
Juan mempelajari pekerjaan nya dengan cepat, beruntung lah dia karena di karuniai otak yang cerdas. Hanya dua kali mengajarkan, Juan sudah paham dan Iman pun sudah membiarkan Juan melakukan pekerjaan nya. Dia di tempatkan di bagian definisi keuangan oleh Roberts.
"Permisi, ini sudah benar?" Tanya Juan pada Iman yang juga bekerja disana. Iman mendekat dan melihat hasil pekerjaan Juan. Pria itu tersenyum saat melihat pekerjaan Juan begitu rapih dan beres.
"Ya, ini sudah benar. Kamu cerdas juga, pekerjaan kamu juga rapih dan beres." Puji Iman pada Juan, membuat pria itu tersenyum kecil ke arah Iman.
"Terimakasih, Pak."
"Ya, kalau semisal ada yang gak kamu mengerti, panggil saja. Selamat bekerja, Juan."
"Baik, pak terimakasih." Jawab Juan. Kedua pria itu pun kembali tenggelam dalam pekerjaan yang selalu menumpuk setiap hari nya.
Sedangkan di rumah, Syera dan Sharon sedang duduk santai sambil rujakan. Tadi, tiba-tiba saja Syera ingin makan rujak. Untung nya, di kulkas ada buah mangga dan juga jambu air. Meskipun mangga nya sudah hampir matang, tapi rasa nya masih sangat asam, jadi cocok untuk di rujak.
"Seger banget rujak nya, ya?" Ucap Syera pada Sharon.
"Asem ini mah, bukan seger."
"Ya, tapi buat aku mah seger, beb." Jawab Syera sambil terkekeh, Sharon hanya mau memakan jambu air nya saja. Karena dia takkan kuat kalau harus makan mangga, bisa-bisa penyakit lambung nya kambuh hanya karena makan segigit buah mangga.
"Iyalah, kamu kan lagi hamil."
"Kamu, rencana nya setelah menikah mau punya anak berapa, Shar?" Tanya Syera di sela mengunyah nya.
"Sedikasih nya aja sih aku mah." Jawab Sharon.
"Kamu masih subur, tapi gak tau kalau papah. Soalnya usia papah kan udah cukup tua gitu, tapi jangan berkecil hati. Semua ada solusi nya kok."
"Iya, Syer." Jawab Sharon.
"Aku bakalan punya adek nanti ya, keknya bakalan gemes, aku unyel-unyel pipi nya nanti."
"Oke, sebelum kamu melakukan itu. Aku yang bakalan lakuin itu sebelum kamu melakukan nya, Syer." Ucap Sharon, dia nampak santai saat mengatakan hal itu.
"Lho kok gitu sih?"
"Gitu gimana? Aku mah nikah nya aja belum, kamu? Udah nikah, udah hamil lagi." Jawab Sharon yang membuat Syera tercengang, benar juga yang di katakan oleh Sharon.
"Ehh iya ya, gak jadi deh. Aku mau usap-usap adek aku aja kalo gitu."
"Haha, kamu ini Syer.."
Syera hanya terkekeh pelan, lalu kembali memakan rujak nya dengan lahap. Sambel kacang dan gula merah, lalu di makan dengan buah yang asam, mantep pokoknya.
Setelah menghabiskan rujak nya, Syera malah merengek ingin makan lagi. Entahlah, bawaan nya laper aja terus. Padahal sedari tadi sarapan, mulut Syera tidak berhenti mengunyah. Tapi tak apa, justru itu bagus selama bumil itu makan makanan yang sehat.
"Shar, laper.."
"Makan dong, mau makan apa?"
"Apa ya? Yang tadi aja deh, masih ada kan?" Tanya Syera, Sharon mengecek nya dan ternyata habis.
"Habis, mau di masakin apa?" Tanya Sharon lagi membuat Syera terlihat berpikir.
"Ayam goreng aja, ada?"
"Ada kok, aku bikinin dulu bentar."
"Maaf ya, aku bisa nya ngerepotin aja terus." Ucap Syera, dia merasa tak enak karena seringkali merepotkan Sharon, sahabat plus calon ibu tiri nya.
"Gapapa, santai. Lagian kamu gak pernah ngerepotin apa-apa sama aku, Syer." Jawab Sharon sambil tersenyum ramah ke arah Syera.
"Makasih banget ya, Shar.."
"Sama-sama." Jawab wanita itu lagi, dia pun mengambil ayam dari kulkas dan membumbui nya, lalu menggoreng nya setelah beberapa menit.
"Mau sama sambel gak?"
"Ihhh mau banget.." Jawab Syera, Sharon tersenyum kecil.
"Kalo sambel nya pedes nanti aku di marahin Juan, sambel tomat aja mau?"
"Yaahh, gak pedes dong. Gak enak kalo sambel gak pedes, Shar."
"Pake dua atau tiga cabe aja, oke?"
"Yeee, makasih Sharon.." Ucap Syera kesenangan, dia sampai berjingkrak-jingkrak. Dia merindukan makanan pedas, selama hamil baik Juan maupun mama mertua nya, tak mengizinkan nya untuk makan makanan pedas sama sekali.
Sharon hanya tersenyum kecil lalu menggelengkan kepala nya saat melihat tingkah Syera yang sangat menggemaskan, apalagi kalau sampai Juan melihat tingkah istri nya itu.
"Udah, gak usah jingkrak-jingkrak gitu. Inget kamu lagi hamil, seneng banget kamu cuma karena mau makan sambel."
"Kangen banget aku sama sambel, Shar. Sejak hamil, Juan jadi posesif. Gak bolehin aku makan pedes, walaupun dikit. Mama mertua juga gitu." Jawab Syera.
"Ya, mereka melarang juga kan pasti ada alasan nya. Itu semua demi kebaikan kamu sama anak kamu, Syer."
"Iya, aku tahu. Tapi kamu tahu sendiri aku tuh suka banget sama makanan pedes. Sekarang gak boleh, jadi berasa kayak ada yang kurang gitu."
"Ya sudah, sekarang aku bolehin tapi dikit aja. Aku juga gak mau di kill sama suami kamu nanti." Celetuk Sharon yang membuat Syera tergelak geli, dia geli mendengar ucapan Sharon. Semarah apapun Juan, rasa nya gak mugkin kalau sampai nge kill orang gitu, apalagi Sharon kan calon mama mertua nya, ya meskipun tiri.
"Iya, Shar. Kamu emang yang terbaik." Jawab Syera.
"Lebay."
__ADS_1
"Hehe, gapapa dong. Kapan lagi aku sealay ini." Jawab Syera, lagi-lagi dia terkekeh.
Tak lama kemudian, Sharon menyajikan sepiring ayam goreng dan sambel, ya meskipun cabe nya hanya beberapa biji saja, karena kebanyakan Sharon menggunakan tomat saja.
Syera tersenyum, lalu dia makan dengan lahap, membuat Sharon tersenyum manis. Dia senang karena Syera selalu lahap saat makan, kehamilan nya itu tidak mempengaruhi nafsuu makan nya sama sekali. Syera berbeda dengan ibu hamil lain nya, jika ibu hamil lain sering mengidam, makan juga kadang suka males. Keadaan nya terbalik jika pada Syera, dia malah doyan makan.
Sore hari nya, Juan bersiap pulang karena jam kerja sudah berakhir. Tapi nyata nya, Roberts harus meeting dulu jadi Juan terpaksa pulang sendiri.
Pria tampan nan gagah itu berjalan dengan langkah lebar nya melewati loby perusahaan yang mulai kosong karena para karyawan kebanyakan sudah pulang, hanya ada beberapa divisi lagi yang masih belum selesai dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Juan masuk ke dalam lift dan menunggu pintu lift itu terbuka, tak lama banyak karyawan perempuan yang juga ikut mengantri menunggu pintu lift terbuka. Telinga Juan terasa panas saat mendengar bisik-bisik para gadis di belakang nya.
"Ini kan cowok yang tadi sama Pak Roberts gak sih? Tinggi banget buset."
"Iya, selain tinggi punggung nya pelukable." Jawab yang lain nya, tentu nya dengan berbisik karena mereka khawatir akan terdengar oleh Juan, padahal telinga Juan masih berfungsi dengan sangat baik, jadi dia bisa mendengar meskipun mereka sudah berbisik sekali pun.
"Pengen banget gue peluk dari belakang, bersandar manja di pundak nya yang lebar."
"Sempurna banget badan nya, selain itu dia juga wangi."
"Iya, bener banget. Wangi nya lembut banget, kebayang gak sih kalo di peluk? Pasti nyaman banget, kalo gue sih gak bakalan nolak di peluk seharian juga."
"Omong-omong, dia siapa ya? Kok bisa barengan sama pak Roberts?" Tanya salah satu dari mereka membuat Juan merasa jengah. Dia pun masuk ke dalam lift karena kebetulan sudah terbuka, ketiga wanita itu juga mengikuti langkah Juan masuk ke dalam lift.
Mereka sempat melihat wajah tampan Juan yang terlihat datar, sedatar tembok tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Tatapan mata nya terlihat sangat tajam, hingga membuat ketiga nya sempat ragu untuk masuk ke dalam lift yang sama dengan pria yang menjadi bahan gosip satu kantor.
Kenapa? Pertama, dia datang bersama Roberts selaku CEO di perusahaan ini, tentu saja ini mengundang pertanyaan dari para pegawai di kantor. Kedua, wajah tampan nyaris sempurna adalah daya tarik lain dari seorang Juan. Belum lagi proporsi tubuh nya yang bak atlet olahraga, pokoknya definisi pria idaman para gadis.
Mereka tak tahu saja kalau Juan adalah menantu Roberts, alias suami putri semata wayang nya, Syera.
"Kalian sedari tadi membicarakan aku?" Tanya Juan, dia berdiri tegap di depan para gadis itu dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celana.
"Ti-tidak.."
"Jadi, kalian pikir telinga ku bermasalah hmm?" Tanya Juan lagi, membuat ketar ketir. Suara nya terdengar berat dan menakutkan bagi mereka, berbeda versi kalau Syera yang mendengar suara suami nya, bagi Syera suara Juan terdengar sangat seksii bukan menakutkan.
"Perkenalkan, nama ku Juan Karessa Mahendra. Aku adalah suami putri semata wayang tuan Roberts, alias menantu nya yang mulai hari ini akan bekerja disini. Jadi, mohon kerja sama nya dan jangan membuat masalah yang bisa saja merugikan kalian. Terimakasih."
Setelah mengatakan hal itu, Juan pun keluar dari lift dengan langkah tegap dan lebar nya, para wanita itu menganga tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Jadi, orang yang mereka kagumi itu menantu dari CEO perusahaan tempat mereka menggantungkan hidup?
"Astaga, gak nyangka banget ya.."
"Iya bener, fakta yang benar-benar di luar nalar. Aku kira kalau dia tuh keponakan atau saudara nya pak Roberts, gak kepikiran kalau itu menantu nya."
"Hmmm, kita harus menjauh. Gak boleh keliatan sama dia, bisa berabe urusan nya. Kita masih pengen kerja kan ya?"
"Iyalah, nyari kerjaan di kota ini tuh susah banget. Dahlah, cabut pulang aja dari pada mikirin ini." Ketiga nya pun langsung pergi dari kawasan perusahaan ke rumah masing-masing.
Sengaja, dia tak memperkenalkan Juan secara resmi agar mengundang perhatian para karyawan wanita. Benar saja, dengan wajah setampan itu tak sulit bagi Juan untuk mencuri perhatian seluruh isi perusahaan. Roberts kira, Juan hanya akan diam saja. Tapi ternyata, Juan melakukan hal yang di luar dugaan.
Roberts kira, dia takkan memperkenalkan diri nya sendiri sebagai suami putri nya alias menantu nya, tapi dengan tegas Juan mengatakan hal itu. Bagus, berarti Juan tak mudah tergoda dengan godaan wanita lain.
"Bagus, nilai mu A+, Juan." Gumam Roberts sambil tersenyum manis. Dia puas dengan respon yang di lakukan oleh menantu nya.
Di dalam mobil, Juan di landa bad mood saat ini. Dia kesal karena banyak wanita yang menatap dan membicarakan diri nya, apa memang dia setampan itu ya? Hingga para wanita seperti tergila-gila dengan nya.
"Sial, apa salah aku terlahir dengan wajah tampan seperti ini?" Gumam Juan sambil memukul setir mobil nya. Tapi, rasa kesal itu seketika lenyap saat dia mendengar ponsel nya berbunyi dan sang istri lah yang menghubungi nya.
Juan pun menggeser ikon hijau di ponsel nya, lalu menyelipkan ponsel nya di telinga dan di apit oleh pundak nya.
"Hallo, sayang ku.."
'Hallo, masih dimana?' Tanya Syera, suara nya terdengar sangat lembut, membuat hati Juan merasa tenang seketika setelah mendengar suara istri nya.
"Ini masih di jalan, Bby. Kenapa? Mau nitip sesuatu?" Tanya Juan, terdengar Syera terkekeh di seberang sana.
'Hehe, boleh gak nitip martabak telor?'
"Boleh istriku, nanti aku beliin ya. Mau berapa porsi, sayang?" Tanya Juan lagi.
'Satu aja, soalnya Sharon gak terlalu suka martabak telor. Kalau papah, aku gak yakin dia mau makan makanan seperti itu, papah tuh super duper sehat.' Celoteh istrinya panjang lebar, hal inilah yang membuat Juan bahagia. Syera selalu bisa membuat nya tersenyum dengan segala tingkah laku nya yang menggemaskan.
"Oke deh, adek bayi lagi apa?"
'Tidur dia, pah.' Jawab Syera, membuat hati Juan menghangat saat mendengar panggilan papah.
"Yaudah, aku lagi di jalan ini. Sebentar lagi sampai kok, sabar sebentar ya?"
'Siap pak suami, hati-hati di jalan nya.' Peringat Syera, Juan pun mengiyakan nasehat sang istri. Panggilan pun selesai, Juan menyimpan ponsel nya di dashboard dan kembali fokus mengemudikan kendaraan roda empat itu dengan kecepatan sedang.
Beberapa menit kemudian, Juan melihat gerobak yang menjual martabak telor, dia pun menghentikan laju kendaraan nya dan dia pun turun untuk membelikan martabak pesanan istri cantiknya.
"Juan.."
"Martin.."
"Beli apaan?" Tanya Martin sambil tersenyum.
"Beli martabak lah, kalau aku kesini ya pasti mau beli martabak." Jawab Juan yang membuat Martin terkekeh.
"Haha, iya juga sih."
"Beli martabak apa?" Tanya Juan sambil duduk di samping Martin.
__ADS_1
"Martabak manis, Devia lagi mau makan martabak manis rasa coklat keju katanya." Jawab Martin.
"Hmmm, baguslah kalau hubungan kalian membaik."
"Ya, aku juga sangat bersyukur, Ju. Bagaimana dengan mu?"
"Aku? Baik-baik saja, semua nya baik." Jawab Juan, membuat Martin tersenyum tipis.
"Maafin gue, Ju."
"Maaf buat apa?" Tanya Juan dengan kening yang mengernyit heran.
"Kelakuan gue yang dulu."
"Santai, gapapa kali. Lupain, anggap aja gak terjadi apa-apa."
"Sekarang aku tahu, kenapa Syera lebih memilih dirimu dari pada aku."
"Memang nya kenapa?" Tanya Juan, dia tak mengerti dengan perkataan Martin, mantan kekasih istri nya.
"Lo pria yang memiliki hati sangat baik, padahal mungkin gue sudah sangat menyakiti dan menyinggung perasaan Lo, Ju."
"Setiap orang pasti pernah salah, gak manusia yang sempurna, Martin. Santai aja, gue gak pernah menganggap yang sudah terjadi di antara kita itu sebagai awal dari permusuhan." Jawab Juan.
"Ya, thanks."
"Bang, martabak telor nya satu." Ucap Juan, Abang itu pun mengangguk dan segera membuatkan martabak pesanan Juan.
"Siapa yang pesen martabak telor, Ju?"
"Bini gue lah, siapa lagi."
"Hmmm, dari dulu Syera emang suka banget sama martabak telor. Dulu, kita sering kesini makan martabak telor berdua." Ucap Martin.
"Ya, mungkin itu berlaku sampai sekarang. Dia masih menyukai makanan nya, tapi tidak dengan orang nya." Jawab Juan membuat Martin terkekeh.
"Pesenan gue dah jadi, pulang duluan ya."
"Hmmm, hati-hati di jalan." Ucap Juan, Martin menganggukan kepala nya dan pergi dengan sepeda motor nya. Sedangkan Juan harus menunggu pesanan nya jadi.
Setengah jam kemudian, Juan pulang dengan wajah kusut nya. Dia melangkah masuk ke dalam rumah dan langsung di sambut oleh senyum mesra sang istri.
"Sayang.." panggil nya dengan manja.
"Iya, sayang ku."
"Wajah nya kok kusut gitu, capek ya?" Tanya Syera, Juan menganggukan kepala nya pelan.
"Yaudah, istirahat dulu. Mau sambil di pijit kepala nya gak?"
"Boleh, Bby. Pijit di kamar ya?" Pinta Juan, Syera yang tak mencurigai apapun hanya mengiyakan. Kedua nya pun pergi ke kamar. Tapi, sesampainya di kamar Juan malah menerkam istri nya.
"Aahh, sayang pelan-pelan dong.." Desaah Syera saat Juan bergerak cepat memacu pinggang nya di atas tubuh polos nya.
"Aku gak tahan, sayang. Uuhhhh kamu nikmat sekali, legit." Jawab Juan, dia tak memperlambat gerakan nya sama sekali, masih tetap menghentak sedalam mungkin, hingga membuat Syera jerat jerit keenakan.
"Aaargghh.." Juan mengerang, kepala nya mendongak dengan kedua mata yang tertutup, dia menumpahkan susu kental manis nya di dalam inti sang istri.
"Enak sekali, terimakasih pijatan nya, sayang. Aku sangat menikmati nya." Bisik Juan, membuat Syera mendelik. Dia merasa sudah di bohongi, padahal tadi tak ada tanda-tanda kalau suami nya ini menginginkan jatah nya, bukan jatah malam karena hari masih sore.
"Iya, sama-sama."
"Jawab nya lemes gitu, gak ikhlas nih layanin suami?" Tanya Juan.
"Eehhh gak gitu, Bby."
"Gapapa kok, sayang. Kita mandi yuk?" Ajak Juan, lagi-lagi Syera masuk ke dalam jebakan buaya darat. Juan tersenyum nakal lalu menggendong sang istri ke kamar mandi dan terjadi lah ronde kedua di kamar mandi.
Entah Syera yang terlalu polos atau Juan yang terlalu pandai memanfaatkan situasi, tapi hasilnya tetap sama yakni Juan menikmati penyatuan nya dengan Syera. Meskipun wanita itu sempat menolak saat Juan akan melakukan nya, tapi tetap saja setelah masuk dia yang paling berisik, mendesaah nikmat.
Mandi sore hari itu pun memakan waktu hampir satu jam, kedua nya baru saja keluar setelah waktu hampir petang. Syera keluar dengan wajah yang di tekuk karena kesal karena kelakuan suami nya, berbeda jauh dengan keadaan wajah Juan yang nampak berbinar cerah. Jatah memang sangat berpengaruh, karena terbukti wajah Juan yang tadi sekusut benang pancing, sekarang malah nampak lebih cerah dari pada tadi.
Syera mendengus, lalu masuk ke dalam ruang ganti dan membanting pintu nya. Juan tergelak melihat tingkah sang istri, dia sama sekali tidak tersinggung oleh Syera.
Juan juga segera berpakaian dan pergi ke balkon untuk menikmati semilir angin sore hari yang terasa sangat menyejukkan. Rambut nya yang masih setengah basah menambah kadar ketampanan seorang Juan dan Syera tak bisa menahan diri untuk tidak memeluk suami nya dari belakang.
Juan mengusap tautan tangan yang melingkar di perut nya, dia melepas nya dan berbalik. Dia menatap wajah cantik sang istri lalu mengecup bibir nya yang mengerucut.
"Ini bibir nya kenapa gemesin gini? Mau aku cipook?" Tanya Juan, membuat Syera mendengus kesal.
"Isshhh kamu ngeselin.." Syera mencubit perut suami nya sekuat tenaga, membuat Juan meringis kesakitan.
"Sayang, sakiiitttt.."
"Rasain tuh, itu hukuman buat kamu."
"Aku gak nakal lho, Bby. Masa harus di hukum sih?" Tanya Juan.
"Gak nakal kamu bilang? Terus yang tadi di kasur sama di kamar mandi itu apa nama nya kalau bukan nakal, hmm?" Tanya Syera membuat Juan cengengesan. Dia akui memang dia nakal, dia tak pernah puas jika hanya menyentuh sang istri satu kali atau satu ronde. Paling sedikit dia akan menikmati kehangatan tubuh sang istri itu dua atau tiga ronde. Ya, tubuh Syera memang secandu itu bagi Juan.
.......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1