
Syera dan Juan melangkah bersama-sama, saat ini pasangan itu akan melakukan pemeriksaan rutin ke rumah sakit, tepat nya ke dokter kandungan untuk menjenguk si jabang bayi. Syera terlihat sangat antusias, begitu juga dengan Juan. Dia terus saja tersenyum sedari tadi karena dia juga melihat perkembangan jagoan nya.
Syera duduk menunggu bersama Juan, mereka sedang menunggu antrian. Meskipun, ya bisa saja kalau mereka langsung masuk karena dokter nya pun tahu siapa Syera dan Juan.
"Syera.."
"Eehh, Devia.." Balas Syera sambil tersenyum manis. Dia melihat Devia bersama Martin. Wanita itu sudah melahirkan sekarang, terlihat saat Devia menggendong seorang bayi di depan tubuh nya.
"Apa kabar, Syer?"
"Baik, kamu gimana? Ini anak kamu? Siapa nama nya?" Tanya Syera, sambil mencolek-colek pipi gembul adik bayi yang sedang tertidur di pelukan ibu nya.
"Aku juga baik, Syer. Iya, ini Davian anak aku. Berapa bulan sekarang, Syer?" Tanya Devia membuat Syera tersenyum kecil.
"Hallo, baby Davi. Lucu banget, gemesin pengen nyubit."
"Aku nanya belum di jawab lho." Ucap Devia membuat Syera tergelak.
"Sekarang menginjak usia dua puluh enam minggu, Dev. Enam bulan lebih berarti ya."
"Wahh, selamat ya. Semoga lancar sampai hari persalinan." Ucap Devia.
"Makasih ya, Dev." Ucap Syera sambil tersenyum.
"Sama-sama, kalo gitu aku pulang dulu ya."
"Ya, hati-hati di jalan." Jawab Syera, Devia menganggukan kepala nya dan kedua nya pun pergi dari hadapan Syera.
"Sayang, ayo masuk. Nama kita sudah di panggil." Syera pun mengangguk dan menggandeng lengan sang suami, lalu masuk ke dalam ruangan dokter kandungan.
"Selamat pagi, Nona dan Tuan."
"Pagi, dok."
"Bagaimana, apa ada keluhan?" Tanya dokter itu, meskipun dia ramah tapi dia cukup profesional dalam bekerja, dia langsung menanyakan pertanyaan seputar kehamilan secara langsung tanpa banyak berbasa-basi.
"Tidak ada, dok. Selain pinggang saya yang sering terasa sakit."
"Itu hal yang wajar, Nona. Karena semakin besar usia kandungan, maka berat bayi yang ada di dalam rahim anda juga semakin berat, Nona." Jawab dokter itu sambil tersenyum manis.
"Baiklah kalau begitu, dok."
"Ingin melakukan USG, benar?"
"Benar, dokter." Jawab Syera, dokter itu pun tersenyum dan meminta Syera untuk berbaring di brankar seperti biasa nya. Juan membantu istri nya berbaring dengan perlahan. Tak lama, dokter itu berjalan mendekat dan langsung melakukan pemeriksaan USG.
"Perkembangan yang sangat bagus, Nona. Usia nya dua puluh enam minggu, berat badan nya sudah 780 gram, ideal nya berat janin di usia ini adalah 760 gram, tapi tak masalah justru ini lebih bagus." Jelas dokter itu sambil tersenyum.
"Ini mata dan hidung nya." Tunjuk dokter itu, Syera dan Juan terlihat menatap layar berwarna abu-abu itu nyaris tanpa berkedip sedikit pun.
"Hidung nya mancung seperti papah nya." Dokter itu terkekeh saat melihat ekspresi Syera yang langsung asam seketika saat mendengar ucapan dokter itu.
"Ya, tentu saja dia mirip dengan ku karena aku yang membuat nya." Celetuk Juan, yang membuat Syera mencubit pelan lengan suami nya, membuat pria yang sebentar lagi akan menjadi ayah itu meringis kesakitan.
"Sakit, Bby.." Ucap Juan, yang memancing dokter itu terkekeh pelan.
"Ingin mendengar detak jantung bayi nya?" Tanya Dokter itu, membuat kedua nya langsung kompak menganggukan kepala nya.
Dokter itu pun menyalakan alat nya dan terdengar sudah detak jantung bayi nya, tentu saja hal itu membuat kedua nya terharu. Bahkan Juan sudah menatap layar di depan nya dengan air mata yang berlinang, sekali berkedip saja bisa di pastikan air mata itu akan jatuh membasahi wajah nya.
Ini adalah pertama kali nya bagi Juan mendengar detak jantung bayi nya, karena beberapa bulan sebelum nya, dia tak bisa mendampingi sang istri untuk periksa karena dia sibuk di perusahaan, pekerjaan nya seolah tiada habis nya. Sharon lah yang selalu menemani Syera periksa kandungan.
__ADS_1
"Aaahhh, kenapa ini begitu mengharukan." Gumam Juan sambil mengusap ujung mata nya yang berair, lalu menengadahkan tangan nya. Tentu saja, dia harus menjaga image nya, bagaimana pun dia adalah pria yang tak boleh terlihat lemah di depan sang istri. Ini baru mendengar detak jantung nya saja, bagaimana kalau bertemu dengan anak nya secara langsung nanti? Bisa-bisa dia pingsan atau bahkan pipis di celana.
"Apakah ada saran lain, dok."
"Masih sama, Nona. Jangan terlalu banyak pikiran apalagi yang berat-berat, jangan terlalu kelelahan harus istirahat yang cukup, untuk makanan tak ada larangan lain kecuali makanan yang terlalu pedas, Nona."
"Baik, dokter. Terimakasih." Jawab Syera, Juan pun membantu sang istri untuk bangkit dari rebahan nya dan kedua nya pun kembali duduk berhadapan dengan dokter wanita itu.
"Ini vitamin, harus rutin di minum setiap hari tiga kali ya, Nona."
"Baik, Dok."
"Silahkan tebus di bagian farmasi." Ucap nya, Syera dan Juan pun mengangguk mengerti akan perintah sang dokter.
"Iya dok, kalau begitu kami permisi dulu, dok. Terimakasih."
"Sama-sama, selamat berjumpa bulan depan, Nona dan Tuan." Balas dokter itu, kedua nya pun keluar dari ruangan dokter kandungan itu.
Tadi, dokter itu sempat menanyakan Sharon karena sudah beberapa bulan ini Syera selalu datang memeriksa kan kandungan nya bersama Sharon. Tapi sekarang, dia datang bersama suami nya.
Sharon juga melakukan promil untuk segera mendapatkan momongan, kata dokter rahim dan sel telur nya sehat, begitu juga dengan Roberts, jadi tak ada masalah apapun. Hanya tinggal menunggu waktu nya saja.
"Langsung pulang, Bby?" Tanya Juan pada sang istri.
"Aku mau jajan dulu, ya?"
"Boleh, tapi jangan jajanan yang pedes ya." Peringat Juan, Syera pun menganggukan kepala nya mengiyakan ucapan suami nya.
"Yee, makasih ayang."
"Sama-sama, cantik." Jawab Juan, dia pun tersenyum manis lalu mengacak rambut sang istri lalu mengecup kening nya dengan mesra.
Juan pun membukakan pintu mobil nya untuk sang istri dan kembali menutup nya setelah memastikan istri nya duduk dengan nyaman, barulah dia masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi.
"Sayang, ayo jalan. Kenapa kamu malah bengong sambil liatin aku? Apa aku aneh?" Tanya Syera sambil meneliti kembali penampilan nya.
"Enggak, kamu sangat cantik, sayang. Bahkan sekelas artis pun insecure setelah melihat kecantikan kamu." Jawab Juan membuat mata Syera memicing.
"Dih, gombal ya kamu."
"Siapa yang gombal? Aku enggak tuh." Juan tersenyum lalu mengapit dagu sang istri dan menyatukan hidung mereka lalu menggesekan nya dengan gemas.
"Yaudah, terus kamu kenapa natap aku segitu nya? Gak mungkin kan kalau kamu ada mau nya?"
"Tidak, kenapa kamu selalu berpikir kayak gitu sama aku, Bby?" Tanya Juan.
"Ya kan kamu udah kebiasaan, jadi nya aku curiga saat melihat tatapan kamu yang mencurigakan itu." Jawab Syera, dia tahu benar kebiasaan suami nya.
"Enggak dong, masa di tempat kayak gini. Kamu bawaan nya nethink mulu sama suami sendiri, aku tuh natap kamu tuh karena kamu cantik. Sejak hamil, kamu terlihat jauh lebih cantik. Kamu juga terlihat semakin dewasa, sayang." Jawab Juan membuat Syera tersenyum kecil.
"Hmmm, begitu ya?"
"Iya, sayangku."
"Oke deh, aku cantik karena aku istri kamu."
"Haha, iya ya." Juan tergelak, beruntung nya dia karena memiliki istri secantik Syera, dia adalah pria yang sangat beruntung.
"Kalau sudah mengagumi kecantikan istri mu ini, ayolah kita berangkat, sayang." Ajak Syera, Juan menepuk kening nya. Bisa-bisa nya dia lupa kalau mereka masih di parkiran rumah sakit. Syera yang melihat hal itu pun terkekeh geli, sejak menikah entah kenapa Juan jadi pelupa.
Juan pun menyalakan mesin mobil nya dan melajukan nya dengan kecepatan sedang, bergabung dengan pengendara lain, ikut meramaikan jalanan ibu kota yang tak pernah sepi bahkan di malam hari sekali pun.
__ADS_1
Hingga akhirnya, Juan menghentikan laju kendaraan nya di sebuah persimpangan jalan, dimana disana ada banyak pedagang jajanan yang berjualan di depan sekolah. Syera terlihat sangat antusias, dia bahkan bersorak kegirangan saat melihat pedagang telor gulung.
"Ayang, pokok nya aku mau beli telor gulung yang banyak."
"Boleh, sayang." Jawab Juan, dia pun mencari tempat parkir terlebih dulu. Setelah menemukan nya, dia pun langsung parkir dan kedua nya pun turun untuk berburu jajanan kaki lima.
Syera membeli beberapa macam jajanan yang cukup banyak, sekalian dia membelikan nya untuk Rinda juga. Syera menghabiskan cukup banyak uang untuk jajan nya hari ini, tapi Juan sama sekali tidak melarang. Bahkan dia malah mengiyakan apapun yang di inginkan istri cantik nya.
Setelah selesai, Syera dan Juan pun melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, Syera terus saja memakan telur gulung dengan lahap. Membuat Juan ikutan ngiler sendiri.
"Suapin dong, kayak nya enak."
"Nih, yang." Syera menyuapi suami nya dengan satu tusuk telor gulung. Memang enak, gurih nya begitu terasa karena kandungan micin yang cukup banyak.
"Enak?"
"Enak, sayang." Jawab Juan sambil tersenyum. Pria itu menatap kilas istri nya yang sedang asik memakan telor gulung nya, dia bahagia karena istri nya bahagia hanya karena hal-hal kecil yang menurut nya mungkin tak berarti tapi sebaliknya jika untuk Syera.
Setelah hampir satu jam mengemudi, akhirnya Juan dan Syera pun sampai. Kedua nya turun dari mobil dan langsung di sambut oleh Rinda yang memang sedari tadi sudah menunggu kepulangan nya. Bukan untuk oleh-oleh, tapi karena dedek bayi. Dia merindukan dedek bayi yang masih ada di perut kakak cantik nya.
"Gimana adek bayi nya, kakak cantik? Dia baik-baik saja kan?" Tanya nya dengan wajah polos, Syera membingkai wajah gadis kecil itu lalu mengecup pelan kening nya.
"Iya, adek bayi nya baik-baik saja kok." Jawab Syera membuat gadis itu mengusap dada nya lega.
"Syukurlah kalau adek bayi nya baik-baik saja, Rinda seneng denger nya." Celoteh gadis kecil itu.
"Rinda sayang sama adek bayi ya?" Tanya Syera.
"Banget, Rinda sayang banget sama adek bayi."
"Ya sudah, ayo masuk. Kakak bawain jajanan lho buat Rinda." Ucap Syera sambil menunjuk kantong kresek yang di tenteng oleh Juan.
"Yeee, makasih kakak cantik."
"Sama-sama, anak cantik." Rinda pun menggandeng tangan kakak cantik nya, mereka pun masuk ke dalam rumah besar itu.
"Sayang, sudah pulang?" Tanya Romlah.
"Sudah, Ma."
"Bagaimana keadaan bayi nya?" Tanya Romlah lagi, wajah nya terlihat jelas kalau dia sangat antusias dengan hal ini.
"Sehat kok, Ma."
"Hufftt, syukurlah kalau begitu."
"Mama lagi ngapain?"
"Masak sup buntut buat kamu, sayang."
"Isshh, Mama. Kan Syera udah bilang jangan terlalu banyak beraktivitas dulu sebelum kaki Mama benar-benar sembuh, ngeyel sekali." Ucap Syera, dia kesal karena mama mertua nya sangat susah kalau di bilangin.
"Maaf, sayang. Habis nya Mama bosan kalau hanya duduk saja."
"Hmm, ya sudah lah. Kalau gitu, Syera mau makan aja."
Romlah tersenyum, sekesal-kesal nya Syera pada nya, itu semata-mata karena dia menyayangi nya dan itu tak berlaku lama, paling hanya beberapa menit saja setelah itu dia akan banyak bicara seperti biasa.
Wanita itu mengikuti langkah Syera ke dapur, dan menemani bumil itu makan. Padahal tadi sudah makan banyak cemilan, tapi sekarang dia sudah makan lagi. Benar-benar ya, selera makan ibu hamil yang satu ini sangat bagus.
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻