
Beberapa bulan berlalu, saat ini Romlah sudah menunjukkan perkembangan yang bagus setelah operasi. Hari ini, untuk pertama kali nya dia kembali bisa berjalan lagi, meskipun masih perlahan dan membutuhkan bantuan orang lain.
Juan selalu dengan sigap menemani sang ibu belajar berjalan, begitu juga dengan Syera. Hanya saja, Syera tak bisa terlalu intens untuk menemani Romlah karena usia kehamilan nya yang saat ini sudah menginjak usia delapan bulan.
Sharon juga sudah menikah dengan Roberts, sesuai permintaan gadis itu tidak ada pesta. Hanya ada acara akad, mengucap janji suci di hadapan Tuhan, berjanji seumur hidup untuk mencintai dan menyayangi Sharon. Begitu juga dengan Sharon yang akan senantiasa menyayangi dan mendampingi Roberts di masa tua nya.
"Ayo, Ma. Semangat, mama pasti bisa sembuh." Ucap Syera menyemangati mama mertua nya, wanita itu berjalan perlahan menggunakan tongkat. Ada Sharon di belakang nya kapan saja siap menangkap Romlah seandai nya dia akan jatuh.
Juan tak bisa menemani sang ibu kali ini, karena dia harus bekerja di kantor bersama Roberts hari ini. Jadi, Sharon yang menggantikan tugas Juan. Karena Syera tak memungkinkan, karena dia sedang hamil besar saat ini.
"Aassshhh.." Syera memekik pelan saat merasakan tendangan dari Juan junior di dalam perut nya. Ya, menurut pemeriksaan USG, jenis kelamiin bayi yang saat ini tengah di kandung nya adalah laki-laki.
"Kenapa, Syer?" Tanya Sharon dengan khawatir.
"Gapapa kok, ini adek bayi nya nendang kenceng banget. Bikin aku pipis di celana." Jawab Syera sambil tersenyum manis, Sharon mengusap dada nya dengan lega. Dia sudah khawatir setengah mati, dia pikir Syera kenapa gitu. Ternyata, semua itu karena ulah Juan junior.
"Aku juga pengen ngerasain tendangan kayak gini." Lirih Sharon.
"Iya, pasti dong. Usaha lagi lebih rajin ya, nanti pasti bisa hamil, semangat."
"Hmmm, ya semoga saja aku juga segera di kasih kepercayaan untuk mengandung."
"Setiap wanita yang memiliki rahim, pasti akan di berikan kesempatan untuk mengandung, Shar. Semangat ya, jangan putus asa. Ajakin terus papa nya main, nanti jadi." Celetuk Syera yang membuat wajah Sharon merona. Dia masih ingat rasa nya melakukan itu untuk pertama kali, sakit. Tubuh nya terasa terbelah saking sakit nya, tapi lama kelamaan terasa sangat nikmat bahkan dia tak berhenti untuk mendesaah malam itu karena permainan luar biasa yang di lakukan Roberts.
Yaps, meskipun pria itu sudah berusia kepala lima, tapi itu tidak menghalangi kegagahan nya di atas ranjang. Dia menyentuh Sharon dengan lembut namun bergairaah, dia bahkan mencumbu Sharon dengan mesra. Mengingat nya saja membuat inti Sharon berdenyut ngilu. Bahkan, setelah beberapa kali penyatuan, Sharon masih saja mengagumi kekuatan Roberts di atas ranjang. Dia sangat hebat untuk memuaskan nya.
"Husstt, sayang gak boleh bicara seperti itu. Dia ibu kamu lho sekarang." Ucap Romlah, membuat Syera hanya nyengir saja.
"Hehe, maafin ya, Shar."
"Gapapa, santai aja." Jawab Sharon, dia mengusap perut buncit Syera dengan lembut.
"Nih, dia lagi main di sebelah sini." Syera mengambil tangan Sharon dan meletakan nya di perut nya yang bergerak-gerak karena tendangan janin di dalam nya.
Sharon nampak berbinar, dia sangat senang saat bisa merasakan gerakan-gerakan halus di perut Syera. Dia sangat bahagia, andai saja dia sendiri yang hamil, mungkin dia akan lebih bahagia.
"Jangan nangis, nanti kamu juga bakalan ngerasain kok." Ucap Syera, sambil mengusap wajah Sharon yang nampak sendu. Bahkan, air mata nya sudah menggenang di bawah mata nya.
"Hmmm, makasih banget ya, Syer. Kamu selalu mendukung aku selama ini."
"Pasti dong, kamu jangan putus harapan ya. Kesempatan akan selalu ada." Syera tersenyum, begitu juga dengan Sharon.
"Mama.."
"Iya, sayang.." jawab Romlah sambil duduk di samping Syera, semakin hari dia semakin menunjukkan perkembangan yang bagus.
"Gimana, apa masih sakit atau ngilu sekarang?" Tanya Syera.
"Enggak, masih ada ngilu sedikit. Tapi, tidak apa-apa." Jawab Romlah membuat Syera tersenyum senang.
"Syukurlah, Mama pasti bisa sembuh." Ucap Syera.
"Iya, sayang. Terimakasih banyak, Mama sangat bersyukur punya menantu sebaik kamu."
"Aaihh, Mama jangan bicara seperti itu dong. Syera sangat menyayangi Mama dengan tulus, begitu juga dengan rasa sayang Syera pada Juan." Ucap Syera sambil tersenyum kecil.
"Sayang.. baby.. yuhu.." Panggil Juan yang baru saja pulang ngantor, dia melangkah dengan buru-buru menyusul sang istri ke taman belakang.
"Iya, ada apa sayangku?" Tanya Syera sambil tersenyum, dia menyambut suami nya yang baru saja pulang bekerja itu dengan senyuman manis nya.
__ADS_1
Juan berjalan setengah berlari dan langsung memeluk sang istri. Dia menduselkan wajah nya di ceruk leher sang istri, mengendus aroma menenangkan yang menguar lembut dari leher nya.
"Yang, geli dong.."
"Kangen, aku capek Bby. Seharian kerja di kantor, kamu gak ada niatan manjain aku?" Tanya Juan yang membuat Syera terkekeh.
"Yaudah, tapi jangan disini ya."
"Terus dimana dong, Bby?" Tanya Juan dengan manja.
"Ya, tau diri dong disini ada banyak orang. Ada ibu mu, ada adik mu, mertua mu juga disini, keterlaluan kalau kamu ingin bermesraan disini, Ju." Ucap Roberts dengan datar. Juan pun cengengesan, begitu juga dengan Syera yang langsung menggelengkan kepala nya keheranan karena Juan terlihat sangat manja saat ini.
Dan, jika sedang dalam mode manja seperti ini, Juan memang akan menjelma menjadi pria yang tidak tahu diri.
"Sana ke kamar.." Ucap Roberts, kedua nya pun langsung pergi ke kamar.
"Bagaimana terapi nya, lancar?" Tanya Roberts pada Romlah, wanita paruh baya itu menganggukan kepala nya. Terapi nya memang lancar, bahkan perkembangan nya sangat pesat.
"Iya, tuan."
"Sudah berapa kali aku bilang, jangan panggil aku Tuan. Aku besan mu sekarang!" Tegas Roberts membuat Romlah tersenyum kikuk.
"Baiklah, aku lupa."
"Baguslah kalau terapi nya sudah berjalan baik, aku senang mendengar nya." Ucap Roberts dengan senyum kecil nya.
'Setidak nya, dengan membuat mu bisa berjalan seperti sedia kala akan mengurangi sedikit rasa bersalah ku. Meskipun aku belum tahu akan seperti apa reaksi mu nanti jika mengetahui kalau aku lah yang sudah membuat mu menderita, Romlah.' Roberts membatin.
Bagaimana kalau seandai nya Romlah atau Juan murka ke padanya? Dia takkan sanggup menerima kemarahan kedua nya.
"Mas, kok bengong?" Tanya Sharon sambil melambaikan tangan nya di depan wajah Roberts.
"Kebiasaan deh, kenapa akhir-akhir ini Mas sering bengong?" Tanya Sharon lagi, dia heran dengan suami nya. Belakangan ini, aahh lebih tepat nya sudah berbulan-bulan lama nya, Roberts sering kali tertangkap basah sedang melamun sendirian dengan tatapan lurus menerawang jauh. Dan itu bukan sekali atau dua kali, tapi sangat sering. Bahkan hampir setiap hari dia bengong.
"Enggak kok, Mas cuma kepikiran kerjaan seperti nya, sayang."
"Hmmm, yaudahlah. Ayo masuk." Jawab Sharon, dia pun membantu Romlah untuk masuk. Meskipun dia sudah bisa berjalan, tapi masih menggunakan bantuan tongkat. Jangan tanyakan kenapa tidak Juan saja yang membantu ibu nya? Ya, karena dia sedang di serang oleh rasa rindu pada istri nya dan kalau sudah begitu, dia bisa melupakan dunia sekalipun.
Roberts langsung masuk ke dalam kamar nya, sedangkan Romlah memilih duduk di ruang tamu bersama Rinda. Sharon menyusul sang suami ke kamar, ternyata dia sedang mandi.
Sharon pun menyiapkan pakaian untuk di kenakan oleh sang suami. Hanya lima belas menit saja, setelah itu Roberts keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi bagian sensitif nya.
"Sayang.."
"Iya, Mas.." Sharon langsung berbalik begitu mendengar suara suami nya. Roberts berjalan mendekat dan langsung memeluk pinggang Sharon dari belakang.
"Lagi ngapain?"
"Nyiapin baju kamu, Mas." Jawab Sharon, dia mengusap lembut tautan tangan suami nya.
"Kamu udah mandi? Rambut nya wangi banget."
"Udah tadi, kan aku habis keramas."
"Mau keramas lagi gak?" Tanya Roberts sambil memainkan alis nya naik turun dengan genit.
"Masih sore, Mas."
"Ya, gapapa dong. Kalau kamu nya mau, ya ayo kita main."
__ADS_1
"Nanti malem aja ya, Mas?" Tawar Sharon.
"Kalo Mas mau nya sekarang, boleh?" Tanya Roberts, akhirnya mau tak mau pun Sharon harus melayani suami nya.
Sore itu, pasangan itu melakukan ritual suami istri dengan mesra. Di iringi suara-suara erotis yang keluar dari penyatuan itu, hingga akhirnya kedua nya sama-sama mencapai puncak nirwana bersama-sama. Sharon menyandarkan kepala nya di dada bidang Roberts, tubuh pria itu masih sangat bagus, bahkan bisa di bilang atletis, padahal usia nya sudah cukup tua.
Tapi, karena Roberts benar-benar menjaga kesehatan tubuh nya dengan gaya hidup sehat yang dia junjung, dia pun masih memiliki tubuh itu di usia nya saat ini. Belum lagi postur tubuh nya yang tinggi besar dan tegap, membuat nya terlihat sangat sempurna di mata Sharon. Apalagi, saat melihat pria itu berkeringat di atas tubuh nya, sungguh demi apapun dia terlihat sangat seksii bagi Sharon.
"Sayang.."
"Iya, kenapa Mas?" Tanya Sharon.
"Kalau semisal, Mas punya masa lalu yang cukup buruk, bagaimana?"
"Enggak kok, setiap orang pasti punya masa lalu, Mas. Tapi semua itu bukan untuk di jadikan contoh."
"Hmm, kalau misal nya aku pernah menabrak seseorang, hingga dia lumpuh tapi aku tidak menolong nya sama sekali, bagaimana?" Tanya Roberts lagi.
"Tebus kesalahan itu, Mas. Tapi jangan memaksa untuk meminta maaf, karena memaafkan itu terasa sulit jika tidak berasal dari hati yang tulus, Mas."
"Baiklah, sayang."
"Memang nya kenapa, Mas?"
"Tidak apa-apa, sayang. Hanya bertanya saja, semisal Mas pernah melakukan hal itu bagaimana pendapat kamu."
"Ya sudah, aku mau mandi." Ucap Sharon, dia pun bangkit dari rebahan nya dan pergi ke kamar mandi. Tak lama kemudian, Roberts juga ikut menyusul sang istri ke kamar mandi. Kedua nya pun mandi bersama.
Sedangkan di kamar lain, terlihat pasangan suami istri lain yang sedang bermesraan juga. Ya, lebih tepat nya sang pria yang sedang bermanja, kalau yang perempuan lebih terlihat kesal.
"Sayang, jangan di gigitin terus dong. Sakit, ngilu!" Ucap Syera, saat ini Juan sedang asik menyusu di dada kenyal sang istri yang ukuran nya sudah jauh lebih mengembang dari pada saat pertama kali dia menyentuh nya.
"Enak, ada air nya." Juan tersenyum kecil yang membuat Syera mendelik kesal.
"Iya, tapi jangan di gigitin dong, sakit. Di iseep aja, sayang."
"Habis nya dia gemesin, Bby."
"Tapi sakit.."
"Yaudah, maaf ya. Aku janji cuma nyesap doang, gak lebih."
"Hmmm, aku bodooh sih kalau percaya sama kamu." Jawab Syera yang membuat Juan terkekeh geli. Juan hanya berjanji saja, selebihnya dia berbohong. Karena kalau sudah menyusu, dia pasti akan melupakan semua janji-janji nya itu dan Syera tahu benar akan hal itu. Dia tau kalau mulut suami nya sangat manis bahkan terlalu manis seperti nya.
"Hehe, maafin.."
"Cepetan, aku gerah pengen mandi."
"Mandi bareng aja yuk? Sambil main, satu ronde." Juan tersenyum nakal sambil memainkan alis nya naik turun.
"Hmmm, sebel."
"Yuk, sayang." Mau tak mau, akhirnya Syera pun pasrah saja saat suami nya menarik tangan nya ke kamar mandi.
Tahu lah ya, apa yang terjadi di kamar mandi kalau pasutri bucin mandi berdua. Sudah pasti di bumbui oleh kemesuuman dan suara-suara erotiss yang mengiringi acara mandi bersama itu.
.....
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1