
Setelah selesai kelas, Syera berniat untuk pergi ke parkiran, dia tak sabar untuk bertemu dengan sang pujaan hati nya, siapa lagi kalau Juan. Tapi di lorong kampus, dia malah bertemu dengan seseorang yang dia ketahui sebagai mantan kekasih Juan.
"Syera kan?" Tanya Devia pada Syera yang sibuk berjalan dengan tergesa-gesa.
"Iya, aku Syera. Kamu Devia kan?" Balik tanya Syera pada sosok perempuan itu.
"Ya, bisa kita bicara sebentar?"
"Boleh, tapi disini saja." Jawab Syera lirih, tapi untuk jaga-jaga, dia sudah menghubungi Juan.
"Hmm, kamu pacaran sama Juan?"
"Iya, bukan nya kamu udah tahu ya? Kalau aku pacar nya Juan?"
"Aku hanya ingin mendengar nya langsung dari mu, Syera."
"Dan sekarang kau sudah tahu jawaban nya, Devia." Jawab Syera, sejauh ini dia masih cukup sabar menghadapi mantan kekasih pacar nya itu. Meskipun dalam hati dia merutuk kesal.
"Aku minta, sekarang kau harus meninggalkan Juan."
"Lah, memang nya kamu siapa kamu hmm? Pake berani-berani nya nyuruh aku buat ninggalin Juan? Kamu cuma mantan nya, jadi gak punya hak apa-apa." Jawab Syera ketus, dia menyedekapkan kedua tangan nya di dada.
"Aku akan kembali pada Juan, tapi dia tak mau karena berpacaran dengan mu. Makanya kamu yang harus peka, putusin Juan biar bisa balikan lagi sama aku, Syera!"
"Yakin mbak? Aku rasa, meskipun aku memutuskan hubungan ku dengan Juan, dia takkan mau balikan dengan mu. Kenapa? Karena Juan lebih suka yang original, alias dia tidak suka barang bekas." Jawab Syera menyindir sambil melihat perut Devia yang mulai membuncit.
"Perut mu itu membuktikan kalau kau bukanlah wanita yang baik, meskipun janin nya tidak bersalah, tapi kau sangat bersalah dalam hal ini."
"Hentikan omong kosong mu itu, Syera!" Tegas Devia yang malah membuat Syera tertawa hambar.
"Kau yang memulai omong kosong itu, mbak."
"Lihat saja nanti, aku pasti akan merebut Juan dari mu!"
"Silahkan, aku tunggu. Jika Juan mau padamu, berarti dia bodooh karena meninggalkan berlian demi seonggok kotoran." Jawab Syera, dia tersenyum smirk lalu pergi dari hadapan Devia, bahkan saat berjalan melewati nya, dengan sengaja Syera menyenggol pundak Devia.
Sedangkan di dalam mobil, Juan tersenyum kecil karena puas akan jawaban yang di ucapkan oleh Syera. Benar memang, jika dia mau balikan pada Devia, sama seperti dia membuang berlian demi seonggok kotoran. Lagi pun benar sekali, kalau dia lebih suka yang segelan dari pada yang sudah jebol.
"Mulut gadis ku tak kalah pedas nya." Gumam Juan, sambil tersenyum. Tak lama kemudian, dia melihat Syera berjalan pelan ke arah mobil nyam gadis itu masuk ke dalam mobil dengan wajah berbinar nya.
"Sayang.."
"Iya, cantik ku." Jawab Juan sambil tersenyum manis.
"Makan bakso pedes kayak nya enak ya?"
"Ayo, kita makan bakso, sayang. Tapi gak boleh pedes-pedes ya, dikit aja pedes nya." Peringat Juan pada Syera, gadis itu pun cemberut karena bakso nya akan berkurang rasa nya kalau gak pedes.
"Udah, jangan cemberut gitu. Nanti aku cubit pipi nya."
"Gak mau di cubit, sayang. Tapi kalau di cium sih, aku mau." Jawab Syera sambil tersenyum, begitu juga Juan yang terkekeh geli karena ucapan Syera.
"Yaudah, sini aku cium pipi nya." Syera pun mendekatkan wajah nya pada Juan, mencium nya dengan gemas, bahkan hingga menggigit pipi cabi Syera.
"Aaaa sayang, kok di gigit sih." Rengek Syera.
"Habis nya gemes, kamu gak kangen sama aku, sayang?" Tanya Juan sambil tersenyum menggoda.
__ADS_1
"Kangen banget, dong." Jawab Melisa.
"Ngamar yuk?"
"Oke, tapi setelah makan bakso. Gimana?" Tanya Melisa.
"Iya, sayang ku." Jawab Juan, dia pun melajukan kendaraan roda empat nya menjauhi kawasan kampus. Membuat Devia yang sedari tadi melihat interaksi mereka dari jendela mobil mengepalkan kedua tangan nya karena kesal, usaha nya untuk bisa bersama Juan gagal lagi.
Namun, seperti nya dia harus ekstra berusaha lagi agar bisa bersama Juan. Dia belum menyerah untuk bisa mendapatkan Juan dan merebut nya dari Syera.
"Aku bersumpah untuk mendapatkan Juan lagi, lihat saja Syera, aku akan merebut Juan dari mu." Gumam Devia. Dia sudah benar-benar gilaa saat ini, bahkan sudah tak peduli pada pria berstatus suami nya di rumah.
Setelah dari kampus, Devia pun pulang ke rumah kontrakan tempat dia tinggal selama ini. Di dalam, ada Martin yang sedang menonton televisi. Devia memutar mata nya jengah saat melihat suami nya hanya ongkang-ongkang kaki saja.
"Dari mana, Dev?" Tanya Martin, padahal dia sudah tahu kalau istri nya pasti masih mengejar mantan kekasih nya.
"Kampus."
"Ngapain? Sejak kapan kamu kuliah disana?" Tanya Martin dengan senyum mengejek.
"Aku menemui Juan."
"Lalu? Bagaimana hasil nya, apa Juan mau dengan bekas ku?" Tanya Martin lagi, membuat Devia mendelik kesal.
"Diamlah, Martin."
"Hahaha, kau memang sangat bodooh Dev."
"Aku minta kau diam, Martin!" Bentak Devia, lalu masuk ke dalam kamar dan membanting pintu nya dengan keras hingga membuat bunyi berdebum yang mampu membuat Martin terlonjak kaget.
Begitu juga Devia, dia juga gila karena terus menerus mengejar cinta Juan, padahal dia sudah tahu kalau Juan tak mau lagi dengan nya. Devia juga harus nya tahu kalau Juan tak suka barang bekasan.
Sedangkan di salah satu tempat, Juan dan Syera sedang menikmati semangkuk bakso dengan kuah mengepul. Syera menambahkan dua sendok sambel, dia ingin menuang satu sendok lagi, tapi tangan nya keburu di cekal oleh Juan, membuat Syera mendengus.
"Satu lagi aja, ya?"
"Udah, dua sendok itu udah banyak, sayang." Jawab Juan membuat Syera kesal.
"Satu lagi, plis.."
"Astaga, pacar ku memang menggemaskan. Yaudah, satu lagi aja ya." Akhirnya, Juan tak tega saat melihat ekspresi Syera, dia pun mengizinkan kekasih nya itu untuk menambahkan satu sendok sambal lagi.
"Bakso nya enak, sayang?" Tanya Juan saat melihat Syera makan dengan lahap.
"Enak banget, karena pedes."
"Jangan sering-sering makan pedes ya, nanti sakit perut." Nasehat Juan, sambil mengusap lembut puncak kepala Syera membuat gadis itu tersenyum manis.
"Siap pak bos." Jawab Syera. Kedua nya pun makan bakso dengan lahap, apalagi Syera dia sampai menambah porsi lagi. Entah lapar atau doyan, yang jelas dua mangkuk itu habis tak bersisa.
"Aduh, kenyang." Lirih Syera sambil mengusap perut nya, Juan menggelengkan kepala nya melihat hal itu.
"Aku bayar dulu ya, setelah ini kita mau pulang atau kemana dulu?" Tanya Juan.
"Ke hotel." Jawab Syera, terdengar asal tapi dia serius seperti nya.
"Oke, sayang." Jawab Juan. Dia pun beranjak dari duduk nya, lalu membayar bakso yang mereka makan. Bakso nya murah, tapi tidak murahan. Rasa nya enak dan berdaging, padahal satu porsi nya hanya lima belas ribu saja.
__ADS_1
"Yuk, udah yang."
"Ayo, yang." Jawab Syera, dia pun beranjak dari duduk nya dan langsung menggandeng lengan kekar Juan dengan mesra. Namun, tak di sangka mereka malah bertemu dengan Martin yang nampak kusut sedang duduk di sisi jalan.
"Yang, itu Martin kan?" Tanya Juan sambil menunjuk ke arah pria itu yang sedang duduk.
"Iya, yang."
"Mau di samperin dulu?"
"Gak usah, aku capek dengan drama pasutri itu. Mending kita.."
"Ngamar, iya kan?" Tebak Juan, membuat Syera terkekeh.
"Iya, bener. Dari pada ngurusin mereka, mendingan kita ngamar aja, mereka mah gak penting." Jawab Syera. Juan pun mengangguk, lalu membukakan pintu mobil untuk Syera dan setelah memastikan Syera duduk dengan nyaman, barulah dia ikut masuk juga ke dalam mobil.
"Hotel mana, yang?"
"Yang deket aja, yang." Jawab Syera, Juan pun melajukan mobil nya sambil celingukan mencari hotel yang dekat.
"Ini hotel bukan, yang?" Tanya Juan.
"Iya, disini aja sayang." Jawab Syera. Juan menganggukan kepala nya, mobil pun memasuki basement hotel itu dan memarkir mobil nya disana.
Kedua nya keluar, lalu masuk ke dalam hotel itu dengan saling bergandengan satu sama lain dengan mesra, layak nya pasangan kekasih pada umum nya.
"Kak, satu kamar ya." Ucap Syera sambil mengeluarkan kartu dari dompet nya.
"Baik, Nona. Ini kunci nya." Resepsionis itu memberikan kunci nya, Juan mengambil nya dan mereka pun langsung pergi setelah Syera membayar satu kamar itu.
Setelah sampai di kamar, Syera memilih bersantai lebih dulu di balkon kamar hotel itu, sedangkan Juan berada di kamar mandi, katanya sih kebelet.
"Sayang.." Juan melingkarkan kedua tangan nya di pinggang Syera dengan mesra, pemuda itu juga menyandarkan dagu nya di pundak Syera dengan manja.
"Iya, sudah kebelet nya?"
"Sudah, sayang." Jawab Juan.
"Si junior nya di cuci nggak?"
"Ya di cuci dong, sayang. Kenapa?" Tanya Juan dengan heran. Kenapa pula harus bertanya seperti itu, kalau sehabis di gunakan ya pasti di cuci biar bersih.
"Enggak, yuk sini." Jawab Syera, dia menarik tangan Juan dan tanpa ragu, dia langsung menurunkan celana milik Juan beserta boxer nya juga.
"Wahh, udah bangun aja dia, yang?"
"Udah pengen kayak nya dia tuh, sayang." Jawab Juan, Syera hanya tersenyum menanggapi ucapan Juan. Dia berjongkok di depan Juan, tangan nya mengusap lembut junior milik Juan yang sudah tegak menantang itu.
Juan mengernyitkan kening nya, apa yang akan di lakukan oleh Syera? Dia sendiri tak tahu, tak biasa nya gadis ini memainkan junior nya seperti ini.
Tiba-tiba saja, Juan merintih pelan saat kepala Syera akhirnya menguluum junior.
"Astaga, sayang.." Syera mendongak dengan pipi yang kembung, dia tersenyum kecil melihat ekspresi Juan yang terlihat keenakan.
.......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1