
Malam hari nya, Juan keluar hanya dengan kaos berlengan pendek dan celana kolor selutut andalan nya, dia menatap sosok wanita baya yang sedang duduk di samping sang Mama.
"Ma.." Panggil Juan pada sang mama yang terlihat sedang mengobrol dengan mertua nya. Ya, meskipun Romlah belum yakin 100 persen pada wanita itu, mengingat perlakuan nya dulu pada nya dan juga suami nya.
Tapi, tak ada salah nya untuk memberi nya kesempatan kedua kan? Siapa tahu, kalau Miranda benar-benar mau berubah dan memperbaiki semua kesalahan nya di masa lalu dan menjalin hubungan baik dengan mantan menantu dan cucu-cucu nya yang terlihat cantik juga tampan.
"Iya, Ju. Kenapa?" Tanya Romlah.
"Bisa kita bicara berdua saja, Ma?" Balik tanya Juan pada sang Mama.
Romlah melirik ke arah Miranda, dia pun menganggukan kepala nya. Dia tak keberatan dengan tingkah cucu nya, karena dia pun paham kenapa pemuda itu bersikap demikian. Kalau saja dulu dia dekat dengan cucu nya, mungkin sambutan yang akan di berikan oleh Juan atau Rinda bukanlah tatapan tajam dan wajah masam, tapi senyuman cerah dan pelukan hangat sebagai ucapan selamat datang.
Ya, dia sadar benar kalau ini semua adalah kesalahan nya. Pasti nya, kedua cucu nya takkan bertindak seperti ini kalau dia bisa merendahkan sedikit saja ego nya.
"Ada apa, Nak?" Tanya Romlah, saat ini kedua nya berada di ruang makan dengan Juan yang duduk di salah satu kursi kosong.
"Juan akan menikahi Syera satu minggu lagi, Ma." Ucap Juan membuat Romlah nampak sangat terkejut dengan kabar yang di bawa oleh sang putra.
"Menikah? Juan, kamu ini bagaimana? Kita tak ada persiapan apapun, Nak. Bagaimana bisa kamu membuat keputusan sebesar ini tanpa mendiskusikan nya lebih dulu sama Mama?" Tanya Romlah lirih.
"Ini permintaan papa nya Syera, kalau tidak secepatnya lalu kapan lagi? Menunggu sampai Syera melahirkan, atau menunggu sampai perut nya membuncit, Ma?"
"Bukan begitu, Nak. Tapi.."
"Semua biaya di tanggung oleh papa nya Syera, meskipun Juan merasa tak enak tapi tak ada pilihan lain bukan?" Tanya Juan, Romlah menganggukan kepala nya. Memang, posisi Juan saat ini serba salah. Menunggu sampai dia siap menikah rasa nya tidak mungkin, karena itu hanya akan mengulur waktu. Bagaimana kalau nanti perut nya keburu membuncit? Tidak, dia tidak bisa membiarkan hal itu.
"Lalu, bagaimana semua nya, Ju?"
"Tidak gimana-gimana kok, Ma. Juan sama Syera setuju menikah seminggu lagi. Tadi, kami habis nyari cincin sama gaun buat nikahan."
"Kamu yakin dengan semua ini, Ju?"
"Yakin, kalau Syera saja yakin dengan Juan, kenapa Juan tidak yakin dengan nya?" Balik tanya Juan membuat Romlah menganggukan kepala nya. Dari awal, Syera memang terlihat sebagai gadis baik-baik. Maka dari itu, saat dia mengatakan kalau dirinya tengah hamil anak putra nya, dia terasa di sambar petir di siang hari saking terkejut dan tak percaya kalau putra nya bisa melakukan hal sebejat itu pada putri majikan nya sendiri.
"Lalu, kenapa wajah mu babak belur, Nak?" Tanya Romlah sambil meraba luka lebam di wajah sang putra, bahkan ada bekas luka di sudut bibir nya yang mulai mengering.
"Di pukul camer, Ma. Hehe." Jawab Juan sambil cengengesan.
"Ya itu karena kamu nya nakal, belum sah udah bikin adek bayi aja."
"Hehe, kan kata Syera juga kalau gak di restuin, biar cucu nya yang bicara." Jawab pemuda itu sambil nyengir kuda.
__ADS_1
"Halah, kamu nya aja yang lemah iman, Nak."
"Iya, Ma." Pasrah Juan, dia tak bisa melawan sang ibu karena memang dia yang nakal karena sudah membuat Syera hamil di saat yang tidak tepat.
"Maafin Mama ya, Nak."
"Maaf untuk apa, Ma?" Tanya Juan lirih.
"Karena keadaan Mama saat ini, mungkin saja kamu malu saat memperkenalkan ibu mu ini nanti nya."
"Tidak, Juan gak malu sama sekali. Bagaimana pun, Mama adalah wanita yang paling Juan hargai selama Juan hidup. Maaf karena sudah membuat Mama kecewa." Jawab Juan sambil tersenyum kecil.
"Tak apa, Nak. Kamu sudah besar, pasti tahu mana yang benar dan salah. Apa yang kamu lakukan pada Syera itu jelas-jelas salah, Nak. Tapi, Mama juga bangga pada mu karena kamu tidak lari dari tanggung jawab." Romlah mengusap wajah Juan dengan lembut, tangan keriput wanita itu mencubit kecil dagu Juan hingga membuat pemuda itu terkekeh.
Juan pun memeluk tubuh sang Mama, kedua nya terkekeh pelan membuat Miranda yang sedari tadi menguping di balik tembok merasakan sesak di hati nya saat mendengar percakapan kedua orang berstatus anak dan ibu itu.
Seberat itukah beban yang tersimpan di masing-masing pundak mereka? Hingga saat seperti ini saja Romlah tak bisa memberikan apapun, padahal putra nya akan menikah seminggu lagi.
"Maafin Mama gak bisa ngasih kamu apa-apa selain doa."
"Gapapa, Ma. Terimakasih, setelah menikah nanti, Juan akan bekerja sekuat tenaga untuk menafkahi Syera dan anak kami nanti." Jawab Juan sambil tersenyum kecil, membuat kedua mata Romlah berkaca-kaca. Dia mengusap lembut puncak kepala sang putra.
"Kamu tumbuh menjadi anak yang baik, Nak. Seperti keinginan ayah mu."
"Bagaimana kalau setelah menikah nanti, kamu bekerja di perusahaan nenek, Ju?" Tanya Miranda, dia muncul dari balik tembok.
"Lancang sekali anda menguping pembicaraan saya dan Mama!"
"Maaf, nenek tahu tapi.."
"Apapun alasan nya, menguping itu tidak sopan." Tegas Juan membuat Miranda tersenyum kecil. Melihat tingkah Juan, mengingatkan nya pada Hendra. Sikap dan sifat nya persis dengan putra nya itu.
"Kamu terlihat seperti ayah mu, Nak."
"Tentu, karena aku putra nya." Jawab Juan acuh, dia malah mengambil piring dan mengisi nya dengan nasi dan juga sayur lalu memakan nya dengan lahap.
"Sayur ini terasa berbeda, masakan siapa?"
"Nenek kamu, Ju."
"Oh." Jawab Juan singkat, lalu kembali memakan makanan nya ada di piring nya dengan lahap. Dia emang sudah sangat lapar, meskipun tadi dia sudah makan semangkuk bakso sebelum pulang.
__ADS_1
"Jadi, bagaimana tentang tawaran nenek tadi?" Tanya Miranda lagi.
"Memang nya apa?"
"Kerja di perusahaan nenek, Ju."
"Males, aku akan berusaha untuk berdiri di atas kaki ku sendiri." Jawab Juan acuh, tanpa menatap sekilas pun ke arah Miranda.
"Hmm, tapi perusahaan Nenek juga terbilang masih sangat kecil. Jadi, tantangan kamu buatlah perusahaan itu maju dan berkembang di bawah nama mu, Ju."
"Terdengar menggiurkan, tapi mungkin akan aku pikirkan nanti saja." Jawab Juan lagi. Masih terdengar sangat datar, membuat Miranda harus cukup bersabar menghadapi sikap cucu nya yang masih cukup dingin.
"Siapa calon mu, Nak? Tiba-tiba saja nenek penasaran dengan sosok gadis yang bisa membuat cucu nenek yang datar ini jatuh cinta."
"Syera, putri nya Tuan Roberts."
"Roberts? Maksud mu, Robertson?" Tanya Miranda. Juan hanya menjawab dengan anggukan kepala nya mengiyakan.
"Iya."
"Wah, kita akan berbesan dengan pria terangkuh yang pernah aku temui. Bagaimana bisa kamu melunakkan hati sekeras batu itu, Nak?" Tanya Miranda sambil terkekeh pelan.
"Cucu nya yang aku buat di rahim putri nya." Jawab Juan membuat Miranda tergelak.
"Strategi mu cukup bagus juga, Nak. Bikin cucu dulu ya, baru minta restu. Jadi nya bapak nya gak bakalan bisa berkutik."
"Hmmm, lucu ya? Perasaan enggak." Ketus Juan, dia membawa piring bekas nya makan lalu langsung mencuci nya dan mengelap nya dengan lap tangan. Setelah kering, barulah Juan menyimpan piring itu kembali ke rak nya. Juan minum dan kembali ke kamar nya.
"Ma, Juan di kamar dulu. Mau video call dulu sama Syera, mana Rinda? Katanya dia kangen sama kakak cantik nya." Juan celingukan mencari adik nya.
"Panggil aja, dia ada di kamar." Ucap Romlah, Juan pun memanggil-manggil nama adik nya dan setelah dia keluar, kedua nya pun mengobrol bersama Syera lewat telepon.
"Calon nya Juan sudah deket ya sama Rinda?"
"Iya, Syera gadis yang baik, Ma. Makanya Rinda langsung suka sama dia."
"Syukurlah, kalau dia menerima keadaan kalian apa ada nya. Itu artinya, gadis itu sangat tulus mencintai putra mu." Ucap Miranda, Romlah hanya mengangguk mengiyakan. Fakta nya memang seperti itu, mau lihat seberapa perempuan tulus mencintai? Uji dia dengan keadaan ekonomi dan yang.
Kalau dia mau menerima apa adanya, berarti dia benar-benar tulus. Fiks, no debat.
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻