Terjerat Gairah Sang Pengawal

Terjerat Gairah Sang Pengawal
Bab 72 - TGSP


__ADS_3

Malam hari nya, Syera mengeluhkan kalau kaki nya terasa pegal setelah seharian berdiri menyambut tamu. Karena mereka sekaligus melakukan resepsi, tadi siang Syera berganti dua kali pakaian nya.


Sebenarnya, Juan juga merasa kelelahan bukan hanya Syera saja yang lelah, dia juga sama. Tapi mau bagaimana pun, Syera membawa beban lain di perut nya dengan kehamilan nya. Tidak berdiri seperti tadi siang pun, Syera pasti sudah kelelahan dengan membawa janin nya kemana-mana.


"Ya udah, sini aku pijitin kaki nya, sayang." Ucap Juan membuat Syera langsung menoleh dan menatap wajah tampan suami nya.


"Gak usah, sayang."


"Gapap, yuk sini boboan. Biar aku pijitin kaki nya, biar gak terlalu pegel kaki nya." Juan pun memijat kaki istri nya dengan lembut, membuat Syera merasa keenakan sambil memejamkan mata nya.


"Enak, sayang?" Tanya Juan, Syera menganggukan kepala nya dengan cepat. 


"Makasih banget lho, sayang. Maaf banget udah bikin kamu capek, padahal kamu udah capek seharian."


"Gapapa, sayang. Aku tahu kamu pasti kecapean, di tambah lagi kamu sekarang lagi hamil kan. Jadi lebih muda kecapean, gapapa, sayangku." Jawab Juan lagi, membuat Syera tersenyum kecil. Suami nya ternyata sangat baik dan perhatian.


"Kamu capek banget, yang?" 


"Iya, capek sih yang. Tapi pas denger kamu pegel, aku gapapa kok. Tapi, jangan ngajakin main malam ini ya? Nanti pagi aja, aku capek." Jawab Juan sambil tersenyum kecil.


"Iya, tadi nya aku nanya gitu kan karena jatah, hehe."


"Jatah apa? Biasa nya laki-laki yang selalu menagih jatah sama istri nya, kok sekarang terbalik ya." Ucap Juan sambil terkekeh.


"Hehe, gapapa dong."


"Iya, sayang. Tapi, nanti pagi ya. Sekarang kita istirahat aja dulu."


"Yaudah, sini peluk. Aku pengen bobo nya sambil di peluk kamu." Jawab Syera, Juan pun mengangguk dan membuka pakaian nya yang terasa tak nyaman setelah di pakai seharian. 


"Gak mandi dulu?"


"Ehhh iya, kita lupa belum mandi ya. Yaudah, ayo kita mandi dulu yuk." Ajak Juan, Syera pun terkekeh lalu mereka pun mandi bersama dengan di iringi penuh kehangatan ala sepasang pengantin baru yang masih hangat-hangatnya. Meskipun, tidak ada sesi mendesaah bersama karena kelelahan.


Setelah acara mandi, kedua nya pun langsung tertidur. Syera mau pun Juan tertidur hanya dalam waktu beberapa detik saja, mungkin karena saking capek nya. 


Sedangkan di luar sana, Martin sedang menikmati kesedihan dan kesendirian nya di rumah yang terasa sangat sepi ini. Dia di tinggal istri nya, lalu mantan kekasih nya juga menikah hari ini.


Dia membakar ujung rokok dan menghisap nya dengan perlahan, lalu menghembuskan asap nya lewat mulut. Membuat asap putih itu bebas berkeliaran di ruangan ini.


"Jangan merokok terus, Mas." Ucap Devia, dia menutup kembali pintu apartemen dan membuka cardigan yang menutupi tubuh nya dari dingin nya udara malam. 


"Kenapa kau kembali, Dev?"


"Aku ingin rujuk, itu saja. Mumpung kita belum benar-benar selesai." Jawab Devia, dia pun duduk di samping Martin yang langsung mematikan rokok nya agar tidak terhirup oleh istri nya yang tengah mengandung.


"Kenapa? Bukankah kau ingin mengejar Juan, masa lalu mu?" Tanya Martin lagi.


"Tidak, aku sudah berpikir jauh-jauh dan aku memutuskan untuk kembali padamu saja. Aku tak mungkin melepaskan apa yang aku dapatkan, demi masa lalu yang sudah tak mau padaku lagi." Jelas Devia, membuat kening Martin mengernyit heran. 


Apakah Devia yakin dengan keputusan nya? Dia sendiri merasa heran, karena Devia itu mengatakan dengan percaya diri kalau dia akan kembali bersama Juan. Lalu, kenapa tiba-tiba sekarang dia meminta rujuk dengan nya? Aneh bukan?


"Kau serius?" 


"Iya, aku serius, Mas. Maafkan aku, jika aku sudah mengatakan hal yang menyakiti hatimu, Mas." 


"Ya, tidak apa-apa. Syukurlah kalau kamu sudah memikirkan baik-baik tentang hubungan kita, Dev. Ini keputusan yang baik, kita mulai semua nya dari awal ya?" Ucap Martin. Devia pun menganggukan kepala nya, kedua nya saling menatap lalu melempar senyuman masing-masing. Lalu Martin memeluk Devia dengan erat. 


"Terimakasih sudah mau kembali, aku janji akan bekerja lebih baik lagi ke depan nya, Dev. Jadi, jangan tinggalkan aku." 


"Maafkan aku sudah berpikir bodooh hanya karena ke egoisan ku, Mas." Lirih Devia. Dia benar-benar menyesali apa yang sudah dia lakukan, mengejar hal yang belum pasti hingga melupakan apa yang sudah dia dapatkan. 


Berusaha menangkap sesuatu, lalu dengan bodooh nya melepaskan sesuatu yang sudah berada dalam genggaman. Tapi, setelah memikirkan nya berulang kali dengan kepala dingin, akhirnya dia datang dan kembali meminta rujuk pada suami nya. Dia akan memulai semua nya dari awal bersama Martin, dia akan melupakan Juan dan membiarkan nya bahagia bersama wanita lain, yang dia cintai.


"Tak apa-apa, sayang. Sekarang, kita memulai semua nya dari awal. Aku bahagia kamu mau berpikir realistis, jangan mengejar sesuatu yang belum pasti kamu dapatkan."


"Iya, Mas." Jawab Devia. Martin mengecup singkat kening Devia dengan dalam dan cukup lama. Lalu kedua nya kembali berpelukan dengan erat. Bahagia? Tentu saja, dia bahagia saat Devia memutuskan kembali pada nya.


Keesokan pagi nya, Juan dan Syera langsung bermain dengan ronde pertama mereka. Panas dan bergairaah, tentu saja membuat nya suasana di pagi hari ini terasa lebih hangat dan panas. 


Keringat mengucur di kening Juan, dia begitu menikmati penyatuan nya dengan sang istri. Syera juga tak henti-hentinya mendesaah dan melenguuhkan nama nya sebagai ungkapan dari rasa nikmat yang dia dapatkan dari pertemuan dua kelamiin itu. 

__ADS_1


"Aaahhh.. sayang pelan-pelan.." Ucap Syera saat Juan mempercepat gerakan maju mundur nya. Penyatuan ini terasa sangat nikmat, mungkin karena mereka sudah lama tidak melakukan nya, jadi saat kembali melakukan nya ada sensasi tersendiri saat Juan kembali melakukan nya. Apalagi sekarang, dengan status mereka yang sudah berubah total menjadi pasangan suami istri. Penyatuan mereka jauh terasa lebih nikmat dari pada yang sebelum nya.


"Aaahhh, sayang aku ingin keluar.." Racau Juan, dia semakin mempercepat gerakan pinggang nya maju mundur dengan teratur, menghentak dengan cukup kuat hingga senjata nya terasa masuk lebih dalam, mungkin hingga menyentuh rahim nya. 


"Ke-luarkan saja, sayang." Jawab Syera sedikit terbata, tubuh nya terguncang karena gerakan suami nya yang cepat dan kuat. 


Juan pun menurut dan mengeluarkan cairan kental miliknya di dalam lubang milik Syera, membuat wanita itu mendesis pelan saat merasakan inti bawah nya terasa hangat oleh cairan yang di keluarkan oleh Juan.


"Ssshhh.. Hangat.." 


"Aaaahhh, aku mengeluarkan nya banyak sekali di dalam."


"Enak sekali, bukan?"


"Yeah, tentu saja. Aku sangat merindukan sensasi saat junior mu memenuhi milik ku, rasanya aaahh mantap." Jawab Syera membuat Juan terkekeh.


"Omong-omong, dia bangun lagi, yang." Ucap Juan, Syera juga tahu karena merasakan kalau si junior sudah kembali menegang di dalam sana.


"Iya, aku tahu kok. Lanjut?"


"Lanjut, giliran kamu yang di atas. Oke, Bby?" Juan tersenyum nakal sambil menatap tubuh polos Syera yang juga di penuhi keringat.


"Of course, honey." Jawab Syera, Juan pun membalikan keadaan nya menjadi istri nya yang di atas, bersiap untuk memimpin laju permainan. 


Di rumah, Roberts dan Sharon menanti kedatangan pasangan itu dengan harap-harap cemas. Sudah jam sepuluh, tapi mereka belum juga kelihatan batang hidung nya. Entah kemana dulu, tapi sudah jelas ini cukup siang. Harusnya mereka sudah pulang dari tadi.


"Aisshh, kemana lah mereka ini?" Gumam Roberts, dia ingin membicarakan hal yang penting bersama Juan. Tapi, hingga hampir tengah hari, kedua nya belum muncul juga.


"Sudahlah, Mas. Barang kali mereka belum bangun." 


"Gak mungkin kalo belum bangun, sayang. Ini sudah mau tengah hari lho."


"Ya, kali aja mereka main sampai pagi terus kecapean, Mas. Kan mereka baru aja nikah, masih panas-panas nya tuh penganten baru." Jawab Sharon, dia paham benar kalau sahabat nya itu pasti sedang menikmati masa-masa pengantin baru nya bersama pria pujaan nya. 


"Gak mungkinlah, masa sampe pagi. Awas aja kalo si Juan main sampe pagi begitu, Mas bakalan hukum pemuda nakal itu." 


"Ya, itu sih terserah Mas aja. Kalo mau anak nya marah sama Mas ya hukum aja Juan nya." Ucap Sharon.


"Sabar ya, putri mu sudah di tahap cinta mati sama Juan, jadi ya biarkan saja." 


"Aisshh, nyebelin." Ucap Roberts sambil mendengus. Pria paruh baya itu mencebikan bibir nya, kalau sudah bucin ya susah. 


Sedangkan di hotel, pasangan suami istri itu baru saja menyelesaikan ronde ke tiga mereka. Juan dan Syera pun langsung mandi bersama, tapi Juan malah ingin mengulang permainan dan ternyata Syera juga menginginkan nya, jadi nya mereka bermain empat ronde pagi ini. 


Setelah menyelesaikan mandi yang memakan waktu hampir satu jam lebih itu, akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah Syera. Juan mengemudikan mobil nya dengan kecepatan sedang. 


Sepanjang perjalanan, Syera terus saja mengemil sambil berceloteh ria. Maklumlah ya, nama nya juga kan bumil. Kalau tidak di turuti nanti dia merajuk, tapi selama itu baik untuk kesehatan ibu dan bayi yang di kandung nya, Juan pun tidak masalah jika Syera doyan makan atau sekedar ngemil.


"Enak ya, Bby?" Tanya Juan, Syera mengangguk cepat. Dia tengah memakan telur gulung dengan lahap. 


"Enak, mau?"


"Mau, tapi suapin." Syera pun menurut dan menyuapi Juan dengan telur gulung yang sedang dia makan.


"Pedes.." Ucap Juan sambil melirik ke arah istri nya, Syera yang mendapat lirikan dari sang suami langsung nyengir seolah tanpa berdosa.


"Hehe, gapapa kan?"


"Ini pedes nya masih wajar, Ay. Gapapa kok, tapi besok-besok jangan ya. Nanti adek bayi nya kepanasan di dalam sana, oke?"


"Oke, pak suami." Jawab Syera sambil meletakan tangan nya di kepala, seperti orang menghormat bendera.


"Gemesin nya istriku." Ucap Juan sambil mengacak rambut istrinya dengan gemas. Syera hanya terkekeh sambil terus memakan cemilan nya dengan lahap.


Setelah hampir satu jam berkendara, akhirnya kendaraan yang di kendarai oleh Juan itu sampai di rumah besar milik Roberts. Di ambang pintu, pria paruh baya itu sudah menatap putri dan menantu nya dengan tajam, kedua tangan nya bersedekap di dada. 


"Pah.." Sapa Syera, dia mendekat sambil menggandeng lengan suami nya dengan mesra. Sedangkan Juan hanya menganggukan kepala nya dengan sopan, mau menyapa pun rasa nya dia sangat canggung.


"Kenapa baru pulang jam segini? Kemana dulu kalian, hmm?"


"Yaelah, Papah. Kan wajar kalo kita pulang nya lama, kayak gak pernah muda aja." Celetuk Syera yang membuat Roberts mendelik ke arah putri nya. 

__ADS_1


"Di pake berapa ronde kamu semalam sama suami kamu?"


"Papah kepo." Jawab Syera ketus, ya kali sampe begituan harus di tanyain segala. Itu kan privasi, kan kalo ketahuan dia nya doyan, malu gitu. 


"Enam, pah. Kenapa gitu?"


"H-ah, apa? Keterlaluan ya kamu, Juan." Ucap Roberts, dia menatap tajam menantu nya.


"Gak usah natap suami Syera kayak gitu." Syera melawan ayah nya membuat Roberts menatap putri nya dengan keheranan.


"Syera sama Juan lakuin itu berkali-kali karena suka sama suka, lagian Syera nya mau-mau aja kok." 


"Nak, tapi.."


"Udahlah, Pah. Syera gapapa, dan jangan nyalahin Juan. Apalagi natap suami aku kayak gitu." Ucap Syera, dia pun membawa suami nya masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan tatapan sang papa.


"Syer, udah balik?" Sapa Sharon sambil tersenyum, dia baru saja selesai memasak makanan kesukaan Syera. Eehh, pas orang nya dateng dengan wajah cerah dan berbinar.


"Udah, Shar. Lagi ngapain?" 


"Baru aja selesai masak makanan kesukaan kamu, ayo bisa tebak aku masak apa?" Tanya Sharon sambil tersenyum manis.


"Gulai?"


"Yee, pinter. Aku masak gulai ayam buat kamu makan siang, mau makan sekarang atau nanti?" Tanya Sharon.


"Duh, aku laper. Makan sekarang aja ya?" 


"Ajakin tuh suami nya, inget kamu udah punya suami sekarang. Layani dengan baik ya." Ucap Sharon sambil tersenyum jahil.


"Iya iya." Jawab Syera, sambil tersenyum. Dia pun menarik tangan Juan ke dapur.


"Sayang, masa makan lagi sih? Kita kan baru aja makan tadi di hotel sebelum pulang." 


"Aku laper, kan aku makan nya buat berdua."


"Ehh iya ya, sayang. Yaudah, kamu makan yang banyak ya, biar adek bayi sama kamu nya sehat." Ucap Juan, Syera tersenyum lalu mengangguk. Wanita itu pun makan dengan lahap, sedangkan Juan hanya memakan roti yang tersedia di meja, lengkap dengan aneka selai nya.


"Lho, kok suami kamu gak makan?" Tanya Roberts.


"Masih kenyang, Pah." Jawab Juan sambil nyengir.


"Ohh, ya sudah. Setelah istri mu selesai makan, datang ke kebun belakang. Ada yang harus kita bicarakan, berdua." Ucap Roberts pada Juan dengan datar.


"Baik, Pah." Jawab Juan.


"Kau ini, masih saja formal padahal sekarang kau adalah menantu ku, Juan." 


"Udah kebiasaan, pah."


"Yaudah, kalau udah susulin ya." Ucap Roberts, Juan pun mengangguk mengiyakan.


Roberts pun meninggalkan pasangan suami istri itu di ruang makan, dia pergi ke kebun belakang untuk melakukan sesuatu. Juan berpikir keras, kira-kira apa yang ingin papa mertua nya itu bicarakan? Mendadak, dia merasa takut kalau akan di hukum karena sudah menghajar putri nya sebanyak empat ronde barusan. Tidak sampai enam ronde kok, hanya saja Syera menjawab nya seperti itu.


"Kenapa bengong, yang?" Tanya Syera pada suami nya yang nampak melamun.


"Kira-kira, papah mau ngomongin apa ya? Aku takut kalau dia malah ngehukum aku gara-gara hajar kamu berkali-kali." Jawab Juan membuat Syera tergelak.


"Ya, enggak kali. Masa di hukum cuma gara-gara aku lakuin tugas aku sebagai istri, kan gak mungkin." 


"Tapi tetep aja yang, aku ngerasa takut. Hehe."


"Semangat, percaya deh papah gak mungkin hukum kamu." Ucap Syera serius. 


"Hmmm, yaudah deh. Kamu sendirian dulu gapapa kan? Aku kesana dulu nyusulin papah, mumpung mental aku lagi bagus."


"Iya, sayang." Jawab Syera sambil tersenyum. Juan pun beranjak dari duduknya dengan langkah pelan dia pergi ke kebun belakang rumah. Dengan hati berdebar tak karuan, dia menerka-nerka apa yang kira nya akan di bicarakan oleh papah mertua nya itu.


......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2