
"Sa-yang, pelan-pelan aja cium nya." Ucap Juan saat Syera terus mencium bibir nya dengan brutal, bahkan mampu membuat Juan sedikit kewalahan mengimbangi ciumaan yang di lakukan oleh Syera.
Bahkan saat ini, bibir Syera sudah berada di leher Juan, menyesal nya di beberapa tempat yang membuat leher pemuda itu seperti macan tutul.
"Aassshhh, ayang jangan di gigit dong."
"Biarin, habis nya kamu nyebelin." Ucap Syera ketus.
"Nyebelin apa nya, yang?" Tanya Juan, sambil mengusap wajah Syera yang berada di atas pangkuan nya saat ini.
"Kenapa di telpon gak di angkat, hmm?" Tanya Syera, membuat Juan sedikit terhenyak.
"Kamu nelpon?"
"Kalo enggak, mana mungkin aku nanyain!" Ketus nya, Juan pun merogoh ponsel nya dari dalam saku celana nya. Benar saja, ada beberapa notifikasi panggilan tak terjawab dari nomor Syera.
"Hehe, maaf ya yang. Pas masih sore, hape nya aku cas, terus aku pake mode senyap gitu. Jadi gak kedengeran, maaf ya." Ucap Juan sambil cengengesan.
"Bagus kamu begitu hmm?"
"Ya maaf, sayang."
"Tau aahh, kamu nyebelin. Aku ngambek!"
"Yahh, kok ngambek sih. Nanti cantik nya hilang dong." Goda Juan sambil mencolek dagu Syera, gadis itu langsung menepis tangan Juan.
"Cium dulu.."
"Kan barusan udah, sayang."
"Itu kan aku yang mulai, sayang." Ucap Syera gemas, dia mencubit pipi Juan saking gemas nya.
"Yaudah." Juan pun mendekatkan wajah nya dan menempelkan kembali bibir nya di bibir Syera, kedua nya berciuman dengan mesra. Tangan nakal Juan juga sudah bermain-main di dada kenyal milik Syera.
__ADS_1
"Enghh.." Syera melenguuh pelan di balik ciuman itu saat tangan besar Juan mereemas dada miliknya dengan lembut.
Setelah beberapa menit, Juan menyudahi ciuman nya, dia mengusap bibir Syera dengan lembut lalu mengecup nya sekilas.
"Sudah kan? Gak ngambek lagi?"
"Iya, udah di maafin. Tapi lain kali jangan gitu lagi ya, bikin aku khawatir aja kamu tuh." Ucap Syera yang terdengar sangat manja di telinga Juan.
"Iya, sayang. Yuk kita lanjut perjalanan, kamu ada kuliah kan?" Tanya Juan. Gadis itu melihat jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan nya, seketika itu juga dia merasa panik.
"Sayang, aku udah mau terlambat. Cepetan, setengah jam lagi kelas nya di mulai ini, yang." Ucap Syera panik, dia langsung turun dari pangkuan Juan, gadis itu sibuk membenarkan pakaian nya. Sedangkan Juan langsung tancap gas, jarak rumah ke kampus masih cukup jauh, butuh waktu satu jam lagi untuk sampai. Lalu, bisakah sampai dalam waktu kurang dari setengah jam?
"Duhh, kok bisa sih waktu nya kecepetan ya." Gumam Syera sambil mengoleskan liptint di bibir nya.
"Kamu nya cium aku nya brutal, jadi nya waktu nya kerasa singkat."
"Lah, kamu nya gak nolak." Ucap Syera ketus, dia tak mau di salahkan.
"Kalau aku nolak, kamu nya pasti makin ngambek kan?"
"Nah, jadi mendingan aku pasrah aja." Jawab Juan sambil tertawa.
"Isshh, udah ahh cepetan bawa mobil nya."
"Iya, ini udah ngebut sayangku." Jawab Juan, dia pun menambah kecepatan mobil nya hingga mengebut parah.
Akhirnya, mereka pun sampai di kampus dengan tepat waktu. Syera langsung keluar dari mobil, namun gadis itu tak lupa untuk mengecup pipi Juan meski singkat. Sepanik dan seterlambat apapun, tak boleh melupakan kecupan mesra.
"Semangat belajar nya, sayang." Ucap Juan sedikit keras, Syera berbalik lalu menganggukan kepala nya dengan cepat.
Juan pun memutuskan untuk masuk kembali ke dalam mobil, tapi tangan nya di cengkeram dari belakang. Juan berbalik dan menatap jengah seseorang yang mencekal tangan nya.
"Juan.."
__ADS_1
"Apa lagi hah?" Tanya Juan ketus, tapi bukan nya ketakutan, Devia malah tersenyum menggoda.
"Kamu masih nanya apa lagi? Kamu tahu gimana aku, Ju. Aku gak bakalan menyerah gitu aja, sebelum dapetin kamu lagi."
"Halu, aku gak mau balik lagi sama kamu. Meskipun kamu menangis darah sekali pun, Devia!" Tegas Juan.
"Ckk, memang apa bagus nya wanita itu dari pada aku, Ju?"
"Masih berani nanya? Beda nya kayak langit dan bumi. Kamu gak ada apa-apa nya di bandingkan sama Syera, dia gadis terhormat yang bisa menjaga harga diri nya! Lalu kamu?"
"Aku juga bisa melakukan itu, Juan." Ucap Devia. Juan menghentakan tangan Devia dengan kasar hingga terlepas.
"Kalau memang iya kamu bisa melakukan nya, lalu janin di perut mu itu apa? Itu hasil perbuatan kamu kan, lalu apa itu bisa disebut sebagai menjaga diri? Bagi aku, kamu gak lebih dari seorang wanita murahaan!" Jawab Juan, terlihat Devia nampak terkejut dengan ucapan Juan yang sangat pedas, hingga membuat ulu hati nya terasa berdenyut nyeri.
"Berani sekali kau mengatakan itu, Juan!"
"Memang nya kenapa aku tak berani? Itu fakta nya dan aku melihat nya sendiri, Nona Devia."
"Juan.."
"Apa? Ingat, Dev. Dulu kau yang memutuskan aku, lalu mengata-ngatai aku dengan kata-kata kasar dan menyakitkan. Sekarang, kamu ingin kembali bersama ku? Jangan mimpi, itu takkan pernah terjadi." Ucap Juan dengan tegas.
"T-api Juan.."
"Berhenti mengemis, Devia. Aku muak melihat mu, pergilah dan jangan ganggu aku lagi. Atau kau akan merasakan akibat nya jika memancing amarah ku!" Juan menatap Devia dengan tatapan tajam.
"Lihat saja nanti, Juan. Jika aku tak bisa memiliki kamu, maka Syera pun takkan bisa memiliki kamu."
"Jangan pernah mencoba melukai kekasih ku, atau kau akan menyesal karena tak bisa melihat dunia luar lagi karena kepala mu terpenggal." Balas Juan, membuat nyali Devia menciut seketika.
Dari dulu, Juan selalu melakukan apapun yang dia katakan. Apalagi sekarang, saat Juan sudah dewasa. Meskipun, wajah nya sangat tampan dan berkharisma, tubuh nya indah bak atlet, tapi ada sesuatu yang di sembunyikan di balik wajah dan tubuh sempurna nya.
Benar kata Syera, kalau Juan memiliki kepribadian ganda. Bahkan tak jarang, Syera saja merasa tertekan jika dia membuat kesalahan pada Juan karena tatapan nya sangat tajam, bahkan mampu membuat bulu kuduk nya merinding seketika.
__ADS_1
.......
🌻🌻🌻🌻