
"Ju, bisakah kita bicara berdua?" Tanya Miranda, membuat kening Juan mengernyit heran.
"Membicarakan apa? Aku males." Jawab Juan, pria itu terlihat fokus melihat ke ponsel nya karena sedang bertukar pesan dengan sang kekasih.
"Sebentar saja, mungkin hanya bercerita tentang masa lalu."
"Kenapa harus dengan ku?" Tanya Juan acuh, tanpa melihat sedikit pun ke arah nenek nya sama sekali.
"Juan.."
"Iya, Ma.."
"Turutin dong, apa susah nya? Cuma bicara berdua saja bersama nenek mu."
"Huffttt, baiklah Mama." Jawab Juan, di bujuk oleh Miranda, pemuda itu keras kepala tapi saat Mama nya yang meminta nya, dia langsung mengalah dan menuruti perintah nya. Romlah mendidik anak nya dengan sangat baik.
Miranda pun tersenyum lalu keluar dari rumah, meski pun malas akhirnya Juan mau tak mau harus mengikuti langkah sang nenek ke beranda rumah nya.
Dalam hati nya, Romlah memang menakutkan sesuatu saat membiarkan Juan bicara berdua dengan nenek nya saja. Kenapa? Dia tahu benar seperti apa Miranda dulu, tidak menutup kemungkinan dia masih punya niat buruk yang terselubung saat ini karena hati orang tak ada yang tahu bukan?
Sedalam apapun manusia bisa menyelam, dia tetap takkan bisa menyelami hati orang lain. Benar bukan? Sebagai langkah untuk berjaga-jaga, Romlah pun mengikuti dari belakang. Dia bersembunyi di belakang tembok, tidak sopan memang menguping pembicaraan orang, bukan? Tapi dia harus waspada.
__ADS_1
"Ada apa sih?" Tanya Juan sambil mendudukan tubuh nya di samping Miranda, namun agak berjarak.
"Hmmm, kamu sangat ketus pada Nenek, Ju."
"Tidak kenapa-kenapa, aku memang begini jika pada orang yang tidak aku kenal." Jawab Juan ketus, membuat Miranda tersenyum.
"Melihat tingkah mu ini mengingatkan Nenek pada Hendra, Ju."
"Apa ayah juga seperti aku dulu?" Tanya Juan, dia cukup antusias saat nenek nya mengatakan kalau dia mirip dengan mendiang sang papa.
"Iya, dia anak yang keras kepala. Mungkin karena dia adalah anak kami satu-satunya, jadi nya nenek dan kakek terlalu memanjakan nya."
"Kalau sekarang, nenek bisa berpikir lebih logis. Tapi dulu, nenek dan kakek sama-sama egois. Kami menentang keras saat papa mu bersikeras untuk menikah dengan ibu mu."
"Alasan kalian tidak setuju memang nya kenapa? Karena ekonomi, begitu?" Tanya Juan sinis.
"Jujur saja iya, kami berpikir Hendra takkan punya masa depan jika menikah dengan ibu mu, Nak."
"Cihh, orang kaya memang selalu menilai rendah sesuatu sebelum merasakan nya sendiri. Jadi orang miskin itu bukan kemauan, tapi sudah nasib. Sekarang, walaupun kami hidup miskin dan serba kekurangan, tapi kami tidak gila harta." Ucap Juan datar, mata nya menatap jengah pada Miranda. Sudah pasti alasan dia tidak merestui Hendra menikah dengan Romlah adalah karena segi ekonomi yang tidak meyakinkan.
"Ya, dulu kami sama-sama egois dan sekarang kami menelan pil pahit akibat perbuatan kami di masa lalu itu, Nak. Setelah kakek mu meninggal, nenek merasa sendirian, kesepian."
__ADS_1
"Ckk, giliran sendirian aja baru inget sama menantu dan cucu. Kalau gak sendirian, Juan yakin nenek gak bakalan inget sama kami. Iya kan? Alasan basi." Juan berdecak sebal begitu mendengar ucapan Nenek nya.
"Hmmm, sebenarnya kami sudah merencanakan agar Hendra meneruskan perusahaan yang sudah kakek dan nenek dengan susah payah. Tapi, papa mu memilih untuk tetap bersama ibu mu. Kakek mu merasa marah hari itu, begitu juga nenek."
"Tapi, setelah sakit-sakitan kakek mu merenungi semua kesalahan nya dan ingin meminta maaf, tapi tak bisa meminta maaf secara langsung karena kami kesulitan mencari keberadaan kalian." Jelas Miranda panjang lebar. Tapi seperti nya Juan tak berniat mendengarkan atau sekedar mempercayai ucapan nenek nya sendiri.
"Nenek dan kakek menyesal karena sudah bersikap egois dulu, hingga kami menelantarkan anak kami sendiri." Ucap Miranda lirih. Juan menatap sinis ke arah sang nenek, dia mendengus pelan lalu mengeluarkan kata-kata yang pedas.
"Nyesel kan? Gak guna kalo mau nyesel sekarang, papah udah gak ada. Jadi gak bakalan bisa denger dia maafin kalian berdua atau enggak, kalau mau minta maaf harusnya pas masih hidup biar bisa denger dia maafin atau enggak."
"Kalian kan udah dewasa, harus nya bisa berpikir realistis. Kalau anak kalian bahagia, kenapa tidak mendukung nya? Jangan jadi orang tua yang egois dan mau menang sendiri, terlihat kekanak-kanakan tau gak. Kalian pikir bisa hidup tanpa anak? Tidak mungkin, suatu saat pasti akan membutuhkan yang nama nya anak." Ucap Juan, dia pun beranjak dari duduk nya lalu kembali masuk ke dalam rumah nya, meninggalkan Miranda yang terdiam di tempat nya.
Bicara dengan Juan tidak membuat mood nya membaik, cucu nya terlalu sarkas dan datar saat bicara, membuat nya tak bisa bicara baik-baik karena dia selalu ketus dan sinis. Hal ini masih wajar, mungkin saja Juan membenci figur seorang nenek karena dia mengabaikan nya dari kecil dan tak pernah bertemu dengan sosok yang saat ini mengaku sebagai nenek nya.
Miranda merasa semua yang di katakan oleh Juan memang benar, dirinya menyesal tapi sudah terlambat karena putra nya sudah tiada, jadi tak bisa mendengar apakah dia memaafkan semua kesalahan nya atau tidak. Tapi entahlah sekarang hati nya terasa sangat sakit, tapi dia takkan menyerah untuk berdamai dengan menantu dan cucu-cucu nya.
Dia harus bisa memboyong ketiga nya pulang ke rumah bersama nya, dia akan menebus semua kesalahan nya di masa silam sekarang, dia akan mengganti semua rasa sakit akibat perkataan dan perbuatan nya dulu di masa sekarang. Itulah janji nya, jadi dia takkan putus asa sebelum Juan, Rinda dan Romlah mau memaafkan diri nya dan ikut pulang bersama nya. Apapun caranya dia harus bisa membawa ketiga nya pulang ke tempat yang seharusnya.
.....
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1