Terjerat Gairah Sang Pengawal

Terjerat Gairah Sang Pengawal
Bab 39 - TGSP


__ADS_3

"Ayang, kok murung? Kenapa?" Tanya Syera, dia mengikuti Juan ke kamar dan melihat kalau pria itu sedang menunduk.


"Enggak kok, yang. Cuma ngerasa belum siap aja besok udah pisah sama kamu."


"Sayang, jangan bicara seperti itu dong? Nanti aku nya ikut sedih, kita bakalan sering ketemu kok." Syera mengusap wajah tampan Juan dengan lembut, lalu tersenyum tipis.


"Hmm, maafin aku ya?"


"Maaf untuk apa? Gak ada yang harus di maafkan, sayang." Jawab Syera. Juan pun langsung menarik Syera ke dalam pelukan nya. Syera menyandarkan kepala nya di dada bidang Juan, tangan nya merabaa pelan permukaan dada Juan yang cukup sensitif, membuat pria itu memejamkan mata nya menikmati usapan halus dari tangan Syera.


"Harus nya aku gak gini, harusnya aku senang kalau kamu mau pulang ke rumah kamu. Tapi, aku malah sebaliknya." 


"Gapapa sayang, aku laper hehe. Makan yuk? Mama juga gapapa kok, tadi pas aku masuk beliau sedang menyiangi sayuran." Ucap Syera sambil terkekeh.


"Yaudah, ayo makan." Ajak Juan, kedua nya pun keluar dari kamar dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lain. Romlah merasa senang karena akhirnya sang putra menemukan tambatan hati nya, meskipun dia ragu apakah putra nya takkan tersakiti dengan mencintai? Seperti dirinya dulu. 


Namun, takdir tak ada yang tahu. Semoga saja, putra nya tak mengalami apa yang dulu dia alami agar bisa hidup dengan mendiang suami nya. Ada banyak rasa sakit yang dia rasakan dulu, tapi suami nya selalu menguatkan nya dan itu membuat Romlah bergantung pada suami nya.


Jadi, saat kepergian suami nya dia sangat menderita, bahkan pernah sampai depresi. Tapi, dalam mimpi mendiang suami nya datang dan memberikan beberapa nasihat, itulah yang membuat nya perlahan sembuh. 


"Mama.." Sapa Syera pada Romlah, wanita baya itu tersenyum manis. 


"Iya, sayang. Ada apa?" Tanya Romlah pada Syera. 


"Syera mau belajar bikin sayur asem, mama mau ngajarin kan?" 


"Tentu, tapi untuk makan siang Mama sudah masak. Jadi, untuk makan malam nanti kita masak sayur asem ya?" Ucap Romlah, Syera pun mengangguk mengiyakan.


"Bahan-bahan nya ada, Ma?"

__ADS_1


"Mama cuma ada labu siam." Jawab Romlah.


"Nanti Syera sama Juan belanja bahan-bahan nya." 


"Baiklah, sekarang makan dulu ya? Makan yang banyak." Syera mengangguk, selera makan Syera sangat bagus. Bahkan hanya dengan masakan sederhana saja dia bisa menambah nasi berkali-kali. 


"Masakan Mama enak banget." Puji Syera sambil mengacungkan kedua jempol nya. 


"Makan nya jangan sambil bicara, fokus makan ya." Ucap Romlah, Syera hanya cengengesan lalu menganggukan kepala nya. 


"Nambah, biar tambah gemoy." Ucap Juan, sambil meletakan nasi di piring milik Syera. 


"Hehe, makasih ayang." Jawab Syera, Juan hanya tersenyum melihat ekspresi gadis itu.


Setelah selesai makan, Syera pun memilih duduk di teras. Dia ingin menikmati suasana siang hari di lingkungan ini, karena besok dia harus pulang ke tempat asal nya. Tak lama kemudian, Romlah keluar menyusul Syera yang nampak sedang termenung sambil menatap lurus ke depan.


"Nak, kamu baik-baik saja?" Tanya Romlah, sambil mengusap pelan lengan gadis cantik itu.


"Lalu, kenapa seperti melamun saja? Mama perhatikan, ini bukan yang pertama kali nya kamu seperti ini, kamu punya masalah, Nak?" 


"Syera pulang besok, Ma."


"Kok cepet banget pulang nya? Kenapa?" Tanya Romlah, wanita itu terhenyak begitu mendengar kalau gadis di depan nya akan pulang besok.


"Gapapa, Ma. Cuman, Syera merasa pikiran Syera udah lebih tenang aja. Jadi, Syera mau pulang. Maaf ya, kalau selama disini Syera sering ngerepotin Mama sama Juan, sama Rinda juga." Ucap Syera lirih.


"Enggak, sayang. Kamu gak pernah ngerepotin apa-apa sama Mama, atau Juan. Kalau kamu sudah merasa tenang, memang harus pulang. Bukan berarti Mama mengusir kamu, tapi kasian papa kamu sendirian, Nak." 


"Iya, Ma. Syera juga sudah memikirkan matang-matang tentang hubungan papa sama temen Syera." Jawab gadis itu lagi, kali ini nada suara nya lebih lirih dari tadi.

__ADS_1


"Ikuti kata hati kamu, sayang. Itu pasti yang terbaik." 


"Terimakasih ya, Ma. Setelah ini, apakah Syera boleh berkunjung kemari lagi?" Tanya Syera, dia menatap wajah Romlah dengan tatapan yang tak bisa di artikan. 


"Tentu, Nak. Tentu saja boleh, kamu boleh berkunjung kesini kapanpun, pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk mu." 


"Terimakasih, Ma." Jawab Syera, dia menghambur memeluk Romlah dengan erat. Romlah pun dengan senang hati membalas pelukan gadis itu dengan hangat. 


Pelukan yang terasa sangat nyaman, hangat dan penuh kasih sayang. Pelukan yang sama persis dengan pelukan sang ibu yang sudah dulu berpulang. Hal itu juga yang membuat Syera begitu merindukan kasih sayang seorang ibu, dan itu dia dapatkan dari Romlah, ibu dari kekasih nya, Juan.


"Kamu harus berbesar hati menerima semua nya, Nak."


"Iya Ma, Syera beruntung bisa bertemu sama Mama dan Juan." Romlah hanya tersenyum, lalu mengusap kepala belakang Syera dengan lembut.


Juan yang melihat pemandangan hangat itu tersenyum kecil, seperti nya sang ibu begitu menyayangi Syera, begitu juga sebaliknya. Hati nya terasa lebih tenang saat melihat kedua wanita yang paling berharga dalam hidup nya itu terlihat akur dan saling menyayangi. 


Namun, Juan menghembuskan nafas nya dengan kasar jika mengingat restu yang belum dia dapatkan. Dia juga ragu, apakah bisa dia mendapatkan restu dari papa nya Syera yang juga adalah majikan nya itu untuk meminang putri nya? Mengingat level dan kasta mereka jauh berbeda.


Meskipun kata Syera, keluarga nya bukanlah orang yang suka menilai orang-orang berdasarkan kekayaan, namun tetap saja jika di hadapkan dengan keluarga Roberts, Juan merasa sangat kecil di hadapan mereka. 


Seketika, hati nya menjadi ragu. Apa bisa dia bersanding dengan seorang Syera Alana Lurious? Seperti nya tidak mungkin, tapi takdir takkan ada yang tahu sebelum di coba kan? Maka dia harus mempersiapkan mental yang kuat sebelum datang melamar Syera nanti.


"Sayang, kok kamu disitu sih? Sini, duduk." Ajak Syera saat dia melihat keberadaan Juan di ambang pintu. 


"Iya, sayang." Jawab Juan, dia pun duduk di samping Syera. Dia hanya menjadi tim pendengar saja saat Syera dan Romlah bercanda ria dengan hangat seperti seorang anak dan ibu nya. 


Meski obrolan mereka cukup random, tapi saat melihat Syera yang tertawa lepas, itu membuat hati Juan merasa hangat dan lega. Dia senang karena Syera mudah berbaur dan tidak melihat keadaan ekonomi atau apapun. Dia gadis yang sangat tulus, dalam hal apapun. 


Mungkin, itulah yang membuat Martin dengan mudah memanfaatkan Syera, karena dia tulus dan mudah untuk mencintai nya. Dan rata-rata, jika sudah mencintai seseorang akan menjadi bodooh. Mereka rela melakukan apa saja, memberikan apa saja, termasuk Syera pada Martin dulu. 

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2