Terjerat Gairah Sang Pengawal

Terjerat Gairah Sang Pengawal
Bab 40 - TGSP + Visual


__ADS_3

"Sayang.." Panggil Syera pada Juan, membuat pemuda yang sedang mencuci motor nya itu berbalik menatap wajah Syera yang nampak berbinar. 


Hari ini, gadis itu akan kembali pulang ke rumah besar nan mewah nya karena dia merasa hati nya sudah cukup tenang, lagi pun dia merasa tak enak jika harus menumpang di rumah ini terlalu lama, meskipun yang punya rumah membolehkan.


"Iya, sayang. Kenapa?" Tanya Juan, Syera mendekat dan berjongkok di depan Juan yang tengah menggosok-gosok bagian bawah motor nya. 


"Hari ini aku pulang, yang."


"Iya, aku tahu sayang. Aku yang akan mengantarkan mu nanti, setelah motor nya bersih dan kering." Jawab Juan datar, tanpa menoleh ke arah Syera yang berada di samping nya.


"Kok kamu nya gitu sih?"


"Gitu gimana, yang?" Tanya Juan, berpura-pura seolah tak tahu akan ekspresi nya yang terlihat berbeda.


"Kayak gak suka pas aku bilang mau pulang."


"Jujur saja, aku emang berat nganterin kamu pulang. Aku pengen nya, terus sama kamu. Tapi, hubungan kita.."


"Kalau begitu, cepat lamar aku, sayang. Kalau kita sudah menikah, setidaknya kita akan terus bersama." Usul Syera.


"Bukan aku gak kepikiran buat nikahin kamu, yang. Tapi untuk saat ini, aku masih punya Mama dan Rinda yang harus aku sekolahin hingga pendidikan nya selesai. Aku juga harus bekerja untuk biaya pengobatan Mama, jadi dari mana aku bisa menafkahi mu, sayang?"


"Enggak gitu, yang. Pasti ada rezeki nya asal kita mau berusaha."


"Iya, sayang. Tapi tetap saja, aku gak mau jika nanti aku hanya bergantung sama kamu atau keluarga kamu doang, yang. Aku akan mencari kerja lagi nanti." Ucap Juan sambil tersenyum kecil.


"Tapi, keluarga aku gak pernah beda-bedain orang berdasarkan harta atau keadaan ekonomi kok, yang."


"Meskipun seperti itu, tetap saja harga diri seorang laki-laki ada pada pekerjaan, sayang." 


"Ya sudah, kalau begitu aku doain kamu semoga Tuhan mengangkat derajat kamu ya, sayang." 


"Terimakasih doa nya, sayang." Jawab Juan, Syera hanya menganggukan kepala nya dan kembali melihat aktivitas Juan.


"Sayang, mau aku bantu?"


"Enggak usah, nanti tangan kamu kotor. Kalau mau bantu, tolong bikinin aku kopi ya?" 


"Ohh, oke sayang." Jawab Syera, dia pun segera masuk ke rumah dan membuatkan secangkir kopi hitam untuk Juan.


"Sayang, ini kopi nya udah jadi." 


"Iya, sebentar yang." Jawab Juan, setelah di rasa selesai, dia pun mencuci tangan dan berjalan mendekat ke arah Syera yang duduk di bangku kayu.


"Yang.."


"Hmm, iya kenapa?" Tanya Syera, dia menoleh pada Juan yang tengah menatap nya dengan intens.


"Kamu yakin sama aku, yang?"


"Kenapa kamu nanya kek gitu, yang? Harusnya, kamu udah lihat dari cara aku perlakuin kamu dong." Jawab Syera. 

__ADS_1


"Aku hanya ngerasa kurang percaya diri dengan hubungan kita, itu saja."


"Apa lagi yang jadi masalah kamu, yang? Masih level atau kasta?" Tanya Syera, dengan perlahan Juan mengangguk. Memang hal itulah yang mengganjal hati nya. 


Bisakah papa nya Syera menerima pria miskin untuk menikahi putri nya? Hanya itu saja, dia khawatir kalau Roberts tidak setuju dan malah menentang hubungan nya dengan Syera. Jujur saja, dari awal terjalin nya hubungan terlarang ini, dia sudah memikirkan bagaimana nasib percintaan nya ke depan nya nanti.


"Sayang.."


"Iya."


"Cukup ya, aku gak mau denger kamu bahas ini lagi di depan aku. Kalau pun semisal orang tua aku gak setuju aku sama kamu, aku yang bakal perjuangin kamu, sayang." Ucap Syera dengan tegas, dia yakin kalau hubungan nya dengan Juan akan mendapatkan restu, meskipun mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama, karena dia tahu benar seperti apa sifat ayah nya.


"Tapi, aku laki-laki sayang. Harus nya, aku yang perjuangin kamu."


"Kalau begitu, ayo kita berjuang sama-sama, sayang." Ucap Syera membuat Juan mendongak dan menatap wajah cantik Syera dengan tatapan penuh arti.


"Kamu mau berjuang bersama ku, kan?"


"Ya, aku mau berjuang sama kamu, Ju." Jawab Syera yakin, membuat secercah senyuman tersungging manis dari sudut bibir Juan. Dia merasa punya harapan lagi untuk bisa bersama Syera, gadis yang sangat dia cintai.


"Nak.." Ucap Romlah, dia keluar dengan kursi roda nya. 


"Iya, Ma." Jawab Juan, dia langsung mendekat begitu melihat sang ibu datang.


"Obat mama habis, Nak."


"Habis?" Tanya Juan, astaga dia sampai melupakan kalau minggu ini dia belum membelikan obat untuk sang ibu. Dirinya terlalu fokus pada Syera, hingga melupakan hal sepenting ini.


"Sekarang Juan beli dulu ke dokter nya ya, mama tungguin aja disini." Ucap Juan. Romlah menganggukan kepala nya mengiyakan.


"Iya, hati-hati di jalan nya ya, Nak." Juan menjawab peringatan sang ibu dengan anggukan kepala nya.


"Ayang mau ikut?" Ajak Juan.


"Enggak, aku sama Mama aja, yang." Jawab Syera, dia mengkhawatirkan keadaan mama nya Juan yang sendirian di rumah jika dia ikut.


"Yaudah, aku gak lama kok."


"Hati-hati, sayang." Peringat Syera, Juan menganggukan kepala nya, lalu memasang helm miliknya dan pergi menjauh dari rumah nya. 


Sedangkan di rumah Roberts, pria paruh baya itu membuat acara kecil-kecilan untuk menyambut kepulangan sang putri. Tentu nya, dengan di bantu Sharon sang pujaan hati. Gadis itu terlihat sangat antusias sekali saat membantu Roberts untuk menghias ruang tengah. 


"Sayang, jangan terlalu kelelahan."


"Iya, Mas. Enggak kok." Jawab Sharon pelan, membuat Roberts tersenyum kecil. Dia merasa kalau pilihan nya sudah tepat, Sharon adalah gadis yang baik, lembut dan penyayang. Meskipun usia nya masih sangat muda, ya seumuran lah dengan putri nya, Syera yang tahun ini akan berulang tahun ke 24.


"Syera pulang nya jam berapa, Mas?" Tanya Sharon pelan.


"Paling siang atau sore, sayang." Jawab Roberts. 


"Ohh yaudah." 

__ADS_1


"Iya, sayang." Jawab Roberts, kedua nya pun kembali di sibukan dengan mendekor ruangan agar lebih indah. 


Sore hari nya, Syera pulang di antarkan oleh Juan. Sepanjang perjalanan ke rumah Roberts, kedua insan itu hanya saling diam, tak ada yang memulai pembicaraan, Syera hanya memilih untuk diam, begitu juga Juan.


Hingga beberapa saat kemudian, motor yang di kendarai oleh Juan sampai di pelataran rumah besar milik Roberts. Syera turun dari sepeda motor itu, dia menatap nanar rumah yang satu minggu ini dia tinggalkan karena emosi nya.


"Selamat datang, sayang." Sambut Roberts dari dalam, dia langsung berjalan mendekat dan memeluk sang putri. Syera pun membalas pelukan hangat sang papa yang sudah satu minggu ini tidak dia rasakan, namun ada pelukan hangat Juan.


"Terimakasih sudah pulang, Nak." Ucap Roberts lirih, sambil mengecupi wajah putri nya. 


"Ini karena Juan, dia yang selalu memberikan Syera nasihat, Pah."


"Benarkah? Papah tak salah memilih dia untuk menjadi pengawal mu, kan?" 


"Tidak, Juan adalah pengawal yang tepat buat Syera." Jawab Syera, dia tersenyum menatap wajah tua sang papa. Namun, tatapan nya seketika menajam saat melihat sosok Sharon, dia ternyata ada di rumah ini juga.


"Maaf, pak. Kalau begitu saya pulang dulu, sudah sore." Ucap Juan lirih.


"Iya Ju, terimakasih sudah mengantarkan Syera pulang. Besok, kau mulai bekerja seperti biasa ya, Ju."


"Baik, Pak. Permisi." Juan pun membungkukan setengah badan nya dengan hormat, lalu menaiki sepeda motor nya dan mengendarai nya dengan kecepatan yang cukup tinggi. 


Hal itu tak luput dari pandangan Syera, dia tau benar mood Juan benar-benar buruk saat ini. Karena apa? Karena dia pulang dan Juan merasa kehilangan. 


Sebenarnya, dia juga tak mau berpisah dengan Juan, tapi mau bagaimana lagi kan? 


"Kenapa bengong, ayo masuk." Ajak Roberts, Syera pun masuk ke dalam rumah dengan langkah pelan. Dia mengedarkan pandangan nya ke dalam, ruang tamu di hias dengan indah, membuat kedua mata Syera berkaca-kaca.


"Kamu suka, sayang?"


"I-iya, Syera suka. Makasih, papah." 


"Berterimakasih juga pada Sharon, dia juga ikut membantu papa menyiapkan semua ini, sayang." Ucap Roberts, membuat Syera melerai pelukan nya dan mengalihkan pandangan nya pada Sharon yang berdiri agak jauh dari nya. 


Mungkin, Sharon mengerti kalau Syera tidak menyukai keberadaan nya jadi dia menjaga jarak agar tidak membuat Syera bad mood. 


Sharon tersenyum kecil saat tatapan mereka bertemu, namun Syera segera memalingkan wajah nya ke samping. Tak apa, Sharon paham benar akan sikap Syera yang demikian, dia juga tak bisa menyalahkan Syera karena ini juga adalah kesalahan nya yang sudah lancang masuk ke dalam kehidupan sahabat nya sendiri.


.......


🌻🌻🌻🌻🌻


VISUAL


Syera Alana Lurious



Juan Karessa Mahendra


__ADS_1


__ADS_2