
"Kakak cantik.." Rinda menghambur memeluk Syera yang baru saja turun dari mobil, dia juga merentangkan kedua tangan nya dan menyambut Rinda ke dalam pelukan nya.
"Hai, anak cantik. Apa kabar?"
"Rinda baik, kak. Kakak cantik gimana?"
"Kakak cantik juga baik kok." Jawab Syera, dia ingin menggendong Rinda seperti biasa nya, tapi Juan langsung melarang nya.
"Sayang, kamu gak boleh bawa beban berat."
"Aisshh, aku lupa, sayang. Maaf."
"Iya gapapa, Rinda gak kangen sama kakak?"
"Kangen juga dong." Anak kecil itu gantian menghambur memeluk Kakak nya dengan erat. Syera tersenyum melihat interaksi kakak adik yang terlihat begitu akur itu.
"Maafin kakak gak bisa gendong kamu seperti biasa nya, sayang." Ucap Syera sambil mengusap lembut puncak kepala Rinda.
"Memang nya kenapa, kakak?"
"Nanti, adek bayi nya kejepit kalau Rinda kekeuh mau di gendong."
"Adek bayi? Maksud nya apa, Kak?" Tanya Rinda polos, yang membuat Syera terkekeh. Adik nya memang masih kecil, tentu saja dia tumbuh sesuai dengan usia nya. Rinda menatap Syera, lalu kembali menatap ke arah sang kakak.
"Kakak cantik lagi hamil, di dalam sana ada adek bayi."
"Hah, ada adek bayi?"
"Iya, adek bayi. Adek nya Rinda nanti."
"Wahh, kakak cantik lagi hamil ya. Rinda seneng banget, selamat ya kakak cantik." Ucap Rinda, dia melepaskan pelukan pada sang kakak, lalu kembali memeluk Syera yang sedang berdiri. Hingga Rinda hanya bisa memeluk perut Syera, karena tinggi Rinda memang hanya seperut Syera.
"Hai, adek bayi..". Ucap Rinda sambil mengusap-usap perut rata Syera.
"Hai juga kakak." Jawab Syera yang menirukan suara anak kecil.
"Plis, ini terlalu menggemaskan." Gumam Juan, dia selalu gemas melihat tingkah Rinda saat bersama Syera.
"Masuk yuk?" Ajak Juan, Syera pun mengangguk dan mengikuti langkah suami nya dari belakang, tentu nya dengan menggandeng tangan adik nya.
"Eehh, kalian lagi main apa?"
"Bekel, kak." Jawab teman-teman nya Rinda yang masih bermain di teras.
"Maaf ya, aku seneng banget kakak cantik datang, sampai lupa kalau kita lagi main."
"Gapapa kok, Rin." Jawab mereka.
"Ini gimana cara main nya?" Tanya Syera, dia ikutan duduk lesehan di teras bersama Rinda dan teman-teman nya. Sedangkan Juan menggelengkan kepala nya, lalu tersenyum kecil.
Syera terbiasa hidup di kalangan orang kaya, jadi mana mungkin dia main bekel? Yang ada mungkin hanya main yang lain waktu dia masih sekolah dasar.
"Gini kak.." Ucap salah satu teman Rinda dan menunjukkan cara bermain nya pada Syera, gadis itu nampak menyimak dengan seksama setiap gerak gerik gadis kecil itu.
__ADS_1
"Ohh, gitu ya cara main nya. Kakak mau nyoba dong, kayak nya gampang." Ucap Syera, mereka pun memberikan bola karet dan mainan lain nya. Syera mencoba namun beberapa kali bola nya tak bisa dia tangkap, hingga menggelinding cukup jauh.
Rinda dan teman-teman nya tertawa melihat Syera yang tak bisa bermain bekel, padahal anak-anak disini semua nya jago bermain bekel karena ini adalah mainan mereka sehari-hari.
"Isshh, lagi ya? Gapapa kan?" Tanya Syera.
"Gapapa dong, Kak. Main aja, coba terus sampe bisa." Ucap Rinda, karena bola bekel nya adalah miliknya.
"Oke, adik ku." Jawab Syera, dia pun kembali mencoba. Namun sayang sekali, setelah sekian lama mencoba dan mencoba, Syera masih juga gagal membuat nya badmood seketika.
"Aisshh, kok gak bisa-bisa sih." Kesal nya, membuat teman-teman Rinda terkekeh, begitu juga dengan adik kecil cantik nya itu. Itu membuktikan bahwa apapun yang terlihat mudah, takkan semudah itu setelah kalian mencoba nya sendiri.
"Sabar kakak, nama nya juga masih belajar."
"Sebel kakak tuh, tapi kakak gak bakalan berhenti sebelum kakak bisa." Jawab Syera, dia bertekad harus bisa memainkan benda itu.
Kebetulan, ada tukang jajanan yang mampir. Fokus Syera teralihkan dan malah meminta pedagang itu untuk berhenti.
"Beli, bang." Abang-abang itu pun mendekat.
"Jualan apa, bang?" Tanya Syera sambil mendekat.
"Cilok, neng."
"Aku beli lima ribu." Ucap Syera.
"Di plastik atau pake wadah?"
"Pake wadah aja, bang." Jawab Syera, abang-abang itu pun mengambil wadah berbentuk seperti gelas plastik dan mengambil cilok nya sesuai porsi.
"Ayo, kalian mau atau tidak?" Tanya Syera lagi.
"M-au.."
"Oke, sini kalian nya." Mereka pun menghambur mendekati ke abang-abang itu dan mengambil masing-masing cilok bumbu kacang yang terlihat sangat menggoda memang.
"Ayang.." Panggil Syera sedikit keras, membuat Juan langsung keluar. Dia keluar sambil membawa piring berisi nasi dan ikan goreng.
"Kenapa, sayang?"
"Mau jajan cilok gak?"
"Enggak, aku lagi makan." Jawab Juan sambil duduk di kursi bambu.
"Yaudah." Jawab Syera, dia pun membayar cilok nya dan abang-abang itu pun pergi. Tak lupa, Syera melebihkan uang nya, biarlah. Anggap saja itu sebagai sedekah.
"Kamu traktir anak-anak ini, sayang?"
"Iya, kasian kalo aku cuma beliin Rinda doang kan. Lagian, gapapa kita berbagi." Jawab Syera, membuat Juan tersenyum. Istri nya memang memiliki hati yang sangat baik. Sudah mah cantik, baik hati, pintar dan tidak sombong, sudah fiks kalau Syera adalah paket komplit.
"Mama mana?"
"Di dalem lagi tidur, kamu sih malah asik main bekel."
__ADS_1
"Hehe, habis nya keliatan seru terus gampang. Tapi, pas di cobain kok susah ya, gagal terus."
"Hmmm, ya memang seperti itu kalau kamu masih belajar, sayang."
"Iya, sayangku." Jawab Syera sambil tersenyum, lalu mata nya fokus menatap makanan di piring Juan yang terlihat sangat menggoda bagi nya yang akhir-akhir ini sering lapar.
"Kamu makan sama apa ini, yang?"
"Ikan goreng, mau?" Tawar Juan, Syera mengangguk dengan cepat. Juan pun mengambil daging ikan dan memastikan tidak ada diri disana, lalu menambahkan nasi dan menyuapi Syera.
"Enak kan?" Syera mengangguk, karena mulut nya penuh berisi nasi dan ikan hingga membuat pipi nya menggembung.
"Yaudah, kamu juga makan kalo gitu." Juan pun makan sambil menyuapi istri nya, jadi kedua nya sama-sama kenyang. Hingga Syera tak mampu menghabiskan cilok yang tadi dia beli.
"Itu cilok nya gak di habisin, yang?" Tanya Juan, Syera menggeleng. Perut nya sangat kenyang setelah makan di suapi oleh sang suami.
"Kenyang, sayang."
"Yaudah, aku habisin boleh?" Tanya Juan, dia harus izin dulu kan bisa berabe kalau istri nya merajuk kalau cilok nya habis. Lalu, nanti dia merengek ingin di belikan lagi, kemana dia harus mencari pedagang itu? Nama nya pedagang kan ya pasti ngider ke tempat-tempat yang mungkin sampai ke pelosok.
"Iya, makan aja."
Juan pun memakan cilok sisa istrinya dengan lahap. Ya, cukup menunggu sisaan seperti ini saja sudah cukup membahagiakan bagi Juan. Apalagi istri nya yang tak banyak menuntut atau mengidam yang berlebihan. Tapi, Syera mengidam nya cukup berbeda dengan ibu hamil kebanyakan.
Jika ibu hamil pada umum nya akan mengidam rujak, atau memakan buah mangga muda, nah justru Syera tidak mengidam makanan seperti itu. Tapi, uniknya Syera malah mengidam untuk selalu melakukan hubungan ranjang. Juan tentu nya senang-senang saja karena itu juga kegiatan favorit nya, tapi tetap saja dia khawatir karena kata dokter dia tak boleh sering-sering melakukan nya.
Dokter menyarankan seminggu hanya boleh melakukan hubungan itu paling banyak tiga kali, tapi ini setiap malam dia dan Syera melakukan nya. Tapi syukurlah, sejauh ini tidak pernah terjadi apapun.
Setelah selesai dengan rasa kenyang nya, Syera pun kembali belajar memainkan bola bekel, hingga akhirnya berkat kerja keras nya, Syera pun akhirnya bisa memainkan bola bekel itu.
"Wah, kakak cantik hebat. Udah bisa main bola bekel." Ucap Rinda memuji kakak ipar nya yang sudah bisa bermain bekel.
"Iya dong, makanya jangan putus asa. Udah aahh main nya, kakak mau masuk dulu."
"Yaah, kok udahan sih main nya kak?" Tanya Rinda dan teman-teman nya.
"Kakak pengen pipis, udah berat banget hehe." Jawab Syera, dia pun buru-buru masuk ke dalam rumah untuk menunaikan hajat nya.
"Kakak ipar kamu cantik sekali."
"Iya, dia juga baik dan menyenangkan." Jawab Rinda sambil tersenyum, dia bahagia karena akhirnya gadis cantik yang menjadi idola nya kini menjadi kakak ipar nya dia bahagia, sangat bahagia.
"Iya, pasti menyenangkan ya punya kakak seceria kak Syera." Ucap yang lain nya membuat Rinda hanya tersenyum. Nyata nya memang benar, Rinda senang karena kakak nya menikah dengan kakak cantik nya.
Syera keluar dari kamar mandi sambil memegangi perut nya, yang membuat Juan khawatir. Dia yang ingin minum, langsung melupakan niat nya itu karena melihat istrinya.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Kenapa apa nya?" Tanya Syera datar, dia tidak mengerti apa maksud pertanyaan suami nya.
"Itu megangin perut, kamu kenapa? Perut nya sakit? Kalau iya, aku kan udah bilang jangan terlalu banyak makan pedas, kita juga gak boleh terlalu sering main, jadinya.." Celotehan Juan terpotong saat Syera meletakan satu jemari nya tepat di bibir Juan.
"Aku gak kenapa-napa, aku megangi perut karena celana nya terasa agak sesak dikit, itu saja." Jawab Syera yang membuat Juan tersenyum lega. Kalau begitu, dia sudah salah paham dengan menyangka kalau istri nya saking perut, makanya perut nya di pegangi. Padahal mungkin agak terasa sesak karena ke kenyangan, ada-ada saja memang istri cantik nya itu.
__ADS_1
.....
🌻🌻🌻🌻