Terjerat Gairah Sang Pengawal

Terjerat Gairah Sang Pengawal
Bab 41 - TGSP


__ADS_3

"Sayang.." Panggil Roberts pada Syera yang sedang termenung menatap pemandangan dari balkon kamar nya dengan tatapan sendu.


"Iya, pah. Kenapa?" Tanya Syera, gadis itu berbalik lalu duduk di samping sang papa yang sudah duduk di sisi ranjang. 


"Kamu baik-baik saja, Nak? Dari awal kamu pulang, kamu terlihat murung. Apa ada hal yang mengganjal hati mu, atau masalah selama kamu tinggal di rumah Juan?" Tanya Roberts lagi, Syera hanya menghembuskan nafas nya dengan kasar. 


Juan, ya jawaban nya adalah Juan. Pria itu lah yang membuat nya murung, apalagi saat tadi dia menyaksikan wajah sendu nya saat pulang, meninggalkan dirinya di rumah ini. Bagaimana keadaan Juan saat ini, itulah yang membuat Syera murung karena mengkhawatirkan keadaan nya. 


"Kamu mengkhawatirkan sesuatu, sayang?"


"Tidak, tidak ada apa-apa, Pah. Syera baik-baik saja." 


"Syukurlah kalau begitu, apa orang tua Juan memperlakukan mu dengan baik, Nak?"


"Ya, ibu nya Juan sangat baik, pah. Adik nya juga sangat menggemaskan." Jawab Syera, dia mengatakan hal itu dengan antusias, seketika awan mendung yang sedari tadi menyelimuti wajah Syera kini hilang entah kemana, mungkin tertiup angin.


"Juan punya adik?"


"Punya, nama nya Rinda. Bocah perempuan yang cerewet, dia berusia sepuluh tahun." Jawab Syera, hati nya selalu berbunga saat menceritakan tentang Rinda, adik perempuan Juan yang sangat lucu bagi nya.


"Kamu cepat dekat dengan keluarga Juan, nak."


"Mereka memang mudah berbaur, Pah." Jawab Syera lirih. 


"Syukurlah kalau begitu, kamu turun untuk makan malam ya? Sharon memasakan makanan kesukaan kamu." 


"Lihat nanti aja, Syera butuh sendirian." 


"Hmmm, papah berharap kamu bisa menerima Sharon meskipun itu akan membutuhkan cukup waktu."


"Papah serius ingin menikahi Sharon? Gadis seusia putri papah sendiri?" Tanya Syera, nada suara nya melemah.


"Kenapa tidak, papah rasa Sharon adalah gadis yang baik." Jawab Roberts.


"Hmm, terserah papah saja kalau begitu."


"Maksud kamu?"


"Papah ingin menikahi Sharon kan? Lakukan saja." Jawab Syera lirih, membuat Roberts mendongak menatap wajah putri nya yang tengah menatap nya dengan tatapan penuh arti.


"Kamu serius dengan apa yang kamu katakan, sayang?"


"Ya, jika itu bisa membuat papah bahagia, maka lakukanlah." Jawab Syera. Akhirnya, dia mengikuti saran Juan dan ibu nya.


"Kamu yakin dengan keputusan kamu, nak?" Tanya Roberts lagi, Syera berbalik dan menatap wajah tua sang papa dan tersenyum, dia mengangguk perlahan pertanda dia yakin dengan keputusan nya.


Benar kata Juan, tak ada salah nya jika mencoba untuk percaya pada Sharon kan? Meskipun, sampai saat ini masih ada sedikit keraguan di hati nya. Tapi begitu melihat reaksi yang di tunjukkan oleh sang papa, membuat hati Syera terenyuh. Sebegitu cinta nya kah sang papa pada Sharon?


"Lakukan saja pah, Syera minta maaf karena sudah menentang perasaan papah."


"Terimakasih, Nak. Papa sangat bahagia mendengar ucapan kamu, Nak." Ucap Roberts, dia memeluk putri nya dengan erat.


"Sama-sama pah, bahagia selalu ya."


"Kamu juga, Nak. Carilah sosok laki-laki yang bertanggung jawab dan mencintai kamu apa adanya, tapi bukan seperti pria yang waktu itu datang ke rumah." 

__ADS_1


"Hah, siapa?" Tanya Syera, gadis itu melerai pelukan sang papah dan menatap nya.


"Itu lho, yang waktu itu datang jemput kamu. Papah lupa nama nya, sayang."


"Maksud papa, Martin?" Tanya Syera.


"Mungkin, pokoknya dia pria yang waktu itu jemput kamu, ehh kamu nya malah sama Juan." Jawab Roberts lagi.


"Ohh iya, Syera udah putus sama Martin." 


"Syukurlah, papa gak suka cara dia bicara sama kamu dan Juan waktu itu, nak."


"Sekarang, dia udah nikah Pah." Jawab Syera lirih, gadis itu tersenyum kecil. Tak nampak ada kesedihan atau ke kecewaan, karena di sadar kalau sedari awal Martin bukanlah yang terbaik untuk nya.


"Hah, maksud kamu?"


"Iya, dia udah nikah, pah. Papah tau siapa yang di nikahi Martin? Mantan nya Juan." 


"Lho kok bisa, Nak?"


"Takdir memang sebercanda itu, Pah. Dan sekarang, mantan Juan kembali mengejar Juan tanpa peduli kalau dia sudah bersuami." Jelas Syera, dia rasa ini bukanlah hal yang perlu di tutupi. Papah nya harus tahu hal ini, tapi untuk hubungan nya dan Juan biarlah nanti dia akan memberitahu sang papa setelah merasa siap.


"Lalu, gimana reaksi Juan?"


"Dia sih udah gak mau sama mantan nya itu, siapa sih yang mau sama bekasan? Apalagi sekarang dia lagi hamil empat bulan anak nya Martin." 


"Hmm, ya sudahlah. Kamu istirahat dulu, papah mau keluar sebentar." Ucap Roberts, dia beranjak dari duduknya dan pergi keluar kamar sang putri, meninggalkan Syera sendirian.


"Juan, aku kangen.." gumam Syera, dia membaringkan tubuh nya menelungkup di atas kasur, menyembunyikan wajah nya di bantal. Belum ada satu hari dia berpisah dengan Juan, rasa nya sudah sangat rindu.


"Juan kemana ya? Tumben dia gak ngangkat telpon." Gumam Syera dengan kesal, dia pun melemparkan ponsel nya seolah benda itu tak berharga. Padahal, harga nya setara dengan satu buah sepeda motor.


Sedangkan di belahan bumi yang lain, Juan sedang merenung di belakang rumah nya. Ponsel nya berada di dalam rumah, sedang di charge karena kehabisan baterai.


"Huffttt, Syera. Kamu membuat hati ku berantakan.." Gumam Juan sambil menghembuskan nafas nya dengan kasar. 


Malam nya, Juan nampak sudah berbaring di atas kasur nya, biasa nya ada Syera yang sibuk mendusel dan mengendus aroma tubuh nya, lalu kedua nya pun akan bermain. Tapi sekarang, kamar ini terasa sunyi tanpa kehadiran gadis cantik itu.


Lagi-lagi, Juan menghembuskan nafas nya dengan kasar. Dia merindukan Syera, juga kehangatan tubuh nya. 


Di lain sisi juga, Syera merasakan hal yang sama seperti Juan. Dia sudah berguling ke kanan, ke kiri, terlentang, menelungkup, namun mata nya belum juga bisa terpejam sama sekali.


Tentu saja, biasa nya dia akan memeluk Juan sebelum tidur, atau bermain gulat di atas ranjang yang mengundang banyak keringat, barulah dia bisa tidur dengan nyenyak, mungkin karena kelelahan setelah di terkam oleh Juan yang memiliki stamina yang kuat. 


"Juan, aku kangen!" Gumam Syera, dia kembali meraih ponsel nya lalu mencoba menghubungi Juan, tapi entah kenapa Juan tak mengangkat telpon dari nya. Kira-kira, ada apa dengan Juan? Biarlah esok hari dia menanyakan nya.


Keesokan hari nya, seperti biasa Juan akan datang pagi-pagi ke rumah Roberts untuk mengantar Syera ngampus. Pemuda itu sedang mencuci mobil saat ini, beberapa kali tukang kebun juga menyapa Juan yang tak datang ke rumah ini selama satu mingguan.


"Eehh Ju, udah balik kerja disini lagi?"


"Iya, Bang. Soalnya, Non Syera nya kan udah pulang, jadi saya balik kerja disini." Jawab Juan dengan sopan.


"Baguslah kalo gitu, yang bersih ya nyuci mobil nya." Goda nya membuat Juan terkekeh.


"Siap, bang." Jawab Juan, dia pun kembali fokus untuk mencuci mobil yang selama satu minggu ini tidak di gunakan sama sekali, karena ini adalah mobil milik Syera tepatnya hadiah ulang tahun nya dari sang papah. 

__ADS_1


Sedangkan di kamar nya, Syera baru saja terbangun dari tidur nya. Semalam dia baru bisa tertidur di jam dua pagi, ya karena pikiran nya di penuhi oleh Juan dan segala kemungkinan yang membuat sang kekasih enggan mengangkat telepon dari nya.


Syera membuka jendela kaca yang menghubungkan kamar dengan balkon, dia menikmati semilir angin pagi yang terasa sangat menyejukkan. Dia belum menyadari kalau Juan menatap nya dari bawah. 


Juan bersiul membuat Syera menundukkan pandangan nya, gadis itu terlihat malu-malu membuat Juan terkekeh. Kalau saja dia tak takut pada sang majikan, saat ini mungkin dia sudah pergi ke kamar Syera dan memeluk nya.


Syera tersenyum manis begitu pun Juan, namun sedetik kemudian senyuman itu luntur saat melihat Sharon datang mengantarkan kopi untuk Juan.


"Misi, ini kopi nya."


"Lho, saya gak minta kopi."


"Gak tau, saya cuma di suruh sama Mas Roberts buat nganter kopi." 


"Ohh, terimakasih ya."


"Ya, sama-sama." Jawab Sharon lalu pergi dari depan Juan. Pemuda itu kembali mendongakan pandangan nya, namun Syera tak lagi terlihat di balkon. Mungkin saat dia sedang mandi, karena ada kelas. 


Juan pun tak ambil pusing, dia memilih segera menyelesaikan pekerjaan nya. Dia tak berpikir kalau Syera akan cemburu melihat interaksi nya dengan Sharon tadi. 


Tak lama kemudian, Syera turun dengan wajah kusut nya. Dia mengambil roti panggang dari piring lalu pergi keluar.


"Lho, gak sarapan dulu Syer?" Tanya Sharon.


"Ini," jawab Syera sambil menunjukan roti panggang berisi selai coklat. Dia sengaja membawa dua porsi karena Syera yakin kalau Juan juga belum sarapan.


"Ohh, yaudah."


"Bilangin aja sama papa, aku dah berangkat."


"Iya, hati-hati di jalan nya." Ucap Sharon dengan lembut.


"Gak usah berperan seperti seorang ibu, itu membuat aku muak!" Ketus Syera dan dia berlalu keluar dari rumah dengan membawa tas selempang nya.


Syera berjalan pelan ke arah Juan yang sedang duduk, dia sedang beristirahat karena baru selesai mencuci mobil.


"Duaarr.." 


"Aaahh.." Juan memekik kaget hingga terlonjak dari tempat nya, Syera tertawa melihat reaksi yang di perlihatkan Juan.


"Seneng ya kamu bikin aku jantungan?"


"Hehe, ya maaf. Habis nya kamu malah bengong, ayoo berangkat. Gak kuat aku." 


"Gak kuat apa sih, yang?"


"Ayo cepetan." Ajak Syera, Juan pun berdiri dari duduknya dan kedua pun masuk ke dalam mobil. Juan menghidupkan mesin mobil nya dan melajukan nya menjauh dari rumah.


Namun, baru saja beberapa menit mengendarai mobil. Syera sudah meminta Juan menghentikan mobil nya di sisi jalan yang cukup sepi dari pengendara lain.


"Kenapa, yang?" Tanya Juan. Syera menghambur memeluk Juan dan mencium bibir pria itu dengan liar dan brutal.


Juan yang awalnya terkejut pun, akhirnya dia pun pasrah dan membalas setiap lumaatan yang di lakukan oleh Syera. Tangan Juan memeluk erat tubuh Syera, sebelah tangan nya lagi sudah menyusup ke dalam kaos yang di kenakan oleh Syera.


.......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2