
Syera tengah makan nasi padang di dekat Juan, pria itu juga beberapa kali meminta di suapi. Dengan senang hati, Syera menyuapi Juan dengan makanan yang sama. Dia lupa, malah hanya membeli satu karena porsi nasi padang kan banyak, jadi dia pikir takkan habis kalau hanya dia yang makan saja. Tapi ternyata, Juan juga menginginkan nya.
"Sayang, mau rendang.."
"Sebentar, sayang." Syera pun memberikan rendang nya, lauk favorit nya jika dia memakan nasi padang. Tapi, karena Juan meminta nya dia pun memberikan nya.
"Gapapa, yang?"
"Iya, ayo di makan rendang nya."
"Kamu keliatan badmood, yang." Ucap Juan lirih.
"Tidak, sayangku. Tidak apa-apa, ayo di makan rendang nya. Kita bisa membeli lagi rendang nya kalau kamu suka."
"Terimakasih, ayang." Juan pun memakan rendang itu dengan lahap.
"Sama nasi dong, biar kenyang. Biar berat badan kamu naik lagi, gak suka aku lihat kamu kurus begini."
"Iya, sayang. Bawel nya calon istriku." Ucap Juan, membuat wajah Syera merona saat Juan memanggil nya calon istri.
"Jangan bikin meleleh, ini makan dulu biar perut kamu ada isinya." Juan pun hanya menuruti perkataan sang kekasih, kalau tidak menurut, bisa-bisa gadis nya marah besar dan takkan memberi nya jatah nanti.
Ya meski saat ini dirinya sedang sakit, tapi kalau untuk masalah jatah, dia takkan pernah lupa. Kalau sudah satu kali masuk, pasti akan kecanduan dengan rasa nya. Apalagi milik Syera masih sangat sempit meskipun sudah beberapa kali dia masuki.
"Uhhh wajah kamu memerah, yang. Lucu sekali, sini aku cubit."
"Diem, kamu lagi sakit jangan pecicilan." Ucap Syera sedikit ketus. Sedangkan Juan hanya tersenyum kecil melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh sang kekasih.
"Setelah makan, kamu tidur ya? Pasti kamu lemes. Besok, dokter periksa kamu biar kita tahu sebenarnya kamu tuh sakit apa." Ucap Syera dengan lembut, Juan menganggukan kepala nya mengiyakan.
Setelah selesai makan, Syera pun mencuci tangan nya dan kembali duduk di samping ranjang Juan yang berbaring. Syera menggenggam kedua tangan Juan dan mengusap punggung tangan sang kekasih dengan lembut.
"Tidur, sayang.."
"Kamu tidur dimana, yang?" Tanya Juan. Dia khawatir, Syera akan tidur dimana karena disini hanya ada satu kasur saja.
"Di sofa, atau disana bersama mu. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja." Jawab Syera.
"Disini saja, aku rasa ranjang nya cukup luas untuk kita berdua."
"Iya, sayang." Syera pun naik ke atas ranjang dan langsung melingkarkan tangan nya di pinggang Juan.
"Maafkan aku, sayang."
"Sudah, gak usah terus meminta maaf. Kamu mau aku marah atau gimana? Aku bosen denger kamu minta maaf terus."
"Hehe, maaf yang."
"Tuhkan!"
Juan tergelak, sedangkan Syera memilih menyandarkan kepala nya di dada bidang sang kekasih. Jujur, dia sangat merindukan sentuhan Juan, tapi keadaan nya sangat tidak memungkinkan. Pertama, karena Juan sedang sakit dan dia tak punya tenaga untuk menggagahi nya. Kedua, mereka sedang berada di rumah sakit sekarang ini.
__ADS_1
"Kangen banget.." Lirih Syera sambil mengusap dada bidang Juan dengan tangan lentik nya.
"Kangen apa, sayang?"
"Pengen di masukin si junior, yang."
"Sabar ya, aku nya lemes. Tapi, kalo kamu di atas, aku gapapa kok. Si junior masih aktif seperti biasa nya." Jawab Juan.
"Enggak ahh, lain kali aja. Malu kalo tiba-tiba ada perawat atau dokter yang masuk, eehh kita lagi anu."
"Iya, yaudah sabar aja ya? Capek kalo kamu di atas terus, nanti si junior belum keluar kamu nya udah lemes kan berabe." Jawab Juan, dia mengusap lembut kepala sang kekasih yang tersuru di dada nya.
"Sayang banget sama ayang." Ucap Juan. Membuat Syera semakin menduselkan wajah nya.
"Sayang juga sama kamu." Balas Syera.
Akhirnya, kedua nya pun tertidur dengan Syera yang memeluk erat pinggang Juan. Begitu juga dengan Juan, dia juga meletakkan tangan nya di pinggang sang kekasih, sebelah tangan nya yang di infus di jadikan bantal oleh Syera.
Pagi hari nya, seorang perawat masuk ke ruangan rawat Juan untuk mengecek cairan infusan nya. Tapi, dia malah tersenyum kecil saat melihat pasangan yang terlihat sangat romantis di depan nya.
"Ehem.." Juan yang memang sudah terbangun langsung menoleh. Dia meletakan telunjuk nya di bibir agar perawat itu tidak berisik, karena Syera masih tertidur pulas di pelukan nya.
"Maaf, Tuan.." Ucap perawat itu berbisik. Diapun mengecek infusan nya, setelah selesai dia langsung keluar dari ruangan dengan pemandangan yang membuat iri kaum jomblo.
Tak lama kemudian, Syera terbangun dari tidur nya. Gadis itu melenguuh pelan lalu membuka kedua mata lentik nya dengan perlahan.
"Selamat pagi, sayang.."
"Pagi, kembali sayang." Balas Syera, dengan suara serak nya. Dia tersenyum lalu mengecup pipi kanan Juan singkat.
"Yang.."
"Iya, sayang. Ada apa?" Tanya Syera.
"Mual.."
"Ayo ke kamar mandi, sayang." Juan akan menurut, tapi keadaan nya yang lemas tidak memungkinkan. Jadi, Syera mengambil kresek hitam dan membiarkan Juan muntah lagi di dalam nya.
Huek.. huekk..
Syera langsung memijat tengkuk Juan dengan lembut, juga menyapukan minyak kayu putih disana agar terasa sedikit hangat. Juan mendorong Syera agar jangan terlalu dekat, dia khawatir kalau Syera jijik.
"Kenapa sih dorong-dorong terus dari tadi?"
"Jangan terlalu dekat, jijik, sayang."
"Enggak, aku gak jijik sayang." Jawab Syera, dia terus memijat tengkuk belakang Juan.
Setelah selesai, Syera langsung membuang nya ke kamar mandi. Tak lama, dokter masuk dengan beberapa perawat di belakang nya.
"Selamat pagi, Tuan."
__ADS_1
"Pa-gi, dok." Jawab Juan terbata, dia terlalu lemas untuk menjawab.
"Bagaimana? Sudah lebih baik?"
"Tidak sama sekali, dok. Dia sering muntah-muntah, tapi hanya di pagi hari saja." Jawab Syera yang baru keluar dari kamar mandi.
"Muntah-muntah, tapi hanya di pagi hari?" Syera menganggukan kepala nya. Dokter itu pun mulai memeriksa keadaan Juan, tubuh nya memang lebih lemas saat ini.
"Menurut pemeriksaan saya, Tuan tidak sakit apa-apa."
"Hah? Periksa yang benar, dok. Masa gak sakit tapi dia terus muntah-muntah setiap hari sampe tubuh nya lemas kek gini." Sewot Syera, pernyataan dokter nya sangat tidak masuk akal bagi Syera.
"Ini tak ada penyakit apapun, Nona."
"Terus, dia kenapa dong kalo gak sakit apa-apa?" Tanya Syera sedikit kesal. Bagaimana tidak kesal, orang Juan terus muntah-muntah dari kemarin tapi katanya tidak sakit apa-apa? Kan ngaco gitu.
"Apa Nona sedang hamil?"
"H-ah? Apa hubungan nya hamil sama penyakit kekasih saya, dok?" Tanya Syera lagi, terasa semakin tidak masuk akal saja.
"Ini seperti gejala morning sickness, Nona."
"Morning apa?"
"Morning sickness, ini di alami ibu hamil di trimester pertama. Gejala nya persis seperti yang di alami oleh Tuan, muntah-muntah tapi hanya di pagi hari saja." Jawab dokter itu membuat bulu kuduk Syera merinding seketika. Mungkinkah dirinya hamil?
Tapi, bisa jadi juga karena selama dua bulan mereka sering berhubungan, Juan sering menyemprotkan susu kental manis nya di dalam, tanpa pengaman. Jadi, mungkinkah dia hamil? Astaga.
"Saya gak tau, dok."
"Saran saya, periksa lebih dulu, Nona. Setelah terlihat hasilnya, silahkan ke bagian obygin." Jelas nya, membuat Syera menganga. Apa benar dirinya hamil? Kalau hal itu sampai terjadi, bagaimana dengan pendidikan nya? Bagaimana juga reaksi papa nya? Tak bisa di bayangkan.
"Baik, dok. Terimakasih." Dokter itu pun menganggukan kepala nya, lalu pergi bersama perawat.
"Sayang.."
"Iya, kenapa?" Tanya Juan.
"Kalau aku benaran hamil, gimana?"
"Lho, gapapa dong. Kalau kamu benaran hamil, aku pasti sangat bahagia, sayang."
"Tapi.."
"Kita hadapi semua nya bersama ya?" Ucap Juan membuat Syera memalingkan wajah nya.
"Kamu test aja dulu, kalau benaran fositif.."
"Iya, sayang. Kamu bakalan tanggung jawab kan?"
"Iya, tentu saja aku akan mempertanggung jawabkan apa yang sudah aku perbuat, sayang. Jangan khawatir." Jawab Juan, Syera pun tersenyum lalu memeluk Juan yang tengah duduk di brankar nya.
__ADS_1
.....,
🌻🌻🌻🌻🌻