
Juan pun mengendarai mobil milik Syera ke rumah nya, awalnya dia akan mengantarkan Syera langsung pulang ke rumah nya, tapi Syera kekeh tak mau. Dia ingin mendinginkan pikiran di rumah Juan, suasana nya yang masih cukup sejuk pasti akan membuat pikiran nya lebih tenang. Apalagi ada Juan, dia bisa berkeluh kesah pada nya.
Disana juga ada sosok yang takkan Syera temukan di rumah, yakni sosok Ibu. Meskipun awalnya dia merasa sangat canggung, tapi sekarang dia sangat akrab dengan Romlah, bahkan rasa sayang nya saat ini pada nya sama seperti dia menyayangi Juan.
"Sayang, kita langsung memberitahu ibu kamu?" Ucap Syera.
"Iya, sayang. Setidaknya jangan menyembunyikan keberadaan nya dari nenek dan kakek nya. Tapi, apa kamu siap sayang?" Tanya Juan lagi, dia melirik sekilas ke arah sang kekasih.
"Siap atau tidak siap, kita tetap harus menghadapi nya, bukan? Semakin lama, perut ku akan semakin membuncit dan itu takkan bisa di sembunyikan lagi."
"Iya, sayang. Maafkan aku karena sudah bertindak ceroboh."
"Berhenti menyalahkan diri sendiri, sayang. Disini bukan hanya kamu yang salah, tapi kita berdua. Jadi jangan menyalahkan diri sendiri, karena kita sama-sama bersalah dalam hal ini." Jawab Syera bijak, membuat Juan tersenyum kecil. Gadis nya sangatlah bijak dalam memandang sesuatu hal, inilah yang dia sukai dari Syera. Selain wajah nya yang cantik dan hati nya yang baik, dia juga selalu berpikir rasional. Tidak bertindak terburu-buru dalam memutuskan apapun.
Setelah itu, kedua nya pun sampai di depan rumah sederhana milik Juan. Pria itu menekan klakson dan dengan cepat pintu rumah itu terbuka.
"Sudah pulang, Nak?" Sapa Romlah dari ambang pintu, dia keluar dari rumah meskipun cukup kesulitan. Syera langsung berlari untuk membantu calon ibu mertua nya yang terlihat cukup kesulitan.
"Sayang, jangan lari-lari." Peringat Juan, namun Syera tak peduli, akhirnya Juan hanya bisa menggelengkan kepala nya. Mentang-mentang dia masih hamil muda dan belum kelihatan, jadi bisa seenaknya berlari-larian seperti itu?
"Mama.."
"Iya, sayang.." Jawab Romlah sambil tersenyum. Jujur saja, Syera merasa tak enak hati karena sudah mengecewakan wanita paruh baya yang sudah sangat baik pada nya ini.
"Maafin Syera ya, Ma."
__ADS_1
"Maaf untuk apa, Nak?" Tanya Romlah, membuat air mata Syera tiba-tiba menetes.
"Tidak kok, Ma. Syera hanya khawatir kalau Syera ngecewain Mama." Jawab Syera lagi.
"Enggak kok, kamu gak pernah ngecewain Mama."
"Ma.." Juan mendekat, wajah nya lebih cerah saat ini, tak sepucat saat kemarin pergi ke rumah sakit.
"Iya, nak. Bagaimana keadaan kamu sekarang?"
"Sudah jauh lebih baik, Ma." Jawab Juan. Dia berlutut di hadapan ibu nya, sama seperti Syera.
"Ma.." panggil Juan lagi, membuat kening wanita itu mengernyit. Ada apa dengan kedua anak di depan nya?
"Iya, kalian ini kenapa sih?"
"Kesalahan apa yang harus Mama maafkan?" Tanya Romlah kebingungan, sebenarnya kesalahan apa yang sudah kedua sejoli ini perbuat hingga kompak meminta maaf.
"Kami tahu, kami berdua salah. Tapi, jangan salahin Syera, Ma. Ini semua kesalahan Juan."
"Kamu ini bicara apa, Nak?" Tanya nya lagi.
"Syera hamil anak Juan, Ma." Jawab Juan, membuat Romlah terkejut setengah mati. Jantung nya terasa berhenti berdetak saat itu juga. Untung saja, mereka sudah masuk ke dalam rumah karena bahaya jika di luar. Bisa-bisa jadi bahan gosip untuk setahun kedepan.
"A-apa?" Tanya Romlah.
__ADS_1
"Maafin Juan, Ma. Tapi ini bukan kesalahan Syera, Ma." Ucap Juan lirih, Romlah menatap kedua nya dengan tatapan tak percaya.
Bagaimana anak laki-laki yang selama ini terlihat lugu dan polos bisa melakukan hal sebejat ini pada putri majikan nya sendiri? Dia mengetahui memang kalau kedua nya sudah berpacaran, tapi dia tak menyangka kalau hubungan mereka sudah sejauh ini.
Jujur, dia tak tahu harus menunjukkan ekspresi seperti apa saat ini. Ini benar-benar di luar dugaan nya, kesalahan ini cukup fatal. Tapi, kehamilan Syera tak seharusnya di salahkan disini. Mau bagaimana pun, janin nya yang ada di kandungan gadis itu tidak bersalah apapun.
"Ma, kenapa mama diam saja? Ayo marahi Juan, Ma. Ayo pukul Juan, Ma."
"Mama tidak tahu harus mengatakan apa, Juan. Kesalahan kamu ini terlalu fatal."
"Kesalahan kami berdua, Ma. Disini bukan hanya Juan yang salah, tapi Syera juga karena tak bisa menjaga diri dari nafssu." Ucap Syera, air mata nya menetes begitu saja. Apalagi saat melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh Romlah.
"Sudahlah, mama capek." Ucap Romlah, dia pun pergi dengan kursi roda nya meninggalkan Juan dan Syera. Dia masuk ke kamar nya. Wajar kan kalau Romlah marah? Tentu wajar, karena kesalahan yang mereka buat ini sudah sangat fatal. Apalagi hingga membuat kehidupan baru padahal saat ini status mereka belum sah di mana pun.
"Sayang.."
"Tidak apa-apa, sayang. Yang penting kita sudah jujur kan?" Syera memeluk Juan, dia menangis di pelukan pria tampan itu. Sedangkan Juan mengusap punggung gadis nya dengan lembut.
"Tapi, Mama marah sama kita, yang.." Rengek Syera.
"Tak apa, ini pasti sangat mengejutkan. Mama pasti perlu waktu, sayang."
.......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1