Terjerat Gairah Sang Pengawal

Terjerat Gairah Sang Pengawal
Bab 64 - TGSP


__ADS_3

Di dalam ruangan, Juan masih betah dengan kebersamaan nya dengan Syera, rasa cinta nya semakin tumbuh besar pada gadis itu, apalagi setelah dia mengetahui kalau ada janin yang tumbuh di dalam rahim gadis itu sekarang.


"Apa ada yang sakit, sayang?" Tanya Juan sambil terus mengusap perut rata Syera dengan lembut. 


"Ini aku ngilu banget, yang." Jawab Syera sambil meringis pelan saat dia menggerakan kaki nya karena pegal. Juan pun berpindah, tangan nya memijat kaki Syera dengan lembut dan perlahan.


"Makasih, sayang. Nyaman sekali." Ucap Syera sambil tersenyum.


"Mau makan sesuatu? Nanti aku beliin." 


"Seblak." Jawab Syera sambil tersenyum kecil.


"Gak boleh, apalagi seblak pedes." 


"Kalo gitu ya kamu ngapain nanya?" Ketus Syera membuat Juan terkekeh pelan. 


"Makan nya gak boleh yang pedes, sayang. Harus nya makan salad buah biar kamu sama adek bayi nya sehat." 


"Yaudah, salad buah aja yang gede."


"Oke, aku beli dulu ya?" Izin Juan, tapi seperti nya karena bawaan bayi jadi Syera tak mau di tinggalkan oleh ayah sang jabang bayi.


"Gak mau, aku mau sama kamu sayang."


"Jadi, aku beli salad buah nya gimana kalo aku gak boleh pergi, sayang?" Tanya Juan.


"Gak mau di tinggalin, yang."


"Iya iya, sayang. Jadi aku beli salad buah nya pake aplikasi apa ya?" 


"Hmmm, iya sayang." Jawab Syera, Juan pun mengambil ponsel dan mencari penjual salad buah dengan rating yang bagus. Setelah memastikan salad nya enak lewat testi yang ada di kolom komentar, dia pun membeli dua box besar dan setelah selesai dia kembali meletakan ponsel nya. 


"Kamu bobo aja dulu ya? Nanti aku bangunin kalo salad buah nya udah datang."


"Tapi kamu nya gak boleh pergi, sayang." Ucap Syera dengan tatapan sendu nya.


"Iya, memang nya aku mau pergi kemana sih? Aku gak bakalan kemana-mana, sayang." 


"Ya kali, kamu pulang gitu. Plis, jangan ninggalin aku ya? Aku butuh kamu buat penyemangat aku, sayang." Ucap Syera, membuat Juan tersenyum kecil lalu mengusap puncak kepala sang kekasih dengan lembut. 


"Aku pasti bakalan dukung kamu, sayang. Semangat ya, sayangku." Syera menganggukan kepala nya.

__ADS_1


"Cium dulu, baru aku tidur."


"Haha, ibu mu ini sedang dalam mode manja ya adek bayi." Celetuk Juan sambil tertawa, dia pun mencium bibir Syera, sempat-sempatnya Juan melumaat bibir gadis itu dengan lembut, namun hal itu hanya terjadi beberapa detik saja karena pintu berderit menandakan kalau ada orang yang masuk. 


Juan langsung melepaskan ciuman nya, lalu berdiri dari duduk nya, dia menundukan setengah badan nya dengan hormat saat melihat Roberts masuk dengan wajah datar dan tatapan tajam nya. Pria paruh baya itu berjalan pelan mendekati ranjang pasien berisi putri nya yang berbaring dengan jarum infusan di punggung tangan kanan nya. 


"Pah.."


"Kamu membuat papa kecewa, Syera. Papa sangat kecewa sama kamu!" Ucap Roberts dengan suara pelan namun terdengar menusuk, membuat Syera terdiam seketika.


"Maaf, Tuan. Ini bukan sepenuh nya kesalahan Syera, ini adalah kesalahan saya."


"Ya, ini memang kesalahan kamu, Juan!" Bentak Roberts, membuat Juan menunduk.


"Jangan membentak Juan, Pah. Kami saling mencintai."


"Kau takkan kenyang hanya dengan makan cinta, Syera! Lihat dulu, seperti apa pria yang sudah menghamili mu ini."


"Ohh, jadi karena ekonomi papa tak merestui aku dengan Juan meskipun aku sudah hamil dengan nya? Ckk, bukan kah materi bisa di cari? Selama Juan sehat, pasti dia juga akan bekerja untuk menafkahi Syera dan anak kami." Jawab Syera tak mau kalah. Mata nya memerah menahan amarah yang menggebu karena terpancing oleh ucapan sang ayah.


"Sayang, jangan bicara seperti itu."


Benar, dia takkan bisa seperti ini tanpa bantuan mendiang sang istri yang sudah pergi beberapa tahun silam. Kenapa dia baru menyadari hal ini?


"Sayang, gak boleh bicara kayak gitu sama papah."


"Biarkan saja, yang. Toh apa yang aku katakan memang benar adanya. Awwhss.." Syera meringis sambil memegangi perut nya. 


"Sayang.." Juan khawatir dan langsung memeluk Syera, mengusap perut gadis itu yang terasa lebih kencang dari biasa nya. 


"Sa-kit, sayang.."


"Iya, makanya jangan marah-marah terus. Gapapa kok, aku gapapa. Mungkin aku harus berjuang lagi buat bisa sama kamu."  Bisik Juan sambil mengusap-usap punggung Syera dengan lembut.


"Seminggu lagi." Ucap Roberts, membuat Juan berbalik dan menatap pria itu dengan heran, begitu juga hal nya dengan Syera.


"Maksud nya?" Tanya Syera.


"Seminggu lagi, kalian harus menikah."


"Apa tidak terlalu cepat?" Tanya Juan pelan, dia memang ingin menikah dengan Syera, tapi tidak secepat ini waktu nya. Satu minggu itu cuma tujuh hari bukan? Bahkan dia belum mempersiapkan apapun, cincin untuk pernikahan saja belum dia miliki. 

__ADS_1


"Lalu, kamu ingin menikahi Syera saat dia sudah melahirkan atau saat perut nya sudah membuncit?" Sinis Roberts membuat Juan lagi-lagi terdiam.


"Papah, jangan sinis-sinis gitu dong ngomong nya ihhh. Dia papah dari anak yang aku kandung lho." 


"Hmm, ya papah tahu. Maka dari itu papah menikahkan kalian berdua, seminggu lagi." Jawab Roberts sambil bersedekap dada. 


"Tapi apa seminggu tidak terlalu cepat?" Tanya Syera, dia juga sama seperti Juan. Dia ingin menikah dengan Juan, tapi tidak dengan waktu yang secepat ini. Terkesan sangat terburu-buru bukan? Ketahuan kalau dia sudah kecelakaan. 


"Tidak, papah dan Sharon yang akan mengurus semua nya. Untuk gaun dan cincin papah serahkan pada kalian berdua, jika kamu sudah boleh pulang pergilah mencari gaun pengantin dan cincin kawin."


"Baiklah, terimakasih papah."


"Hmmm, apapun untuk anak gadisku." Ucap Roberts, dia tersenyum tipis menatap putri nya.


"Minta maaf sama Juan." Pinta Syera membuat Juan yang sedari tadi tak tahu apa-apa langsung membulatkan mata nya heran.


"Maaf untuk apa?"


"Papah sudah memukul nya tadi."


"Ckkk, anggap saja itu sebagai hukuman karena dia sudah lancang menyentuh anak majikan nya sendiri." 


"Papah.."


"Aiisshhh, astaga.." Roberts benar-benar tak bisa menolak keinginan putri nya, akhirnya dia pun harus merendahkan sedikit harga diri dan ego nya agar sang putri yang sedang mengandung itu senang.


"Maaf ya, Ju. Karena sudah memukul mu tadi."


"Aaahh iya, tidak apa-apa kok, Tuan. Maafkan juga atas kesalahan saya, maaf juga sudah mengecewakan anda."


"Hmm, harus nya aku memukul mu lebih keras tadi. Kalau tahu harus meminta maaf seperti ini."


"Papah.."


"Iya-iya, maaf ya. Ini tulus kok."


"Iya tuan, tidak apa-apa." Jawab Juan lagi, dia tersenyum kecil. Pantas saja dia meminta nya untuk menjadi pengawal Syera, karena dia tak bisa menentang permintaan putri nya sendiri. 


......


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2