Terjerat Gairah Sang Pengawal

Terjerat Gairah Sang Pengawal
Bab 90 - TGSP


__ADS_3

Suasana di dalam mobil terasa sangat mencekam, apalagi bagi Juan. Dia terus menerus melafalkan doa demi keselamatan sang istri dan buah hati nya. Ini benar-benar momen yang mendebarkan di sepanjang hidup nya. 


"Sayang, kuatlah. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit." Ucap Juan, dia terus mengusap keringat di kening Syera. Wanita itu meringis menahan sakit sambil memejamkan mata nya, Juan benar-benar tidak tega melihat istrinya kesakitan seperti ini. Sesakit inikah melahirkan? Dia menjadi merasa teramat bersalah pada sang ibu karena sudah mengecewakan nya.


"Sa-kit, yang.." Lirih Syera.


"Kuat ya, sayang. Jangan menyerah, kamu adalah wanita yang kuat, kamu pasti bisa melewati ini semua, Bby." Jawab Juan, dia memberikan sedikit semangat untuk istri nya. Dia memohon pada wanita itu agar tidak menyerah. 


Beberapa menit berlalu, akhirnya mobil yang di kendarai oleh Roberts pun sampai di rumah sakit tempat Juan dan Syera sering memeriksakan kehamilan nya. 


Dengan sigap, Juan langsung menggendong sang istri keluar dari mobil. Dia berjalan setengah berlari dengan Syera di pangkuan nya, dia panik sekaligus khawatir karena sedari tadi Syera tidak berhenti meringis menahan rasa sakit yang terasa membuat tulang-tulang nya patah secara bersamaan.


"Sus, tolong istri saya." 


"Baik, tuan. Mari.." Ajak perawat itu, Juan pun mengikuti langkah perawat itu dan membaringkan sang istri di brankar yang memang sudah tersedia. Dengan cepat, perawat itu memanggil dokter kandungan dan membawa nya ke dalam ruangan.


Juan ingin ikut masuk, tapi sang perawat dengan tegas melarang. Karena ini memang sudah prosedur rumah sakit, jadi tidak bisa di ganggu gugat. Kecuali kalau nanti sudah saat nya melahirkan barulah salah satu anggota di perbolehkan masuk.


"Maaf tuan, silahkan menunggu di luar." Cegah perawat itu saat Juan mencoba masuk.


"Tapi saya suami nya, sus. Saya ingin melihat istri saya!"


"Tolong patuhi prosedur rumah sakit, ini dalam keadaan darurat, pasien bisa saja tidak terselamatkan kalau Anda terus begini." Jawab perawat itu yang membuat Juan lemas. Romlah langsung menarik putra nya dari ambang pintu dan membawa nya sedikit menjauh. 


"Maafkan putra saya, sus. Silahkan lanjutkan pemeriksaan nya." Ucap Romlah, perawat itu pun menganggukan kepala nya dan menutup pintu kaca juga gordeng nya. 


"Juan, mama tahu kamu khawatir sama istri kamu, nak. Mama paham benar ke Kalitan kamu sekarang, tapi Mama mohon jangan bertindak bodooh yang bisa membahayakan nyawa istri mu sendiri, Nak." Ucap Romlah yang membuat Juan mendongak seketika.


"Maaf, Ma. Juan bener-bener gak tahu kalau hal itu sangat membahayakan."

__ADS_1


"Sudah, tidak apa-apa. Sekarang tugas kita hanya mendoakan keselamatan istri dan anak mu." Ucap Romlah. Juan pun mengangguk. Pria itu menatap pintu kaca yang tertutup, dia tak bisa mengintip ke dalam karena gordeng nya tertutup sangat rapat. 


Juan berjalan mondar mandir tak karuan di depan ruangan Syera, sudah hampir setengah jam berlalu tapi suster maupun dokter belum ada yang keluar dari dalam sana, tentu saja hal itu membuat Juan khawatir.


"Ya Tuhan, selamatkan lah istri dan anak hamba.." Gumam Juan, dia terus bergerak tak karuan. Benar-benar khawatir dengan keadaan sang istri di dalam sana, dia takut kalau sesuatu terjadi pada Syera atau pada buah hati nya.


Tak lama kemudian, seorang dokter dengan pakaian steril keluar, kening nya berkeringat. Dokter wanita itu membuka masker nya dan memanggil keluarga Syera.


"Keluarga Nona Syera?"


"Saya dok, saya suami nya." Jawab Juan, tangan nya bergetar saking khawatir nya sekarang. 


"Pinggul Nona Syera terlalu sempit, itu membuat nya tak bisa melahirkan secara normal. Dengan sangat menyesal, kami menyarankan untuk melakukan operasi sesar." Ucap dokter itu yang membuat Juan menganga, dia menutup mulut nya. Sungguh, demi apapun dia tidak menduga hal ini akan terjadi. 


"Lakukan yang terbaik untuk istri saya, dok!"


"Baik, silahkan tandatangani berkas persetujuan dan kami akan segera menyiapkan operasi nya. Untuk sementara, silahkan satu orang untuk menemani Nona Syera di dalam." 


"Saya saja, dok." Juan pun langsung menerobos masuk, sedari tadi dia ingin masuk ke dalam ruangan itu dan begitu ada kesempatan dia langsung memanfaatkan nya dengan baik. Dia tak mau meninggalkan istri nya sendirian. 


"Sayang.." Panggil Juan, Syera yang sudah terlihat lemas itu tersenyum manis. Juan mendekat dan menggenggam erat tangan sang istri.


"Kamu terlihat khawatir sekali, sayang. Aku tidak apa-apa, kita akan bertemu dengan anak kita secepatnya, sayang."


"Kamu kesakitan?"


"Tidak apa-apa, sayang. Aku rela merasakan semua ini untuk membuktikan rasa cintaku pada mu, sayang." Jawab Syera sambil tersenyum manis, hal itu malah membuat hati Juan terasa sakit, benar-benar sakit. Istri nya sangat tulus mencintai nya, dia bahkan rela merasakan rasa sakit seperti ini untuk memberikan nya keturunan. 


Sungguh demi apapun, dia berjanji dalam hati nya kalau dia takkan pernah menyakiti Syera. Melihat perjuangan yang dia lakukan, sungguh tidak ternilai. Dia pernah membaca, kalau sakit nya melahirkan itu seperti lima tulang yang patah secara bersamaan saking sakit nya. Itulah yang di rasakan Syera saat ini, saking sakit nya dia bahkan tidak bisa tersenyum saat mulas nya sedang terasa.

__ADS_1


"Aasshh.." Syera meringis saat mulas nya kembali terasa. Rasa sakit kontraksi asli dan kontraksi palsu, rasa nya benar-benar berbeda. 


"Sayang, kamu harus kuat ya.." ucap Juan sambil mengusap-usap puncak kepala sang istri dengan lembut. 


Beberapa menit kemudian, dokter dan beberapa perawat datang. Mereka pun memberikan pakaian steril pada Juan, lalu semua nya pun mendorong brankar yang di tempati oleh Syera yang terbaring lemas tak berdaya itu ke ruang operasi.


Dokter pun menutup pintu ruangan dan operasi pun di mulai. Suasana terasa sangat hening dan mencekam, hanya ada bunyi alat-alat kesehatan yang berbunyi. Sepanjang operas, Juan terus menggenggam tangan sang istri. Dia benar-benar ikut merasakan sakit seperti apa yang di rasakan oleh sang istri.


Juan menutup mata nya saat tak sengaja mata nya melihat pisau kecil yang sedang menyayat perut sang istri, dia benar-benar ikut merasakan sakit sampai perut nya mulas. 


'Jangan ngompol plis, tengsin banget kalo sampai ngompol di ruang operasi.' Batin Juan. Tapi, dia benar-benar tidak tahan. Tiba-tiba saja dia kebelet, padahal tadi sebelum masuk ke ruangan operasi, dia sempat pipis dulu.


Juan terus mengajak istri nya bicara, karena kata dokter Syera tak boleh sampai tertidur karena itu sangat membahayakan. Syera pun bahkan sempat terkekeh geli saat melihat Juan yang bertingkah lucu untuk melupakan sejenak rasa panik nya saat mendampingi istrinya melahirkan putra mereka.


Satu jam berselang, akhirnya sang buah hati lahir dengan selamat. Juan langsung menggendong nya, tak lupa dia mengabadikan moment ini dalam bentuk foto-foto dan video. Juan membisikan berbagai macam doa di telinga putra nya, sedangkan Syera harus kembali di jahit bekas sayatan luka nya. 


Setelah selesai, Juan pun akhirnya bisa bernafas lega, saat ini dia di minta untuk keluar dan membiarkan Syera beristirahat dulu setelah bertarung nyawa selama beberapa jam tadi.


"Aku keluar dulu ya, Bby. Jangan takut, aku gak bakalan kemana-mana kok. Kamu istirahat dulu ya." Ucap Juan sambil mengusap rambut Syera dengan lembut. Setelah itu, Juan pun keluar dari ruangan dengan wajah berseri.


Juan berjalan mendekat ke arah keluarga nya yang sudah menanti sedari tadi.


"Ju, bagaimana keadaan Syera?" Tanya Roberts, dia sangat mengkhawatirkan putri nya. Bahkan, tadi dia sempat menangis karena takut akan terjadi sesuatu pada putri nya. 


"Dia baik-baik saja, operasi nya berjalan lancar. Saat ini dia sedang istirahat dulu, bayi nya juga lahir dengan selamat dan sempurna tanpa kekurangan satu apapun." Jelas Juan, membuat semua orang yang ada di sana menghela nafas nya lega. Mereka merasa lega kalau Syera sudah selamat, begitu juga dengan buah hati mereka.


.....


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2