Terjerat Gairah Sang Pengawal

Terjerat Gairah Sang Pengawal
Bab 80 - TGSP


__ADS_3

Buru-buru, Juan menghampiri sang istri. Dia khawatir kalau Devia sampai menyakiti istri nya. Ya meskipun, Juan bisa melihat kalau Syera terlihat mengobrol santai dengan mantan nya itu, tapi tetap saja dia harus waspada mengingat kalau Devia pernah punya niat jahat terhadap dirinya dan sang istri. 


"Sayang.." Panggil Juan membuat Syera dan Devia kompak mendongak. 


"Iya, kenapa sayang?" Tanya Syera sambil tersenyum kecil.


"Ngapain sih kamu sama dia?" Tanya Juan, dia menatap sinis ke arah Devia yang menatap nya dengan sendu. 


"Sayang, dia cuma ngajakin aku ngobrol doang kok. Gapapa kan?"


"Tapi, sayang.."


"Gak usah khawatir, aku baik-baik saja kok. Kan gak mungkin dia nyakitin aku dengan perut besar nya ini." Jawab Syera membuat Juan melirik kilas ke arah perut buncit Devia.


"Ya sudahlah, kalau begitu. Kalau ada apa-apa kamu teriak aja ya?"


"Iya, sudah sana temenin Rinda main. Aku udah gede kok, bisa jaga diri sendiri." Jawab Syera sambil terkekeh. 


"Hmmm, ya sudah." Juan mengusap pelan puncak kepala Syera dan meninggalkan nya bersama Devia. Karena dia melihat dengan kondisi nya saat ini, tak mungkin kalau dia akan menyakiti istri nya. 


"Dia sangat perhatian ya.."


"Hmmm, ya dia suamiku." Jawab Syera sambil tersenyum kecil.


"Iya lah, aku juga sudah punya suami kok. Gak ada niatan mau rebut suami kamu lagi, tenang aja." 


"Baguslah kalau begitu." Jawab Syera.


"Sayang.." panggil seseorang dari arah belakang, Syera hanya tersenyum kecil saat melihat Martin datang dengan seragam berwarna hijau, seragam khas office boy. 


"Iya, Mas.." Jawab Devia, dia pun beranjak dari duduk nya, menyambut suami nya dengan senyuman manis. 


"Kok ada Syera?"


"Aku lagi nemenin Rinda main." Jawab Syera, tanpa menatap wajah Martin.


"Rinda?"


"Adik nya Juan." Jawab Syera lagi, sambil menunjuk kedua orang yang dia sayangi itu dengan dagu nya, Juan dan Rinda yang tengah bermain di area bermain. Kedua nampak sangat bahagia.


"Lalu, kenapa kamu disini? Tidak bergabung dengan mereka?" Tanya Martin.


"Belum, aku sedang beristirahat. Di usia kehamilan ku sekarang, aku mudah lelah, lemas juga."


"Aahhh ya, sudah berapa bulan?" Tanya Devia, sedangkan Martin memutuskan untuk diam. Dia tak mau terlalu akrab dengan Syera, dia tak mau membuat istrinya cemburu. 


"Tiga bulan setengah, barusan aku habis cek kandungan ke dokter. Sekalian ngajak Rinda main kesini, dia belum pernah main di sini." Jawab Syera.


"Ohh begitu, baiklah. Kalau begitu kami pamit dulu."


"Ya, hati-hati di jalan. Sampai jumpa lagi, Devia." Ucap Syera pada Devia, wanita berperut buncit itu hanya tersenyum lalu menganggukan kepala nya. Dia pun pergi dari area bermain anak itu dengan menggandeng mesra lengan Martin, membuat Syera tersenyum kecil. Dia senang kalau akhirnya Devia dan Martin rujuk kembali. Artinya, dia bisa tenang karena suami nya tidak terancam. 


"Sayang, kemarilah.." panggil Juan, Syera pun beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah sang suami.


"Main apa nih? Keliatan nya kalian asik sekali main nya." 


"Ini nih, kakak gak mau ngalah sama Rinda. Curang, menang terus kak." Rengek Rinda.


"Ngalah dong, yang. Kamu kan udah gede." Ucap Syera membela adik nya, karena Rinda masih kecil, jadi ada baiknya kalau Juan sebaiknya mengalah saja bukan?


"Dihh, ngaduan."


"Gapapa, wleekk.." Ucap Rinda sambil menjulurkan lidah nya. Dia tersenyum manis karena melihat interaksi kedua nya.


"Kalian belum capek?"

__ADS_1


"Capek sih, kak." Jawab Rinda.


"Yaudah, yuk udahan main nya. Kita beli es krim gimana?" Ajak Syera, membuat Rinda bersorak kegirangan.


"Mau kak, Rinda mau.." 


"Yaudah, ayo kita beli es krim." Syera pun menggandeng lengan adik nya, membawa nya ke salah stand yang menjual es krim.


"Ngantri, Bby." Ucap Juan, saat melihat stand es krim itu cukup ramai oleh pengunjung yang juga mengantri demi satu cup es krim. 


"Iya nih.."


"Yaudah, kamu sama Rinda mau es krim rasa apa? Biar aku yang antri, kamu duduk aja disini." Ucap Juan, Syera pun menurut dan memilih tempat duduk bersama Rinda.


"Aku es krim vanilla, matcha sama coklat, di gabung gitu, sayang."


"Oke siap, kalau Rinda?" Tanya Juan.


"Rinda mau es krim stroberi sama vanilla aja, kak." Jawab Rinda, Juan pun mengangguk dan dia pun pergi untuk mengantri di depan stand es krim nya. 


"Kak, Rinda ngilu deh duduk disini." Ucap Rinda pelan, membuat Syera mengernyitkan kening nya dengan heran.


"Kenapa, sayang?"


"Tinggi banget, kakak. Keliatan jauh nya." Tunjuk Rinda, dia merasa ngeri sendiri. 


"Ya sudah, ayo kita pindah duduk nya." Ajak Syera, Rinda pun menurut. Mereka pun pindah ke kursi yang agak di tengah, jadi tidak terlihat ketinggian nya. 


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Juan berhasil mendapatkan es krim nya. Dia pun celingukan mencari keberadaan istri dan adik nya, tadi kedua nya duduk di kursi yang ada di sisi. Tapi sekarang kedua nya sudah tak ada disana, bahkan kursi nya nampak kosong sekarang.


"Sayang.." Syera memanggil Juan sambil melambaikan tangan nya, barulah Juan melihat keberadaan kedua nya. Dia pun mendekat dan memberikan es krim pesanan mereka masing-masing.


"Makasih, sayang." Ucap Syera sambil tersenyum, Juan yang memang tidak terlalu menyukai es krim hanya melihat saja kedua wanita nya makan dengan lahap.


"Kenapa kalian pindah?" 


"Ohh iya, Rinda memang agak takut ketinggian Bby."


"Hah, serius? Kenapa kamu gak ngasih tahu aku?" Tanya Syera. 


"Hehe, lupa aku, yang." Jawab Juan sambil cengengesan. Bisa-bisa nya dia melupakan hal semacam ini, padahal mall ini sangat tinggi. 


"Rinda gapapa kok, kakak cantik. Rasa senang nya Rinda karena dia ajakin kesini lebih besar dari pada ketakutan Rinda." Jawab Rinda sambil tersenyum manis.


"Syukurlah, setelah ini kita beli kebutuhan rumah yuk? Istilah nya belanja bulanan."


"Sayang, uang nya jangan di hambur-hamburin." Ucap Juan, dia kurang setuju dengan usulan dari sang istri. 


"Siapa yang hamburin uang sih? Kamu gak lihat beras di rumah mama tinggal sedikit?" Tanya Syera, Juan menggelengkan kepala nya. Dia tidak membuka ember yang biasa nya selalu di isi beras oleh sang ibu, tapi Syera melihat nya. Hanya ada sedikit beras di dalam ember itu, paling untuk satu atau dua kali masak lagi maka beras itu akan habis.


"Aku gak tahu, Bby."


"Paling cuma ada buat sekali atau dua kali masak, yang. Jadi, kita harus beli beras sama kebutuhan lain. Jujur nih, aku malah lebih betah tinggal di rumah kamu. Gapapa kan ya?" 


"Gapapa dong, yang. Tapi apa yang bikin kamu betah tinggal di rumah itu, sayang? Sudah reot, dan bocor dimana-mana."


"Bukan tentang rumah nya, tapi orang yang ada di dalam nya yang membuat aku betah tinggal disana, sayang." Jawab Syera sambil tersenyum manis.


"Hmmm, baiklah terserah kamu saja, sayang." Juan tersenyum kecil sambil mengelus lembut puncak kepala sang istri. 


"Kakak cantik, Rinda mau coklat, boleh?"


"Boleh, sayang. Sekarang, habisin dulu es krim nya. Terus kita ke supermarket ya, sekalian." Ucap Syera, Rinda pun menganggukan kepala nya dan kembali memakan es krim nya dengan lahap. 


Setelah selesai dengan es krim, kini ketiga nya pun sedang berjalan-jalan di supermarket. Syera menggenggam tangan Rinda sambil melihat-lihat kira nya bahan apa saja yang akan dia beli, di ikuti oleh Juan di belakang mereka sambil mendorong troli yang masih kosong. 

__ADS_1


Pilihan pertama Syera jatuh pada etalase berisi aneka macam buah-buahan, dia mengambil sekotak anggur hijau, juga satu kotak anggur merah. 


"Sayang, kamu mau buah apa?" Tanya Syera, karena sedari tadi Rinda hanya diam saja. 


"Apel, kakak cantik." Jawab Rinda sambil tersenyum.


"Oke, ini apel yang ini. Enak banget, manis dan banyak air nya." Syera memilih apel berwarna merah dengan harga yang cukup mahal jika hanya untuk dua buah apel saja.


"Makasih kakak cantik."


"Sama-sama, sayang." Jawab Syera sambil mengusap lembut puncak kepala adik nya. 


"Mau apa lagi?"


"Terserah kakak cantik aja." 


"Beli jeruk deh, kakak kamu suka jeruk kan?" Tanya Syera, Rinda menganggukan kepala nya. Juan memang menyukai buah jeruk, karena menurut nya rasa buah jeruk selalu menyegarkan kapan pun, juga tidak pernah membosankan bagi Juan. 


Saat dia mabuk karena morning sickness sebelum dia mengetahui kalau Syera tengah mengandung, Juan selalu memakan buah jeruk untuk mengusir sedikit rasa mual nya. 


"Beli dua kilo, yang." Ucap Juan dari belakang, Syera pun mengangguk dan memilih jeruk yang bagus. Meskipun semua nya terlihat bagus karena berada di supermarket pasti buah-buahan dengan kualitas terbaik. Tapi, yang nama nya perempuan kurang afdol rasa nya kalau tidak di pilih-pilih dulu ya kan? Termasuk author sendiri yang begini.


"Siap, ayang." 


Setelah cukup lama berkeliling, Rinda terus saja menatap ke arah etalase berisi daging-dagingan. Ingin sekali gadis kecil itu memakan rendang daging, sudah lama dia menginginkan nya, namun tak berani mengatakan nya karena dia tahu bagaimana keadaan ekonomi keluarga nya. Memang ada kakak nya yang bekerja, tapi dia bekerja juga sudah banyak beban yang harus dia tanggung. 


"Kenapa? Rinda mau daging?" Tanya Syera.


"I-iya kak, Rinda pengen deh makan rendang. Tapi selalu gak ada uang buat beli daging nya."


"Kita beli ya, terus biar kakak yang masak nanti." Ucap Syera, dia pun mengambil daging sapi untuk di buat rendang. 


"Memang nya kamu bisa masak rendang, Bby?"


"Hehe, enggak yang. Tapi, Mama pasti bisa kan? Aku bisa belajar resep nya dari mamer nanti." Jawab Syera sambil terkekeh. Begitu juga dengan Juan, dia gemas dengan tingkah sang istri. Selalu saja ada yang membuat wanita itu terlihat sangat menggemaskan di mata Juan.


"Kita beli sayuran juga, sekalian." Syera pun memilih sayur-sayuran, tak lupa juga membeli dua karung beras dan kebutuhan lain. Bahkan sabun mandi juga dia membeli nya sekalian. 


"Selesai? Kita pulang yuk.." ajak Syera, merasa semua kebutuhan dan barang-barang nya sudah dia dapatkan semua. Syera juga menepati janji nya untuk membelikan adik nya beberapa batang coklat kesukaan nya, juga cemilan. 


Syera membayar belanjaan nya dengan kartu kredit yang dia miliki, lalu Juan membawakan nya, sedangkan dua wanita itu bergandengan tangan di depan pria tampan itu. Meskipun sejujurnya, Juan lelah dan lemas tapi demi kebahagiaan istri nya dia pun rela untuk di bawa berjalan-jalan.


Setelah beberapa jam berkeliling di mall, akhirnya ketiga nya pun memutuskan untuk pulang. Rinda sampai ketiduran di mobil, mungkin karena kelelahan setelah seharian bermain di mall, lanjut berkeliling di supermarket, sekarang harus pulang. Tapi, seperti nya Syera masih belum selesai. Maklum lah ya kan, dia kan ibu hamil. Jadi seperti punya tenaga lebih untuk mengerjai orang terdekat nya, padahal otak Juan sudah berada di atas kasur sekarang.


"Sayang, mau bakso." Rengek Syera yang membuat Juan menghembuskan nafas nya dengan kasar. Dia sudah ingin beristirahat, tapi istri nya masih belum selesai juga.


"Bakso dimana? Aku pengen tidur nih, capek."


"Adek bayi nya yang pengen, masa kamu tega sih, Bby?"


"Iya iya, bakso dimana?" 


"Di pertigaan aja, yang biasa." Jawab Syera sambil tersenyum, akhirnya Juan pun hanya mengiyakan keinginan sang istri. 


Hingga sampai di pertigaan, Syera pun menunggu di dalam mobil karena ada banyak belanjaan di mobil dan ada Rinda yang tertidur. 


"Es jeruk nya jangan lupa."


"Siap kanjeng ratu." Jawab Juan sambil tersenyum, dia pun turun dan membeli beberapa bungkus bakso. Dia juga membelikan bakso untuk sang Mama, Rinda, Syera, juga dirinya tentu nya. Ya kali dia gak beli bakso ya kan? Setelah capek-capek seharian, masa gak bisa makan bakso yang terasa menyegarkan apalagi kalau kuah nya di beri sedikit cuka atau jeruk, jangan lupa cabe nya.


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Juan pun mendapatkan bakso juga es jeruk pesanan sang bumil. Dia bersorak kegirangan dan langsung meminum es jeruk nya di mobil.


Juan hanya menggelengkan kepala nya, padahal mereka berjalan-jalan seharian, tapi mood Syera terlihat baik-baik saja. Bahkan sempat-sempatnya dia melakukan hal-hal yang cukup membuat nya hanya bisa menghela nafas. Seperti saat ini, dia menari-nari karena mendengar lagu K-Pop kesukaan nya. 


'Apa dia gak capek ya? Tapi dia kan ibu hamil ya? Katanya lemes, tapi ini mah baterai nya seratus persen.' Batin Juan.

__ADS_1


......


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2