus padang buatan Sharon.
"Iya, kamu kayak ibu-ibu sekarang. Bawel banget."
"Heh, orang ngingetin juga malah di katain bawel."
"Hehe, ya maaf." Ucap Syera sambil cengengesan.
"Makan yang banyak ya?"
"Oke, siap." Jawab Syera, dia pun makan dengan lahap. Tak lama, Juan datang dan ikut makan bersama istri nya. Di susul juga oleh Roberts.
"Jadi, kalian sudah memutuskan mau tinggal dimana?"
"Syera mau nya tinggal di rumah saya, pak. Saya udah berusaha mencegah, soalnya kondisi rumah saya jelek, juga berada di pemukiman yang bisa di bilang kumuh. Tapi Syera kekeuh mau tinggal disana." Jelas Juan.
"Ya gapapa, kalau Syera nya mau tanpa paksaan."
"Enggak kok, siapa sih yang maksa Syera buat tinggal disana? Gak ada sama sekali, Syera suka aja disana, apalagi suasana nya bikin betah." Jawab Syera.
"Suasana nya?"
"Iya.."
"Bukan orang yang ada di dalam rumah itu, hmmm?" Tanya Roberts.
"Itu juga benar, mama nya Juan tuh ngingetin Syera sama mendiang Mama." Jawab Syera lirih, dia melirik sekilas ke arah Sharon. Tapi, seperti nya gadis itu tidak tertarik dengan obrolan ini, dia hanya fokus makan dan raut wajah nya tak berubah sama sekali.
"Kenapa gak bawa aja Mama mertua mu itu kesini, kita tinggal disini sama-sama."
__ADS_1
"Apa boleh begitu, pah?" Tanya Syera, dia nampak antusias saat mendengar usulan sang papah.
"Boleh, tentu saja boleh. Ajak mertua dan adik ipar mu untuk tinggal disini, biar rumah ini lebih ramai. Lagi pun, rumah ini luas cukup kalau untuk ibu dan adik mu."
"T-api, pah.."
"Kalau ibu dan adik mu mau, jangan kau menolak, Juan!" Tegas Roberts, membuat Juan terdiam seketika.
"Papah, jangan bentak-bentak suami Syera." Syera yang ngegas, dia merasa tak terima saat sang papah membentak suami kesayangan nya.
"Hah, baiklah. Maaf ya, Ju."
"Hehe, iya tidak apa-apa kok, pah." Jawab Juan sambil tersenyum kecil.
"Aku setuju sama usulan papah kamu, Syer. Jadi, kamu gak perlu bolak balik kesana kemari gitu. Kayaknya seru ya kalau kita tinggal nya barengan, apalagi Juan punya adik perempuan lucu itu kan?" Tanya Sharon.
"Iya, namanya Rinda." Jawab Syera.
"Ajakin aja tinggal disini biar ramai."
"Oke, nanti Syera sampaikan sama mama nya. Perlu agak di bujuk sih, biar Mama mau." Jawab Syera, dia melirik ke arah Juan yang terlihat hanya pasrah saja. Kalau sudah begini, mau menolak pun rasa nya percuma saja.
"Sayang, kamu kenapa diam? Gak setuju ya kalo Mama sama Rinda tinggal disini?"
"H-ah, bukan gitu yang. Tapi.."
"Tapi apa? Merasa gak enak kamu, hmm? Gak usah kek gitu, kamu keluarga kami sekarang. Jadi ada wajar nya lah kalau kamu sama ibu kamu, adik kamu, tinggal disini, Juan."
"Tuh, papah aja tahu kalau kamu orang nya gak enakan." Sindir Syera membuat Juan hanya nyengir saja. Dia malu lah kalau harus bergantung dan menyusahkan mertua dan istri nya, tapi pikiran nya terlalu sempit. Nyata nya, baik Syera maupun Roberts sama sekali tak merasa di susahkan oleh Juan.
"Yaudahlah, aku diem aja."
"Haha, nyerah dia pah.." Ucap Syera sambil tergelak, membuat Juan hanya bisa menghela nafas panjang.
"Ya sudah, kamu bujuk ibu mertua kamu ya?"
"Siap, masalah bujuk membujuk kan Syera ahli nya." Jawab Syera sambil terkekeh pelan.
Juan hanya melirik sekilas lalu kembali fokus dengan makanan di piring nya, lalu memakan nya dengan lahap.
"Pah, aku pengen bawa Mama berobat."
"Berobat? Memang nya sakit apa?" Tanya Roberts di sela suapan nya.
"Mama kan gak bisa jalan, Pah. Kaki nya lumpuh tertabrak mobil." Jelas Syera pelan.
"Tertabrak mobil?"
"Iya, katanya sih pas jualan kue basah dulu. Buat biaya Juan sama Rinda sekolah." Jawab Syera lagi.
"Tapi, tabungan Syera juga cukup buat biaya pengobatan Mama, Pah."
"Gak usah, punya kamu biar di tabung aja. Untuk biaya berobat ibu kamu, biar papah yang tanggung." Jelas Roberts, Syera pun mengangguk mengiyakan. Sedangkan Juan, lagi-lagi dia menghela nafas nya berat.
Punya istri dan mertua sebaik mereka memang membuat nyaman, tapi tetap saja dia merasa tak enak. Bagaimana kata orang nanti? Dia tak mau hanya di katai memanfaatkan kebaikan Syera seperti yang sudah-sudah dia dengar semasa masih berpacaran dengan gadis cantik itu.
Ya, karena perbedaan ekonomi mereka yang cukup jauh, membuat orang-orang mencemooh nya dengan mengatakan kalau dia hanya memanfaatkan Syera saja. Padahal, dia benar-benar tulus mencintai Syera.
Merasa bersalah, benar. Awalnya dia menjalin hubungan ini karena rasa bersalah nya, dia sudah mengambil apa yang bukan hak nya, kesucian seorang gadis yang harus nya bisa di persembahkan untuk para suami. Namun, Juan merenggut nya sebelum ada kata sah di antara mereka. Juan merasa sangat bersalah, tapi karena rasa bersalah itu pada akhirnya dia menjadi bucin akut pada anak majikan nya itu yang kini menjadi istri nya.
"Yaudahlah kalo gitu, makasih ya pah."
"Sama-sama, sayang." Jawab Roberts sambil tersenyum manis.
"Kapan papah sama Sharon menikah?"
"Lusa, sayang."
"Lusa?" Tanya Syera dengan wajah terkejut nya. Dia benar-benar terkejut, kenapa waktu nya di majukan? Apa sudah terjadi sesuatu yang tidak di inginkan atau apa?
"Iya, lusa Syer. Tapi aku pengen nya nikah sederhana aja, yang penting akad aja selesai."
"Kok gitu sih, Shar?"
"Aku gak mau mewah-mewah, yang penting kita resmi aja." Jawab Sharon sambil tersenyum.
"Dan papa setuju?" Tanya Syera pada sang papa, Roberts menganggukan kepala nya. Bukan tak ingin mempersembahkan pernikahan mewah seperti orang lain, karena ini adalah pernikahan pertama Sharon, harus sangat berkesan. Tapi, gadis itu malah meminta pernikahan yang sederhana saja yang penting resmi. Roberts benar-benar tidak salah memilih calon istri, dia sangat sederhana. Meskipun usia nya masih sangat muda, tapi dia tidak gila akan materi.
"Kalau kalian mau nya begitu, ya sudahlah."
"Tapi, aku pengen ngadain syukuran gitu sama anak-anak yatim."
"Wah, ide bagus tuh. Sekalian syukuran kehamilan aku aja, oke?" Tanya Syera.
"Boleh tuh, syukuran empat bulanan?"
"Iya, gapapa kan kalau kita menyambut adek bayi nya lebih awal?" Tanya Syera lagi, karena sekarang usia kehamilan nya belum menginjak usia empat bulan.
"Gapapa dong, justru lebih bagus, sayang." Ucap Roberts.
"Oke deh kalo gitu." Jawab Syera, dia tersenyum lalu mengusap perut nya yang terlihat agak membuncit sekarang.
"Sayang.." Panggil Syera pada Juan, pria itu menoleh dan seketika mengernyit saat melihat wajah sendu sang istri.
"Lho, kamu kenapa, Bby? Kok muka nya gitu?" Tanya Juan.
"Kamu dari tadi diem aja, kenapa?"
__ADS_1
"Gak kenapa-napa, kan aku lagi makan, sayang." Jawab Juan sambil tersenyum manis, dia mengusap lembut rambut sang istri.
"Kamu gak marah kan?"
"Aku marah kenapa? Kamu ada bikin salah atau apa?"
"Enggak sih kayaknya, tapi aku kepikiran kalo kamu diem itu karena marah sama aku, Bby." Jawab Syera pelan.
"Astaga, ya enggak dong, sayangku. Gak ada guna nya aku marah sama istri cantik ku ini." Juan mengunyel-unyel pipi gembul istrinya.
"Jangan ngebucin terus, kalo udah selesai ayo berangkat." Ucap Roberts, membuat Juan terkekeh pelan sambil memegangi tengkuk nya.
"Yaudah, aku sama papa mau pergi dulu ya? Kamu baik-baik aja sama Sharon disini, kalau ada apa-apa langsung telepon aku, oke?"
"Iya, siap pak suami." Jawab Syera.
"Makan yang banyak, terus istirahat ya. Jangan kecapean, aku berangkat."
"Hati-hati, sayang." Ucap Syera, Juan menganggukan kepala nya. Dia berjongkok di depan perut sang istri, lalu menciumi nya beberapa kali.
"Adek jangan nakal sama Mama ya, anteng-anteng disana. Nanti papah pulang lagi, papah usap-usap ya?" Ucap Juan, seolah dia tengah berbicara dengan janin yang ada di dalam perut sang istri.
"Iya, papah. Semangat kerja nya ya, buat adek beli mainan." Jawab Syera menirukan suara anak kecil, Juan beranjak lalu mengecup singkat kening sang istri dan mengacak pelan puncak kepala nya.
"Iya, adek." Jawab Juan, dia pun melambaikan tangan nya. Dia tak meminta Syera agar mengantar nya ke teras, dia tak mau mengganggu istrinya yang sedang makan.
Kedua pria berstatus menantu dan mertua itu pun pergi dengan mobil sedan hitam yang biasa nya Juan pakai untuk mengantar jemput Syera. Jika biasa nya ada Syera yang duduk manis di bangku penumpang di samping nya, sekarang ada Roberts yang duduk disana dengan wajah datar nya.
"Ju, ibu mu tertabrak dimana?" Tanya Roberts sambil menatap Juan. Pemuda itu nampak fokus mengemudikan kendaraan nya.
"Di pasar, pah. Udah lama sih, jadi Juan agak lupa di pasar mana."
"Kejadian nya saat kamu masih berusia berapa tahun?"
"Sembilan tahunan, waktu itu Rinda masih kecil tiga atau empat tahun kalo gak salah." Jawab Juan lirih, membuat Roberts terlihat seperti sedang berpikir keras. Entah memikirkan apa, hanya pria paruh baya itu yang tahu.
"Memang nya kenapa, pah?"
"Tidak kok, tidak apa-apa." Jawab Roberts, Juan hanya percaya saja dengan jawaban pria itu.
"Ini masih jauh kah, pah?"
"Sebentar lagi, di depan belok kanan." Jawab Roberts. Dia seperti nya agak kurang fokus sekarang, terbukti dia gelagapan sendiri saat Juan bertanya, padahal itu hanya pertanyaan biasa dan sederhana.
"Baik, pah."
Juan pun kembali fokus mengendarai mobil nya, hingga kendaraan itu akhirnya berhenti di sebuah gedung perkantoran yang berdiri megah, tinggi menjulang dengan jendela kaca-kaca yang bersinar karena tersorot matahari.
"I-ini perusahaan papah?" Tanya Juan, dia kaget saat melihat bangunan yang tinggi menjulang di depan nya.
"Iya, ayo keluar." Ajak Roberts, Juan meneguk ludah nya dengan kepayahan. Dia mendadak gugup saat akan melangkah memasuki kawasan perkantoran yang sudah di padati oleh para karyawan yang sibuk hilir mudik kesana kemari untuk bekerja.
Juan mengekor di belakang Roberts, dia menundukan kepala nya, menatap sepatu sederhana yang dia kenakan. Sepatu yang di belikan oleh Syera beberapa bulan lalu, model nya memang sederhana tapi harga nya tidak sesederhana penampilan nya.
"Selamat pagi, pak.." Sapa salah satu karyawan yang berpapasan dengan Roberts.
"Ya, pagi." Jawab Roberts. Juan mendongak, seketika itu juga para wanita yang berada disana menjadikan Juan sebagai pusat perhatian. Wajah nya yang tampan, tinggi tegap dengan otot-otot yang sedikit menonjol, membuat para wanita itu berteriak histeris. Roberts hanya tersenyum kecil melihat reaksi karyawan wanita itu saat melihat penampilan Juan, dia sudah menduga akan hal ini.
"Ganteng banget gila!" Teriak salah satu karyawan wanita yang terlihat masih sangat muda. Juan mengernyitkan kening nya, apa iya dia setampan itu hingga mampu membuat anak gadis orang berteriak histeris seperti itu? Padahal, dia merasa biasa saja.
"Iya, siapa ya? Ganteng banget." Celetuk yang lain, membuat seisi kantor gaduh karena kedatangan Juan bersama Roberts.
"Apa mungkin keponakan nya ya? Kalau anak nya Tuan Roberts kan gak mungkin gitu, soalnya anak nya Tuan Roberts cuma satu, perempuan lagi."
"Iya, terus itu siapa? Kok bisa barengan sama pak CEO ya?"
"Gak tahu, nanti kita cari tahu lagi." Ucap nya, bubar. Mereka pun kembali ke pekerjaan masing-masing dan mengabaikan sejenak perasaan penasaran mereka akan sosok pemuda yang bersama CEO perusahaan tempat mereka menggantungkan hidup.
Juan berada di belakang Roberts, saat ini kedua nya sedang berada di dalam bilik lift yang akan membawa mereka sampai ke ruangan di lantai yang paling tinggi, yakni ruangan khusus untuk petinggi perusahaan dan CEO.
"Seneng kamu jadi pusat perhatian, hmm? Kalau Syera tahu, dia bisa badmood seketika." Celetuk Roberts sambil tersenyum tipis, dia menggoda menantu nya. Terlebih, dia ingin melihat ekspresi dan mendengar langsung jawaban pemuda itu.
"E-ehh, enggak kok pah. Gak gitu, aku pengen nya biasa aja. Tapi, jangan salahin aku kenapa terlahir tampan." Jawab Juan yang membuat Roberts mencebikan bibir nya.
"Kau terlalu percaya diri, bocah."
"Bocah yang bisa bikin bocah, iya kan Pah?" Gantian, kini Juan yang menggoda papa mertua nya.
"Ya, terserah kau saja." Kesal Roberts. Dia sendiri yang memulai dengan menggoda sang menantu, tapi dia juga yang kesal. Aneh, tapi ya itulah nama nya juga mood umur ya kan gak bisa di sembunyikan.
Juan pun kembali mengekor di belakang Roberts dengan langkah tegap nya, membuat semua orang yang berada di lantai itu menatap kagum pada sosok Juan yang nampak gagah dengan jas hitam, celana bahan berwarna senada, dan sepatu berwarna hitam mengkilat yang membungkus kaki nya. Jangan lupakan, rambut Juan yang kecoklatan membuat pemuda itu terlihat semakin sempurna.
"Wah, pak CEO datang sama siapa tuh? Ganteng sekali."
"Gak tahu, sudahlah jangan fokus sama cowok ganteng terus, kerja! Nanti di pecat baru tahu rasa." Ketus nya, membuat lawan bicara nya itu cemberut dan pergi ke bilik nya untuk kembali bekerja.
"Man, ajari dia.." Pria yang di panggil itu pun mendekat dan mengangguk, dia pun mengajak Juan pergi dari ruangan CEO menuju ke sebuah ruangan yang berada tepat di depan ruangan milik Roberts.
Juan pun memulai sesi belajar nya bersama pria bernama Iman, dia mengajari Juan dengan sabar dan detail. Dia juga ramah, hingga membuat Juan nyaman dan tak canggung sama sekali.
Sedangkan di ruangan nya, Roberts merenung. Ada yang mengganjal hati nya saat ini, dia khawatir kalau apa yang dia pikirkan itu benar. Bagaimana dia bisa menebus kesalahan nya itu nanti nya?
'Apa itu kau? Tak mungkin rasa nya jika itu kau, semoga saja itu bukan kau!' Batin Roberts.
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1