Terjerat Gairah Sang Pengawal

Terjerat Gairah Sang Pengawal
Bab 88 - TGSP


__ADS_3

3 Bulan Kemudian..


Hari ini, kandungan Syera sudah menginjak usia sembilan bulan. Wanita itu sudah mulai merasakan banyak sekali kontraksi palsu yang membuat Juan kadang tak mau meninggalkan sang istri sendirian karena dia khawatir akan terjadi sesuatu pada sang istri.


Tapi, di rumah juga ada Sharon dan ibu nya. Jadi, dia pun terpaksa harus meninggalkan istri nya di rumah tapi sudah beberapa bulan ini, Juan tidak pernah mengambil pekerjaan lembur. Padahal biasa nya, Juan akan mengambil lemburan untuk di kerjakan di rumah tapi semenjak Syera hamil besar, Juan tak pernah mengambil nya lagi. Hanya saja, ponsel harus siap dua puluh empat jam agar Juan mudah menghubungi. 


Sharon sedang duduk sambil mengupas buah untuk Syera, sesekali kedua nya bercanda yang membuat gelak tawa terdengar renyah dari kedua nya. Bahkan, suara tawa itu terdengar oleh Romlah yang berada di dapur. Wanita itu sedang memasak untuk makan malam. 


"Makasih lho, Shar.."


"Makasih apa nya?" Tanya Sharon yang membuat Syera terkekeh. Dia mengambil sepotong buah dari piring dan memakan nya dengan lahap.


"Udah mau kupasin buah sama motongin buah nya." 


"Sama-sama, santai aja kayak sama siapa." Jawab Sharon sambil tersenyum manis. Tentu nya, Syera merasa tak enak pada wanita itu. Dia juga bingung harus memanggil apa pada nya, karena tak mungkin rasa nya jika dia harus memanggil Sharon dengan panggilan Mama, bukan? Karena usia mereka hanya beda satu tahun saja. 


"Ohh iya, Shar. Udah ada tanda-tanda belum?" Tanya Syera sambil tersenyum antusias, karena kedua nya seumuran dan dulu nya berteman baik, jadi mereka tidak lagi canggung untuk berbagi cerita satu sama lain.


"Tanda-tanda apa?"


"Itu lho.." Syera mengedip-ngedipkan mata nya.


"Kenapa kamu, Syer? Kelilipan apa gimana?" 

__ADS_1


"Aisshh, Sharon.." Rengek Syera yang membuat Sharon tertawa. Dia sebenarnya sudah paham akan kode yang di berikan oleh Syera, tapi dia ingin menggoda wanita itu. 


"Iya iya, aku ngerti kok."


"Terus, gimana?" Tanya Syera lagi. Sharon menghembuskan nafas nya, sudah enam bulan dia menikah dengan Roberts, tapi sampai saat ini dia belum juga di percayai untuk mengandung buah hati. Mungkin belum, Sharon selalu percaya kalau suatu saat dia pasti akan bisa mengandung. Yang dia butuhkan saat ini adalah kesabaran dan dukungan dari orang-orang terdekat nya.


"Masih belum ada, Syer." Lirih Sharon, tidak bohong kalau membahas hal ini selalu membuat mood nya berantakan. Dirinya yang ngebet ingin punya anak, tapi belum ada rezeki nya sampai saat ini.


"Hmm, gapapa. Mungkin Tuhan masih ngasih kamu kesempatan buat berdua dulu sama suami, menikmati masa-masa berdua gitu."


"Tapi, aku pengen aja ngerasain hamil kayak kamu, Syer."


"Nanti pasti ada waktu nya, Shar. Kamu harus sabar ya? Nanti kalau sudah waktu nya, pasti kamu bakalan hamil kok." Ucap Syera sambil mengusap lembut pundak Sharon.


Disaat orang lain mengatakan kalau sudah tidak ada harapan lagi karena dia sudah terlalu lama lumpuh dan hanya bisa duduk di kursi roda, membuat nya cukup down. Tapi, beruntung sekali dia memiliki menantu sebaik Syera yang selalu memberikan nya dukungan dan motivasi yang membuat nya bertekad keras untuk sembuh dan inilah hasil nya. 


Akhirnya dia bisa sembuh, rasa nya seperti mimpi tapi ini memang kenyataan nya. Dia bisa kembali menapakan kaki nya di lantai, berjalan seperti layaknya orang-orang pada umum nya. Dia bahagia dengan hal ini, sangat. Dia sangat berterimakasih pada Syera juga pada Roberts yang sudah membiayai semua pengobatan nya.


Sungguh demi apapun, Roberts dan Syera seperti malaikat yang di turunkan oleh Tuhan untuk menolong dan memperbaiki hidup nya. Benar-benar suatu keberuntungan karena bisa berada di keluarga ini.


"Dua tahun, Ma?" Tanya Sharon, Romlah juga meminta pada Sharon agar memanggil nya dengan panggilan yang sama dengan Syera memanggil nya, yaitu Mama. Karena bagi nya Sharon juga sudah seperti putri nya sendiri. 


"Iya, dua tahun. Bahkan orang-orang sempat mengira kalau salah satu di antara kami itu mandul. Tapi, Tuhan tidak sejahat itu. Rupa nya, hanya belum saja. Setelah dua tahun pernikahan, akhirnya Mama hamil oleh Juan dan berselang empat tahun, mama hamil Rinda." Jelas Romlah sambil duduk di samping Sharon.

__ADS_1


"Inti nya kamu harus sabar, percaya sama yang di atas. Selama kamu masih punya rahim, kesempatan untuk bisa hamil itu tetap ada, Nak." Nasehat Romlah sambil mengusap pundak Sharon. Wajah wanita itu terlihat sendu, kata-kata Romlah dan Syera benar-benar membuat nya bersemangat kembali untuk memulai promil nya.


"Terimakasih ya, Ma, Syer. Kalian selalu mendukung ku di setiap keadaan apapun."


"Ya, itulah guna nya keluarga, Shar." Jawab Syera, dia pun merangkul Sharon dari samping. Menyandarkan kepala wanita itu di pundak nya dan dia mengusap rambut panjang lurus Sharon dengan lembut.


Malam hari nya, Syera sedang makan dengan lahap. Sesekali dia juga menyuapi suami nya yang terlihat tidak berselera makan, entah ada apa hanya Juan lah yang mengetahui nya. 


"Sayang, kamu kenapa? Kok kayak gak nafssu gitu makan nya?" Tanya Syera lirih.


"Gapapa kok, aku duluan ya. Aku ke kamar dulu, kamu makan yang banyak biar adek bayi nya gak kelaparan." Jawab Juan, dia pun beranjak dari duduk nya dan pergi ke kamar nya. Syera menatap punggung sang suami dengan nanar, sebenarnya ada apa dengan pria itu? Padahal, tadi pagi dia masih ceria, manja dan menyebalkan seperti biasa. Tapi sekarang? Dia benar-benar berbeda, seolah dia bukanlah Juan.


"Juan kenapa ya? Apa ada masalah di kantor, pah?" Tanya Syera pada Roberts, pria itu menggelengkan kepala nya. Karena memang, yang dia tahu kalau Juan tidak membuat masalah apapun. Yang ada, dia bekerja dengan giat dan hasilnya sangat bagus, masuk ke dalam kriteria ketat seorang Robertson. 


"Papah gak tahu, kamu tanyain gih? Kalau pun semisal dia memang punya masalah, selesai kan baik-baik dengan kepala dingin."


"Iya pah, kalau gitu Syera ke kamar dulu nyusulin Juan." Jawab Syera, dia pun membereskan piring yang sudah kosong dan langsung menyusul sang suami. 


"Hati-hati, jangan cepet-cepet jalan nya. Inget kamu lagi bawa satu nyawa di perut kamu, Syer!" Peringat Sharon, Syera hanya mengangguk mengiyakan lalu pergi ke kamar dengan menaiki tangga. 


'Apa Juan sudah mengetahui semua nya? Tadi, dia menatap ku dengan tatapan setajam itu?' 


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2