Terjerat Gairah Sang Pengawal

Terjerat Gairah Sang Pengawal
Bab 47 - TGSP


__ADS_3

"Yang.."


"Iya, kenapa sayang?" Tanya Juan, dia membiarkan Syera yang menyetir sekarang. Karena keadaan nya belum memungkinkan dia untuk mengemudi kan mobil nya.


"Aku pernah lho nyetir ugal-ugalan sama kamu, sampe bikin wajah kamu pucat. Kamu lupa ya?"


"Kapan?" Tanya Juan, kali ini seperti nya dia benar-benar lupa kalau ini bukan pertama kali nya Syera menyetir. Bahkan saat itu Syera mengemudi dengan kecepatan yang sangat tinggi hingga membuat wajah Juan pucat karena takut mungkin.


"Waktu kita mau peninjauan ke hotel lho, sayang." 


"Apa iya? Aku cuma ingat nya pas kita check in doang, yang." 


"Kamu ini, masa cuma check in nya doang yang inget sih?" Ketus Syera, namun dengan kekehan pelan nya.


"Hehe, ciuman nya enak. Maka nya aku inget terus, yang." Jawab Juan sambil cengengesan.


"Tapi, kamu benaran gak amnesia kan, yang? Kamu ingat siapa aku, dan hubungan kita?"


"Tentu, tadi aku hanya bercanda untuk menggoda kamu, sayang. Tapi untuk masalah kamu yang nyetir ugal-ugalan, aku beneran lupa deh." 


"Syukurlah kalau kamu tidak benar-benar amnesia, aku udah takut tadi." Syera melirik sekilas ke arah Juan yang juga tengah menatap nya.


"Maaf ya, kalau becandaan aku udah kelewatan."


"Gapapa, ayang." Jawab Syera sambil tersenyum. Dia mengemudikan kendaraan nya dengan kecepatan sedang. 


Namun, saat di minimarket Syera menghentikan laju kendaraan nya. Dia berhenti dan menarik rem tangan nya, dan bersiap keluar dari mobil nya.


"Lho, kenapa berhenti disini, yang?"


"Tunggu sebentar, sayang." Juan pun hanya menganggukan kepala nya, dia menatap punggung Syera yang keluar dari dalam mobil. Dia bertanya-tanya, Syera ingin membeli apa di minimarket. 


Cukup lama gadis itu berada dalam minimarket, hingga akhirnya dia keluar dengan menenteng kresek berisi cemilan dan beberapa batang coklat. Untuk siapa? Rinda, adik Juan yang paling menggemaskan bagi Syera.


"Beli apa, yang?"


"Cemilan sama coklat."


"Buat siapa cemilan sebanyak ini, yang?" Tanya Juan cengo, membuat Syera tergelak.


"Ya, buat adik kamu lah. Buat siapa lagi? Aku gak makan cemilan sebanyak itu." 


"Buat Rinda? Ini mah kebanyakan, sayang."


"Gapapa, biar Rinda gak minta uang jajan sama kamu atau Mama." Jawab Syera sambil tersenyum. 


"Tapi, aku gak enak. Nanti kalau dia terlalu di manjakan, aku khawatir Rinda akan minta lagi pas kamu datang ke rumah, sayang."


"Gapapa, aku juga kan kakak nya, sayang. Lagian, aku gak keberatan kok kalau adik kamu minta aku jajanin. Udah, gak usah merasa gak enakan sama aku ya." Ucap Syera, dia menatap wajah Juan yang nampak khawatir. Dia tersenyum manis, lalu kembali fokus ke depan karena sedang menyetir saat ini. 


Beberapa menit kemudian, mobil yang di kendarai oleh Syera masuk ke dalam gang menuju rumah Juan. Tetangga julid langsung keluar dari rumah masing-masing saat melihat mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilat melewati kawasan rumah mereka. 


Bahkan saking mengkilat nya mampu membuat silau, itu lah yang membuat mereka beramai-ramai keluar dari rumah masing-masing dan menatap mobil itu berhenti di depan rumah Juan. 


Maklumlah orang kampung, baru lihat mobil seperti itu. Jadi nya mereka heboh, padahal kalau di kawasan kota mobil seperti ini berseliweran di jalan raya. Tapi, jarang ada mobil yang melintas di desa ini selain angkot. 

__ADS_1


Syera keluar lebih dulu, begitu pun Juan yang sudah membuka pintu mobil nya, Syera langsung berlari begitu melihat Juan menggelengkan kepala nya, dia pasti masih merasa pusing.


"Sayang, kan aku udah bilang tungguin aku bukain pintu. Ngeyel amat, udah tahu masih pusing juga." Omel Syera yang membuat tetangga julid melongo. 


Syera menggandeng tangan Juan, meskipun tubuh Juan sangat berat dan membuat nya kesulitan, tapi akhirnya berhasil membawa Juan untuk duduk di beranda depan.


"Ma.." panggil Syera pelan, sambil membuka pintu utama rumah Juan.


"Lho, nak Syera. Sama siapa kesini?" Tanya Romlah yang sedang berada di dapur. 


"Sama Juan, ma. Dia pusing, pingsan di jalan jadi nya Syera anter kesini." Jawab Syera membuat Romlah terkejut.


"Ya ampun, sekarang Juan nya mana?"


"Di luar, Ma. Lagi istirahat, aku mau buat air jahe. Apa ada gula merah, Ma?" Tanya Syera. 


"Ini, sayang. Mama ke depan dulu ya, mau lihat Juan." 


"Iya, Ma." Jawab Syera sambil tersenyum, dia pun membiarkan ibu nya Juan pergi keluar, dia sudah terbiasa dengan kursi roda nya. Makanya, Syera membiarkan nya saja. 


Syera menyalakan kompor, lalu menghangatkan air, dia juga mengiris gula merah dengan perlahan karena pisau di rumah Juan sangat tajam. Tak lupa, Syera juga menambahkan jahe agar lebih hangat. Setelah jadi, barulah dia menyusul ke depan. Namun, dia menganga saat melihat mobil nya di kerumuni ibu-ibu rempong. 


"Mereka kenapa sih?" Tanya Syera, sambil meletakan air gula di dekat Juan.


"Di minum selagi hangat, sayang." Ucap Syera, Juan pun menurut dan meminum nya dengan perlahan karena masih panas. Awal nya, Syera terlihat santai melihat ibu-ibu itu mengerumuni mobil milik nya. Namun, dia merasa kesal saat anak-anak mereka menggores mobil nya dengan pisau kecil yang mereka bawa.


"Hey!" Ucap Syera, dia langsung mendekat dan melihat body mobil nya yang baret karena ulah tangan nakal anak kecil itu.


"Astaga, mobil saya baret ini. Bisa gak sih Bu anak nya di larang, merugikan orang lain ini." Syera naik pitam saat melihat mobil nya terdapat banyak baret.


"Cuman gini doang? Oke, sekarang saya minta ganti rugi atas ulah anak ibu."


"Lho kok pake ganti rugi segala, cuman ke gores gini doang." Jawab nya dengan angkuh, membuat Syera tersenyum smirk. 


"Ke gores doang? Rusak lho ini, tadi saya bawa mobil saya mulus gak ada baret kek gini. Sekarang, saya gak mau tahu ya. Ibu harus ganti rugi atas kerusakan mobil saya, karena ulah anak ibu." 


"Tidak, ngapain juga harus ganti rugi." Jawab nya lagi dengan ekspresi wajah yang sangat menyebalkan, ingin sekali Syera menceburkan nya ke got. Ada-ada saja tingkah dan watak orang-orang di daerah tempat tinggal Juan. 


"Oke, kalau begitu saya harap ibu datang di pengadilan. Jangan salahkan saya kalau saya mengambil jalur hukum." Ucap Syera dengan tegas. 


Sebenar nya, dia tak terlalu mempermasalahkan baret nya, tapi cara mereka memperlakukan mobil milik nya. Tata krama mereka minus, bahkan nol besar jika dia menilai nya dari cara bicara. 


"Lho kok pengadilan, memang nya semahal apa sih ganti rugi nya? Gini doang juga." Ucap nya dengan sombong, lalu mengeluarkan dompet nya.


"Dua belas juta." Jawab Syera tersenyum smirk. Ibu-ibu itu nampak terkejut, semahal itu kah harga yang harus dia bayar atas kesombongan nya?


"Hah, gede amat?" 


"Ibu pikir mobil saya di beli nya dengan uang dua ribu rupiah? Tidak, Bu. Ini saya beli dengan uang, berapa harga nya? Ratusan juta, makanya jangan heran kalau untuk body yang baret seperti ini saja membutuhkan uang sebanyak itu." Jawab Syera sambil tersenyum menyeringai.


"Terlalu banyak itu, kan cuma baret."


"Cuma? Kan saya sudah bilang mobil saya mahal, Bu. Harus nya, kalau ibu gak punya uang, anak nya di ajarin sopan santun, Bu." 


"Ckkk, pake nasehatin saya. Emang nya siapa kamu hah? Sombong sekali."

__ADS_1


"Sombong? Bukan nya ibu ya yang sombong dari tadi? Sekarang, mana uang nya?" Tanya Syera dengan wajah datar nya.


"Saya tidak ganti rugi."


"Kalau begitu, siap-siap saja meringkuk di penjara. Saya akan menghubungi pengacara saya." Syera mengeluarkan ponsel dari tas nya. 


Ibu-ibu itu nampak acuh, karena menyangka kalau Syera hanya mengancam saja. Tapi, rupa nya Syera serius akan hal ini. Kenapa dia sampai begini? Untuk memberikan pelajaran. 


"Hallo, pak.." 


'Iya, Nona Syera. Ada apa?' Tanya suara tegas di seberang sana, seketika membuat wajah ibu itu memucat. 


"Begini, mobil saya di coret-coret sama anak kecil hingga body nya rusak. Saya sudah meminta rugi pada ibu nya, tapi ibu nya gak mau ganti rugi. Apa ini bisa di pidanakan, pak?" Tanya Syera panjang lebar.


'Bisa, Nona. Tentu bisa, karena ada pasalnya.'


"Bagaimana dengan ancaman hukuman nya, pak?" Tanya Syera lagi. 


'Ancaman nya hukuman dua belas tahun penjara, dan ganti rugi sebesar lima juta rupiah.' Jelas nya, membuat ibu-ibu itu menganga. 


"Oke, pak. Nanti saya hubungi lagi." 


'Baik, Nona.' Syera pun menyudahi telepon nya dan tersenyum jahat ke arah ibu-ibu yang wajah nya sudah memucat. 


"Jadi, bagaimana? Mau ganti rugi atau di penjara dua belas tahun?" Tanya Syera membuat tubuh nya seketika gemetar karena takut. 


"Oke, kalau begitu siap-siap besok akan ada polisi yang menjemput ibu kesini."


"Tunggu, tunggu.." Syera berbalik dan menatap ibu-ibu itu.


"Tolong beri keringanan sedikit, nona."


"Oke, sepuluh juta." Jawab Syera, dia sudah cukup berbaik hati rasa nya dengan mengurangi dua juta biaya ganti rugi nya.


"Saya akan mengusahakan nya."


"Kalau sudah ada, berikan pada Ibu Romlah atau pada Juan. Saya beri jangka waktu seminggu, jika dalam waktu satu minggu uang nya tak ada, saya akan menjemput ibu dengan pengacara saya. Jelas?" Tegas Syera. Ibu itu menganggukan kepala nya. 


Dia tersenyum jahat, lalu berbalik dan kembali duduk di teras rumah Juan. 


"Sayang.."


"Biarkan saja, anggap itu sebagai pelajaran untuk nya." Jawab Syera. Dia tau benar bagaimana sikap ibu-ibu itu, dia lah yang sering kali mengatai kekasih nya dan calon ibu mertua nya. 


"Ohh iya, ini buat Rinda, Ma. Sekarang Rinda nya kemana?" Tanya Syera. 


"Bermain di rumah teman nya." Jawab Romlah dengan senyum manis nya.


"Hmmm, Syera kangen sama dia." 


"Kangen?" Tanya Juan.


"Iya, dia sangat menggemaskan." Jawab Syera sambil tersenyum membayangkan saat Rinda bersikap manja pada nya. 


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2