Terjerat Gairah Sang Pengawal

Terjerat Gairah Sang Pengawal
Bab 58 - TGSP


__ADS_3

Setelah mengetahui kalau Syera hamil, ajaib sekali penyakit nya tiba-tiba sembuh. Saat ini dia sedang bersiap untuk pulang, begitu juga dengan Syera.


"Kita periksa adek bayi dulu, yuk?" Ajak Juan, Syera langsung mengiyakan. Dia juga penasaran dengan usia kehamilan dan bagaimana bentuk janin yang tengah menghuni rahim nya. 


Syera menggelayut manja di lengan Juan, sedangkan Juan mengusap lembut kepala Syera lalu mengecup nya beberapa kali. Pasangan muda itu pun mengambil nomor antrian dan ikut duduk bersama yang lain. 


Setelah mengantri hampir setengah jam kemudian, nama Syera akhirnya di panggil juga. Syera masuk ke dalam ruang praktik dokter kandungan itu di ikuti oleh Juan. Kedua nya pun masuk dan duduk di depan dokter wanita yang menyambut mereka dengan senyuman manis.


"Selamat sore, Nona dan Tuan.."


"Sore, dok." Jawab Juan, sedangkan Syera di landa kegugupan. Dia hanya diam saja, tangan nya menggenggam erat tangan Juan. Tangan gadis itu juga terasa sangat dingin saat ini. 


"Ada keluhan apa seputar kehamilan?" Tanya dokter itu. 


"Ee-emm.." Juan kebingungan, ini pertama kali nya dia mengantar wanita untuk mengecek kehamilan, begitu juga Syera.


"Kalian berdua terlihat kebingungan, ini pertama kali nya?" Juan dan Syera menganggukan kepala nya. Dokter itu tersenyum kecil, dia sudah biasa menangani pasangan-pasangan muda yang di landa kegugupan karena memeriksa kehamilan untuk pertama kali nya.


"Baiklah, saya akan menjelaskan beberapa prosedur. Apa Nona sudah memastikan kalau Nona hamil?" Tanya dokter itu. 


"Su-dah, dok." Jawab Syera terbata.


"Menggunakan test pack, apa ada alat nya?" Syera mengangguk, dia mengeluarkan test pack yang tadi dia gunakan lalu memberikan nya pada dokter itu. 


Dokter mengambil nya, benar ada garis dua yang terlihat jelas di atas benda pipih itu.


"Garis nya sudah terlihat jelas." Gumam nya. Dia pun menyimpan benda pipih itu, lalu kembali bertanya kepada Syera dan Juan.


"Apa ada keluhan, seperti mengalami morning sickness?" 


"Tidak, dok. Tapi Juan yang mengalami nya, apa itu wajar?" Tanya Syera, akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya. Apakah itu normal atau tidak. 


"Wajar-wajar saja, Nona. Banyak suami yang mengalami hal itu, itu disebut syndrom couvade atau kehamilan simpatik." 


"Kehamilan simpatik, dok?" Tanya Syera dan Juan bersamaan.


"Iya, Nona. Itu karena sang suami merasa simpati dengan kehamilan istri nya, ini hal biasa dalam hal medis." Jawab Dokter itu membuat Juan dan Syera saling melempar pandangan. 


"Ohh, ada yang seperti itu juga ya, dok."


"Haha, ada Nona." Jawab dokter itu sambil tertawa kecil. 


"Mau melakukan USG?"


"Mau, dokter." Jawab Syera antusias, begitu juga dengan Juan.

__ADS_1


"Silahkan berbaring disana, Nona. Tolong di bantu ya, sus." Ucap dokter itu sambil meminta bantuan pada asisten perawat yang selalu siap siaga di ruangan dokter ini.


"Maaf, Nona." 


"Iya, tak apa sus." Jawab Syera, saat perawat itu menyibak kaos yang di kenakan oleh Syera. 


"Nona, saya sarankan jangan memakai celana jeans ketat seperti ini lagi ya, nanti adek bayi nya kejepit." Ucap perawat itu, membuat Syera tersenyum kecil karena malu.


"Iya, sus."


"Boleh memakai nya, tapi jangan di kancing. Sekarang masih tidak apa-apa, karena kandungan Nona masih kecil." Ucap dokter sambil tersenyum. Dia mendekat lalu mengambil alat yang terhubung dengan sebuah layar besar. 


Dokter mengusap kan cairan dingin berbentuk gel, membuat Syera meringis pelan karena terkejut dengan sensasi dingin dari gel itu.


"Dingin ya, Nona?"


"Hehe, iya dok." Jawab Syera sambil cengengesan. 


Dokter itu mulai meletakan alat itu di perut rata Syera, lalu menggerakan nya secara memutar dengan perlahan. 


"Bulatan besar ini adalah rahim, Nona dan bulatan kecil itu adalah janin, Nona." Jelas dokter itu sambil tersenyum. Syera menatap layar berwarna abu-abu itu dengan kedua mata berkaca-kaca. Benar, ternyata ada kehidupan lain di dalam tubuh nya.


"Usia nya delapan minggu, Nona. Artinya sudah dua bulan." Jelas dokter itu sambil tersenyum. 


"D-dia anak saya, dok?" Tanya Juan terbata. 


"Iya, Nona. Bulan depan, anda akan bisa mendengar detak jantung nya." 


"Benarkah, dokter? Kalau sekarang, apa belum bisa saya mendengar nya?" Tanya Syera. 


"Bisa, tapi suara nya belum terlalu terdengar karena janin nya masih sangat kecil." 


"Baiklah, saya menunggu bulan depan saja, dokter." Jawab Syera sambil tersenyum. Dia mengusap perut nya dengan lembut. 


"Apa kandungan nya sehat-sehat saja, dokter?" Tanya Juan pelan. 


"Kandungan nya sehat, sangat sehat, Tuan." Jawab nya, membuat Juan tersenyum lebar. 


"Sus, bersihkan cairan nya." Suster itu mengangguk dan membersihkan gel di perut Syera dengan tissu. Setelah selesai, dia pun membantu Syera untuk bangkit dari berbaring nya. 


"Jangan langsung bangun seperti tadi ya, Nona. Miring dulu ke kanan, baru bangun seperti biasa nya." Ucap dokter itu.


"Baik, dok." 


Kedua nya pun kembali duduk, sedari tadi Juan terus berdekatan dengan Syera, seolah tak mau berjauhan dengan ibu dari anak nya itu.

__ADS_1


"Untuk saran dari saya, jangan terlalu banyak makan-makanan yang pedas. Perbanyak makan sayur, buah, ikan, daging dan susu. Agar tumbuh kembang nya semakin baik." 


"Baik, dokter." 


"Emmm, kalo berhubungan badan apa masih boleh dok?" Tanya Juan membuat Syera mendelik. Refleks dia menepuk pelan lengan sang pria, jujur saja dia malu kenapa sih Juan harus menanyakan hal semacam itu?


"Boleh, asal jangan terlalu sering saja. Seminggu tiga kali masih boleh, selama ibu hamil nya merasa nyaman sih tidak masalah." Jelas dokter itu, membuat wajah Syera memerah karena malu. Sedangkan Juan tersenyum tanpa dosa. 


"Baik, dokter."


"Isshhh, kamu nyebelin." 


"Nyebelin gimana? Toh, aku cuma nanya mumpung ada dokter yang tahu."


"Hihi, tak masalah Nona. Pertanyaan semacam ini sudah biasa terjadi, apalagi bagi pasangan muda seperti kalian." Ucap sang dokter sambil terkekeh pelan.


"Hehe, iya dok."


"Saya hanya meresepkan vitamin saja, silahkan tebus di bagian farmasi." 


"Baik, dokter. Kalau begitu, kami permisi dulu." 


"Hati-hati di jalan, selamat bertemu bulan depan, Nona dan Tuan." Ucap sang dokter dengan ramah. Juan dan Syera pun pergi dari ruangan dokter itu menuju ke bagian farmasi untuk menebus vitamin sesuai dengan yang sudah di resepkan oleh dokter.


Setelah nya, mereka pun pulang. Di perjalanan, Syera seringkali terdiam sambil memandang ke arah luar jendela. Sedangkan yang menyetir adalah Juan, karena dia sudah merasa lebih baik sekarang. Pusing di kepala nya juga tiba-tiba saja menghilang setelah dia tahu kalau Syera tengah hamil.


"Sayang, kamu bengong terus. Kenapa?" Tanya Juan lirih.


"Jujur, aku takut yang."


"Takut apa? Sama papa kamu?" Tanya Juan dia juga takut menghadapi kemarahan sang majikan alias papa nya Syera sebenarnya, tapi dia tak mau menunjukkan nya di depan Syera karena tak mau membuat nya merasa terbebani.


"Iya, bagaimana kalau dia murka, yang?"


"Aku yang menghadapi nya, sayang. Karena disini, aku yang salah." Jawab Juan lirih.


"Kita berdua, kita sama-sama salah dalam hal ini, sayang. Jadi kita berdua akan menghadapi semua ini, bersama." 


"Iya, sayang. Maaf ya, karena sudah membuat mu hamil sebelum kamu lulus dan menggapai cita-cita kamu." 


"Tak apa, aku masih bisa kuliah kok. Kalo kuliah, gapapa kalo sambil hamil." Jawab Syera sambil tersenyum. Dia harus menerima kenyataan, anak ini harus tetap dia pertahankan karena dia tak bersalah apapun. Kalau ada yang harus di salahkan disini, adalah orang tua nya.


.......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2