
"Sayang.." Panggil Syera pada Juan, pria yang tengah berdiri membelakangi nya di balkon, dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku.
Syera berjalan mendekat dan memeluk suami nya dari belakang, menyandarkan kepala nya di punggung tegap sang suami. Meskipun, pelukan nya tidak terlalu erat karena perut besar nya menghalangi.
"Ada apa, sayang?" Tanya Juan, dia berbalik dan menatap wajah cantik sang istri. Dia membingkai nya dengan lembut lalu mengecup kening nya.
"Kamu kenapa? Aku perhatikan, kamu murung terus sedari tadi." Balik tanya Syera, dia mendongak menatap wajah tampan suami nya.
"Tidak apa-apa, sayang. Hanya saja mood ku agak buruk akhir-akhir ini." Jawab Juan, padahal dia mengkhawatirkan istri nya. Dia takut, benar-benar takut menghadapi hari kelahiran putra mereka. Meskipun dia sangat menunggu hari itu, begitu juga dengan Syera yang sudah tak sabar untuk kehadiran putra mereka. Tapi, dia takut akan hari itu.
"Kamu kenapa? Cerita dong, aku kan istri kamu."
"Hmmm, aku hanya khawatir akan keadaan kamu, sayang."
"Aku? Tapi, aku baik-baik saja." Jawab Syera, tapi Juan malah langsung memeluk istri nya, mengusap-usap punggung nya dengan lembut.
"Aku takut, sayang. Berjanjilah, saat hari persalinan itu kamu harus baik-baik saja."
"Iya, aku akan baik-baik saja. Kamu harus temani aku ya?"
"Tentu saja, aku akan menemani kamu, sayang." Jawab Syera, dia pun mengecup lembut pipi kanan dan kiri sang istri. Lalu mencium mesra bibir Syera, melumaat nya dengan perlahan.
Syera juga hanyut akan ciuman Juan, dia melingkarkan kedua tangan nya di leher kokoh sang suami, sedangkan tangan Juan berada di pinggang Syera. Hingga beberapa menit kemudian, ciuman itu pun berakhir. Juan menyatukan kening mereka, hingga Syera bisa merasakan sapuan nafas Juan yang hangat dan beraroma mint yang menyegarkan, membuat Syera tak pernah bosan.
"Ssshhh.." Syera mendesis pelan membuat Juan terkejut, dia menatap wajah sang istri dengan khawatir.
"Ada apa, sayang? Ada yang sakit?" Tanya Juan dengan panik.
"Biasa, dia menendang cukup keras." Jawab Syera, tendangan sang buah hati yang cukup kuat hingga membuat perut nya terasa sakit, bahkan saking kuat nya Syera sampai terpipis di celana. Untung saja, dia selalu menggunakan pantyliner sekarang agar tidak basah kemana-mana.
"Astaga, seperti nya dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kita. Iya kan, sayang?" Tanya Juan sambil mengusap lembut perut buncit sang istri. Lalu berjongkok, menyejajarkan posisi tubuh nya dengan perut sang istri dan mengecup nya beberapa kali.
"Adek, hanya beberapa hari lagi kita akan bertemu. Jangan nakal sama Mama ya, jangan keras-keras nendang nya kasian Mama." Ucap Juan lirih, seolah dia mengajak bayi nya bicara. Sebagai respon nya, bayi itu kembali menendang perut sang Mama hingga membuat Syera kembali meringis.
"Aassshhh.."
"Adek pinter sekali, adek ngerti kan apa yang papah ucapin? Jangan rewel ya, sebentar lagi kita bertemu." Juan kembali mengecup perut sang istri dan kembali berdiri.
"Ayo masuk, angin malam tidak sesuai dengan kamu, Bby."
__ADS_1
"Hmmm, baiklah." Jawab Syera, kedua nya pun masuk ke dalam kamar. Juan menutup pintu kaca yang menghubungkan kamar dengan balkon dan menutup gordeng nya dengan rapat. Lalu dia pun membaringkan tubuh nya di samping sang istri dan memeluk nya. Kebiasaan baru Juan, sejak Syera hamil adalah selalu mengusap-usap perut buncit istrinya dengan lembut.
Tentu saja Syera takkan menolak hal itu karena dia menyukai nya. Usapan tangan Juan di perut nya, membuat dia merasa lebih nyaman dan akhirnya bisa tertidur dengan nyenyak. Belum lagi pelukan hangat sang suami dan aroma tubuh nya, benar-benar seperti pengantar tidur yang baik bagi Syera.
"Tidurlah istri ku, sayang." Lirih Juan, hingga akhirnya Syera pun tertidur nyenyak di pelukan suami nya. Selalu seperti ini. Syera selalu tidur dalam pelukan Juan, kalau tidak di peluk sudah di pastikan kalau Syera takkan bisa tidur. Kalau pun bisa tidur, pasti gelisah dan tidak nyenyak sama sekali.
Keesokan hari nya, Syera keluar kamar bersama Juan. Suasana pagi ini terasa lebih dingin dari biasa nya, Juan mengernyitkan kening nya saat melihat sang ibu, dan papa mertua nya duduk di ruang tamu dengan saling berhadapan. Mereka terlibat pembicaraan yang cukup serius seperti nya, terlihat dari ekspresi kedua nya.
"Romlah.."
"Iya, ada apa? Kau terlihat serius, apa ada yang ingin di bicarakan?" Tanya Romlah pada Roberts. Pria paruh baya itu menghela nafas nya, lalu menghembuskan nya dengan kasar.
"Maafkan aku."
"Maaf? Tapi untuk apa? Aku rasa kamu tak punya salah padaku."
"Ada, aku punya satu kesalahan yang begitu besar terhadap mu, Romlah." Jawab Roberts, dia menatap wanita yang duduk di depan nya dengan sendu. Kening Romlah mengernyit, ada apa kiranya? Kenapa dengan Roberts, kesalahan seperti apa memang nya yang sudah dia perbuat?
"Apa kita pernah bertemu?"
"Tidak."
"Beberapa tahun silam, kau di tabrak di pertigaan pasar di jalan xxx bukan?" Tanya Roberts, membuat Romlah langsung menganggukan kepala nya. Tentu nya, dia takkan pernah bisa melupakan kejadian naas yang menimpa nya hari itu.
"Iya, apa hubungan nya dengan mu?"
"Mobil sedan berwarna putih, benar?" Tanya pria itu, dia menatap Romlah dengan sendu.
"Aku lupa-lupa ingat, tapi aku rasa memang mobil itu yang melakukan nya."
"Maafkan aku, Romlah. Itu aku."
Degh..
Jantung Romlah terasa berhenti berdetak saat itu juga, begitu juga dengan Juan. Dia menganga tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh papa mertua nya. Dia menganggap kalau Roberts adalah orang sangat baik, tapi nyata nya? Dia menyembunyikan rahasia yang membuat semua orang terkejut, apalagi Syera.
"A-apa?"
"Maafkan aku, saat itu aku sedang buru-buru untuk ke rumah sakit karena istri ku terjatuh di kamar mandi dan mengalami pendarahan yang parah. Jadi, aku membawa mobil ku dengan kecepatan tinggi. Tapi saat di persimpangan jalan itu, aku telat menginjak rem." Jelas Roberts. Romlah terdiam, dia benar-benar tidak menyangka dengan semua ini. Dia terkejut, sangat terkejut saat ini. Dia sudah menganggap kalau Roberts adalah malaikat yang datang untuk menolong nya, tapi ternyata..
__ADS_1
"Sungguh tidak terduga.." Ucap Juan, membuat kedua nya langsung mendongak, di tangga ternyata ada Juan dan Syera yang ikut mendengarkan semua nya dari awal.
"Maaf, aku juga mendapatkan karma yang mungkin setimpal dengan perbuatan ku. Hari itu, aku kehilangan istri dan anak ku sekaligus." Lirih Roberts, membuat kedua mata Romlah membeliak saking terkejutnya.
Juan dan Syera sampai di bawah, tatapan mereka tertuju pada Roberts yang menunduk.
"Tak berpikir kah papah saat itu? Setelah menabrak orang, lalu pergi begitu saja? Apa tidak memikirkan kalau dia adalah tulang punggung keluarga dan dia yang mencari nafkah untuk anak-anak nya? Apakah papah pernah memikirkan bagaimana nasib anak-anak nya seandai nya keadaan nya parah? Pernahkah?" Tanya Juan emosional.
Dari dulu, dia paling tidak suka dengan apapun yang menyakiti ibu nya. Karena bagi nya, sang ibu adalah pahlawan yang harus dia hormati seumur hidup. Perjuangan nya takkan pernah bisa di balas oleh apapun, bahkan saat ini pun Juan masih merasa belum bisa melakukan apapun untuk ibu nya.
Dulu, dia berjanji akan membalas kan setiap rasa sakit yang di alami sang ibu dan adik nya. Sekarang, orang itu ada di depan nya yang sayang nya dia adalah orang tua dari wanita kedua yang paling dia cintai, yakni istrinya.
"Maaf, tapi saat itu keadaan nya juga sangat genting."
"Kau pikir dengan meminta maaf semua rasa sakit yang sudah aku, ibu ku dan adiku telan bisa di muntahkan kembali? Tidak, kata maaf tidak memperbaiki apapun!" Tegas Juan. Sedangkan Syera memilih diam saja, dia benar-benar shock dengan apa yang dia ketahui hari ini.
"Maaf, sungguh aku meminta maaf."
"Meskipun seribu kali kau meminta maaf, aku takkan bisa memaafkan kesalahan mu itu, Tuan Roberts." Jawab Juan, dia bersiap pergi tapi sedetik kemudian dia berbalik begitu melihat sang istri kesakitan.
"Aaasshh, sa-yang.."
"Kenapa, kamu kenapa, Bby?" Tanya Juan panik.
"Perut aku, sakit sekali rasa nya."
"Apa ini kontraksi palsu juga?" Tanya Juan sambil memeluk sang istri.
"Tidak, Juan. Ini bukan kontraksi palsu, seperti nya Syera akan melahirkan. Cepat bawa ke rumah sakit." Ucap Romlah saat melihat cairan yang merembes di kaki menantu nya.
Juan mengangguk dan langsung menggendong sang istri ke mobil. Romlah juga mengikuti di belakang. Sedangkan Sharon, dia membawa tas berisi semua keperluan bayi yang memang sudah di siapkan beberapa hari sebelum nya.
"Biar papa yang mengemudi." Ucap Roberts, dia takkan mungkin membiarkan Juan mengemudi karena dia tengah di landa kemarahan.
Juan mundur dan memilih duduk di belakang bersama Syera, pria itu memeluk sang istri yang sudah terlihat kesakitan. Sharon duduk di depan, Romlah duduk bersama Syera. Dia terus mengusapkan minyak kayu putih di tangan dan perut Syera. Tapi meskipun begitu, ini semua tidak mengurangi rasa sakit yang di rasakan oleh Syera.
......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1