
"Kakak cantik.." Pekik Rinda begitu melihat Syera sedang duduk di teras depan bersama ibu dan kakak nya. Syera langsung beranjak dari duduknya, dia menyambut pelukan gadis kecil itu dengan hangat.
"Apa kabar, anak cantik?" Tanya Syera pada Rinda sambil mencubit gemas pipi cabi adik dari kekasih nya itu.
"Baik, Rinda baik kak. Tapi, Rinda kangen sama kakak cantik."
"Kakak cantik juga kangen sama anak cantik." Syera pun menggandeng tangan mungil Rinda dan mengajak nya duduk di bangku bersama Juan dan Romlah.
"Kak Juan kenapa?" Tanya Rinda saat melihat tangan Juan di plester, terlihat jelas kalau itu bekas infusan. Di kepala nya juga ada plester.
"Kakak nya sakit, sayang. Dia pusing, sampai jatuh dari motor." Jelas Syera sedangkan Juan hanya tersenyum kecil.
"Kakak.." Kedua mata Rinda berkaca-kaca, terlihat jelas kalau anak kecil itu mengkhawatirkan kakak laki-laki nya.
"Jangan nangis, kakak gapapa kok. Sudah lebih baik sekarang."
"Kakak, jangan sakit."
"Iya, kakak akan sembuh kok." Jawab Juan sambil mengusap lembut wajah sang adik.
"Kakak kamu akan beristirahat selama beberapa hari sampai dia sembuh." Jelas Syera.
"Tapi, bagaimana dengan kamu? Siapa yang mengantar ke kampus?" Tanya Juan, dia tak bisa jika harus libur. Bagaimana dengan gaji nya nanti? Kalau di potong, bisa-bisa dia tak bisa membayar tagihan bulanan seperti biasa nya.
"Aku bisa sendiri kok, kamu istirahat saja sampai sembuh. Nanti, kalau aku sudah selesai kelas, aku kesini."
"Hmm, baiklah." Pasrah Juan, akhirnya mau tidak mau dia harus istirahat di rumah selama beberapa hari sampai penyakit nya sembuh atau minimal terasa lebih baik.
"Mau kemana, yang?" Tanya Syera saat melihat Juan beranjak dari duduk nya.
"Mau pipis."
"Aku anter ya, kamu masih belum sembuh." Syera pun memapah Juan dengan hati-hati, bahkan ikut masuk ke kamar mandi. Meski pun Juan melayangkan protes, tapi cukup dengan tatapan tajam saja membuat Juan pasrah dan membiarkan Syera ikut ke kamar mandi.
"Sayang, aku malu."
"Ngapain malu, cepetan pipis nya." Ucap Syera sedikit sewot. Juan pun mengeluarkan si junior dan menunaikan hajat nya, Syera menatap intens benda yang sedang mengeluarkan cairan sisa metabolisme tubuh itu.
"Ohh, jadi gitu ya pas pipis." Ucap Syera membuat Juan menoleh.
"Apa nya?"
"Itu nya, lemah kamu, yang." Ucap Syera lagi membuat Juan mengernyit, dia belum mengerti arah pembicaraan sang kekasih.
"Maksud kamu apa ngatain aku kek gitu? Gak inget kamu saat junior ku membuat kamu kewalahan, atau gimana?" Tanya Juan sewot, membuat Syera terkekeh.
"Pipis nya masih di pegangin, kayak bocil."
"Hah?"
"Itu, kamu pipis nya kok masih di pegangin gitu? Bisa gak kalo pipis gak usah di pegangin kek gitu?" Tanya Syera sambil tertawa.
"Ya bisa sih, tapi paling beleber ke celana nanti."
__ADS_1
"Nah kan.." Syera tertawa, membuat Juan gemas dan membungkam tawa itu dengan bibir nya. Meskipun sakit, tapi naluri nya sebagai pria normal masih berfungsi dengan baik.
"Hmpphh.." Syera yang belum siap dengan ciuman Juan sedikit meronta, tapi setelah beberapa detik berlalu, akhirnya dia juga ikut menikmati ciuman pria itu yang terasa semakin dalam dan menuntut.
"Sa-yang.." Lirih Syera, dia melepas paksa ciuman mereka karena khawatir ada Rinda atau ibu nya melihat aksi mereka.
"Kenapa? Kamu gak suka?"
"Bukan gak suka, sayang. Aku khawatir ada Rinda atau mama kamu. Udah, sekarang masukin lagi tuh si junior." Juan pun cengengesan, bisa-bisanya dia lupa kembali memasukkan burung nya ke dalam sangkar, untung saja tidak bisa terbang. Kalau bisa, sudah di pastikan burung nya terbang bebas.
Setelah nya, kedua nya pun keluar dengan Syera yang tetap memapah Juan dengan hati-hati.
"Sayang, kamu harus makan terus minum obat ya?" Ucap Syera, Juan pun mengangguk. Romlah yang melihat hal itu pun mendekat.
"Makan nya seadanya aja ya, Nak. Uang yang kamu kasih sudah mulai menipis, maaf ya." Romlah menatap wajah pucat sang putra dengan sendu.
Syera tersenyum kecut saat melihat hanya ada sayur bening tahu saja. Kondisi Juan saat ini sedang sakit, harus nya makan dengan makanan yang mengandung banyak protein seperti daging atau ikan.
"Gak ada daging, Bu?" Romlah menggeleng, jangankan daging hanya ada sup tahu saja itu sudah sangat cukup untuk makan hari ini.
"Ya sudah, sebentar ya."
Syera berlalu keluar dan menaiki mobil nya, dia melihat Rinda hanya menatap ke arah nya.
"Rinda mau ikut? Kakak mau beli daging buat kak Juan."
"Boleh kakak cantik?" Tanya nya, Syera tersenyum lalu mengangguk cepat. Rinda bersorak kegirangan, dia pun ikut tapi dia kesulitan membuka pintu mobil nya.
Syera yang melihat itu pun kembali turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Rinda.
"Terimakasih, Kakak cantik." Jawab Syera, gadis itu hanya menjawab dengan senyum manis nya.
Setelah memastikan Rinda duduk dengan tenang, Syera pun ikut masuk ke dalam nya. Lalu melajukan nya menjauhi rumah Juan ke arah pasar yang dia tahu berada tak jauh dari rumah Juan.
"Kita mau kemana, kak?"
"Ke pasar, kakak mau beli daging sama ikan buat kakak kamu. Biar cepet sembuh."
"Waah, Rinda juga mau makan daging." Ucap Rinda.
"Anak cantik mau makan daging?"
"Iya, jarang-jarang Rinda makan daging." Jawab Rinda jujur, anak seusia Rinda selalu mengatakan kebenaran.
"Serius? Rinda jarang makan daging?" Tanya Syera lagi. Padahal, anak seusia Rinda sedang dalam masa pertumbuhan. Dia memerlukan banyak protein dan vitamin untuk tumbuh dengan sehat.
"Iya, kak."
"Hmm, ya sudah. Kakak beliin daging ya, kamu mau ayam goreng?"
"Mau kak, mau." Jawab Rinda. Syera pun mampir di salah satu kedai ayam goreng yang cukup terkenal, lalu memesan tiga porsi dan membawa nya ke dalam mobil.
"Ini, makan ya."
__ADS_1
"Terimakasih, kakak cantik." Terlihat jelas kalau Rinda sangat senang dengan apa yang dia berikan.
"Sama-sama, sayang." Syera mengacak pelan rambut Rinda dengan gemas.
Setelah itu, Syera pun melajukan mobil nya ke pasar. Meskipun pasar, tapi tempat nya cukup bersih dan tertata rapi. Syera membeli ayam dan ikan, juga beberapa bakso dan sosis untuk Rinda.
"Rinda mau makan apa?"
"Buah mangga, kak." Jawab Rinda pelan, Syera pun membeli mangga dan buah-buahan lain untuk Juan.
"Sudah, yuk kita pulang. Nanti, Rinda bisa makan mangga di rumah." Rinda mengangguk dan kedua nya pun kembali ke rumah dengan barang belanjaan mereka yang cukup banyak.
Sesampai nya di rumah, Juan menganga saat melihat beberapa kresek di meja makan. Sedangkan Syera sedang mengupaskan mangga untuk Rinda dan Juan.
"Sayang, apa ini?"
"Aku beli daging sama ikan buat kamu, biar cepet sembuh." Jawab Syera. Juan mengerti kalau Syera ingin yang terbaik untuk nya, tapi tidak begini juga kan? Dia yang merasa malu kalau Syera bertindak seperti ini.
"Ini, makan buah nya. Aku akan memasak."
"Tidak perlu, Nak. Biar Mama saja yang memasak." Ucap Romlah, dia juga merasa tidak enak pada Syera.
"Kakak cantik menginap disini, kan?" Tanya Rinda sambil asik memakan mangga yang tadi Syera kupas.
"Anak cantik, mau nya Kakak menginap atau pulang?"
"Menginap, hehe." Jawab Rinda jujur.
"Kalau begitu, Kakak nginep disini ya." Putus Syera, membuat Rinda tersenyum kesenangan.
"Baguslah, kalau begitu Mama akan memasak opor ayam."
"Opor ayam? Wahh, itu makanan kesukaan aku, Ma." Jawab Syera.
"Syukurlah kalau kamu suka, mama mau masak itu untuk menu makan malam nya."
"Terimakasih, mama." Syera memeluk Romlah dengan erat tanpa canggung sedikit pun. Kehangatan yang dia rindukan dari sosok seorang ibu.
"Sama-sama, nak." Romlah mengusap punggung Syera dengan lembut.
"Sekarang, kamu harus makan."
"T-api aku.."
"Makan nya sama ayam goreng." Jawab Syera, dia pun tanpa sungkan untuk menyuapi Juan agar mau makan. Mau tak mau, Juan pun harus menerima suapan demi suapan yang di berikan oleh Syera.
"Nah, pinter makan nya habis." Ucap Syera sambil menepuk pelan lengan Juan. Seperti seorang ibu pada anak nya yang susah makan ketika sakit.
Ya, Syera mendengar dari Romlah kalau Juan akan susah di suruh makan jika sedang sakit. Jadi, Syera harus mengambil langkah cepat agar Juan mau makan dengan cara menyuapi nya, jadi nya dia takkan mampu menolak saat dia menyuapi nya.
Itu juga sebagai usaha nya agar Juan cepat sembuh dan kembali bekerja, dia tak mau terus menyetir sendiri. Tanpa Juan, pasti akan terasa berbeda.
........
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻