Terjerat Gairah Sang Pengawal

Terjerat Gairah Sang Pengawal
Bab 75 - TGSP


__ADS_3

Keesokan hari nya, Juan bangun lebih awal karena hari ini dia akan mulai bekerja di perusahaan papa mertua nya. Dia tak enak jika harus membuat papa nya menunggu, maka dari itu Juan bangun lebih awal dan bersiap-siap tanpa membangunkan sang istri yang masih terlelap dengan nyenyak di atas kasur empuk nya. 


Juan mengambil pakaian yang berserakan di lantai dan menyimpan nya ke dalam keranjang cucian. Bisa di tebak kan habis ngapain? Ya habis main kuda-kudaan, maklum lah masih pengantin baru, jadi bawaan nya mau terus. Bahkan semalam, Syera meminta tambahan ronde. Entah karena merasa kurang atau memang doyan, hanya Syera yang tahu. 


Tapi, semenjak hamil Syera memang lebih agresif, tak jarang membuat Juan heran sendiri. Bukti nya seperti waktu di dalam mobil hari itu, Syera memakan junior Juan dengan lahap, padahal itu adalah pertama kali nya dan sebelum nya Syera tak pernah mau kalau Juan meminta nya melakukan hal seperti itu. 


Juan keluar dari kamar mandi dengan handuk selutut yang hanya menutupi area sensitif nya, air menetes dari rambut nya yang basah. Sudah bisa di pastikan kalau dia habis keramas wajib di pagi hari. Syera yang merasa terusik dengan aroma sabun dan shampoo yang menguar dari tubuh Juan merasa terusik dan akhirnya membuka kedua mata nya dengan perlahan. 


"Ayang.." Panggil Syera dengan suara serak nya, membuat Juan yang tengah memakai boxer nya itu berbalik dan tersenyum saat melihat istrinya sudah membuka kedua mata nya.


"Iya, sayang. Udah bangun?" Tanya Juan sambil mendekat, lalu mengusap puncak kepala Syera dan mengecup singkat kening nya dengan mesra.


"Udah, yang."


"Aku terlalu berisik ya? Sampe ngebangunin kamu." Tanya Juan. Syera menggeleng, bukan karena berisik dia terbangun dari tidur nyenyak nya, tapi karena aroma sabun yang menguar dari tubuh Juan membuat sesuatu di bawah tubuh nya berkedut. 


"Enggak, tapi aroma kamu yang bikin aku bangun, sayang."


"Hmm, gitu ya?"


"Iya, sayang. Kamu udah mandi pagi-pagi begini, memang nya mau kemana hmm?" Tanya Syera sambil beranjak dari tidur nya dan bersandar di kepala ranjang sambil menutupi dada nya dengan selimut. 


"Aku di ajakin ke kantor sama papah, sayang." 


"Hari ini?" Tanya Syera menatap tak percaya ke arah sang suami.


"Iya, memang nya kenapa?" Tanya Juan yang membuat Syera tergelak seketika.


"Sayang, kamu ke perusahaan mau ngapain?"


"Kerja dong, Bby. Ngapain lagi?" 


"Astaga sayang, ini hari minggu lho." Jawab Syera membuat kening Juan berkerut. Apa iya ini hari minggu? Juan mengambil ponsel milik nya dan melihat hari disana, benar sekarang adalah hari minggu. 


"Tapi, kata papah.."


"Papah ngerjain kamu itu, sayang." Jawab Syera sambil terkekeh pelan.


"Begitu ya, astaga papah kamu sangat jahil, sayang."


"Iya, papah memang begitu. Wajah datar nya hanya pencitraan doang, sayang." Jawab Syera yang membuat Juan menggelengkan kepala nya. Hampir saja dia terjebak oleh kejahilan papa mertua nya. 


"Yaudah deh, gapapa. Mandi pagi kan emang seger, Bby." Jawab Juan.


"Ronde tambahan, gimana?" Tanya Syera yang membuat Juan melotot seketika.


"Sayang, semalem aja kamu udah minta tambahan ronde, masa sekarang minta tambah lagi." 


"Memang nya kenapa? Kamu gak mau, atau gak suka? Jangan-jangan kamu bosen ya?"


"Astaga, sayang. Bukan begitu, aku sih suka-suka aja, toh aku memang doyan kan. Goyang kamu gak pernah bikin aku bosen, Bby." Jelas Juan, dia tak terima di tuduh seperti itu oleh sang istri. Fakta nya, dia sangat menyukai tubuh istri nya. Kalau tak mengingat Syera sedang hamil saat ini, dia ingin terus melakukan nya.


"Ya terus, kenapa kamu keliatan kayak gak mau gitu, sayang?" 


"Apa itu gak bakalan berpengaruh sama anak kita? Soalnya, kata dokter kan gak boleh sering-sering main nya. Cukup seminggu tiga kali aja main nya, gimana dong?"


"Tapi ini kan adek bayi nya yang mau di jengukin sama papah nya, sayang." Rengek Syera yang membuat Juan akhirnya tak tega dan mengiyakan saja keinginan istri cantik nya.


"Yaudah, ayo. Tapi, sekali aja ya?" 


"Iya, sayang. Makasih." Wajah Syera yang tadi nya sendu langsung berubah, wajah itu nampak berbinar cerah setelah Juan mengiyakan keinginan nya.


Syera pun membuka selimut nya, terpampang lah tubuh Syera yang begitu menggoda di depan mata Juan. Kalau tidak di tahan, mungkin saja Juan sudah ngeces saat ini saat melihat keindahan tubuh istrinya.

__ADS_1


Memang, ini bukanlah yang pertama atau kedua kali nya, dia melihat tubuh Syera yang indah. Tapi, setiap melihat nya dia selalu di buat takjub. Padahal, tadi malam dia juga sudah menikmati tubuh itu beberapa kali. 


"You look so hot, baby." Ucap Juan lirih yang membuat Syera tersenyum genit.


"Kamu menunggu apa lagi, sayang? Datanglah, aku menunggu." Jawab Syera, tanpa ragu Juan pun langsung mencium bibir manis istrinya dengan brutal, dia tak tahan saat mendengar kata-kata yang keluar dari bibir mungil sang istri. Jadi, sebagai hukuman dia langsung meraup nya dengan brutal hingga membuat Syera kesulitan untuk mengimbangi permainan bibir dan lidah suami nya.


"Ummhhh.." Syera melenguuh pelan saat tangan Juan merayap ke area sensitif nya di bagian bawah. Menyelipkan salah satu jari nya dan mengusap nya naik turun, membuat Syera merapatkan kaki nya, sensasi yang membuat nya menggila.


"Aaasshhh.." Syera memekik tertahan saat jari tengah Juan terasa menusuuk bagian inti nya dan mengeluar masukkan nya dengan perlahan. 


Juan menyudahi ciuman nya, dia pun berpindah ke leher dan menyesap nya hingga meninggalkan bekas kemerahan yang berjejer rapi disana. Syera juga tidak melarang saat suami nya memberikan banyak tanda disana, biarkan saja toh dia menikmati nya. Lagi pula, dia sudah punya suami jadi tak ada yang salah dengan tanda kemerahan seperti ini.


"Ssshhh.." Syera kembali mendesis tertahan saat Juan menguluum buah ceri di puncak bukit kembar nya dengan rakus, menyesap nya dengan kuat seperti bayi yang menyusu pada ibu nya.


"Pelan-pelan, sayang. Sakit, ngilu juga." Ucap Syera sambil mengusap pelan kepala belakang Juan dengan lembut. 


"Maaf, kalau aku menyakiti mu, sayang."


"Yeah, tidak apa-apa, sayang." Jawab Syera, Juan pun kembali melanjutkan kegiatan nya hingga beberapa menit kemudian dia sudah merasa tak tahan dengan junior nya yang terus meronta meminta di lepaskan dari sangkar nya. 


Juan pun membuka kain yang tadi menutupi junior nya, lalu menindih pelan sang istri dan mengarahkan kepala si junior ke arah pintu masuk milik Syera yang sudah cukup basah. 


Juan mendorong nya secara perlahan, dan berhasil masuk sepenuhnya. Syera memejamkan mata nya, dia selalu terkejut saat junior milik suami nya itu masuk sepenuh nya ke dalam nya. Meski sudah sering di masuki, tetap saja rasa nya junior suami nya terlalu besar. Begitu juga yang di rasakan Juan, dia sudah seringkali memasuki istri nya, tapi rasa nya masih sempit, sama seperti saat pertama kali nya dia melakukan nya. 


Juan pun mulai bergerak, membuat Syera mendesaah tak karuan karena gerakan suami nya itu. Pagi itu, mereka kembali melakukan penyatuan, berbagi keringat dengan nikmat nya. 


Sedangkan di bawah, Roberts terus saja menatap ke arah tangga di mana ada kamar putri nya di atas. Ya, kamar putri dan suami nya sekarang. Jam di pergelangan tangan nya sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, tapi kedua insan itu belum juga turun.


"Kenapa sih, Mas? Dari tadi aku perhatiin kamu liatin tangga terus, ada apa?" Tanya Sharon sambil meletakan secangkir kopi hitam di meja, sebagai teman Roberts membaca koran pagi. 


"Juan sama Syera kok belum turun juga ya?"


"Astaga, Mas. Gak usahlah di tungguin, mereka kan pengantin baru." 


"Maksud nya?"


"Hmm?"


"E-eehh, enggak kok Mas." Jawab Sharon, dia pun memilih memakan salad buah dari pada lebih banyak bertanya. Bisa-bisa kepolosan nya hilang sebelum waktu nya.


"Awas saja kalau Juan sampai membuat Syera kesakitan, Mas bakalan pites kepala nya." 


"Gak boleh gitu, Mas. Itu kan kebutuhan gitu, mereka udah nikah jadi boleh-boleh aja selagi mereka mau. Kalau capek atau sakit, Syera juga bakalan protes. Juan juga bakalan ngerti dan gak bakalan maksa Syera buat terus melayani dia, Mas." Jelas Sharon panjang lebar. 


"Hmmm, iya juga sih. Keliatan nya Juan juga sangat menyayangi dan menjaga Syera, tapi tetap saja Mas ngerasa kesal."


"Mungkin karena Mas udah lama gak dapet jatah semacam itu, iya kan?"


"Iya, kamu benar. Jadi, apa kamu mau memberikan nya, sayang?" Tanya Roberts nakal membuat wajah Sharon memerah.


"B-boleh, Mas."


"Hah, yang bener kamu?" Tanya Roberts, dia terkejut saat mendengar jawaban Sharon.


"H-aahh, apa Mas?" Balik tanya Sharon, yang membuat Roberts terkekeh. 


"Tidak, sayang." Sharon hanya menunjukkan wajah cengo nya, Roberts terkekeh lagi lalu mengacak rambut Sharon dengan gemas. Inilah yang dia suka dari Sharon, dia menggemaskan.


Selang beberapa menit kemudian, Juan dan Syera turun dari kamar dengan saling berpegangan tangan, rambut kedua nya sama-sama basah yang menandakan kalau mereka berdua habis keramas.


"Wahh, pasangan pengantin kita baru turun. Pagi sekali kalian turun nya ya?" Sindir Roberts yang membuat Juan memalingkan wajah nya ke samping, sedangkan Syera hanya nyengir seolah tanpa dosa.


"Hehe, papah kayak gak pernah muda aja deh." Jawab Syera yang membuat Roberts mendelik.

__ADS_1


"Bukan gak pernah muda, tapi ini kalian baru turun jam segini, apa gak lapar? Ingat, kamu sedang hamil gak boleh telat makan." 


"Iya iya, ya sudah kalo gitu Syera sama Juan mau makan dulu ya, pah." Jawab Syera, dia pun menarik tangan Juan ke ruang makan untuk sarapan yang mungkin saja merangkap jadi makan siang karena sekarang sudah jam sepuluh. 


Syera pun berbinar saat melihat menu makanan nya hari ini, semua makanan kesukaan nya. Siapa yang memasak nya? Pasti Sharon. 


"Selamat makan, Syer." 


"Makasih, ini semua kamu yang masak?"


"Iya, semoga suka ya. Salad buah nya di kulkas, jangan lupa di habisin." Ucap Sharon, lalu dia pergi dari dapur dan meninggalkan Syera dan Juan untuk makan. 


Syera mengambilkan nasi dan lauk nya untuk Juan, lalu meletakan nya di depan sang suami. Juan makan dengan lahap, begitu juga dengan Syera. Kedua nya sama-sama kelelahan setelah berolahraga bersama di atas ranjang yang banyak membuat keringat. 


"Enak kan?"


"Iya, sayang." Jawab Juan sambil tersenyum, tapi beberapa detik kemudian senyuman manis Juan luntur seketika. Tentu saja hal itu membuat Syera heran dengan perubahan ekspresi Juan.


"Kamu kenapa, sayang?" Tanya Syera, Juan menunduk lalu menggelengkan kepala nya. 


"Kamu gak pandai berbohong lho, aku tahu kamu lagi bohong. Ayo cerita sama aku, kamu kenapa?" 


"Aku inget sama Mama juga Rinda di rumah, disini aku makan enak apa mereka makan dengan baik ya?" Jawab Juan lirih.


"Kita lihat nanti ya, jangan sedih." 


"Maksud kamu?" Tanya Juan.


"Iya, nanti kita berkunjung ke rumah kamu, yuk?" 


"Ngapain?" 


"Ya lihat aja keadaan Mama sama Rinda, sayangku."


"Hmmm, yaudah iya, sayang." Jawab Juan lesu, dia pun melanjutkan makan nya dengan pelan. Tak selahap tadi, pikiran nya melayang jauh pada sang ibu dan adiknya yang masih hidup jauh dari kata layak di sana. 


Setelah selesai makan, Syera pun berpamitan pada sang papah untuk pergi berkunjung ke tempat Juan, menjenguk Mama dan adiknya Juan. Memastikan apa mereka baik-baik saja. 


"Ya, hati-hati dan jangan larut malam pulang nya."


"Kita mau nginep disana." Ucap Syera yang membuat Juan menatap ke arah istrinya, dia tak ada mengatakan atau mengajak Istrinya menginap.


"Ohh, ya sudah. Hati-hati di jalan nya, jangan kebut-kebutan."


"Baik, pah. Kalau begitu kami berdua pamit dulu."


"Iya, Ju. Nitip Syera ya?" Ucap Roberts, Juan pun menganggukan kepala nya dan kedua nya pun keluar dari rumah dengan Syera yang menggandeng mesra lengan sang suami.


Juan pun membukakan pintu mobil nya untuk sang istri, lalu memastikan agar istri nya duduk dengan nyaman, barulah Juan menutup pintu mobil nya lalu ikut masuk dan duduk di belakang kemudi. 


"Udah siap, Bby?"


"Siap, ayang." Jawab Syera, Juan pun terkekeh, lalu menghidupkan mesin mobil nya dan mengemudikan nya menjauhi rumah besar milik Roberts. 


Sepanjang perjalanan, Syera terus saja berceloteh dengan cepat, bahkan mungkin saking cepat nya dia lupa mengambil nafas nya. Juan hanya bisa mendengarkan saja, kalau tidak di dengarkan bisa bahaya nanti. Bisa saja istri cantik nya ini merajuk dan itu akan merugikan bagi kesejahteraan junior nya.


Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya mobil yang di kendarai Juan pun sampai di pelataran rumah nya. Di teras, ada Rinda yang sedang bermain bekel bersama beberapa teman nya. Begitu mendengar suara deru mesin mobil, gadis kecil itu langsung beranjak dari duduknya dan saat melihat Syera yang turun dari mobil, Rinda langsung menghambur memeluk kakak nya.


"Kakak cantik.." Teriak nya kegirangan, syera pun menyambut gadis kecil itu dengan merentangkan kedua tangan nya dan membalas pelukan Rinda. 


.......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2